Barista Cafe Jomblo

Barista Cafe Jomblo
Part 60


__ADS_3

Bulan menggandeng Bintang menuju kamar. Hari ini Mamih memang sengaja mengundang Bulan juga ke rumah untuk merencanakan mengambil hati Dinda agar mau menjadi menantu mamih. Semenjak menikah, Bulan dan Bintang sudah menetap di rumahnya sendiri.


Sesampainya di kamar, Bulan lalu menceritakan jika sebenarnya mamih sudah menjemput Dinda dan Dinda sekarang sedang mandi di kamar tamu. Bulan juga meminta tolong pada suaminya agar membujuk Kuncoro.


Bulan membuka dasi suaminya sambil terus bercerita. Bintang sesekali mengecup pucuk kepala istrinya. Selesai membuka dasi, Bulan menarik dasi suaminya hingga suaminya menunduk lalu Bulan mencium bibir suaminya sekejap, setelah itu melepaskannya sambil mengembangkan senyuman manis untuk suaminya.


Bintang malah tidak puas jika hanya dikecup sekilas. Bintang menarik pinggul istrinya lalu memeluk istrinya. Bintang langsung mengecup bibir istrinya, Bintang menekan tengkuk istrinya, kecupan ringannya menjadi *******-*******. Bintang rindu Bulan.


Beberapa menit menyesap bibir istrinya, Bintang melepaskannya lalu mengucapkan terimakasih pada istrinya.


"Ingat, nanti malam harus lebih," ucap Bintang sambil mengerlingkan matanya lalu berlalu menuju kamar mandi. Bulan hanya tersenyum malu menanggapi suaminya yang doyan bercocok tanam.🤣


Papih Arav juga sudah pulang, mamih menyambutnya dengan hangat. Mamih tahu setiap suami yang pulang dari kerja ingin dapat bersantai, sesampainya di rumah kehadiran istri dan anak-anak yang menyenangkan di rumah tentu dapat menjadi pelebur kelelahannya setelah bekerja seharian dengan berbagai aktivitas dan problematika di tempat kerjanya.


Wanita idaman pria yang sesungguhnya adalah wanita yang dapat menjadi pendampingnya yang menyejukkan hati di berbagai situasi atau kesempatan, termasuk menyambut suami pulang bekerja. Berkaitan dengan hal tersebut, keseharian dalam rumah tangga yang tampak simpel, namun cukup berarti dimata pria.


Mamih juga mengajak papih Arav ke kamar. Mamih menceritakan tentang Kuncoro dan Dinda dengan antusias. Papih juga terlihat senang karena melihat mamih begitu bahagia dengan rencana yang telah disusunnya.


***


Selesai mandi Dinda yang sudah berganti baju dengan baju gamis milik Pelangi kakak Bintang. Dinda lalu keluar dari kamar. Saat keluar dari kamar tamu, ternyata di kamar sebelah, ada Kuncoro yang tengah membuka kamarnya juga. Keduanya nampak terkejut.

__ADS_1


"Lhoo Din." Kuncoro benar-benar terkejut.


Dinda tersenyum, "Eh iya Mas."


"Kok bisa ada di situ?"


"Iya tadi pas pulang kerja mamih jemput aku mas, terus nyuruh aku ke sini," jawab Dinda dengan jujur.


"Kok kalau aku yang minta kamu kesini, kamu nggak mau? kenapa pilih kasih gitu," ucap Kuncoro sedikit merajuk. Dinda jadi merasa tidak enak hati sebenarnya.


"Maaf mas, kemarin aku lagi bener-bener banyak kerjaan, tadi juga sebenarnya banyak, cuma mamih gandeng tangan aku langsung masukin aku ke mobil, aku nggak bisa nolak, muka mamih sedih, aku nggak tega."


"Terus kalau sama aku tega?" Kuncoro meledek Dinda, ia ingin tahu reaksi Dinda.


"Aku mau maafin asal ada syaratnya," Celetuk Kuncoro.


"Apa Mas?"


"Tadi Mamih bilang apa aja?"


"Emm..." Dinda mengusap tengkuknya. Bingung apakah harus diceritakan sekarang, ah rasanya malu, tapi jika tidak diceritakan, takut mas Radit semakin marah.

__ADS_1


"Ya udah..." Kuncoro hendak pergi, tapi Dinda cegah. Dinda akhirnya menceritakan apa yang mamih katakan. Kuncoro tersenyum puas.


"Terus kamu terima tawaran mamih?" tanya Kuncoro penasaran.


Dinda menggeleng, Kuncoro langsung kecewa.


"Kenapa? apa karena masalalu aku?"


Dinda lagi-lagi menggeleng, "Aku ngrasa tidak pantas menjadi bagian dari keluarga ini, kamu sangat kaya raya sedangkan aku, aku berasa jadi Cinderella yang sepatu kacanya hilang kalau seperti ini.


Kuncoro mesem manis, "Bukankah dicerita Cinderella juga pangeran menerima Cinderella apa adanya? apakah aku tidak mencerminkan pangeran itu? apa aku kelihatan membedakan status sosial?"


Dinda menggeleng, "Mamih yang mau, belum tentu kamu yang berniat Mas, sedangkan pernikahan itu dijalani berdua."


"Dinda, seorang ibu batinnya kuat, mamih sudah aku anggap seperti ibuku sendiri."


"Tapi aku penuh dengan kekurangan," ujar Dinda. Dinda menundukan, melihat ke bawah, mencerna perkataan mas Radit, apakah mas Radit juga mempunyai niat yang sama seperti mamih.


"Dinda lihat aku." Dinda memberanikan diri menatap mas Radit.


❤️❤️❤️

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2