
3 Bulan kemudian...
Sore ini Mamih sudah bertengger di depan toko Maret-maret tempat Dinda bekerja. Sudah beberapa kali Mamih menyuruh Kuncoro untuk membawa Dinda ke rumah tapi tidak pernah dihiraukan. Menurut informasi dari Bintang, Kuncoro dan Dinda semakin dekat, namun anehnya Kuncoro masih belum mau membawa Dinda ke rumah. Mamih yang sudah merasa gregetan akhirnya mengorek informasi dari Bintang dimana tempat Dinda bekerja.
Mamih sengaja tidak masuk ke dalam Maret-maret, hanya menunggu di dalam mobil. Saat Mamih melihat Dinda keluar dari toko, Mamih langsung turun dari mobil. Mamih menghampiri Dinda yang kala itu terkejut melihat Mamih.
"Dinda..." Panggil Mamih. Dinda tersenyum. Saat keduanya sudah saling berhadapan, Dinda langsung mencium tangan Mamih. Mamih mengelus pucuk kepala Dinda dengan penuh kasih sayang.
Mamih lalu memeluk Dinda sebentar setelah cipika cipiki. Dinda begitu terharu dengan perlakuan Mamih. Seperti tiada batasan diantara keduanya. Dinda yang sedari kecil tidak mendapat kasih sayang dari orangtuanya, apalagi saat ini neneknya sudah tiada dan kini hidup sebatang kara.
"Apakabar? Ya Allah, Mamih nungguin kamu terus lhoo, si Radit nanti mamih jewer, nggak mau antar kamu ke rumah mamih," ucap Mamih sambil mengelus lengan Dinda.
"Iya maaf Mamih, Mas Radit sudah sering ajak, cuma saya lagi sibuk banget, lagi banyak lemburan."
Mamih tersenyum, "Iya, kelihatan lelah sekali, jangan porsir tubuh kamu Din, oh ya, cepat masuk mobil Mamih, ikut ke rumah mamih, nanti pulangnya Radit yang antar."
"Tapi Tan..."
"Ets, sudah ayo, nggak pakai tapi." Mamih langsung menggandeng tangan Dinda lalu memasukannya ke dalam mobil.
Setelah itu baru mamih masuk ke dalam mobil.
"Alhamdulillah akhirnya ketangkep juga ini perawan," ucap Mamih dalam hati.
Mobil mamih langsung melaju menuju rumah. Di dalam mobil Dinda tanpa sengaja terlelap karena akhir-akhir ini begitu lelah, apalagi selalu lembur juga. Mamih melihatnya begitu prihatin, mamih teringat ketiga putrinya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah mamih, mamih langsung membangunkan Dinda. Dinda mengerjapkan kedua matanya perlahan.
"Ya Allah Tante, maaf, saya ketiduran."
"Nggak apa-apa, kamu pasti cape," ucap Mamih sambil tersenyum.
Mamih lalu mengajak Dinda masuk ke dalam rumah, Dinda terkejut melihat rumah mamih begitu mewah, Dinda tidak menyangka ternyata mas Radit dari keluarga terpandang.
Sebelum masuk ke dalam rumah, ia terlebih dahulu membuka sepatunya. Mamih yang melihat langsung melarangnya.
"Nggak usah di lepas Din, pakai aja," perintah Mamih.
Dinda menggeleng, "Nggak Tan, nanti lantai tante kotor, sepatu saya kotor, lantai tante kinclong begini." Mamih terkekeh melihat kepolosan Dinda. Mamih benar-benar mengagumi kesopanan Dinda. Mamih melihat Dinda sebagai gadis yang tidak neko-neko, Mamih benar-benar ingin menyandingkan Dinda dengan keponakannya.
"Sssttt, sudah ayo." Mamih kembali menggandeng Dinda agar Dinda tidak melepas sepatunya. Dinda akhirnya masuk ke dalam rumah mamih. Dinda semakin tidak percaya diri setelah melihat isi rumah mamih, ada foto keluarga juga yang di dalamnya ada mas Radit juga.
Bulan tersenyum saat melihat Dinda berhasil dibawa oleh mamih.
"Berhasil dibawa juga Mih buronannya?" ucap Bulan sambil terkekeh.
Mamih tergelak, "Jelas dong, jangan sebut Mamih kalau gagal membawa Dinda kesini."
"Buronan siapa mba?" tanya Dinda dengan polosnya.
"Kamu lah Din, buronan calon mertua," jawab Bulan dengan santainya, sementara Dinda malah menggaruk tengkuknya yang tertutup jilbab. Dinda masih belum mengerti ucapan mbak Bulan.
__ADS_1
"Sudah sini duduk, makan yah, kamu cape banget keliatannya Din," ucap Bulan. Bulan faham betul wajah-wajah lelah Dinda, Bulan pernah merasakannya. Saat ini Bulan sudah berhenti menjadi barista atas perintah Bintang.
Bulan hanya melanjutkan kuliahnya saja dan fokus mengurus suaminya karena Bintang kasihan melihat istrinya kelelahan. Sebagai istri yang baik, Bulan menuruti perintah suaminya.
Dinda duduk di sebelah Bulan, Mamih duduk di tempat duduk utama. Kuncoro, Bintang dan Ayah Arav belum pulang kerja, mereka tidak menunggu Bintang dan yang lainnya karena menghormati Dinda sebagai tamu yang baru saja pulang kerja, pastinya lelah dan lapar.
"Din, sudah punya pacar?" Mamih meluncurkan pertanyaan pamungkas.
Dinda menggeleng, Mamih tersenyum puas.
"Tidak pacar-pacaran Tante, siapa yang mau sama saya, saya penuh dengan kekurangan," jawab Dinda rendah diri. Dinda tidak pernah berfikiran memiliki kekasih, hidupnya yang penuh rintangan menjadikan pacaran bukanlah prioritas dalam hidupnya.
Bahkan ia sempat berfikir, jika mendapat jodoh ya bersyukur, jika tidak ya sudah. Siapalah yang mau dengannya yang hanya hidup sebatang kara saat ini.
"Mau tidak dengan Radit, Radit suka lhoo sama kamu, tapi dia mah Lola kaya internet habis kuota, nggak loading-loading," ucap Mamih sambil terkekeh.
Dinda terkejut, ditawari dengan mas Radit, yang status sosialnya jauh darinya membuat Dinda minder.
"Ah tante bercanda, saya nggak pantas buat mas Radit, saya nggak pantes jadi mantunya tante, saya orang nggak punya tante." Dinda menundukan kepalanya, ia benar-benar merasa tidak percaya diri.
"Nggak boleh ngomong gitu, sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kita. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kita. Mamih juga cari mantu tidak pandang harta tahta, tanya Bulan." Mamih menunjuk ke arah Bulan.
Bulan mengangguk, "Iya, mamih itu orangnya tulus banget Din, dan ya Manusia itu bagaikan gigi sisir, seseorang memiliki kelebihan atas yang lain hanya dalam amal baiknya. Mamih dan keluarga melihat kamu baik, baik dimata kita-kita."
Mamih menghampiri Dinda lalu mengelus pundak Dinda, meminta Dinda untuk menjadi menantunya sekali lagi, Mamih memang harus secara langsung meminta pada Dinda karena Dinda kini hidup sebatang kara.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️
Bersambung...