Barista Cafe Jomblo

Barista Cafe Jomblo
Part 39


__ADS_3

Pak Permana menengok, ia terkejut karena Bulan tak sendiri, melainkan membawa mantan istrinya juga.


"Bulan ..." Pak Permana mencengkram sendok yang sedang ia pegang.


"Kenapa kamu membawa wanita itu kemari?" Pak permana bahkan tidak sudi untuk melihat mantan istrinya.


"Ayah, jangan berkata wanita itu, walau bagaimana pun kalian pernah saling mencintai, apakah Ayah tidak merasakannya?"


"Persetan dengan cinta." Ayah berdiri lalu menggebrak meja makan. Bulan begitu terperanjat mendengar suara gebrakan meja yang begitu keras.


"Heh, kamu ngapain sih, pagi-pagi udah bikin ribut, mana bawa antek-antek nggak jelas lagi," celetuk Sarah sambil melihat ke arah Kuncoro dan Bintang. Kuncoro langsung mencebikan bibirnya, rasanya ingin sekali Kuncoro menyumpal mulut Sarah dengan kaos kakinya yang sudah 3 hari tidak ia ganti.


"Diam kamu, aku tidak sedang bicara dengan kamu." Bulan memberanikan diri membentak Sarah, Sarah begitu terkejut karena Bulan sangat berani padanya.


"Ayah, tolong dengarkan Bulan, untuk kali ini saja, setelah ini Bulan janji, tidak akan pernah lagi muncul di hadapan Ayah, Bulan juga rela dicoret dari kartu keluarga, tapi tolong dengarkan Bulan, kali ini saja." Tidak ada jawaban dari Ayah. Namun Bulan segera mengambil ponsel dari sakunya. Ia menghampiri Ayahnya.


"Lihatlah, buka mata Ayah." Bulan memperlihatkan foto Bu Laras dengan mantan suaminya. Pak Permana nampak mengerutkan dahinya.


"Ini adalah mantan suami Bu Laras," ucap Bulan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Bu Laras.


"Apa-apaan kamu? kamu jangan fitnah saya." Bu Laras melotot ke arah Bulan.


Bulan lalu tersenyum sinis, ia membuka vidio selanjutnya yang berisi mantan suami Bu Laras yang tengah memasuki kamar hotel untuk menjebak Ibunya.


"Bukankah laki-laki yang ada di restoran tadi sama dengan laki-laki yang Ayah temukan bersama Ibu?" Pak Permana begitu terkejut melihatnya. Wajah Bu Laras semakin memerah.


"Heh wanita sialan, jangan fitnah Mama aku yah." Sarah langsung menghampiri Bulan, ia ingin menjambak Bulan tapi langsung Bintang cengkram erat pergelangan tangan Sarah, setelah itu Bintang hempaskan hingga Sarah terpelanting.

__ADS_1


Bulan melanjutkan vidio selanjutnya yang memperlihatkan Bu Laras dan mantan suaminya berada di kantin hotel, mereka tampak merencanakan sesuatu. Dan setelah itu, terjadilah penggrebekan di kamar hotel. Bulan menyalakan rekaman Ibunya saat ditelfon seseorang untuk segera ke hotel.


"Ayah harus membuka mata dan telinga Ayah, mereka itu penjahat, Ayah tau, mantan suami Bu Laras adalah saingan bisnis Ayah yang kalah tender, mereka punya hutang banyak, Bu Laras menikahi Ayah karena ingin mengeruk harta Ayah untuk melunasi hutang-hutang mereka, Bulan hanya ingin menyampaikan ini, Bulan tidak mau Ayah terus membenci Ibu, Bulan juga tidak mau Ayah terbutakan oleh cinta palsu mereka, Bulan sayang Ayah." Bulan akhirnya meneteskan air matanya. Akhirnya satu masalah yang begitu berat bisa ia selesaikan hari ini, rasanya lega sekali.


"Uan, ga leh nis." Pak Permana langsung melihat ke arah mantan istrinya. Widya terlihat kurus, bibirnya sedikit miring, mulai terlihat keriput di mana-mana, untuk bicara saja rasanya susah. Setelah mengetahui kenyataan yang ada rasanya dada Permana sesak sekali.


"Kalian fitnah, kalian fitnah," teriak Sarah.


Kuncoro berdecih, "Cih ... Eh udah sih, yey terima aja kalau Ibu yey PELAKOR, yey seneng kan, bisa hidup mevah gini."


"Semua sudah terjadi, kalian mau apa? Ayah Bulan sudah menjadi jodoh saya," ucap Bu Laras menyangkal dikatai pelakor oleh Kuncoro.


"Hey lampir, yey bilang jodoh? yey belajar agama ke jin yang mana?" Kuncoro semakin emosi. Pelakor memang selalu mencari pembenaran dari perbuatannya. Rasa empatinya sudah mati, padahal sesama perempuan.


Bulan memeluk Ibunya, "Bulan cuma mau Ayah tau semuanya, Bulan nggak mau Ayah terus benci Ibu, setelah ini, Bulan nggak akan ganggu ayah lagi Bu."


Bulan langsung menggendong Ibunya masuk ke dalam mobil setelah itu ia duduk di sebelah Ibunya. Rasanya plong sekali hari ini. Masalah terbesar dalam hidupnya bisa terselesaikan juga, walaupun dengan hasil akhir yang tidak menyenangkan. Ibu dam Ayah tidak bisa rujuk, karena syarat rujuk dalam Islam, Ibu harus sudah menikah lagi dengan orang lain. Baru setelah menjanda lagi baru bisa rujuk. Tapi itu tidak mungkin terjadi, boro-boro memikirkan menikah lagi, kesehatan Ibu adalah yang paling utama.


"Maafin Bulan yah Bu." Bulan kembali memeluk Ibunya, membelai kepala Ibunya dengan penuh kasih sayang.


Bu Widya menggeleng, "Uan Ga alah, kasih uan dah sih au ke aah Uan lau bu di finah."


Bulan mengangguk, "Bulan janji, Bulan akan membahagiakan Ibu."


Untuk lebih meyakinkan Ayahnya, Bulan mengirim semua vidio tadi yang ia tunjukan lewat WhatsApp Ayahnya, agar Ayahnya mencari tahu sendiri jika memang masih tidak percaya.


Melihat mereka berdua hati Bintang dan Kuncoro begitu tersentuh, terlebih Kuncoro, air matanya sudah mengalir sedari tadi, ia jadi kangen dengan kedua orang tuanya yang sudah meninggal.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


(Kira-kira Pak Permana bakal maafin Bu Laras nggak yah?🤭)


Di tunggu 150 komentarnya, jangan lupa Vote, authore lemes nih kalau nggak pada vote, kalian minta up tiap hari, tapi ga vote, kan jahara😆😆 author jodohin ntr sama Kuncoro.


Salam sayang,

__ADS_1


Santypuji


__ADS_2