Barista Cafe Jomblo

Barista Cafe Jomblo
Part 48


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Mamih langsung mewawancarai Kuncoro, kenapa bisa terjadi seperti itu. Kuncoro lalu menjelaskan, saat itu dirinya ingin membeli air mineral. Kebetulan di sebrang ada Maret-maret terdekat. Kuncoro memberhentikan mobilnya lalu turun dari mobil setelah itu menyebrang jalan. Saat dirinya tengah menyebrang, tiba-tiba ada motor yang ingin menyrempetnya, untung saja hanya menyerempet.


Mamih lalu mengelus bahu Kuncoro, "Lain kali hati-hati, tapi kayaknya cewe yang nyrempet kamu baik lhoo."


Kuncoro mengangguk, "Iya Mih baik, dia karyawan Maret-maret, tapi bukan di tempat yang mau aku beli minum."


Mamih tersenyum, "Mamih tadi lihat kalian gandengan, kalian udah tukeran nomer ponsel belum?" Mamih tersenyum semakin lebar. Kuncoro mengerutkan dahinya. Si Mamih kebiasaan.


"Udah ih Mih, biarin Kuncoro istirahat." Bintang menggandeng Mamihnya menuju ruang TV. Kuncoro menghembuskan nafasnya dengan kasar. Untung saja Bintang menyelamatkannya.


Kuncoro langsung masuk ke dalam kamar, saat ia ingin ke kamar mandi, tiba-tiba ponselnya berdering, ada notifikasi pesan masuk. Kuncoro melihat ada nomer baru yang tertera di layar WhatsApp nya. Kuncoro membukanya. Ada kalimat permintaan maaf dari Dinda. Kuncoro pun membalasnya singkat lalu menyimpan nomer Dinda.


Kuncoro merebahkan dirinya di atas kasur, ia menatap langit-langit sambil tersenyum. Ia membayangkan saat dirinya ketakutan di suntik oleh dokter, terlintas wajah Dinda yang dengan telaten menenangkannya.


Kuncoro meremas rambutnya. Kenapa mendadak senyum-senyum sendiri seperti orang edan. Kuncoro buru-buru memejamkan matanya agar pikirannya tidak melanglang buana semakin jauh.


***

__ADS_1


Adzan subuh berkumdang, Bulan terbangun lalu melaksanakan salat subuh, setelah itu menuju kamar Ibunya, memastikan Ibunya sudah terbangun apa belum. Ternyata Ibunya sudah terbangun, Bu Widya yang sudah bisa berjalan dengan tongkat, Bulan papah perlahan, Bulan membantu Ibunya berwudlu lalu salat.


Selesai dengan urusan Ibunya. Bulan menuju dapur, memastikan asisten rumah tangganya sudah memasak untuk sarapan, setelah itu Bulan menuju kamar Ayahnya. Ayahnya ternyata belum bangun, Bulan membangunkan Ayahnya. Itulah kegiatan Bulan semenjak pindah lagi ke rumahnya sendiri.


Bulan masih bekerja menjadi Barista di cafe jomblo walaupun dirinya sudah bersama ayahnya kembali. Bulan sudah sangat menikmati pekerjaannya menjadi Barista.


Bulan kembali ke kamarnya, ia mandi lalu bersiap-siap seperti biasanya. Tapi ada yang berbeda hari ini. Bulan bertekad ingin belajar mengenakan jilbab.


Cara paling keren bersyukur adalah menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Bulan sangatlah bersyukur dengan takdirnya saat ini, yang lalu biarlah ia anggap sebagai pelajaran berharga dalam hidupnya.


Tidak ada penderitaan yang abadi, tidak ada kebahagiaan yg abadi. Kecuali bagi yang pandai bersyukur, selamanya ia akan merasakan kebahagiaan.


Bulan tidak memberitahu siapapun ketika ia berniat menggunakan jilbab. Selesai berdandan, Bulan menuju kamar Ibunya. Ternyata Mbak Hani yang membantu mengurus Ibunya sedang memandikan Bu Widya.


Bulan keluar dari kamar ibunya menuju kamar Ayahnya. Ayahnya tengah memasang dasi. Bulan menghampiri Ayahnya, Ayahnya terkejut melihat penampilan putrinya.


"Ayah," panggil Bulan malu-malu.

__ADS_1


Pak Permana tersenyum, "Cantik Lan." Bulan memeluk Ayahnya. Rasanya seperti mimpi bisa memeluk Ayahnya lagi.


"Masih mau kerja?" Bulan mengangguk.


"Kapan kuliah lagi?" Pak Permana ingin Bulan melanjutkan studinya.


"Belum tahu, nanti bilang dulu sama Mas Bintang." Walau bagaimanapun Bulan harus meminta izin pada Bintang karena sebentar lagi akan menjadi suaminya.


"Semoga Bintang mengerti." Bulan mengangguk.


Pak Permana dan Bulan keluar dari kamar, Pak Permana menuju meja makan, sedangkan Bulan kembali ke kamar Ibunya. Ibunya ternyata sudah rapi memakai baju.


Bu Widya juga terkejut melihat penampilan Bulan. Bulan menghampiri Ibunya lalu mengelus pipi Ibunya.


Mata Bu Widya berkaca-kaca.


"Lan, cantik...," puji Bu Widya. Bulan tersenyum lalu memeluk Ibunya.

__ADS_1


"Doain Bulan ya Bu, biar Bulan menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Bu Widya mengangguk mantap.


Bulan lalu memapah Ibunya menuju ruang makan. Disana keluarga Permana sarapan bersama. Bulan sangat bersyukur, walaupun Ibunya dan Ayahnya tidak bisa bersama lagi sebagai pasangan suami istri tapi Bulan tetap bahagia karena setiap hari bisa melihat senyuman ayah dan Ibunya.


__ADS_2