
Pelangi lalu mengajak mereka masuk ke dalam rumah. Pelangi ingin membuat rujak mangga muda yang terlihat menggiurkan.
"Mih, Papih kemana? kok nggak kelihatan sih?" tanya Bintang yang masih setia mendorong kursi roda Bu Widya masuk ke dalam rumah.
"Tau nih Papihmu, Minggu aja masih kerja terus ih." Mamih lalu menghampiri Kuncoro, Mamih menyuruh Kuncoro untuk menghubungi Papih Arav agar pulang ke rumah. Mumpung calon mantu ada di sini. Kuncoro langsung mengangguk, ia mengambil ponsel dari sakunya lalu menelfon Papih Arav.
"Papih, cepet pulang, nih Mamih Bela di Instagram ngaku-ngaku jendes," ucap Kuncoro saat sudah tersambung dengan Papih Arav.
Mamih Bela membelalakan matanya. Hih mulut Kuncoro ini yah, kalau ada BPKB nya mah Mamih gadaiin. Sembarangan banget. Mamih menampol bokong Kuncoro. Kuncoro langsung meringis namun langsung tersenyum.
"Biar berhasil Mih, kan Papih kalau sudah kerja suka lupa daratan, lautan bahkan udara, saking maniak kerja, mau pulang nih Papih."
"Oke deh, penting Papih pulang."
Mereka lalu duduk di ruang keluarga. Pelangi pergi ke dapur, membuat bumbu rujak. Kuncoro menuju dapur juga membantu Pelangi mengupas mangga.
"Duh gusti, baunya aja ini udah asem Mbak, hadeh." Kuncoro menyeplak-nyeplakan lidahnya.
"Nih bumbunya, coba deh dicoel sama bumbu biar nggak asem banget," ucap Pelangi yang kini tengah menikmati lutis mangga muda. Haduh ludah sampai ngocor-ngocor nih.
Pelangi dan Kuncoro membawa lutisannya ke ruang keluarga. Mereka ikut mencoba lutis buatan pelangi. Bulan yang melihat sampai ngilu-ngilu, sementara Pelangi malah begitu menikmati, baginya itu tidak terlalu asam.
Bintang lalu mengajak Bulan ke dapur untuk membuatan kopi. Bintang ingin membuktikan pada Mamihnya bahwa ada yang lebih handal dalam membuat kopi selain Mamihnya.
Bulan mulai meracik kopi, sementara Bintang hanya memperhatikan gerak gerik Bulan sambil sesekali memotret Bulan. Lumayan buat dijadikan wallpaper. Biar semua orang tahu, Bintang sudah punya gebetan baru. Pengen banget diakui nih Mas Bin.
"Kenapa lebih memilih jadi Barista?" tanya Bintang untuk mengisi keheningan diantara mereka berdua.
"Karena saya suka kopi Mas."
"Dari sebelum jadi Barista?"
__ADS_1
Bulan mengangguk, " Dulu kalau sore saya suka ngopi bareng ayah di balkon, sambil menatap senja."
"Kopi tak pernah memilih siapa yang layak menikmatinya. Karena di hadapan kopi, kita semua sama," sambung Bulan.
Bintang mengernyitkan dahinya, Bulan melirik Bintang. Bulan tersenyum manis, lalu menjelaskan tentang maksud dari perkataaanya.
"Coba bayangkan jika secangkir kopi memiliki perasaan? Mungkin jika punya, ia bisa menolak untuk diminum oleh orang tertentu. Namun, kenyataannya kopi tidak peduli siapa peminumnya. Mau kaya, miskin, tua, muda, maling, atau pejabat, semua berhak menikmatinya. Pada Hakikat kita adalah manusia biasa. Jadi jangan merasa sombong atau minder di hadapan orang lain," ucap Bulan sambil tersenyum. Di mata Bintang senyuman Bulan memang manis banget. Sudahlah, kopi tanpa gula pun tak apa, asalkan minumnya sambil memandangmu, eh memandang Bulan.
"Sa ae kang kopi ih," Celetuk Bintang sambil mengelus kepala Bulan dengan lembut.
"Ih, Mas Bin."
"Jika kamu menyukai kopi dan senja, maka biarkan aku mencintaimu tanpa henti dan tanpa jeda Bulan." Bintang menatap Bulan dengan penuh cinta. Bulan mesem manis, ia lebih memilih untuk melanjutkan menyeduk kopi, walaupun mendengar kata manis dari Bintang juga membuat hatiny jedag jedug.
"Jangan senyum gitu ih, takut Mas hilaf."
"Ih apaan sih Mas."
Yaelah, hati Bul Bul langsung ambyar ini. Bintang menyerangnya dengan gombalan-gombalan yang membuat hati Bulan langsung melayang.
"Cuma segelas kopi yang bercerita kepada saya bahwa yang hitam tak selalu kotor dan yang pahit tak selalu menyedihkan. kopi mengajarkan pada kita agar tidak menilai seseorang dari luarnya. Kenali orang lain lebih dalam, siapa tahu yang terlihat mengerikan dan buruk itu ternyata baik bagi kita." Gombalan Bintang di balas dengan filosofi kopi. Kalau yang romantis mah, obrolan kopi aja bisa bikin senyum-senyum yah. 😁😆
"Boleh Mas mengenalmu lebih dalam?"
Bulan tersenyum lagi, ah lama-lama Bintang kedanan senyum Bulan ini.
"Boleh"
"Kalau boleh, yuk nikah?" Bintang mengerlingkan sebelah matanya, membuat Bulan menjadi salah tingkah. Ih Mas Bin, cius nggak sih nih. Bulan deg-degan nih.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
( Hahaha, hoby emak, bikin penisirin, jahat ya Mak😆 Yang belum gabung digrup WhatsApp, boleh merapat, kita ngeberel2 disana, hihi, nih nomer WhatsApp emak 089637723952)
Jangan lupa like komen dan vote, rengking terjun payung sampe 30😭😭😭 Ditunggu 150 komennya.
Salam sayang,
Santypuji
__ADS_1