Barista Cafe Jomblo

Barista Cafe Jomblo
Part 57


__ADS_3

Pagi harinya keluarga Bulan dan Bintang sudah berkumpul di meja makan hotel. Mamih dan yang lainnya meledek Bulan dan Bintang karena telat datang ke meja makan. Terlebih melihat rambut Bintang yang masih basah, dan wajah lelah Bulan membuat mereka menjadi bulan-bulanan keluarga. (Ah kaya nggak pernah jadi manten aje nih Mamih🤭)


"Kamu mau bulan madu kemana Tang?" tanya Mamih. Mamih akan memberikan kado istimewa untuk menyiapkan keperluan bulan madu mereka berdua.


"Belum dirundingin sama Bulan Mih, nanti aja, nanti kalau sudah ketemu tempat yang Bulan inginkan, nanti Bintang kasih tau Mamih," jawab Bintang. Bulan begitu senang mendengar jawaban dari suaminya. Bintang lebih mementingkan dirinya. Bulan merasa begitu dihargai dan dicintai suaminya.


"Ya udah, Mamih tunggu, Bulan, makan yang banyak, pasti kamu lelah, dimaklumi yah, Bintang kelamaan menjomblo soalnya," ucap Mamih sambil terkekeh. Wajah Bulan langsung bersemu merah. Bulan tau maksud Mamihnya itu. Bulan hanya mengangguk lalu melaksanakan perintah Mamih. Makan banyak.


"Alhamdulillah yah, acara berjalan dengan lancar, Mamih seneng banget akhirnya kalian bersatu, yang akur, yang sabar yah, belajar menerima kekurangan pasangan masing-masing, inget Bintang, sekarang sudah jadi imam, harus banyak belajar menjadi suami yang baik yah Nak." Bintang mengangguk mendengar nasihat Mamihnya.


"Sekarang Mamih tinggal nikahkan itu anak Mamih yang satunya lagi, kayaknya dia juga udah ngebet nikah, soalnya semalam minta tidur di kamar pengantin," ucap Bintang sambil menatap Kuncoro.


Mamih melirik Kuncoro juga sambil tersenyum, "Jangan lupa besok bawa Dinda ke rumah lhoo, lebih cepat lebih bagus, jangan lama-lama PDKT nya, nanti keburu diambil orang," ledek Mamih. Kuncoro tidak menjawab pertanyaan Mamih.


"Radit..."


"Hemm"


"Besok bawa ke rumah."

__ADS_1


Kuncoro menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kenapa Mamih begitu bernafsu ingin segera mendapatkan menantu lagi.


"Kok jadi Mamih yang ngebet?"


Mamih berdecak, "Memangnya kamu nggak ngebet? nikah itu enak."


Kuncoro menaikan kedua alisnya, "Aku masih muda Mih."


"Halah, dulu Bintang juga bilang begitu, eh sampe kebablasan jadinya. Kamu kan sudah mapan, tunggu apalagi, kalau menikah diusia sudah tua itu, kasihan nanti kamu sudah jadi kakek-kakek anaknya masih kecil-kecil," ucap Mamih memberi gambaran hidup pada umumnya.


"Mikirnya jauh banget sih Mih."


"Ya ampun Mamih, emangnya aku anak ayam, segala menetas." Mamih tergelak. Ya begitulah perasaan seorang ibu, melihat anak-anaknya mandiri, sudah berumahtangga sendiri, rasanya ada kebahagiaan tersendiri di benak Mamih.


"Pokoknya Mamih nggak mau tau, besok bawa Dinda ke rumah." Kuncoro hanya manggut-manggut mendengar perintah Mamihnya.


***


Selesai sarapan, seluruh keluarga pulang ke rumah masing-masing. Bintang membawa Bulan ke suatu tempat. Bulan mengernyitkan dahinya ketika mobil Bintang ternyata menuju komplek rumahnya. Bukankah rencananya akan pulang ke rumah Mamih terlebih dahulu, kenapa malah jadi ke sini.

__ADS_1


"Mas, kan kita mau nginep di rumah Mamih malam ini, kok ini ke rumah ayah sih Mas?" tanya Bulan. Bulan berfikir atau mungkin saja Bintang ingin Bulan mengemasi baju-bajunya. Ah mungkin iya.


"Kita nggak ke rumah Ayah, lihat saja nanti."


Bulan dan Bintang berhenti di salah satu bangunan berwarna putih. Bintang turun dari mobilnya, ia lalu membukakan pintu untuk Bulan.


"Mas, ini rumah siapa? rumah ayah di sebrang sana Mas, kok malah kesini," tanya Bulan penasaran.


"Ini rumah kita, Mas sengaja membeli rumah ini, biar kamu tetap bisa bertemu ibu setiap hari, melihat perkembangan kesehatan ibu."


"Serius Mas?" Bintang mengangguk. Mata Bulan berkaca-kaca. Ia tidak menyangka suaminya akan sebaik ini.


Bulan langsung memeluk Bintang, "Mas, kamu baik banget."


"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-sebaik kamu adalah orang yang paling baik kepada istrinya," ucap Bintang. Bulan tersenyum, Bulan benar-benar bahagia dan beruntung mendapatkan Bintang.


Sebagai seorang wanita, salah satu kebahagiaan terbesar dalam hidup ialah ketika memiliki suami yang sholeh dan senantiasa memperlakukannya dengan baik. Sebagai seorang lelaki pun, menjadi seorang suami yang mampu membahagiakan dan memuliakan istri juga merupakan kebanggaan dan kebahagiaan dari dirinya.


"Kamu suka sayang?" tanya Bintang. Bulan langsung mengangguk mantap. Bintang lalu mengajak Bulan untuk memasuki rumahnya.

__ADS_1


"Jangan lupa nanti malam gantian bahagiain Mas," Bisik Bintang. Bulan melotot, seketika itu juga ia langsung mencubit perut suaminya hingga mengaduh.


__ADS_2