
Setelah keluar dari gedung Oruscial Forces berada, Bagas dan dua lainnya pergi ke rumah sakit dimana Hani adik dari Hendrik di rawat.
Rumah sakit yang di pilih oleh Hendrik adalah rumah sakit Jakarta Medical Center (JMC)
Dalam hal kelengkapan, Rumah Sakit Jakarta Medical Center memiliki fasilitas pemeriksaan penunjang dan ruang perawatan yang representatif. Serta didukung oleh dokter spesialis yang sudah berpengalaman.
Rumah Sakit Jakarta Medical Center lokasinya berada di Jalan Buncit Raya No.15, Jakarta Selatan.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di sana, Hendrik memimpin jalan menuju kamar Hani..
Sesampainya di ruangan itu terlihat sosok gadis muda yang terbaring di ranjang dengan beberapa alat penunjang kehidupan di tubuhnya..
Ia terlihat seperti orang yang sedang tertidur.. Diam tak bergerak dengan wajahnya yang terlihat tetap tersenyum..
Bagas yang melihat itu juga tersenyum. Bagas tau di kehidupan sebelumnya bahwa Hani adalah gadis yang periang dan selalu ceria setiap saatnya..
Ia akan tetap tersenyum apapun yang terjadi, ia juga akan terus menyemangati Hendrik dan Bagas kala mereka merasakan kelelahan..
"Saudara ku.. Kumohon Sembuhkan Lah Hani, asalkan ia bisa sembuh.. Aku akan melakukan apapun.. " Ucap Hendrik sambil bersujud di depan Bagas.
"Berdirilah.. Aku sudah berjanji sebelumnya bukan..?? Jadi kau tak perlu khawatir, bahkan tanpa kau minta sekalipun. Aku akan menyembuhkannya... " Ucap Bagas.
Lalu ia berjalan ke samping tempat tidur Hani dan tersenyum melihatnya..
"Kau akan segera sembuh dan kembali tersenyum sebentar lagi.. " Gumam Bagas.. Lalu ia mengulurkan tangannya ke arah Hani dan kemudian sebuah Cahaya keluar dari tangannya..
Cahaya itu menyelimuti Hani, dan terlihat kulit yang awalnya pucat mulai terlihat kemerahan kembali..
Dan tak lama kemudian penampilannya sudah kembali seperti seorang yang benar-benar sehat..
Bagas tak berhenti di sana dan terus menyembuhkan Hani. Terlihat di monitor tanda vital yang awalnya lemah mulai menguat. Dan Setelah beberapa saat Bagas menghentikan pengobatannya..
Ia menunggu di sana dan memperhatikan kondisi Hani. Terlihat jaringannya mulai bergerak sedikit dan kelopak matanya juga mulai bergetar.
"Hani..!! Hani.. " Ucap Hendrik sambil mengeluarkan air matanya mencoba membangunkan Hani..
"Jangan berisik dan tunggu saja.. " Ucap Bagas.
Setelah itu terlihat Hani mulai membuka matanya kembali secara perlahan..
Dan kemudian ia mulai mengamati sekeliling, dan ia mulai memperhatikan sosok Bagas di depannya..
"Apakah aku ada di surga dan engkau adalah malaikat..??" Tanya Hani melihat Bagas.
Lalu ia melihat ke arah lain dan melihat Hendrik..
"Hani..!! Syukurlah.. Syukurlah, Akhirnya kau sadar juga.." Ucap Hendrik.
"Ehh.. Sepertinya aku tidak di surga tapi di neraka.. "Ucap Hani.
" Hhuufftt" Hana hampir tertawa mendengar perkataan Hani..
"Hei.. Apa maksudnya itu..? Aku tau kakak tak sekeren Bagas, tapi apa-apaan yang kau katakan itu..?? Kau menyebutkan surga saat melihat Bagas dan neraka saat melihat ku..?? " Ucap Hendrik kesal.
"Apa ini caramu memperlakukan kakak mu setelah baru siuman..?? "
"Ehh..?? Apakah aku belum mati..?? " Ucap Hani.
"Kau belum mati.. " Ucap Bagas.
"Ohh.. Aku kira aku menyusul kakak ku.. " Ucap Hani.
"Hei.. Kau itu menyebalkan seperti biasanya, apakah maksudnya kakak jauh lebih cocok di neraka..?? " Ucap Hendrik.
"Lalu apakah kakak pantas di surga..?? " Tanya Hani.
"Eh..?? " Hendrik tak bisa menjawabnya.
"Lihat..?? Kaka saja tak bisa menjawabnya, karena itu cobalah jangan melakukan hal-hal konyol setiap saat.. " Ucap Hani.
"Bisakah setidaknya setelah kau siuman berhenti bersikap seperti itu ke kakak mu yang sudah berjuang ini..?? " Ucap Hendrik..
"Baiklah.. Baiklah.. Berhenti bersikap seperti anak kecil di depan orang lain.. " Ucap Hani sambil tersenyum
Lalu ia kembali melihat Bagas dan Hana.
"Kalau boleh tau.. Siapa kalian..?? " Tanya Hani.
"Aku.. .. " Sebelum Bagas menjawabnya, Hani lebih dulu memotongnya.
"Biar aku tebak.. Pasti kakak ku yang sudah meminta bantuan kepada kalian untuk menyembuhkan ku bukan..?? " Ucap Hani.
"Hai..! Bisakah setidaknya sekali saja kau jangan merendahkan kakak mu di depan orang lain..??! " Ucap Hendrik.
"Sepertinya benar.. " Ucap Hani.
__ADS_1
"Atas nama kakak ku, aku ucapkan Terima kasih dan maaf sudah merepotkan kalian.. "
"Tak masalah..
Untuk sekarang bisakah kau rasakan apakah ada hal aneh di Tubun mu..? Apa kau merasakan ada yang masih sakit atau tak beres..? " Tanya Bagas.
Hani mencoba merasakan seluruh tubuhnya, ia menggerakkan bagian tubuhnya dan kemudian ia mengangguk..
"Sepertinya semua baik-baik saja.. Aku merasa sehat lagi seperti sebelumnya.. " Ucap Hani.
"Itu bagus.. " Ucap Bagas.
"Emm.. Jadi siapa kalian..?? " Tanya Hani.
"Nama ku Bagas, dan dia adik ku.. Hana.. " Ucap Baga.
"Salam kenal Hani.. " Ucap Hana.
"Emm salam kenal juga.. " Ucap Hani sambil tersenyum.
"Walaupun aku yakin kau sudah sembuh, namun aku menyarankan agar kau tetap di sini untuk sekarang.. " Ucap Bagas.
"Biarkan para dokter memeriksa mu untuk memastikan kau benar-benar sembuh sepenuhnya.. "
"Emm.. Terimakasih.. " Ucap Hani sambil tersenyum.
"Hendrik.. Aku dan Hana akan kembali duluan sekarang. Dan setelah dokter memastikan Hani benar-benar sembuh, kau bisa membawanya.. " Ucap Bagas.
"Baiklah.. Terima kasih.. " Ucap Hendrik.
"Mari kita pulang sekarang.. " Ucap Bagas.
"Emm.. Sampai jumpa lagi Hani.. " Ucap Hana.
"Dan kau tuan Abdul, jaga Hani baik-baik.. "
Lalu ia mengikuti Bagas meninggalkan ruang itu meninggalkan Hendrik dan Hani di sana.
"Akkhh.. Kenapa kalian berdua sangat mirip, kalian benar-benar menyebalkan.. " Ucap Hendrik.
"Jadi.. Masalah apa saja yang sudah kakak lakukan selama aku tak ada..?? " Tanya Hani.
"Hei. Saudara ku yang manis, bisakah sekali saja jangan menganggap kakak mu ini pembuat onar..?? " Ucap Hendrik.
"Kakak selalu dewasa ok..!! " Ucap Hendrik.
"Ok ok ok.. Jadi bisakah kakak menceritakan apa yang telah terjadi selama aku tak sadar..?? Dan bagaimana kakak bertemu mereka..?? " Tanya Hendrik..
"Kakak tidak berhutang atau sesuatu yang lain kepada dua orang itu bukan..?? "
"Tentu saja tidak..!! " Ucap Hendrik.
"Kakak di rekrut oleh mereka dan di bayar mahal karena kemampuan kakak yang keren ini.. "
"Berhentilah membual dan katakan saja apa adanya.. " Ucap Hani.
"Apa kakak pikir aku yang sudah kenal kaka sejak kecil tak tau kebiasaan kakak..??"
"Katakan saja apa adanya tanpa bualan kakak, atau aku takan memaksakan apapun lagi untuk kakak.. "Ucap Hani.
" Dan aku akan berdoa dan mengadukan kakak pada ayah dan Ibu di surga.. "
"Ok ok.. Berhentilah mengatakan itu..
Kakak akan menceritakan semuanya.. " Ucap Hendrik.
"Semuanya berawal beberapa bulan yang lalu.. Waktu itu.. ... "
Hendrik menceritakan awal ia mendapat Core Monster dari dungeon.. Kemudian ia terus menceritakan pengalaman hidupnya selama ini saat ia harus berjuang mencari uang untuk pengobatan Hani.
Lalu ia mulai menceritakan awal mula bertemu Bagas dan Hana di sana. Namun ia mengubah sedikit bagian ia di pukuli waktu itu..
"Jadi seperti itu.. " Ucap Hani
"Walaupun kakak terkadang tak bisa di andalkan, ceroboh dan selalu saja melakukan hal-hal aneh.. Tapi Terima kasih karena telah menjaga ku selama ini.. "
"Jangan mengatakan itu, kau adalah satu-satunya keluarga ku dan ini adalah janjiku kepada ibu sebelum ia meninggal.. " Ucap Hendrik.
"Namun.. Bisakah kau tak mengatakan keburukkan ku sebelum berterima kasih..?? "
"Itu terdengar seperti aku tak bisa di andalkan saja dan kau seperti terpaksa berterima kasih saja.. " Ucap Hendrik.
"Jika kakak tak ingin aku mengatakan hal semacam itu setiap saat, maka jadilah kakak yang benar-benar bisa di andalkan.. " Ucap Hani.
"Aku yakin sembilan puluh persen yang kaka katakan itu kebenaran dan sepuluh persen adalah bualan kakak bukan..?? "
__ADS_1
"Ehh.. Tidak, kata siapa..?? Itu seratus persen kebenaran.. " Ucap Hendrik.
"Haihh.. Aku tau kebiasaan kakak, jadi tak perlu membantah lagi.. " Ucap Hani.
"Jadi.. Apakah yang harus aku lakukan juga agar bisa berterima kasih kepada kakak Bagas dan Hani..?? "
"Kau tak perlu melakukan apapun, kakak yang akan bekerja untuk mereka.. Aku tak ingin kau terluka ataupun sakit lagi.. " Ucap Hendrik.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, dan aku tau batasan diriku sendiri.. " Ucap Hani.
"Kakak sebelumnya mengatakan soal Origin bukan..?? Jadi apakah kakak Bagas bisa mengajari ku juga..? "
"Seharusnya bisa.. " Ucap Hendrik.
"Ehh..?? Tidak tunggu..!! Jangan bilang kau juga ingin memasuki dungeon..?? "
"Jangan pernah sekalipun memikirkan hal itu ok..?? Kakak takan pernah mengizinkannya.. Bahkan jika itu perintah Bagas sekalipun, kakak takan membiarkan mu menginjakkan kaki di dungeon sedikit pun.. " Ucap Hendrik.
"Tidak seperti itu..
Aku tak berniat masuk dungeon, tapi kaka mengatakan bahwa kalian mulai membentuk Guild bukan..?? " Ucap Hani.
"Benar.. " Jawab Hendrik.
"Dan salah satu persyaratan untuk bergabung minimal adalah pengguna Original, jadi aku berencana menyerap origin juga agar aku bisa bergabung di guild itu nantinya.. " Ucap Hani.
"Walaupun aku tak bisa bertempur, tapi setidaknya aku bisa membantu hal lainnya.. Seperti mengurus dokumen atau sejenisnya. "
"Ehh..?? Kau ada benarnya juga.. " Ucap Hendrik.
"Di guild kami nantinya hanya akan ada tiga orang, dan kami bertiga semuanya bertugas masuk ke dungeon dan tak ada yang akan mengurus dokumen.. "
"Dengan kepandaian mu, aku rasa kau akan sangat membantu.. " Ucap Hendrik.
"Emm.. Walaupun tak bisa, aku masih bisa memasak dan membersihkan rumah nantinya.. Jadi setidaknya aku tak menganggur dan hanya duduk diam sementara kalian mempertaruhkan nyawa di dalam dungeon.. " Ucap Hani.
"Baiklah.. Lebih baik kakak cepat panggil dokter dan selesaikan semua urusan rumah sakit.. Aku tak betah tinggal di sini lama-lama.. "
"Baiklah tunggu sebentar.. " Ucap Hendrik.
"Dokter..!! Dokter..!! "
Lalu ia berlari keluar dari sana sambil berteriak-teriak sepanjang lorong rumah sakit mencari dokter.
"Dia benar-benar tak bisa diandalkan..
Tapi.. Terimakasih kakak.. " Gumam Hani sambil mulai meneteskan air matanya.
.
.
. __________\=Skip\=_________.
Sementara itu di kediaman Bagas.
"Kakak, apa yang sebelumnya kakak bicarakan dengan tuan Abraham di sana..?? " Tanya Hana.
"Oh itu..? Kakak hanya akan bergabung dengan Dark Legion.. " Ucap Bagas.
"Dark Legion..?? Apa itu..?? " Tanya Hana.
"Itu adalah organisasi rahasia pemerintah dunia.. Namun akan lebih baik jika kau tak tau itu dan tak membicarakan dengan siapapun.. " Ucap Bagas.
"Jangan bertanya atau mencari tau Dark Legion, anggap saja kau tak pernah mendengar nama itu ok..? "
"Itu adalah sesuatu yang hanya akan membuatmu mendapatkan masalah jika kau tau.. "
"Baiklah.. Jadi apa kakak sekarang bagian dari organisasi itu..?? " Tanya Hana.
"Belum.. Setengah bulan lagi kakak akan keluar negeri sebentar untuk mengikuti tesnya.. " Ucap Bagas.
"Apakah itu berbahaya..? Jika berbahaya lebih baik kaka urungkan saja untuk bergabung nya.. " Ucap Hana
"Kau tak perlu khawatir.. Apa kau lupa seberapa kuat kakakmu ini..? " Ucap Bagas.
"Aku tau kakak kuat.. Tapi aku tak ingin kakak mendapatkan masalah jika kakak bergabung dengan organisasi seperti itu.. " Ucap Hani.
"Tenang saja.. Kaka tau apa yang kakak lakukan, jadi kau tak perlu khawatir.. "
.
.
. Bersambung.
__ADS_1