
Kenapa tidak dari dulu Mas, kenapa? kenapa kamu menunggu. Teruntuk masa lalu, berhentilah menepuk punggungku. Aku tidak ingin melihat ke belakang.
Bulan tidak merespon ucapan Arkan, satu tahun baginya bukanlah waktu yang singkat untuk menanggung semua kesengsaraan dan sakit hatinya.
"Lan, aku mau perjuangin kamu."
Bulan mengumpulkan piring dan gelas kotor bekasnya juga bekas Arkan. Ia lalu meletakkannya di dapur. Setelah itu Bulan menyalakan televisi, hal ini Bulan lakukan agar Ibunya tidak fokus mendengarkan percakapan dirinya dan Arkan. Bahkan Bulan menambah volume televisinya. Bulan kembali lagi ke ruangan depan.
"Mas sudah mau magrib, lebih baik kamu pulang?" Bulan menyender di tembok, rasanya kepalanya semakin nyut-nyutan.
"Bulan beri Mas kesempatan sekali lagi." Mas Arkan memasang wajah memelasnya. Namun Bulan tak gentar, tak goyah.
"Maaf Mas, aku sudah move on." Bulan memejamkan matanya sekejap.
"Maafin Mas Lan, Mas baru tahu keadaan kamu ternyata seperti ini, Mas janji akan memperbaiki semuanya." Benar kata Mas Bintang, Mas Arkan ini memang modelan buaya syariah, kata-katanya manis semua, baik semua.
Bulan membuka matanya, lalu tersenyum sinis pada Arkan, "Aku sudah biasa hidup seperti ini Mas, kamu nggak perlu kasihan, kemana saja kamu selama ini? hah? pertama kali aku dan Ibu diusir, kamu adalah harapan aku satu-satunya Mas, tapi mana? kamu malah semakin membuatku sakit. Aku sakit lahir batin Mas, aku dan Ibu pernah tidak makan beberapa hari, aku dan Ibu pernah tidur di emperan toko, aku dan Ibu terlunta-lunta, saat itu aku hanya bisa berdoa semoga Allah kasih aku kekuatan, biar aku bisa selalu gendong Ibu kemana pun aku pergi." Air mata Bulan tiba-tiba mengalir begitu saja, mengingat pernah sebegitu susah, lebih dari sekarang, Bulan tidak bisa membendung air matanya lagi.
"Bulan, kamu masih punya ayah, kenapa tidak kembali pada Ayahmu." Arkan sebegitu entengnya mengatakan hal demikian membuat Bulan membulatkan matanya.
"Aku tidak gila harta seperti pacar kamu mas, aku tidak akan pernah meninggalkan Ibu dalam keadaan sakit, waktu Ibu masih sehat, Ibu begitu baik merawat ku, mengasihi ku, lebih dari Ibu mengasihi dirinya sendiri, jika aku memilih dengan Ayah, Ibu bagaimana? terlunta-lunta dengan kondisinya yang seperti itu? aku tidak sejahat itu." Bulan nampak begitu emosi, hal ini membuat kepalanya semakin berat.
"Sudah Mas, kamu pulang saja, please, aku mau sendiri, aku lelah, aku mau istirahat."
Arkan mengangguk, "Iya aku pulang nanti habis magrib yah, kamu tiduran aja, minum obat yah." Arkan masih saja terus berusaha berbuat baik demi untuk kembali mendapatkan hati Bulan.
Bulan tidak menjawab perkataan Arkan, ia hanya berharap, Arkan benar-benar menepati ucapannya, Bulan sudah tidak ingin berbicara panjang lebar, itu hanya akan mengorek luka di hatinya.
Arkan menempati ucapannya, setelah Magrib ia berpamitan pada Bulan dan Bu Widya, tapi sebelum itu Arkan memastikan bahwa Bulan meminum obat demam yang ia belikan. Bulan meringkuk hampir tertidur di ruang depan. Badannya sudah sangat lemas. Arkan menangkupkan jaketnya pada tubuh Bulan, lalu ia pergi meninggalkan kontrakan Bulan. Bulan merasa lega karena Arkan akhirnya pulang juga.
Bulan dan Bu Widya tertidur lelap malam ini. Bulan berharap semoga saja esok bisa ke rumah Ayah bersama Ibu untuk mengklarifikasi semuanya. Walaupun Ayah dan Ibu kecil kemungkinan untuk bersama lagi, tapi setidaknya kesalahfahaman masalah Ibu yang difitnah segera berakhir, agar tidak menimbulkan kebencian yang berkepanjangan.
...oOo...
__ADS_1
Keesokan paginya Bulan sudah terbangun seperti biasa. Tubuhnya sudah tidak lagi demam. Ia pun melakukan aktivitas pekerjaan rumah di pagi hari seperti biasa. Hari ini Bulan memakaikan baju yang cukup bagus pada Ibunya. Baju Ibu sebenarnya bagus-bagus, hanya saja karena kondisi seperti itu, jadi Ibu hanya mengenakan kaos dan celana biasa agar lebih mudah memakaikannya.
Bulan juga memoles wajah Ibu dengan sedikit riasan. Ibu terlihat bingung karena tumben sekali Bulan mendandaninya.
"An, au na?" Rasa penasaran Bu Widya sudah tak terbendung.
"Mau ketemu seseorang, Ibu ikut aja yah." Selesai mendandani Ibunya, kini giliran Bulan yang memoles wajahnya agar tidak terlalu terlihat pucat karena demam semalam.
Pintu kontrakan di ketuk, " Assalamualaikum."
Bulan mengenal suara yang begitu familiar di telinganya. Bulan segera membukanya.
"Waalaikumsallam, masuk Mas, masuk jeng Konit." Yah Bulan sudah hafal itu suara Bintang.
Bintang masuk dan Kuncoro masuk ke dalam kontrakan..
"Kok pagi-pagi begini udah ke sini Mas." Bulan jadi bingung, Mas Bintang kenapa tidak ke kantor, malah ke sini.
"Emangnya nggak boleh?"
"Kita mau ikut yey nyerang tante lampir Bul Bul,"ucap Kuncoro sambil terkekeh.
Bulan melirik Kuncoro, "Nggak perlu Lhoo Jeng Konit, Mas, Bulan biasa kok ngadepin Bu Laras dan Sarah."
"Pokoknya Mas harus ikut." Titah Mas Bintang sudah tidak bisa di tolak.
"Bulan buatin teh anget yah." Bulan segera ke dapur untuk membuatkan teh anget.
Tangan Bintang menyentuh jaket tebal yang tergeletak di ruang tamu. Bintang lalu mengambilnya, ia mencium bau maskulin pada jaket itu.
"Bulan, Lan, ini jaket siapa? kok ada di sini?"
Deg ....
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
( Mak kebiasaan😆😆 pasti nanti komennya begitu😆😆 Emak habis nyetrika nih, nggak bisa up 2 yah, semalehoy rasanya)
Vote, Vote dong emak bahenol, mbak cantik, mas ganteng, rengking terjun dari ketinggian 3000 kaki, tuingggggg bleg, hayo dukung authore dengan vote sebanyak-banyaknya, biar semakin semangat.
Salam sayang,
__ADS_1
Santypuji