
" Dengerin Aku Mas, Dulu Aku nggak pernah menuntut lebih, aku hanya menuntut kamu untuk sayang dan setia sama aku, apakah itu salah? Dulu aku sangat perlu kamu. Untuk menyelesaikan hari ini dan kemudian hari. Dan dulu aku mau kita yang akan saling menguatkan kini dan nanti, tapi nyatanya, ah sudah lah." Bulan lalu pergi meninggalkan Arkan karena Bulan akan mengantarkan kopi pesanan pelanggan.
Saat Bulan kembali lagi ke meja barista, ternyata Arkan masih duduk di sana. Bulan berdecak pelan, rasanya lama kelamaan menjadi ilfill melihat tingkah Arkan yang mengejarnya. Dulu sebelum datangnya musibah yang menimpanya, Bulan lah yang mencintai Arkan terlebih dahulu, tapi benar kata pepatah, kita akan melihat dengan sebenar-benarnya pasangan saat kehidupan kita sedang dibawah, yang artinya disaat kita membutuhkan suport apakah pasangan memberikannya apa justru meninggalkan.
Karena Arkan tak kunjung pergi, akhirnya Bulan memberi tahu Arkan bahwa lusa Bulan sudah akan menikah dengan Bintang. Setelah lamaran memang sepakat keduanya akan menikah di Minggu ini.
Arkan terlihat terkejut namun terkekeh malah mengatakan bahwa Bulan sedang bercanda. Bulan yang kesal akhirnya menunjukan cincin lamarannya pada Arkan. Arkan terdiam. Ia menunduk, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Kenapa kamu melakukan ini Lan?" tanya Arkan. Bulan mengendikan bahunya, tidak mengerti dengan pertanyaan Arkan, kenapa melakukan ini? ya karena memang ini kehidupan di masa depanku. Bulan sudah menghapus semua kenangan masalalunya yang menyakitkan.
"Aku mohon Lan kasih aku ..."
"Tidak." Bulan langsung menolak sebelum Arkan menyelesaikan pertanyaannya.
"Oh rupanya kamu di sini Mas." Bulan melirik ke arah sumber suara, ternyata, Nyi lampir datang lagi, dengan muka merah padam, enaknya diguyur pakai es kopi nih biar adem.
__ADS_1
Sarah menghampiri Arkan lalu menarik baju Arkan, eh mereka malah jadi bertengkar. Sarah tidak terima diputus oleh Arkan, sedangkan Arkan tetap kekeuh memutuskan Sarah.
"Ini semua gara-gara kamu Lan," tuding Sarah pada Bulan. Arkan langsung menurunkan tangan Sarah yang sedang menuding Bulan.
"Kamu sekarang bahagia kan? sudah menghancurkan hidup aku," ucap Sarah meninggikan suaranya.
"Ya aku bahagia, aku sangat bahagia." Bulan juga ikut meninggikan suaranya, rasanya sudah muak dengan perlakuan sarah padanya, Bulan juga bisa membalasnya.
"Inget Sarah, orang jahat suatu saat akan ada masa kalahnya, lebih baik kalian berdua pergi dari sini." Bulan sengaja mengusir keduanya, membeli tidak, malah membuat keributan, benar-benar tidak tahu malu. Sarah celingukan karena pelanggan disana banyak yang menatapnya. Akhirnya Sarah keluar sambil marah. Begitu juga dengan Arkan, Bulan melihat keduanya masih berdebat di depan cafe jomblo.
Kuncoro masuk ke dalam kantor sambil berlari karena tergesa-gesa, ia yakin kali ini bosnya akan memarahinya. Saat sampai di depan ruangan Bintang, Kuncoro terlebih dahulu menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, setelah itu barulah mengetuk pintu dengan perlahan.
Tidak ada jawaban dari Bintang, Kuncoro langsung membuka pintu saja, saat masuk ia melihat Bintang tengah sibuk berkutat dengan leptopnya.
Saat Kuncoro berjalan menuju meja kerjanya, Kuncoro merasa senang karena bosnya tidak marah-marah, namun baru saja bokongnya akan mendarat di kursi, Bintang tiba-tiba bersuara.
__ADS_1
"Jangan lupa bikin surat pengunduran diri," Celetuk Bintang. Haduh, Pak bos bikin deg-deg an.
"Ah Pak Bos, ditanya dulu dong kenapa telat, jangan langsung main pecat aja." Kuncoro membela diri, sudah salah, menantang lagi, ya cuma Kuncoro.
"Nanti biar aku bilang Mamih,"ucap Bintang.
"Hemm, justru Mamih bakal bela aku," ucap Kuncoro terkekeh. Bintang melirik Kuncoro.
"Jangan kepedean."
"Mau taruhan?" ledek Kuncoro.
"Habis dari mana sih?"
"Cari mantu buat Mamih," jawab Kuncoro. Bintang mendelik, walaupun sedang kesal, tapi Bintang dalam hatinya juga mendukung jika Kuncoro mencoba terus berubah, apalagi sekarang sudah terfikirkan mencari wanita pujaan, pastinya perubahan sudah sangat bagus. Kuncoro seperti itu karena dulunya terjerat pergaualan bebas waktu di luar negri, jadi bukan karena jiwanya seperti itu, tapi itu memang murni karena salah pergaulan.
__ADS_1