BATTLE OR ALIVE

BATTLE OR ALIVE
Prolog


__ADS_3

Pernahkah Kalian mendengar kalimat Megah yang bisa saja mengubah segalanya seperti ini?, “DUNIA LAIN! ”.


***


Kalimat sederhana yang bahkan bagi banyak Orang itu hanyalah sebuah omong kosong belaka, yap!, tentu saja tidak terkecuali bagi dua Orang yang sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri dan melupakan kenyataan yang lagi terjadi di sekitar mereka.


Kiyomizu Jell (17) dan Ogawa Mai (17). Bagi banyak Orang, Orang yang peduli dunia Mereka sendiri itu adalah contoh Orang yang tidak bisa di tolong lagi, Orang-orang bodoh yang melupakan kenyataan. Tapi kalimat membosankan itu tidak berpengaruh kepada dua Orang ini.


Jell dan Mai adalah otaku , tapi siapa sangka Orang seperti mereka bukannya mendapatkan hujatan pedas malah mendapatkan Penggemar dan juga Penguntit di kehidupan Mereka?.


Tentu saja Mereka Berdua mendapatkan perlakuan itu bukan dengan cuma-cuma, hanya Orang gila yang rela menghabiskan waktu hanya untuk menguntit otaku bukan?.


Kiyomizu Jell adalah Setter* di tim Voli di sekolahnya, posisi itu dia dapatkan karena tinggi badannya “178cm”. Tentu saja dia adalah Orang penting di timnya, dia tidak memiliki gelar khusus seperti Captain, Ace, ataupun Wakil. Tetapi semua penonton tertuju kepadanya. Terutama para Wanita yang terpana dengan teknik dan ketampanan yang dia miliki. Itu sebabnya Jell berada di posisi ke-2 pria tertampan di sekolahnya.


(TN: Setter adalah posisi pemain yang berada paling dekat dengan net. Tugasnya adalah mengatur serangan yang di lakukan tim.)


Ogawa Mai Adalah Seorang sekretaris Osis. Kecakapan dan ketekunan saat bekerja memberikan pancaran Kharisma. Rambut panjang kepang kudanya yang terlihat begitu menawan, membuat dia berada di posisi puncak wanita tercantik di sekolah.


Akan tetapi bagi Mereka berdua itu adalah hal yang tidak penting. Mendapatkan perhatian setiap hari, bukanlah perlakuan yang menyenangkan bagi mereka berdua.


***


Senin, hari yang paling berat bagi banyak orang. Satu dari tujuh hari, senin adalah beban yang paling nampak dalam kehidupan. Setiap hari mendesah karena nasib ini bukanlah hal tidak lazim bagi mereka.


Hal itu juga berlaku bagi Jell, saat pagi hari harus mandi saat dia baru saja mendapatkan surga atas libur yang di berikan.


“Hah…”


Suara ******* yang dapat di dengar dengan jelas terucap dari mulutnya.


Sesaat berlalu ketika Dia selesai menyiapkan semua yang diperlukan, mandi dan sarapan untuk pergi agar tidak terlambat Sekolah.


Tetapi ada yang berbeda di pagi tadi, sebuah E-mail dari orang asing tak di kenal berada pada ponsel Jell.


Pesan dari orang yang tak di kenal dan subjek yang tidak jelas pula. Tertulis dengan megahnya “Apa kau pernah berpikir hidup di dunia lain?.”



Sedikit kaget dengan apa yang di tanyakan. Pesan yang tak berguna baginya tidak di jawab dengan serius, dia membalas dengan kata yang dapat di rasakan bahwa jawabannya begitu santai bagaikan menjawab pertanyaan orang bodoh.


“Yah, tentu saja.”


Tidak lama kemudian balasannya pun di balas. Dengan nada elegan tertulis pula pertanyaan membingungkan bagi Jell.


“Kalu begitu bagai mana kalau kau ikut dalam permainan juga?.”


“Apa Maksudmu?.”


Di jawabnya pesan yang membuat dia agak jengkel di pagi hari. Akan tetapi jawaban yang di terima dari orang yang tak di kenal ini membuat mata Jell yang mengantuk karena hal membosankan sedang terjadi, menjadi tegang dan membuat dia bertanya-tanya.


“Tentu saja bukan, bermain di sebuah dunia yang di mana kau adalah pemeran utamanya “No.1”.”


Udara dingin berembus menembus tulang belakang Jell. Dia terkejut mengapa orang yang dia tidak kenal ini mengetahui rahasia besarnya. Jell menjawab dengan mulai hati-hati, hatinya mengatakan orang ini bukan orang biasa.


“Siapa kau sebenarnya, kenapa kau mengetahui hal itu?”


Banyak pertanyaan muncul di benak Jell, akan tetapi jawaban yang dia terima membuatnya lebih kesal. Bagi Jell, rahasia ini adalah rahasia yang tidak ingin ada orang yang membocorkannya, karena bisa saja karena hal itu hidup damainya bisa saja hancur.


“Hahaha…,Siapa aku itu tidaklah penting.”


“Apa mau mu?”


Jell membalas balasan yang dia terima, dari orang ini.


““……GAME ……””


(TN: Di kata ini “Game” di sini menunjukkan kata ajakan/mengajak, bukan “Game” dalam artian aplikasi atau sejenisnya)


“Seperti yang Aku katakan sebelumnya, sebuah permainan yang di mana Kau menjadi Karakter utamanya”


Kalimat menyusul kalimat yang sebelumnya. Jell mulai merasa kalau orang yang sedang berbicara dengannya ini sengaja membuat dirinya terpojok untuk menuruti permintaannya. Jell menjawab dengan pasrah dan masih dalam keadaan hati-hati.

__ADS_1


“Baiklah, Tapi permainan macam apa yang akan Aku mainkan?”


Tanpa Dia sadari kalimat yang dia sampaikan menjadi akhir dari pembicaraan hangat mereka di pagi hari. Tidak ada jawaban yang muncul dari orang itu dan itu membuat pagi Jell benar-benar kesal.


***


“Yoo!, Jell-Kyun.”


Sapaan yang tidak lagi asing di telinga Jell, itu Mai yang menyapanya dan seperti hari biasa mereka berangkat ke sekolah bersama. Rutinitas ini terjadi secara alami dikarenakan rumah mereka yang bersebelahan.


Pesan misterius pagi hari yang bikin kesal, dan sekarang sapaan konyol pagi hari yang membuatnya makin kesal saja.


“Hentikan penambahan pada namaku, itu membuatku makin kesal saja.”


Bagi orang-orang, ini adalah salah satu adegan legendaris yang selalu ada di film dan novel romantis, berangkat ke sekolah bersama bagaikan sepasang kekasih yang selalu bermesraan, tapi bagi Mereka itu bukanlah yang seperti mereka pikirkan.


Teman semasa kecil berangkat bersama dan ke sekolah yang sama, “ada salah apa dengan itu”, pikir mereka karena orang-orang mengira mereka adalah sepasang kekasihpagi Tapi tentu saja kalau saja mereka mengatakan demikian, orang-orang tidak akan percaya ucapan mereka, itu di karena kan kedekatan mereka berdua sudah bukan lagi disebut teman.


Jell dan Mai sudah mengenal satu sama lain, mereka bertemu sekitar 10 tahun lalu, saat keluarga Ogawa pindah ke kompleks perumahan Jell.


Jell masih memikirkan pesan tadi pagi, tetapi u tuk membuat Mai tidak menanyakan hak itu, Jell sambil berbincang-bincang bersama Mai sampai tujuan. Di sana terlihat ada orang yang menuju ke arah mereka berdua, itu adalah sahabat Jell, Keyl.


“Pagi! masih pagi kalian sudah sibuk aja, ajak aku juga dong!”


Jell tidak menjawab candaan itu sambil tersenyum sedikit, karena ini dia merasa sedikit tenang, Keyl yang bingung masuk ke obrolan dua orang ini.


Milter Keyl (17), Dia sahabat Jell yang duduk bersebelahan dengannya. Dia orang yang selalu mencairkan suasana di kelas, karena sikapnya yang ceria dan juga agak bego menurut Jell, dia adalah karakter sahabat yang bisa di lihat di mana pun.


***


Jam istirahat berbunyi, seperti hari lainnya orang-orang keluar membeli makanan dan ada juga yang bawa bekal dari rumah, Jell dan Mai membawa bekal masing-masing, menyatukan meja dan mulai makan.


Keyl yang mengeluarkan bekalnya mulai memperhatikan sesuatu yang tidak beres, dia melihat kotak bekal Jell dan Mai berisi makanan yang sama.


Itu hal yang berbahaya untuk Jell, sambil makan dia menjelaskan situasi itu kepada Keyl untuk tidak membuat keributan hanya karena bekal, itu karena Keyl adalah orang penyebar gosip, dia tidak ingin orang lain berpikir yang aneh-aneh.


Satu dari kebiasaan Jell dan Mai saat jam istirahat adalah bermain game. Itu wajar kan, karena mereka berdua adalah seorang otaku. Sambil berbaring di pahanya, Mai memainkan ponselnya, dari posisinya memegang HPnya sepertinya Mai memainkan game bertema RPG, Dan di saat yang sama Jell hanya membuka media sosial untuk melihat apa ada berita menarik yang bisa dia ambil. Dalam kesibukan itu Keyl membuka pembicaraan.


“Kenapa? Kau iri ya~”


Jawab Mai sambil menyindir status jomblo milik Keyl, jawaban tak terelakkan dari mulutnya itu membuat Keyl sakit hati.


“Enak ya, jadi orang populer, iyakan “No.2”?”


Jell mendengar endusan itu tetap memainkan Handphonenya dia menjawab dan jawaban itu membuat Keyl tidak terima.


“Enak apanya? Kau pikir hidup seperti itu enak? … Hidup tenang tampa hambatan dan kekacauan adalah jalan hidupku!”


Dengan wajah berseri-seri Jell menjelaskan moto hidupnya, Mai membalas semangatnya.


“Tapi menghidupiku juga adalah jalan hidupmu kan.”


“Menghidupi apanya?”


Jawab Jell kepada orang yang menambah moto hidupnya itu, tawaan dapat di dengar dari meja mereka.


Sesaat Jell mengingat sesuatu yang penting yang hampir saja dia lupakan, itu adalah PR Matematika, jam istirahat tinggal tersisa 10menit lagi.


Melihat buku matematikanya dan alangkah leganya dia karena PR-nya sudah selesai tadi malam. Dengan sedikit khawatir dia menegur Mai yang masih saja asik tidur di pangkuannya.


“Woy, mau sampai kapan Kau menggunakan ku sebagai bantal? PR-mu sudah selesai?”


Di jawabnya pertanyaan Jell dengan malas.


“PR? Memangnya ada ya. Sepertinya Aku gak kerja deh.”


5menit lagi sebelum pelajaran Matematika di mulai, Jell sepertinya sudah menduga kalau wanita yang satu ini akan mengerjakan PR-nya. Tersadarkan dirinya, Mai terlihat pucat saat dia tiba-tiba bangun dari pangkuan, dia baru saja ingat PR yang ini dapat membuat dia keluar dari kelas kalau tidak di selesaikan.


Wajah cemberut dengan sedikit air mata membuat wajah Mai terlihat benar-benar imut, itu adalah senjata rahasianya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, tentu saja itu dia ciptakan hanya untuk Jell-nya seorang.


Wajah yang dapat menipu daya orang-orang dan rela melakukan apa saja demi tidak membiarkan wajah itu menumpahkan air mata, tapi itu tidaklah mempan bagi Jell yang sudah kebal mental dan raganya, karena sudah terbiasa oleh kelakuan Mai.

__ADS_1


Jell melihatnya dengan muka yang kesal, sambil memberikan kata-kata, wajah manis nan polos milik Mai-nya itu berulah.


“Jell~!.”


“Apa?”


“Kau tau?, aku sudah berusaha keras loh, aku sudah melakukan semampuku.”


“Terus?”


“Itu loh~”


““Itu—”Apa?”


Setiap kata yang keluar dari mulut dengan sikap Moe*(1), melihat sikap Jell yang tidak terpengaruh oleh godaannya, membuat dia melanjutkan ke tahap yang lebih ekstrem. Di mendekatkan wajahnya langsung menatap Jell dengan tersenyum.


(Kau pasti tidak bisa menghindar dari yang satu ini!) ucapnya dalam hati.


Tapi apa yang di harapkan dari itu Jell menatapnya lebih dalam lagi, seperti akan melakukan adegan “Ciuman”. Di tentangnya Mai dengan kondisi seperti ini.


Mai yang kaget membuat pipi tembemnya memerah, merah merona dapat langsung di lihat karena kulit puti bagai susu miliknya. Dengan kesal Mai langsung bertindak dengan instingnya.


“Ayolah!, kumohon kali ini saja!, Aku mohon padamu! … Akan aku lakukan apa saja! Kau tau, apa saja loh. Gadis cantik seperti aku akan mendengarkannya, seharusnya Kau senang kan, jadi kumohon kali ini saja—!.”


Mai menyerangnya dengan pelukan yang mengunci. Tapi Jell tidak selemah itu, di dorongnya wajah itu dan dengan paksa melepaskan kuncian nya.


“Menyebut dirimu cantik itu membuatku muak—.”


“Tapi Aku benar cantik kan?!.”


“Lepaskan!, seharusnya tenagamu ini kau gunakan untuk menyelesaikan PR-nya!.”


“Tak mau, Aku mau lihat punyamu—”


“Ha—!, apa Kau pikir Aku akan mengabulkan itu?.”


“…”


“Cih…!.”


Keluhan itu keluar dari mulut Mai, tampaknya dia tidak bisa merebut hati Jell dengan baik-baik, terpaksa dia melakukan cara yang lebih kasar dan menantang.


“Sepertinya ini satu-satunya cara agar Kau mau menunjukkannya ya!.”


Suara lantang terucap dari mulutnya, dia menantang Jell bertaruh dengannya. Satu dari banyak kebiasaan mereka, bertaruh adalah salah satunya. Mai menantang Jell bermain permainan kecil yang tidak memakan banyak waktu “Batu Gunting Kertas ” adalah jalan terakhir.


“Jell, ayo bertaruh!, Kita akan memainkan Janken*(2).”


“Baiklah, tapi apa yang akan Kita pertaruhkan?.”


Menyebutkan pertaruhan keduanya, yang di pertaruhkan Mai, dia akan melakukan satu permintaan apa pun yang Jell minta, dan Jell bertaruh dia akan memperlihatkan semua PR-nya selama seminggu tanpa terkecuali.


““TIGA PERMAINAN, SATU PEMENANG DAN SATU PECUNDANG!.””


Secara bersamaan Mereka menyerukan hal yang sama, itu bagaikan sebuah mantra ikrar yang di junjung tinggi dan di hormati.


Tapi sesaat perhatian mereka ter ahli kan oleh reaksi teman sekelas mereka, mereka rasanya lebih heboh dari pada biasanya, dan akhirnya Jell mengerti apa yang membuat keadaan sedikit menegangkan ini, itu adalah kesalahan yang Dia buat sendiri.


Suara mereka bertebaran di dalam kelas, “Jell, ingin mencium Mai—!”,“Mereka lebih mesra dari biasanya—!”, “Seperti yang di harapkan dari “No.3”dan“No.4”, mereka yang terbaik—!”.


Bagi Jell sudah terlambat untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi ini, dia menatap Mai yang menurutnya akan mendukungnya untuk menghentikan mereka, tapi wajah Mai tersipu malu, bagaikan Dia menyetujui apa yang di katakan teman-teman.


***


*(1)\= Moe - https://id.m.wikipedia.org/wiki/Moe


*(2)\= Janken - Batu,gunting, Kertas dalam bahasa Jepang.


***


[Tambahan, Pertama Saya ucapkan terimakasih kepada semuanya yang telah membaca karya pertama buatan saya. Dalam cerita yang Saya buat, Saya menggunakan kata atau bahasa dalam bahasa Jepang, hal itu di Saya gunakan untuk penggambaran dan penokohan dalam cerita bisa lebih dimengerti. Saya akan memberikan beberapa penerjemahan untuk pembaca sekalian dan Saya berharap dapat di mengerti. Mungkin itu dulu dari Saya, sekali lagi Saya ucapkan terimakasih.]

__ADS_1


__ADS_2