
Bulan sudah meminta cuti beberapa hari karena akan menikah, ekspresi bosnya saat itu sulit di gambarkan, antara senang, karena Bulan telah mendapat kebahagiaannya dan sedih karena Bulan sudah menjadi milih orang lain.
Bulan yang kini sudah rapi dengan balutan gamis putih karena hari ini ada acara pengajian di rumahnya sebelum acara ijab kabul dilakukan esok pagi. Ayah Bulan mengadakan pengajian ini agar putrinya mendapatkan banyak doa dari orang-orang sekitarnya.
Bulan melihat di ruang keluarga sudah banyak tetangga yang berdatangan, ada rasa haru dibenak bulan, semua ini seperti mimpi, ia tidak menyangka jika kehidupannya kembali ke posisi semula, bisa melihat wajah kedua orangtuanya lagi.
Kehidupan ini memang seperti roda berputar, kadang diatas, kadang di bawah.
Ketika sedang bersedih karena ditimpa sebuah masalah atau cobaan, pastinya perasaan yang tak akan pernah bisa di hindari adalah perasaan ingin merenung, dengan renungan mungkin bisa introspeksi diri agar kedepannya bisa memperbaiki diri dengan lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan itu lagi untuk kedua kalinya.
Begitupun saat sedang bahagia dan mendapatkan kesenangan yang tak ada putusnya, kaya harta, fisik yang sempurna, keluarga yang lengkap dan sebagainya, ingatlah itu hanya titipan yang dikemudian hari harus dipertanggung jawabkan, dan lagi itu semua tidak ada yang abadi, karena jika sombong, Tuhan bisa saja melenyapkan itu semua dengan sekejab.
__ADS_1
Kehidupan mungkin tidak semua berjalan seperti yang kita rencanakan, namun itu pasti berjalan sesuai dengan rencana tuhan. Bersemangatlah, jangan lupa senantiasa berikhtiar dan berdoa dalam kondisi apapun.
Doa bukanlah seperti alat emergency yang digunakan gunakan hanya dalam keadaan getir, tetapi ia adalah kemudi yang dapat menunjukan ke arah yang tepat.
Pengajian sudah dimulai, Bulan duduk berdampingan dengan Ayah dan Ibunya. Semua menyimak dengan penuh hikmat ceramahan Pak ustadz tentang bekal sebuah pernikahan. Bulan juga mendengarkan dengan teliti karena ini nanti akan dipraktekkan di kehidupan selanjutnya bersama Bintang.
Di rumah Bintang juga sama, Mamih mengadakan pengajian jelang sebelum pernikahan.
"Ayah, Ibu, yang Bulan hormati dan cintai, Bulan menghaturkan permohonan maaf, jika selama hidup Bulan hingga sampai dewasa ini, banyak melakukan kesalahan dan kehilafan dari kata-kata Bulan yang kurang berkenan ataupun perbuatan Bulan yang tidak pantas dilakukan kepada Ayah dan Ibu."
"Pada saat yang baik ini, Bulan memohon izin restu Ayah, untuk dinikahkan dengan calon suami pilihan Bulan, pria yang Bulan cintai yaitu Mas Bintang, Bulan memohon Ayah dapat menikahkan dengan tulus dan ikhlas."
__ADS_1
"Bulan juga memohon doa restu pada Ayah, dan Ibu semoga perjalanan rumah tangga Bulan nanti, senantiasa rukun dan damai, sejahtera, sakinah mawaddah wa rohmah dan penuh keberkahan dari Allah SWT."
Bu Widya tak kuasa menahan air matanya, cairan bening itu sudah luruh begitu saja keluar dari matanya. Bulan anak baik, Bulan kebanggaan Bu Widya, Bu Widya ingat betul masa-masa yang paling susah dalam hidupnya, hanya putrinya lah yang menemaninya merawatnya, menjaganya, memberikan kasih sayang dan cintanya.
Bu Widya memeluk Bulan dengan erat, " Bu, restui Lan," Bu Widya sudah hampir sembuh, bicaranya sudah sedikit lancar, tubuhnya sudah terlihat segar seperti sedia kala, hanya belum lancar berjalan dan berbicara saja.
Bulan juga ikut menangis, esok, surganya sudah bukan di Ibunya lagi, melaikan sudah berpindah pada Suaminya.
Ayah juga ikut memeluk Bulan, mengelus punggung Bulan. Bulan sudah ikhlas memaafkan Ayah.
"Bulan, Ayah dan Ibu memaafkan segala kesalahan dan kehilafanmu serta mendoakan semoga hidupmu nanti, akan senantiasa rukun , damai, serta penuh keberkahan dari Allah SWT. Bulan di saat yang berbahagia dan baik ini insya Allah, sebentar lagi akan Ayah nikahkan kamu dengan calon suami pilihanmu. Semoga ridho dan berkah Allah SWT. selalu menyertai kita semua. Aamiin." Suasana menjadi sangat haru karena sebagian yang ada diruangan juga ikut memangis.
__ADS_1