
Pagi ini mamih Bela sudah sangat rempong, berjalan mondar-mandir di depan kamar Bintang. Bukan mamih kalau nggak rempong yee. Mamih mengetuk kamar Bintang namun tidak ada jawaban. Kuncoro datang menghampiri mamih, mamih langsung menyuruh Kuncoro membangunkan Bintang karena mamih akan mengurus keperluan yang lain.
Kuncoro berdecak, saudaranya ini benar-benar edan, sudah tahu hari ini akan menikah, malah bangun siang. Kuncoro mengetuk pintu Bintang berkali-kali, namun hasilnya nihil.
Kuncoro mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya, lalu menelfon Bintang berkali-kali. Setelah tiga kali menelfon barulah telfon diangkat oleh Bintang.
(Apaan sih, aku masih ngantuk.) Suara di sebrang sana terdengar parau. Kuncoro geleng-geleng kepala.
(Heh, mau aku gantiin jadi mantennya?) celetuk Kuncoro.
(Aku hajar nanti.)
(Ya udah cepetan bangun, kang rias udah dateng.)
(Jangan ngada-ngada deh, aku masih ngantuk, masih malam ini, jangan ngerjain deh)
Bintang ....
Suara Mamih yang begitu melengking membuat mata Bintang seketika membulat sempurna. Bintang langsung terbangun, ia mematikan sambungan telfonnya, sedetik kemudian pintu di ketuk oleh mamih sambil berteriak memanggil nama Bintang.
Bintang berlari membuka pintu, saat pintu terbuka, mamih langsung menjewer telinga anak bungsunya itu sambil ngomel-ngomel tentunya.
"Ndablek yah, hari ini kamu nikah, dulu waktu di sunat ngumpet, sekarang mau nikah juga mau ngumpet lagi, hah, sunat emang bikin burung kamu sakit, tapi nikah beda Bintang, yang sakit waktu dulu bakal diganti jadi enak nanti," ucap mamih sambil mendorong Bintang ke kamar mandi agar Bintang secepatnya mandi.
"Mamih ih, malah ngomel nggak jelas," celetuk Bintang. Mamih langsung melotot.
"Nggak jelas gimana? biar kamu jelas itu, biar kamu semangat."
"Semalam Bintang deg-degan Mih, jadi nggak bisa tidur sampai subuh tadi." Menjelang ijab kabul Bintang merasa begitu gugup, ia sampai tidak bisa tidur, baru setelah salat subuh tadi Bintang baru bisa memejamkan mata.
__ADS_1
"Itu tandanya masih hidup kalau masih merasakan deg-degan, cepetan mandi, kang rias udah dateng, mamih udah cetak tinggal kamu doang, pengantinnya malah ndablek begini."
"Iya iya iya." Bintang langsung masuk ke dalam kamar mandi, ia buru-buru mandi karena mamih hanya memberikan waktu 10 menit untuk mandi.
Selesai mandi Bintang hanya menggunakan baju rumahan biasa, ia langsung menuju ruang rias yang ada di lantai bawah. Bintang berganti baju pengantin terlebih dahulu, baru di make up oleh kang rias.
...***...
Bulan juga sedang di rias. Bulan mengenakan kebaya modern muslimah warna putih dengan detail bebatuan yang terlihat seperti choker di area leher. Sentuhan mewah juga diberikan di area dada hingga perut dengan penempatan bebatuan serupa bros.
Riasan wajahnya juga flawless, karena kulit wajah Bulan sudah bagus jadi poles sedikit hasilnya sudah terlihat. Riasan di Indonesia memang jadi hal sangat penting, paling tidak, mesti muncul kesan manglingi [membuat pangling].
Bu Widya datang menggunakan kursi roda yang di bantu oleh asisten rumah tangga yang khusus merawat Bu Widya. Sengaja menggunakan kursi roda karena pasti acara hari ini cukup melelahkan.
Bu Widya menatap Bulan penuh haru, tidak menyangka jika akhirnya Bulan akan menikah, sepertinya baru saja kemarin sore menimangnya.
Pintu tempat rias terbuka, Bulan dan Bu Widya menoleh, ada sosok Arkan di pintu dengan mimik wajah sendu. Arkan menghampiri Bulan. Bulan menghela nafasnya.
"Bulan ..."
"Doakan aku Mas," ucap Bulan memotong pembicaraan Arkan.
"Bu ke wah lu yah." Bu Widya memberi kesempatan pada Arkan dan Bulan untuk mengobrol, menyelesaikan semuanya sebelum ijab kabul, walaupun semuanya sudah selesai. Bulan mengangguk.
"Aku ... aku." Arkan bersimpuh di kaki Bulan yang sedang duduk. Bulan terkejut.
"Jangan seperti ini Mas, jangan, sudahlah, ini sudah takdir jodoh aku Mas, maaf," ucap Bulan.
Arkan mengangguk, "Oke, aku akan berusaha mengikhlaskan, kamu harus bahagia Lan." Bulan hanya terdiam. Lelah dengan ucapan laki-laki yang kadang susah di percaya.
__ADS_1
Terkadang bilang aku bisa mati tanpamu, nyatanya tanpanya masih hidup sampai saat ini. Aku berusaha ikhlas, nyatanya belum ada seminggu sudah punya gandengan baru. Bulan tidak akan goyah. Arkan akhirnya keluar dari ruang make up dengan penuh kekecewaan.
Semua keluarga sudah berkumpul di ruang bawah, tempat ijab kabul. Rencananya ijab kabul memang dilaksanakan di rumah Bulan, sedangkan resepsi akan dilaksanakan di hotel milik Ayah Arav satu jam selesai ijab kabul.
Keluarga Bintang sudah berdatangan, Bulan akan menuju tempat ijab kabul setelah Bintang selesai mengucapkan ijab kabul.
Semua sudah siap, Bintang, pak Permana dan pak Penghulu. Mata Bintang terlihat merah karena semalam tidak tidur karena grogi.
Pak penghulu mulai memberi arahan pada Bintang dan pak Permana. Pak Permana juga merasa grogi karena ini pertama kalinya ia menikahkan anak gadis semata wayangnya itu.
Pak penghulu mulai memberi instruksi bahwa sudah saatnya ijab kabul di laksanakan. Pak Permana menjabat tangan Bintang.
" Ananda Bintang Al Arav bin Arman Al Arav saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Bulan Permana binti Permana dengan mas kawin satu set perhiasan dibayar tunai."
Bintang langsung bernafas dalam-dalam lalu melafadzkan ijab Kabulnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Bulan Permana Binti Permana dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai."
"Bagaimana para saksi? sah?" tanya pak Penghulu.
Saksi serempak menjawab "Sah".
Semua mengucapkan Alhamdulillah. Setelah itu Bulan keluar dari kamarnya dituntun oleh saudara dan periasnya. Terlihat Bu Widya beberapa kali mengusap air mata nya, air mata kebahagiaan dan keharuan karena kini Bulan sudah berstatus menjadi istri.
"Ih Bintang emang top markotop, cantik banget istrinya," puji keluarga Bintang.
"Iya benar sekali."
Bintang begitu terkagum-kagum dengan penampilan Bulan yang sangat cantik, tubuhnya dibalut dengan kebaya putih yang terlihat elegan dengan jilbab warna putih juga yang semakin memancarkan aura pengantin.
__ADS_1