Barista Cafe Jomblo

Barista Cafe Jomblo
Kecelakaan


__ADS_3

Mamih histeris ketika mendapat kabar dari rumah sakit jika Kuncoro mengalami kecelakaan, walaupun kata Kuncoro dirinya dalam kondisi tidak parah. Bahkan masih bisa menelfon Mamih. Tapi Mamih tetap khawatir.


Bintang yang saat itu di dekat Mamih langsung mengambil alih telfon yang ada di genggaman Mamih.


( Kamu nabrak?)


(Engga Bos, tapi di tabrak)


(Ditabrak mobil juga?)


(Ditabrak motor bos)


Bintang mengernyitkan dahinya, ini Kuncoro ngadi-ngadi nih, dia memakai mobil, kenapa ditabrak motor dirinya yang benjol.


(Udah dulu bos, aku mau di jahit)


Kuncoro langsung mematikan sambungan telfonnya sehingga membuat Bintang semakin bingung. Bintang dan Mamih bergegas menuju rumah sakit.


Kuncoro yang tengah ditangani dokter mendadak menjadi panas dingin. Ada robekan di lengannya yang membuat dirinya harus di jahit. Kuncoro saat ini di rumah sakit ditemani oleh si penabrak yang bernama Dinda.


Dinta terus saja berada di samping Kuncoro sambil terus meminta maaf. Tapi Kuncoro belum merespon, ia diam saja karena geram, perempuan di depannya begitu cerewet.


Dokter sudah membersihkan luka Kuncoro, saat dokter memegang suntikan yang berisi obat bius, Kuncoro mendadak lemas, wajahnya memucat.


"Kenapa Mas?" tanya Dinda yang melihat perubahan mimik wajah Kuncoro.


"Aku takut jarum." Dinda mengernyitkan dahinya. Lelaki yang di depannya ini cukup macho, tapi takut jarum, itu hal yang sangat menggelikan.


"Pegangan aku Mas, liat aku aja, jangan liatin tangannya," ucap Dinda. Kuncoro lalu memegangi tangan Dinda dengan erat. Dokter segera menyuntikkan obat bius sebelum lukanya di jahit.

__ADS_1


Selama di jahit, Kuncoro terus saja memegangi Dinda, Dinda juga menenangkan Kuncoro, mengajak Kuncoro berbicara, walaupun tetap saja masih saja ada rasa sedikit nyeri. Tapi lumayan untuk mengobati rasa takutnya.


"Maaf ya Mas, tadi tuh aku nggak sengaja, aku lagi buru-buru Mas," ucap Dinda.


"Kamu mau kemana memangnya?" tanya Kuncoro.


"Mau pulang, nenek di rumah lagi sakit, eh malah aku bikin orang sakit." Raut penyesalan begitu terlihat jelas di wajah Dinda.


Raditya Kuncoro memperhatikan Dinda yang masih menggunakan seragam kerja bercorak Maret-maret. Baru saja ia mampir di Maret-maret, malah di tabrak pegawai Maret-maret, walaupun beda toko, Ah gimana sih.😆


"Mas, saya akan tanggung jawab sepenuhnya, tapi dicicil yah," ucap Dinda dengan penuh permohonan.


Kuncoro mengangguk, melihat Dinda dengan wajah memelas saja, Kuncoro sudah benar-benar melas. Kuncoro menghargai sikap tanggung jawab Dinda.


Dinda lalu mengeluarkan secarik kertas dari tas nya, ia lalu menuliskan nomer ponsel dan alamat rumahnya sebagai jaminan.


"Mas ini simpan, aku tidak akan kabur, di sini juga ada alamat tempat kerjaku." Dinda menyerahkan kertas itu pada Kuncoro. Kuncoro pun menerimanya.


"Aku Radit." Kuncoro memakai nama Radit untuk memperkenalkan identitasnya.


"Kamu nggak perlu khawatir masalah biaya, aku bisa bayar sendiri."


Dinda menggeleng, "Jangan Mas, ini kan salah aku, nanti aku akan bayar semampu ku Mas." Kuncoro mengangguk.


"Selesai Mas,"ucap Dokter. Setelah menjahit Kuncoro, Dokter memberikan resep obat untuk Kuncoro. Tidak banyak luka di tubuhnya, hanya ada beberapa baretan di tangannya dan satu sobekan. Lututnya baret juga.


Dokter sudah memperbolehkan Kuncoro pulang. Dinda memegang satu lengan Kuncoro karena Kuncoro tidak bisa jalan dengan sempurna.


Dinda dan kuncoro menuju tempat administrasi. Bintang dan Mamih yang baru saja masuk ke dalam rumah sakit, melihat pemandangan kuncoro yang sedang dipapah wanita, Mamih segera menghentikan Bintang.

__ADS_1


"Stop ... stop." Bintang ikut menghentikan langkahnya.


"Kenapa Mih." Mamih lalu menunjuk ke arah Kuncoro dan Dinda.


"Biarin mereka berdua seperti itu, siapa tahu ini cara Allah menyadarkan Kuncoro." Mamih malah terkekeh. Sirna sudah rasa khawatirnya yang tadi sempat heboh. Bintang menepuk dahinya. Capcay deh Mamih.


Mamih terus memantau Kuncoro dan Dinda yang sedang mengobrol menunggu antrian obat. Saat sudah di panggil, Dinda menghampiri petugas, ia segera memberikan resep obatnya pada petugas. Saat petugas mentotal semua biayanya. Kuncoro menyerahkan kartu debitnya.


Dinda melirik Kuncoro, "Mas jangan. Biar aku aja."


Kuncoro menggeleng, "Kamu lebih butuhin, kan nenek kamu sedang sakit."


"Iya tapi aku juga harus tanggungjawab Mas." Dinda semakin tidak enak hati dengan kebaikan Kuncoro.


"Sudah nggak apa-apa, tadi kamu udah bikin aku nggak takut aja itu udah bagian dari tanggung jawab." Kuncoro tersenyum.


"Makasih banyak yah Mas, aku janji bakal cicil uang pengobatan ini setelah nenek sembuh." Kuncoro mengangguk dan tidak mendebat lagi. Kuncoro berfikiran sepertinya Dinda lebih membutuhkan uang itu untuk pengobatan neneknya.


Selesai menebus obat, saat mereka berdua akan keluar rumah sakit, Mamih tiba-tiba muncul dengan menampakan wajah khawatirnya.


"Ya Ampun, kamu baik-baik aja kan?" Mamih meraba lengan Kuncoro.


"Strong Mih aku mah,"Ucap Kuncoro. Dinda teringat Kuncoro yang histeris saat melihat jarum suntik tadi, lalu strong nya dibagian mana.


Mamih mengacungkan jempolnya lalu melirik Dinda, "Eh ini siapa, cantik sekali." Mamih mengelus lengan Dinda.


"Maaf tante, tadi saya yang menabrak Mas Radit, saya tidak sengaja karena terburu-buru, nenek sakit Tante,"ucap Dinda dengan penuh penyesalan.


Mamih malah tersenyum, "Besok ke rumah Mamih ya, cerita kronologi nya, sekarang sudah sore."

__ADS_1


Kuncoro dan Bintang saling lirik, mereka berdua curiga, sepertinya Mamih ingin berburu menantu lagi.


__ADS_2