Barista Cafe Jomblo

Barista Cafe Jomblo
Part 40


__ADS_3

Melihat mereka berdua hati Bintang dan Kuncoro begitu tersentuh, terlebih Kuncoro, air matanya sudah mengalir sedari tadi, ia jadi kangen dengan kedua orang tuanya yang sudah meninggal.


"Bu nanti Bulan habis nganter Ibu ke rumah, Bulan mau langsung ke Cafe, Ibu nanti sama Bi Ani yah,"ucap Bulan sambil menatap Ibunya. Bu Widya mengangguk, Bu Widya tahu Bulan harus bekerja, Bulan selama ini sudah sering izin.


"Nanti Mas antar ke Cafe yah," celetuk Bintang menengok ke belakang.


"Hemm." Mendapat jawaban begitu dari Bulan, Bintang merdecak pelan.


Kuncoro terkikik, Kuncoro kira Bulan sudah tidak marah dengan Bintang, ternyata masih berlanjut. Tadi itu ternyata hanya iklan, bertengkar juga ada iklannya ternyata, dasar Bul Bul. Bintang tetap sabar menghadapi sikap Bulan. Bulan yang begitu banyak masalah diusianya yang masih muda memang akan mudah terbawa perasaan.


Sesampainya di kontrakan Bulan, Kuncoro dan Bintang membantu meletakan Bu Widya di kursi roda. Setelah itu Bulan mendorongnya sampai kontrakan, menitipkan Ibu pada Bi Ani. Bulan kembali lagi ke depan gang, ia naik ke dalam mobil.


Bintang dan Bulan duduk di belakang. Bulan masih diam seribu bahasa.


"Ehmm, kok masih ngambek sih? harusnya kan Mas yang ngambek?" Bintang mencoba meraih jemari Bulan.


"Jangan macem-macem deh Mas, kamu besok-besok jangan kaya papah, main tuduh, akhirnya menyesal," ujar Bulan sambil melirik sinis ke arah Bintang.


"Itu kan Ayah kamu, jangan samakan semua laki-laki seperti itu dong, nggak boleh sayang." Bintang protes.


"Ya pokoknya kalau ada masalah itu jangan malah cari perempuan lain kaya Ayah." Bulan tambah ngegas. Bintang mengerutkan dahinya. Lupakah Bulan, jika Bintanglah yang pernah dihianati, bukan yang berhianat.


Bintang duduk menyamping agar bisa menatap Bulan, "Sayang, jika ada perempuan lain yang Mas cintai, yang akan Mas pasangkan tali sepatunya, percayalah, perempuan itu Mas pastikan adalah anak perempuan kita nanti."


Bulan mulai mesam mesem, belum juga nikah, sudah bahas anak, anak perempuan lagi. Kan Bulan jadi deg-degan. Bayangin Mas Bintang bikin anak, eh kok bikin anak, haduh otak, mulai nih kambuh edannya. Bulan segera geleng-geleng. Melihat tingkah Bulan, Bintang merasa bingung.


"Kok geleng, kamu nggak mau?"


"Mau kok Mas." Akhirnya runtuh juga pertahanan.


"Haduh, akika berasa obat nyamuk nih, sialan banget kalian berdua, kan akika juga pengen, mesra-mesra, uwu-uwu gitu," celetuk Kuncoro yang masih fokus mengemudi.


"Carilah sana," ucap Bintang sambil menonyor bahu Kuncoro.


"Di kantor yang cantik-cantik juga banyak," sambung Bintang lagi.


Bulan melotot," Mas, jadi kamu suka liatin perempuan lain di kantor?" Bibir Bulan mulai manyun.


Kuncoro malah terkikik, baru saja damai, sudah mau perang lagi.


"Bukan begitu sayang, maksudnya ...."


"Ih udah ih." Bintang mengusap wajahnya dengan kasar. Kenapa sih akhir-akhir ini Bulan lagi sensi sekali.


"Kamu lagi datang bulan yah?" celetuk Bintang yang membuat Bulan membelalakan matanya. Bulan merasa baru akan datang Bulan. Bulan lalu melihat ke belakang celananya.


"Apa tembus sih Mas?"

__ADS_1


"Apanya yang tembus?"


"Itunya?" Bulan sibuk melihat celananya.


"Yey, marah-marah mulu, Pak Bos curiga yey lagi dateng bulan,"ucap Kuncoro yang membuat Bulan lega.


"Mas yang bikin aku marah terus, eh tapi kayaknya emang mau dapet deh Mas, Jeng Konit, mampir Maret-maret yang sebentar, mau beli roti."


"Oke."


"Nggak lama kok, cuma 5 menit."


Kuncoro berdecih, "5 menitnya wanita itu 1 jam."


Bulan malah tergelak, Jeng Konit memang selalu faham.


"Faham banget sih."


"Gini-gini akika dulu pernah jantan Bul Bul, Pak Bos mah lewat, pernah punya pacar, perempuan di LN sana, tapi malah selingkuh, nyakitin banget, sejak saat itu jadi males ih suka sama perempuan." Kuncoro tiba-tiba menceritakan masalalunya.


Tidak ada hubungan asmara yang sempurna. Setiap pasangan mungkin pernah menghadapi berbagai macam masalah, termasuk perselingkuhan. Ketika pasangan memutuskan untuk tidak lagi setia pada komitmen yang pernah dibuat, sakit hati dan trauma pun tak dapat dihindari.


Diselingkuhi oleh pasangan juga membuat diri merasa tidak berharga. Mungkin juga akan diselimuti berbagai pertanyaan, misalnya apakah pasangan tidak pernah mencintai kita sejak awal, atau apakah kita memang tidak pantas untuk dicintai.


Seluruh pikiran dan emosi negatif yang kita alami tersebut akan menumpuk dan berpotensi memicu stres. Itulah yang Kuncoro rasakan sehingga berubah haluan menjadi Jeng Konit.


"Apa yang yey katakan benar Lan, seharusnya akika berfikir seperti apa yang yey katakan, tapi dulu akika salah pergaulan juga."


"Masih ada waktu untuk berubah, coba buktiin kalau kamu lebih ganteng dari aku." Bintang sengaja memancing Kuncoro agar ia mau berubah.


Kuncoro terkekeh, "Nanti Bul Bul jatuh cinta sama Akika lagi Bos."


"Hemm, memangnya berani sama Mamih,"ucap Bintang.


"Ampun bos."


"Jadi kapan mau berubah jadi Radit?" pancing Bulan.


"Besok deh."


"Coba besok aku mau lihat, kalau beneran berubah nanti aku comblangin sama Jesika,"ucap Bulan sambil tersenyum, sedikit juga membayangkan Jesika dan Kuncoro.


Kuncoro berdecak, "Ah masalah cewek mah nanti aja deh, eh itu ada Maret-maret, jadi kan mau ke Maret-maret?"


Bulan mengangguk, "Jadi dong."


Kuncoro segera menepikan mobilnya, setelah menepi Bulan segera turun dari mobil, lalu berjalan menuju Maret-maret.

__ADS_1


...oOo...


"Mas, apa yang Bulan katakan itu tidak sepenuhnya benar." Bu Laras memohon pengampunan pada Pak Permana.


"Ini buktinya, kamu masih mengelak, tidak percaya kamu sejahat itu, asal kamu tahu, aku tidak menghancurkan perusahaan ayah Sarah, tapi memang dia yang tidak mengelola perusahaan dengan baik, perusahaan nya sudah tidak bisa dipercaya." Pak Permana mencoba menurunkan emosinya, agar tidak berbuat fatal pada istrinya yang kini tengah memegangi lututnya sambil bersimpuh.


"Awas, minggir." Pak Permana menendang tubuh Bu Laras. Pak Permana berjalan keluar rumah.


"Mau kemana kamu Mas?" Bu Laras berusaha mengejar.


"Bukan urusanmu."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


(Maaf yah 2 hari nggak up, emak lg kepikiran Zara, tapi kemarin sudah dapat kabar dari penerbit, Zara sudah di kirim ke alamat Emak, sedikit lega, makanya ini sudah bisa nulis lagi.)

__ADS_1


__ADS_2