
Sebelum selesai resepsi, Kuncoro terlebih dahulu mengantarkan Dinda pulang ke rumahnya. Melihat Dinda sendirian di rumah, Kuncoro semakin kasihan dengan Dinda yang hidup sebatang kara. Kuncoro jadi teringat, seandainya tidak ada Mamih, pasti dirinya juga akan senasib dengan Dinda.
Setelah mengantarkan Dinda, Kuncoro kembali lagi ke hotel, rencananya ia ingin mengerjai malam pertama Bintang dan Bulan.
Sesampainya di hotel Kuncoro tidak ke tempat resepsi lagi, melainkan ke kamar pengantin baru yang sudah disediakan hotel. Kuncoro menyusup ke dalam selimut untuk mengerjai Bintang dan Bulan.
Di tempat resepsi, Bintang sudah mengajak Bulan untuk istirahat karena acara demi acara dari pagi hingga malam sungguh sangat melelahkan. Bulan pun mengikuti keinginan suaminya walaupun sebenarnya dirinya cukup deg-degan.
Kini Bintang dan Bulan sudah sampai di kamar hotel khusus pengantin yang sudah diberi tahu Mamih. Bintang lalu menggendong Bulan dan berputar-putar, rasanya bahagia sekali akhirnya Bintang bisa menikahi Bulan.
Bintang menurunkan Bulan lalu menatap wajah Bulan, ah rasanya sudah tidak tahan lagi untuk tidak mengecup bibir ranum Bulan.
"Alhamdulillah akhirnya Mas bisa halalin kamu sayang," ucap Bintang sambil mengelus pipi Bulan dengan penuh kasih sayang.
Mata Bulan berkaca-kaca, ia juga tidak menyangka jodohnya adalah Bintang, pelanggan cafe jomblo yang kala itu sedang mencari jodoh tapi malah ada tragedi yang mengharuskan dirinya menjadi pengganti wanita yang kabur itu. Ah andai saja wanita itu tau siapa yang menjadi pasangannya, pasti menyesal.ðŸ¤
"Bulan, Denganmu, hati Mas telah menemukan ritmenya," ucap Bintang menatap mesra istrinya.
Bulan mengangguk, "Terimakasih Mas, Mas telah mengganti mimpi burukku dengan mimpi indah, kekhawatiranku dengan kebahagiaan, dan ketakutanku dengan cinta." Bulan lalu memeluk suaminya. Teringat tragisnya kisah cinta dan kehidupannya, tapi nasib baik tidak disangka-sangka ketika dirinya dipertemukan dengan Bintang.
Jodoh adalah salah satu perkara paling misterius seperti halnya kematian, tak ada yang tahu dengan siapa, kapan dan bagaimana seseorang akan menemukan jodohnya. Namun yang pasti, Allah subhanahu wa ta’ala menjamin rezeki bagi setiap hamba-Nya, termasuk rezeki berupa jodoh. Tentu saja ikhtiar harus terus dilakukan sebagai upaya menjemput jodoh dengan cara menempuh sebab-sebabnya.
"Nggak akan ada lagi yang bisa menyakitimu, kalau ada yang berani, siap-siap saja berhadapan dengan Mas."
Bulan mencubit hidung mancung suaminya, "Sok jagoan, emangnya bisa tinju?" tanya Bulan sambil terkekeh.
"Dih, jangan salah, Mas paling bisa gulat, apalagi gulat di kasur." Bintang mengerlingkan matanya.
"Sayang, apa mas boleh minta malam ini? udah Mas tahan-tahan nih dari dulu, akarnya udah bercabang kemana-mana ini, yang lain sudah punya anak dua, Mas malah baru menikah, kasihanilah bujang lapuk ini," ucap Bintang dengan mimik muka memohon.
Bulan tergelak melihat ekspresi suaminya, Bulan mengangguk, Bulan mengatakan bahwa kapanpun dirinya akan siap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Bintang langsung berlonjak-lonjak.
"Jangan pernah berhenti mencintai Mas, temani Mas selalu yah, seperti Bulan yang selalu berdampingan dengan Bintang." Bintang kembali memeluk istrinya.
Bintang lalu memegang dagu istrinya, membelai bibir indahnya. Wajah Bintang semakin mendekat ke wajah Bulan.
Baru saja ingin merasakan bibir Bulan, tiba-tiba ada suara ponsel berdering. Bintang langsung berdecak kesal, ia merogoh sakunya, mengambil ponselnya, tapi tidak ada panggilan, Bintang menanyakan Bulan, Bulan malah menjawab jika dirinya tidak membawa ponsel.
Bintang mencari sumber suara dering ponsel, Bintang geleng-geleng kepala ketika mendapati seseorang tengah tidur di dalam selimut ranjang pengantinnya. Bintang melepas sepatunya, lalu memukulkanya pada orang yang ada dalam selimut itu.
"Woy, kurang ajar ya, bangun, kenapa tidur di sini woy." Bintang menyingkap selimutnya, ternyata ada Kuncoro yang tengah mencoba menahan pukulan Bintang menggunakan tangannya.
__ADS_1
"Haduh, main pukul aja, aku nih," ucap Kuncoro. Ternyata Kuncoro ketiduran, niat hati ingin mengerjai Bintang, malah ketiduran.
"Ngapain tidur di sini? ini kamar pengantin, kamar mu di sebelah tuh." Bintang berkacak pinggang di depan Kuncoro. Bulan hanya geleng-geleng kepala melihat pertengkaran antara keduanya.
"Empuk yah ranjang pengantin, bikin pengen bobo terus," ledek Kuncoro.
"Makanya kawin," celetuk Bintang.
"Nikah dulu lah, jangan sembarangan kawin, emangnya kucing."
"Iya nih kamu kaya kucing, tidur asal tidur nggak tau tempat."
"Hehe sorry bos, tadinya mau nonton live," ledek Kuncoro.
"Sialan, berani liat aurat istri aku, aku colok mata kamu pakai garpu,"ucap Bintang sambil menarik lengan Kuncoro agar cepat bangun dan keluar dari kamarnya.
"Ah iya iya, aku bangun nih." Kuncoro lalu bangun dari tempat tidur dengan rambut acak-acakan. Ponselnya berdering lagi, ia segera mengangkatnya. Ternyata dari Dinda, Dinda ingin memastikan jika Kuncoro sampai hotel dengan selamat.
(Assalamualaikum)
(Waalaikumsallam, ya Din)
(Mas sudah sampai di hotel?)
(Kok suaranya gitu)
(Iya nih, ketahuan ngintip malam pertama pengantin baru) ucap Kuncoro sambil tergelak. Bintang langsung melemparkan bantal pada Kuncoro. Kuncoro langsung lari lalu keluar kamar pengantin.
...***...
Selama perdebatan antara Kuncoro dan Bintang, Bulan menuju kamar mandi, mengganti pakaian pengantinnya dengan piyama tidur biasa. Bulan belum berani menggunakan lingerie yang sudah disiapkan Mamih dilemari.
Bintang yang menyadari Bulan ada di kamar mandi langsung saja menyusulnya. Bintang mengetuk pintu kamar mandi hotel. Tak selang berapa lama, Bulan membukakan pintu kamar mandi, Bulan menggunakan piyama tidur, rambutnya tergerai indah, membuat Bintang yang melihatnya menelan salivanya.
"Sayang, Mas bersih-bersih dulu yah, kamu tungguin Mas yah, jangan kemana-mana lhoo," ucap Bintang. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai bersih-bersih Bintang dan Bulan melaksanakan sholat isya berjamaah. Setelah itu dilanjut dengan sholat dua rakaat pengantin baru.
Selesai sholat Bulan melirik suaminya. Bintang memperhatikan gerak gerik Bulan, sepertinya Bulan memang masih canggung.
Bulan membuka mukenahnya lalu berjalan membuka hordeng kamar hotel. Dilihat nya pemandangan begitu indah, lampu kelap kelip rumah warga dan banyak bintang di atas langit sana, serta bulan purnama yang begitu gamblang terlihat.
__ADS_1
Sesaat terkesima dengan pemandangan di luar jendela, tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perutnya, Bulan terkejut, ternyata Bintang sedang memeluknya dari belakang, tangan nya melingkar di perut Bulan, kepala nya bersandar di bahu Bulan, menghirup aroma wangi rambut Bulan yang tergerai indah.
"Emm Mas."
Bintang membalikan tubuh Bulan sehingga mereka kini berhadap-hadapan, Bintang langsung merengkuh memeluk erat tubuh Bulan.
"Mas Nggak tahan," bisik Bintang di telinga Bulan. Bulan membiarkan Bintang memeluknya.
Setelah dirasa cukup, Bintang melepas pelukannya lalu menatap istrinya. Bulan yang belum terbiasa di tatap Bintang, langsung menunduk malu.
"Kamu menggoda Mas yah."
Bintang meraih dagu Bulan, menatap matanya. Wajah mereka semakin mendekat, Bintang membisikan sesuatu di telinga Bulan sehingga membuat bulu kuduk Bulan meremang.
"Apa Mas boleh melakukannya sekarang?"
Bulan pun mengangguk.
Bintang langsung menggendong Bulan menuju ranjang yang sudah di penuhi mawar, menambah hawa romantis. Tapi sayangnya sedikit berantakan karena ulah Kuncoro.
Bulan mengalungkan tangannya di leher Bintang, sambil tersenyum. Bintang meletakan Bulan di atas ranjang, lalu Bintang kini sudah berada di atas Bulan, menatap lekat-lekat wajah istri tercintanya.
Bulan merasakan nafas Bintang yang begitu memburu seolah olah akan menerkamnya, Bulan kembali di buat merinding dengan tatapan Bintang. Ini pengalaman pertama dan malam pertama untuk Bulan dan Bintang, dada Bulan berdegup kencang tak beraturan.
Bintang mencium pucuk kepala Bulan, seraya berdoa dalam hati. Bismillahi Allahumma jannibnas-syaithoona wa jannibnis-syaithoona maa rozaqtanaa.
Bintang meraih selimut lalu menutupi tubuhnya juga tubuh Bulan.
Bintang melanjutkan mencium pipi Bulan, lalu berpindah ke bibir Bulan yang sangat menggairahkan. Selama ini sudah cukup lama untuk menahan untuk tidak menyentuhnya. Bulan terpejam ketika Bibir Bintang sudah menyesap bibir nya, di sana mereka saling meneguk kenikmatan.
Bulan hanya pasrah membiarkan Bintang menikmati apa yang sudah menjadi haknya, biarlah suaminya menyentuh semua yang sudah menjadi miliknya.
Bintang mulai memasuki setiap inci menuju syurga duniawinya, tapi yang dirasakan seperti ada penghalang dan tidak mudah untuk menerobosnya. Seketika Bintang melihat Bulan yang meringis kesakitan dan meneteskan air mata di ujung mata nya.
Tangan Bulan mencengkram erat lengan suaminya, kuku nya tanpa sengaja melukai kulit punggung suaminya. Bintang terus melanjutkan kegiatan menembus syurga duniawinya, walaupun khawatir dengan pekikan Bulan, tapi si Joni juga akan lebih mengkhawatirkan jika kegiatan ini dihentikan.
Akhirnya Bintang berhasil menembus kesucian Bulan yang selama ini ia jaga. Bintang begitu bahagia.
Bintang kini benar-benar menuntaskan hasratnya, cintanya dan sayangnya.
Setelah selesai menuntaskan semuanya, Bintang terkulai di sebelah Bulan, sebelum terlelap, Bintang mengecup Bulan mengucapkan terimakasih, dan berdoa. Doa penutup setelah melakukan nafkah batin.
__ADS_1
Mereka akhirnya terlelap, mengistirahatkan tubuh mereka sehabis olahraga malam yang sangat menguras tenaga.