Barista Cafe Jomblo

Barista Cafe Jomblo
Part 49


__ADS_3

Saat jam makan siang, Bintang menuju cafe jomblo. Bintang ingin mengajak Bulan membeli cincin pernikahan. Bintang ingin memberikan yang terbaik untuk Bulan, biarlah Bulan yang akan memilihnya sendiri.


Bintang berpapasan dengan Kuncoro di parkiran. Kuncoro juga sepertinya akan pergi keluar.


"Mau makan di mana?" tanya Bintang pada Kuncoro.


"Di luar bos,"jawab Kuncoro seadanya. Bintang berdecak, "Di luar dimana?"


"Mau tau aja nih Pak Bos," ledek Kuncoro. Bintang mendelik. Kuncoro langsung beringsut.


"Mau ke Maret-maret Bos." Bintang mengangguk, "Mau ketemu cewe yang kemarin? kayaknya tanpa Mamih suruh, kamu bakalan deketin dia." Eh Kuncoro nyengir tanpa menjawab perkataan Bintang, ia langsung masuk mobil. Bintang juga masuk ke dalam mobilnya. Pagi ini Bintang memang menyuruh Kuncoro menggunakan mobil masing-masing karena Bintang ingin mengajak jalan Bulan.


***


Sesampainya di cafe jomblo, Bintang langsung di sambut oleh Jesica seperti biasa. Bintang menghampiri meja dekat barista. Bintang tidak menemukan Bulan di sana. Namun seseorang menghampirinya sambil membawa nampan.


"Pesan apa Mas?" ucap Bulan tersenyum manis. Bintang melongo melihat perubahan penampilan Bulan.


"Sayang, ini kamu? beneran kamu?" tanya Bintang dengan nada takjub.


"Iya dong, ini Bulan, Bulannya Mas Bintang." Bulan masuk ke tempat barista meracik kopi.

__ADS_1


"Kenapa?" aneh ya Mas? Bulan jelek yah?" tanya Bulan. Bintang langsung menggeleng dengan cepat.


"Kamu, kamu cantik banget sayang." Bintang tersenyum semringah.


"Mas mau pesan apa?"


"Mau pesan kamu aja," celetuk Bintang.


"Jangan bercanda Mas."


"Mas serius sayang." Bulan mesem manis. Bintang lalu mengajak Bulan untuk istirahat di luar. Bulan meminta izin pada temannya karena bos Riko sedang tidak ada di tempat.


Bulan berganti baju terlebih dahulu di loker lalu menuju parkiran cafe, Bintang sudah menunggu di sana.


"Di Mall, sekalian beli cincin nikah buat kita." Bulan tersenyum mendengar akan membeli cincin nikah.


"Seneng?" Bulan langsung mengangguk.


Mereka langsung bergegas ke Mall. Sesampainya di Mall Bintang langsung mengajak Bulan menuju toko perhiasan. Bintang membiarkan Bulan memilih sendiri cincin nikah yang akan merek gunakan nanti.


Bulan memilih sepasang cincin sederhana, Bulan menunjukan cincinnya pada Bintang.

__ADS_1


"Yakin yang ini?" kenapa pilih yang ini?" tanya Bintang.


Bulan mengangguk, "Sederhana, aku mau kehidupan kita sederhana juga, asalkan kita saling bertanggungjawab satu sama lain. Sederhana dalam bersikap Mas."


"Jatah bulanan sederhana nggak?"ledek Bintang.


"Jangan dong itu Mah, walaupun terkadang bahagia itu bukan melulu tentang uang, tapi aku realistis sih Mas, perempuan itu butuh uang buat beli ini itu, buat menyayangi dirinya juga, jadi bohong kalau bahagia walaupun nggak punya uang." Bulan menutup mulutnya sambil tersenyum.


Bintang juga ikut tersenyum, ia mengelus kepala calon istrinya, ia lalu membeli cincin yang dipilih oleh Bulan. Selesai membeli cincin, Bulan dan Bintang lalu mencari tempat makan.


...***...


Kuncoro datang ke Maret-maret tempat Dinda bekerja, namun ternyata Dinda tidak ada di sana. Kuncoro menanyakan alamat Dinda pada teman Dinda, akhirnya Kuncoro mendapatkan alamat Dinda. Kuncoro bergegas menuju tempat tinggal Dinda.


Sesampainya di gang rumah Dinda, ada bendera kuning yang terpasang, banyak warga yang berdatangan menuju gang tersebut. Kuncoro menanyakan rumah Dinda ke salah satu warga. Warga yang lewat pun ternyata kebetulan akan ke rumah Dinda untuk melayat. Kuncoro tertegun, ia lalu ikut dengan warga masuk ke rumah Dinda.


Kuncoro melihat pemandangan yang sangat menyedihkan. Dinda sedang mengaji sambil mentikan air mata. Kuncoro jadi teringat kedua orang tuanya, tanpa terasa ia pun meneteskan air matanya.


Kuncoro lalu bertanya siapakah yang meninggal karena jenazah di tutupin oleh kain batik. Tetangga Dinda menjelaskan bahwa yang meninggal nenek Dinda yang sudah lama mengidap diabetes. Penyakit paling mematikan di dunia.


Kuncoro menanyakan kembali, yang di sebelah manakah orang tua Dinda. Tetangganya menjawab lagi jika Dinda sudah yatim piatu sejak kecil. Kuncoro kembali terenyuh, nasibnya dengan nasib Dinda sama. Kuncoro jadi teringat Mamih, beruntungnya Kuncoro memiliki Tante seperti Mamih yang mau merawatnya setulus hati.

__ADS_1


Kuncoro malah anteng mengikuti segala posesi pemakaman nenek Dina, sampai jenazah nenek Dinda di makamkan. Sementara di kantor Bintang sedang uring-uringan kenapa Kuncoro tak kunjung kembali ke kantor, padahal jam istirahat sudah lama berlalu.


__ADS_2