Barista Cafe Jomblo

Barista Cafe Jomblo
Part 53


__ADS_3

( Untuk visual Kuncoro yang sudah macho, fantasikan dihalusinasi masing-masing saja yah sayang. Oh ya doakan semoga Emak bisa update Barista cafe jomblo terus, biar sebelum lebaran udah tamat, emak mau bikin cerita baru lagi di sini, tenang, emak nggak pergi kok🤭)


Kuncoro siang ini tengah duduk di depan Maret-maret tempat Dinda bekerja. Dinda yang kala itu bergantian istirahat dengan temannya langsung menghampiri Kuncoro. Dinda sudah melihat Kuncoro sedari tadi.


"Mas Radit," sapa Dinda. Kuncoro langsung melihat ke arah Dinda sambil tersenyum.


"Eh Din, ke restoran dengan itu aja yuk," ajak Kuncoro. Dinda menggeleng, Dinda tahu betul restoran sebrang sangat mahal.


Kuncoro mengerutkan dahinya, "Kenapa?"


"Mahal-mahal Mas." Eh Kuncoro malah tertawa. Kuncoro lalu memberi tahu Dinda bahwa dirinya yang akan mentraktirnya.


"Jangan Mas, nanti Mas tekor, beneran deh, itu mahal," celetuk Dinda. Kuncoro geleng-geleng melihat ekspresi wajah Dinda yang terlihat polos.


Kuncoro langsung memegang pergelangan tangan Dinda lalu menggandeng Dinda menyebrangi jalan raya di depan Maret-maret. Wih, Kuncoro garcep. Teman Dinda yang berada di dalam Maret-maret begitu penasaran dengan laki-laki yang menggandeng tangan Dinda.


Dinda melongo, ia menatap tangannya yang tengah di gandeng Kuncoro. Sesampainya di restoran, Kuncoro langsung mempersilahkan Dinda duduk.

__ADS_1


"Haduh baru duduk di bangkunya saja rasanya sudah gemetaran," ucap Dinda dalam hati. Dinda menatap sekeliling restoran yang begitu mewah, walaupun tempatnya di depan tempat kerjanya tapi Dinda sama sekali belum pernah makan di tempat ini. Sekali makan saja mungkin akan menghabiskan gajinya sebulan.


"Kenapa?" Kuncoro melirik Dinda.


"Haduh Mas, utang saya aja belum lunas, nanti utang saya jadi makin tambah ini." Dinda menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung bagaimana cara membayarnya karena gajinya hanya standard UMR.


"Lunas kalau kamu mau dateng kondangan sama saya," ucap Kuncoro. Kuncoro sudah merencanakan ini semua, ia tidak ingin datang ke pernikahan Bintang.


"Kondangan di mana Mas? kok sama saya, saya kentang begini lhoo Mas, beda banget sama Mas yang necis, nanti Mas malu lhoo," cerocos Dinda. Dinda memang merasa tidak pantas jika berdampingan dengan Mas Radit yang dilihat dari tampilannya saja sudah bisa ditebak laki-laki berada, bukan kaleng-kaleng.


"Oh, lah Mas kapan nyusul?" tanya Dinda sambil terkekeh. Kuncoro mengerucutkan bibirnya. Tidak usah ditanya kapan, kalau sudah punya gebetan nggak bakalan mengajak Dinda.


"Kalau saya sih Persiapan nikah udah 95%, tinggal 5% itu nyari pasangannya," celetuk Kuncoro. Dinda tergelak dong. Mas Radit ini bisa aja kalau bercanda. Suasana semakin mencair, menurut Kuncoro ternyata Dinda termasuk wanita yang asyik untuk diajak bicara. Dan yang paling terpenting tidak menilai Kuncoro dari hartanya, baru diajak ke restoran saja sudah gemetaran.


"Kamu juga, sudah punya pacar belum?" tanya Kuncoro. Mumpung sedang membahas tentang jodoh, Kuncoro juga terpancing untuk menanyakan hal demikian pada Dinda.


Dinda menggeleng, "Siapa yang mau sama saya Mas, saya nggak cantik, miskin, nanti cuma jadi beban laki-laki doang."

__ADS_1


"Wanita diciptakan istimewa. Tetap tegar meski nyaris menyerah, tetap sabar meski ingin mengeluh, tetap kuat meski hampir terjatuh. Wanita tidak pernah menjadi kuat ketika mereka terus-menerus mengurung diri dengan rasa cemas akan kelemahannya. Kecantikan seorang wanita tidak hanya tampak dari wajahnya. Namun dari keputusannya dalam menyelesaikan sebuah masalah, dan kamu istimewa Nda," ucap Kuncoro. Kuncoro lalu mengelus mulutnya. Tanpa sadar bisa mengeluarkan kata-kata bijak.


"Makasih ya Mas." Pelayan restoran menghidangkan makanan yang Kuncoro pesan tadi. Dinda langsung melongo melihat beberapa menu makanan yang baru pertama kali ia lihat.


"Mas, ini pasti mahal," celetuk Dinda. Dinda masih diam, memandang makanan yang ada di depannya.


"Udah, saya yang bayar, kamu tinggal makan, tapi mau kan nanti hadir diacara pernikahan sepupu saya sama saya," tanya Kuncoro. Dinda mengangguk perlahan.


"Pacarmu nggak marah kan?" Kuncoro ingin meyakinkan sekali lagi jika Dinda memang benar-benar jomblo.


Dinda menggeleng, "Saya nggak ada pacar Mas."


"Kenapa nggak pacaran?" Kuncoro malah keceplosan menanyakan hal demikian.


"Mendung belum tentu hujan, dipacarin belum tentu dinikahkan," jawab Dinda sambil tersenyum.


"Berarti maunya langsung dinikahi aja nih?" ledek Kuncoro. Dinda malah tersenyum tersipu malu.

__ADS_1


__ADS_2