Barista Cafe Jomblo

Barista Cafe Jomblo
Bertemu di Rumah Sakit


__ADS_3

Hari ini Bulan akan ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mengecek kodisi Ibunya. Bulan sudah berpamitan pada Bos Cafe, ia akan berangkat kerja Dzuhur nanti. Seperti biasa, Bos Cafe yang begitu baik hatinya itu mengizinkannya, bahkan izin satu hari penuh pun tidak masalah, hanya saja Bulan tidak enak hati jika harus izin terus menerus, apalagi Rio tidak pernah memotong gaji Bulan walaupun Bulan sering kali izin bekerja.


Bulan rencananya akan membaca Ibunya sendirian ke rumah sakit menggunakan mobil tetangganya yang akan ia bayar seperti angkutan online. Ia tidak ingin banyak merepotkan Bintang sepagi ini. Walaupun Bintang sudah mewanti-wantinya agar Bulan harus menghubunginya dikala butuh bantuan ke rumah sakit atau bantuan apapun.


Bulan kini sudah berada di rumah sakit, ia sedang menunggu giliran antre, walaupun masih pagi, tapi ternyata cukup banyak pasien yang datang, mungkin mereka sudah mendapat nomor antre lewat telfon. Bulan yang hanya mengambil nomor antrean manual jelaslah tidak bisa mendapat nomor awal.


Saat sedang menunggu antrian, ponsel Bulan Berdering, ternyata ada telfon dari Bintang. Bulan mengangkatnya.


"Assalamualaikum Mas."


"Waalaikumsallam." Bintang mendengar keramaian di sebrang sana.


"Lagi dimana? kok ramai Lan?"


"Di rumah sakit Mas." Bintang mengernyitkan dahinya. Kenapa Bulan tidak menghubunginya agar bisa mengantar Bu Widya ke rumah sakit.


"Kok nggak bilang, tadi diantar siapa?"


"Nggak mau ngrepotin Mas, Mas juga pasti mau ke kantor kan, mau kerja kan? tadi biasa sama tetangga Mas."


Bintang berdecak, andai Bulan tahu, sekarang prioritasnya bukan bekerja lagi, tapi cari jodoh. Bulan ingatlah, Bintang sudah menua, berakar, serabut lagi. Kata Mamih harus pensiun dini dulu mencari dolarnya, biar bisa gerak cepat menangkap jodohnya. Eh tapi penantian panjang jomblonya membuahkan hasil yang begitu manis. Bisa menggaet seorang Bulan, wanita mandiri yang cantik dan baik hati. Bintang memang diciptakan untuk berdampingan dengan Bulan, di luar angkasa sana, ataupun di bumi sini. Cihuy.


"Mas mau susul kamu ke rumah sakit, Assalamualaikum." Bintang yang sedang sarapan kala itu langsung mengambil tas kerjanya. Ia memerintah Kuncoro agar menghandle kantor dulu untuk beberapa jam, kalau urusan Bulan, jelas Mamih Bela tidak keberatan, jangankan untuk beberapa jam, satu Minggu tidak masuk kerja demi mendapat jodoh juga pasti Mamih Bela izinkan.


"Hati-hati Lhoo Bin," pesan Mamih Bela pada Bintang. Bintang hanya mengangguk bergegas menuju parkiran lalu langsung mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.


Bulan yang melihat telfonnya sudah dimatikan hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia sebenarnya sangat senang begitu diperdulikan Bintang, tapi terkadang Bulan tidak enak hati karena takut di anggap selalu menyusahkan walaupun malah Bintang begitu senang jika disusahkan Bulan, aneh memang, tapi begitulah cinta, terkadang suka aneh-aneh.🤭


Sesampainya di parkiran rumah sakit, Bintang segera turun dari mobilnya. Eh ternyata saat itu mobilnya bersampingan dengan Sintia yang baru saja sampai. Sintia langsung turun lalu memanggil Bintang.

__ADS_1


"Mas Bintang, tolong." Teriak Sintia sehingga membuat Bintang seketika langsung menoleh. Bintang yang melihat wajah Sintia begitu panik langsung berlari menghampiri Sintia. Sintia langsung menunjukan anaknya yang berada di jok belakang sedang merintih karena demam tinggi. Bintang dengan rasa kemanusiaannya langsung membuka mobil Sintia lalu menggendong anak Sintia yang masih balita itu. Mereka berdua berlari menuju UGD.


Bintang langsung menyerahkan anak Sintia pada suster agar segera ditangani. Sintia masih terlihat panik, Bintang mencoba menenangkan Sintia agar Sintia banyak-banyak berdoa untuk kesembuhan anaknya.


Dokter langsung memeriksa anak Sintia, Dokter akan mengambil sempel darah anak Sintia agar di cek lebih lanjut penyebab demam pada anaknya. Dokter menyarankan Sintia untuk lapor pada bagian administrasi agar si anak bisa mendapatkan kamar rawat inap.


"Biar aku saja, kamu temani dia saja di sini, kasihan," ucap Bintang. Baginya mantan dan rasa kemanusiaan adalah dua hal yang harus dibedakan. Apalagi melihat anak Sintia yang tidak berdaya membuat Bintang merasa iba.


Bintang menuju bagian Administrasi, ia sampai lupa tujuannya ke rumah sakit untuk apa. Bulan yang saat itu sedang mengantre di bagian pengambilan obat melihat Bintang yang tengah menulis di bagian administrasi. Baru saja Bulan ingin menghampiri Bintang, namun sudah ada Sintia yang tiba-tiba menyerahkan KTP pada Bintang.


"Pakai ini saja, pakai namaku jangan pakai namamu Mas, kamu sudah sangat baik." Sintia menyodorkan tanda pengenalnya pada Bintang.


"Tidak apa-apa, bagiku itu tidak masalah."


"Bintang ..." Sintia menggenggam erat punggung tangan Bintang yang sedang menulis. Matanya mulai berkaca-kaca.


Bulan yang melihat adegan romantis bak telenovela itu langsung saja mundur alon-alon. Baru saja meneguk manisnya dicintai, malah dibuat nyeri kembali. Bulan kembali duduk mengantre di bagian pengambilan obat.


Sintia melepaskan tangan Bintang. Sintia tahu, mustahil untuk bisa menaklukan Bintang kembali setelah menoreh luka yang begitu dalam beberapa tahun yang lalu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


(Bulan ngomel-ngomel apa diem aja yah? emak maunya Bulan gimana? ngambek apa curhat ke mamih, apa diem aja? di tunggu 100 komentarnya, baru up lagi)


__ADS_2