
Pak Permana masuk ke dalam mobil lalu menelfon orang kepercayaannya untuk mencari tempat tinggal anak dan mantan istrinya. Tak butuh waktu lama dengan kekuatan Dolarnya, Pak permana bisa secepat kilat menemukan alamat kontrakan Bulan. Ia bergegas ke kontakan Bulan. Pak Permana sebenarnya tahu jika Bulan bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri juga Ibunya, tapi Pak Permana tak pernah mencari tahu tentang dimana tempat tinggal Bulan.
Pak Permana menelusuri jalanan menggunakan arahan dari GPS yang dikirimkan oleh orang kepercayaannya. Setelah menemukan alamatnya, ia bingung karena mobilnya tidak bisa memasuki gang kecil. Akhirnya Pak Permana memarkirkan mobilnya di depan Maret-maret, ia menitipkan mobilnya pada tukang parkir di sana, tidak lupa juga ia memberikan tips lebih ke tukang parkir yang jaga.
Pak Permana masuk ke dalam gang sempit, ia menanyakan ke beberapa warga sekitar lokasi kontrakan Bulan, karena ternyata di dalam gang itu banyak kontakan. Salah satu warga menunjukan kontrakan Bulan. Melihat keadaan jalan dan tempat yang Bulan setiap hari singgahi begitu kumuh, hati Pak Permana terasa sesak. Ia terus saja menelusuri gang sempit, hingga akhirnya ia sampai di kontrakan yang ditunjukan oleh salah satu warga.
Pak Permana melihat sekeliling komplek kontakan yang amat sepi. Ia lalu memberanikan diri mengetuk pintu kontrakan Bulan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsallam." Terdengar suara jawaban dari dalam. Bi Ani, bergegas membukakan pintu. Ia terkejut melihat ada tamu laki-laki datang, berpakaian rapi, berparas rupawan, namun usianya sudah tak muda lagi.
Pak Permana tersenyum, "Maaf Bu, apa ini kontrakannya Bulan dan Bu Widya?"
Bi Ani mengangguk, "Benar Pak? Bapak siapa yah kalau boleh tahu, maaf ya Pak, soalnya saya diutus untuk menjaga Bu Widya."
Pak Permana kembali tersenyum, "Saya ayahnya Bulan, Ibu tidak perlu khawatir, saya tidak akan macam-macam atau berbuat jahat, Bulan dan Bu Widya nya ada kan Bu?"
Bi Ani tambah terkejut, ternyata kecantikan Bulan menurun dari Ayah kandungnya. "Bulan kerja, di dalam hanya ada saya dan Bu Widya."
"Apa saya boleh bertemu Bu Widya, dia mantan istri saya."
Bi Ani mengangguk lalu mempersilahkan Pak Permana masuk. Bi Ani tidak banyak tahu tentang asal usul dan kisah keluarga Bulan. Melihat Pak Permana yang begitu sopan, Bi Ani tidak bisa berprasangka buruk.
Pak Permana masuk ke dalam, hatinya begitu tersentuh melihat keadaan kontrakan Bulan yang diisi barang seadanya, Permana melihat kasur tipis yang ada di ruang depan dengan pilu.
Bi Ani menghampiri Bu Widya, "Bu, ada tamu?"
"S pa?"
"Saya, Widya." Bu Widya melihat sosok yang pernah oa cintai tiba-tiba ada di sebelah Bi Ani. Bu Widya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
__ADS_1
"Bi, lang dulu ga pa pa," ucap Bu Widya yang langsung dimengerti oleh Bi Ani. Bu Widya pasti ingin ngobrol berdua dengan Pak Permana. Bi Ani lalu bergegas keluar dari kontrakan.
Dalam beberapa detik sejak Bi Ani pergi, mereka saling diam, Permana begitu pilu melihat kondisi mantan istrinya yang dulu adalah ratu di rumahnya. Tak terbendung lagi setelah melihat kondisi yang sebenarnya. Pak Permana langsung berlutut dihadapan mantan istrinya.
"Widya, maafkan Mas." Pak Permana menangis tersedu-sedu di bawah lutut Bu Widya yang tengah berbaring.
"Ini semua salah Mas, kamu jadi seperti ini, ini semua karena Mas terlalu sibuk dengan dunia Mas sehingga tidak menyelidiki semuanya, ini semua karena kelalaian dan Mas yang cemburu buta, maafkan Mas." Air mata Pak Permana semakin mengalir deras karena penyesalan.
Bu Widya memaku, tapi melihat mantan suaminya, laki-laki yang sangat ia cintai, bahkan hingga saat ini, Bu Widya ikut menangis, air matanya mengalir begitu saja. Ia juga ikut sedih melihat orang yang kita cintai bersedih.
"Widya maafkan Mas." Kepala Pak Permana menengadah.
Bu Widya mengangguk, ingin sekali tangannya membelai rambut Permana, tapi apalah daya, ia tidak mampu melakukannya karena keterbatasan fisiknya. Tubuhnya sudah digerogoti penyakit.
"Ku dah m afin as." Pak Permana menggenggam erat tangan Widya, Widya hanya mampu menggerakan ujung-ujung jarinya. Tangannya memang sudah tidak bisa menggenggam erat tangan orang yang ia cintai, tapi hatinya akan selalu menggenggam cinta Permana.
"Maafkan semua kecerobohan Mas, maafkan semua kejahatan Mas." Genggaman tangan mereka dibuat tumpuan dahi Permana. Tangan mereka pun basah oleh air mata Permana.
"Mas janji akan memberikan Laras pelajaran, Mas janji akan usut Laras dan mantan suaminya itu, mereka sudah membuat keluarga kita menderita."
"Tidak, Mas akan selesaikan ini semua di meja hijau Wid."
"As, ku aik aik ja, ku, ulan, ga pa pa."
Bu Widya sadar, ia tak akan bisa kembali dengan Permana, emosi permana dan kelihaian Laras merayu Permana membuat permana mentalak 3 Widya, hingga keluar akta cerai dari pengadilan. Mereka tidak bisa bersama lagi. Widya mencintai Permana namun ia tidak ingin mengulang kisah cintanya lagi.
"Wid, ayo kita pulang ke rumah!" ajak Permana. Permana ingin seperti dulu. Berumahtangga dengan Laras sangat berbeda, Laras lebih banyak menuntut dan setiap hari meminta uang, ada saja alasan untuk meminta uang, apalagi jumlahnya tidak sedikit, sangat berbeda sekali dengan Widya, Widya yang sederhana, namun memancarkan aura kecantikan karena kebaikannya. Permana merasa bodoh karena dibutakan fitnahan Laras dan mantan suami Laras.
Widya menggeleng, "Af As, ku bagia ngan ulan, ku ilas As." Pak Permana menatap Widya dalam-dalam, ia sangat sedih karena Widya tidak mau bersama lagi dengannya. Sebenarnya Widya juga sedih. Mencintai namun tak bisa bersama itu, rasa perihnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Wid, kita jalan-jalan yuk pakai kursi roda?"
__ADS_1
Pepet terus, pepet aja terus Pak.πππ
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(Maaf baru upπ€ emak lagi sibuk packing novel Zara nih, keteteran pokoknya, oh ya makasih yang sudah berpartisipasi membeli novel Zaraππ)
__ADS_1