
Resepsi digelar begitu mewah di hotel milik keluarga Arav. Mamih yang memilihkan konsep weddingnya. Kalau tidak cetar namanya bukan Mamih ya gengs.ðŸ¤
Semuanya sudah berkumpul di hotel, perayaan resepsi akan segera di mulai. Mamih malah sibuk mencari Kuncoro.
"Ini Radit kemana ini? Gusti ... sebentar lagi mulai." Mamih berkacak pinggang tapi memasang wajah cemas.
"Paling juga lagi ke toilet." Papah Arav mencoba menenangkan Mamih.
"Coba telfon Pah." Papah Manggut-manggut, lalu mengeluarkan ponselnya mencoba menghubungi Kuncoro.
Telfon diangkat, Papih langsung menanyakan dimana keberadaan Kuncoro. Kuncoro menjawab jika dirinya sedang menjemput Dinda di salon. Papih mengerti, lalu menutup telfonnya.
"Gimana Pih?" tanya Mamih.
"Lagi jemput cewe nya Mih." Seketika wajah Mamih langsung girang. Akhirnya resepsi dimulai sambil menunggu Kuncoro juga.
Banyak sekali relasi Papih yang hadir, relasi pak Permana juga, teman-teman Bintang dan teman cafe jomblo juga. Semuanya berbahagia diacara pernikahan Bulan Bintang.
Saat sedang sesi foto, Raditya Kuncoro dengan percaya dirinya menggandeng Dinda, menghampiri keluarga yang ingin berfoto. Mamih yang melihat langsung tersenyum, menggandeng Dinda yang kala itu masih terlihat malu. Mamih membawa Dinda berfoto dengan rombongan wanita akan seragam.
Dinda juga ikut bahagia melihat kemeriahan pesta perkawinan sepupu Radit. Ini pertama kalinya Dinda menghadiri pernikahan semegah ini di hotel berbintang lagi.
Selesai sesi foto, Dinda di ajak mamih makan di meja yang sama dengan keluarga Arav.
"Mamih, ini Radit yang bawa, kenapa mamih yang gandeng-gandeng terus sih," celetuk Kuncoro.
__ADS_1
"Husttt, diem ah, ini proses seleksi," bisik Mamih. Kuncoro berdecak, "Seleksi? memangnya mau masuk perguruan tinggi?"
"Nah itu, masuk perguruan tinggi saja diseleksi, apalagi masuk ke dalam kehidupan mu, jangan sembarangan yah." Mamih lalu menggandeng Dinda lagi menuju meja resepsi.
Mereka semua makan bersama, begitu juga dengan mempelai, jangan sampai mempelainya kelaparan.
"Sayang makan yang banyak, nanti malam kita lembur," bisik Bintang pada istrinya. Bulan menepuk lengan Bintang, Bintang malah tertawa melihat wajah istrinya bersemu merah.
"Radit, besok bawa Dinda ke rumah ya, Mamih mau ngobrol, kalau di sini mah berisik," ucap Mamih. Kuncoro melongo, haduh mamih sepertinya sudah ngebet mau gelar resepsi lagi.
"Ajak sendiri lah, kan orangnya ada di sebelah Mamih." Mamih tersenyum ke arah Dinda lalu mengatakan jika besok Mamih akan menjemput Dinda di tempat kerjanya. Kuncoro geleng-geleng melihat tingkah mamih.
"Cantik, Radit kamu pinter deh, nemu yang cantik kalem begini," celetuk Mamih. Ya kali nemu udah kaya apa ajah.ðŸ¤
"Aku kan juga ganteng Mih, wajar lah dapet yang cantik," ucap Kuncoro jumawa. Mamih mengacungkan jempolnya.
"Kamu kenapa? takut ilang? ini bukan pasar Din," ucap Kuncoro sambil terkekeh.
"Saya nggak terbiasa Mas," jawab Dinda.
"Ya biasain lah, nanti kalau kita menikah pasti pestanya begini," ucap Kuncoro lirih. Sangat lirih.
"Apa Mas? siapa lagi yang mau menikah?"
"Eh, itu, adiknya Bintang." Dinda yang belum faham silsilah keluarga Arav hanya mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Cobain deh," Kuncoro menyuapi disert yang ia ambil. Dinda Refleks membuka mulutnya lalu memakannya.
"Enak?" Dinda mengangguk.
"Din, kamu cantik banget hari ini," kata Kuncoro. Dinda langsung tersenyum malu.
"Ya cantiklah Mas, kan ini berkat make up, berkat bajunya juga yang memang sudah bagus, make up nya juga bagus banget." Dinda berusaha untuk tidak besar kepala.
"Pakai seragam kerja juga kamu tetap cantik." Dinda langsung mencubit lengan Kuncoro. Bisa saja nih laki-laki yang ada di depannya ini sok-sokan merayu.
"Mas itu tadi semua keluarga kamu?" Kuncoro mengangguk.
"Yang tadi wanita setengah baya itu siapa?"
"Itu Mamih, itu pengganti ibu aku." Kuncoro akhirnya menceritakan kenapa bisa menjadi Keluarga Arav saat ini. Kuncoro juga menceritakan semua kehidupan di masalalunya. Dinda tertegun, ternyata ada yang lebih menderita dari dirinya. Kuncoro juga merasakan kehilangan kedua orangtuanya sekaligus.
"Maaf ya Mas, kamu jadi cerita masa sedih kamu," ucap Dinda. Kuncoro menggeleng, ia malah merasa lega, bisa menemukan seseorang yang mau mendengarkan ceritanya, dan tidak menghakimi masalalunya.
"Kamu nggak malu punya teman kaya saya Din, saya dulu hampir saja menyerupai perempuan.
Dinda menggeleng, "Saya bukan type orang yang senang menghakimi seseorang karena masa lalunya. Setiap orang pasti pernah salah. Dan setiap orang pasti bisa belajar dari kesalahannya."
Setiap orang pasti memiliki masa lalu sendiri-sendiri. Terlepas dari baik atau buruknya masa lalu, terkadang manusia dengan mudah menghakimi orang lain hanya karena melihat masa lalunya. Mungkin bagi mereka yang menghakimi, mereka tidak tahu dimana letak kelebihan dirinya sendiri sehingga sangat peduli terhadap kekurangan orang lain.
Sebenarnya fenomena ini adalah hal yang biasa terjadi, dimana seseorang dengan mudahnya menilai keberadaan orang lain dan mengkritik kesalahan yang diperbuatnya. Namun sebelum menilai orang lain, alangkah bijaknya kita menilai diri kita sendiri terlebih dahulu. Apakah kita termasuk orang yang baik? Apakah kita tidak pernah berbuat kesalahan di masa lalu? Bisa jadi, seseorang yang kalian nilai buruk adalah orang yang baik.
__ADS_1
Karena sejatinya kita tidak bisa menilai seseorang hanya karena apa yang tampak di mata saja. Karena setiap orang memiliki rahasianya sendiri, termasuk diri kita. Biasanya perbuatan baik tidak perlu di gembor-gembor kesana-kesini, ibaratnya tangan kanan memberi namun tangan kiri tidak tahu. Jadi tidak sepantasnya tangan kiri terlalu mudah menilai tangan kanan tidak baik.
Kuncoro tersenyum, "Makasih ya, saya jadi lebih bersemangat untuk menjadi lebih baik lagi."