BATTLE OR ALIVE

BATTLE OR ALIVE
Chapter 11 : Truth


__ADS_3

Di dalam dungeon, hanya ada pemandangan yang sama di setiap saat. Batu, pasir, tanah dan berbagai material berharga.


Cahaya redup di lantai kali ini, cahaya di sini lebih redup dan bahkan ada beberapa sudut ruangan yang gelap gulita karena tidak adanya penerangan. Lantai ke-20, di sini tampak sangat menyeramkan dan sudah seperti kuburan saja.


Sejauh mata memandang bisa di lihat sudah sedikit tempat yang mendapatkan cahaya. Sulit melihat di tempat ini, yang membuta dua orang yang sedang berjalan di lantai ini terpaksa melakukan penerangan darurat.


“Membuat cahaya di tempat gelap sangat berbahaya. Tetapi, jika kita tidak bisa melihat musuh di lantai ini, hasilnya akan sama. Jika tebakanku benar … aku yakin monster di lantai ini memiliki skill atau kemampuan “Night Vision”.”


(TN: Night Vision : Pengelihatan malam.)


“Benar juga.”


Itu Jell dan Mai. Mereka sedang berjalan diantara kegelapan yang menyelimuti lantai ini. Jell menjelaskan kondisi mereka saat ini, dan Mai meresponnya dengan baik.


Sudah sekitar 30 menit sejak mereka masuk ke lantai 20, dan selama itu juga belum sama sekali adanya gangguan ataupun hal yang menjanggal.


Pada lantai sebelumnya, tepatnya di lantai 19, situasi yang tidak mungkin mereka lupakan. Di saat mereka memasuki lantai ke-19, mereka langsung di sambut oleh segerombolan monster aneh lainnya. Mereka berbeda dengan monster di lantai 18 kebawah. Dan sudah di pastikan ini akan sangat merepotkan.


Monster yang mereka temui adalah monster dengan bentuk tubuh yang aneh. Benar-benar aneh. Dia berbadan kadal yang panjangnya sekitar 1,5 meter, dan memiliki tubuh yang besar.


Yang paling buruk dari semua penampilannya adalah kepalanya, kadal itu berkepala manusia. Wajahnya seperti orang tua keriput yang sedang menangis. Wajahnya hitam dan memiliki taring yang setajam silet.


Jell dan Mai yang pertama kali di serang oleh monster itu seketika kaget, dan Mai berteriak keras ketakutan.


Di serang oleh segerombolan monster kadal berkepala manusia tua, dalam kegelapan, siapa yang tidak akan takut dengan itu? Bahkan Jell terkejut dan tidak bisa berpaling dari wajah kadal beberapa detik.


Dan untung saja Mai bukan perempuan yang selemah itu. Dia langsung menghabisi monster kadal itu dalam sekejap, bahkan Jell tidak dapat bagian untuk ikut. Mai begitu marah dan dia merasa tidak nyaman.


Saat di periksa oleh keduanya, monster ini mungkin saja berperingkat ‘A’, itu di karenakan monster ini mampu mengendalikan sihir dengan mudah.


Sihir yang di miliki monster ini adalah menyembunyikan keberadaan mereka. Dan di saat mereka menyembunyikan keberadaan mereka, mereka akan langsung menyerang dengan menggunakan lidah panjang mereka.


Menjijikkan bukan? Benar, saya juga merasa jijik. Bukan hanya itu, jika serangan lidah mereka gagal, mereka akan langsung maju untuk menggigit dan mencakar musuh.


“Dengan masih adanya monster kadal itu, kita tidak bisa terburu-buru untuk maju. Di tambah dengan lapangan pasir hisap yang lebih sering dan juga makin besar … jadi kita harus berhati-hati untuk maju melawan bos kali ini.”


“Benar.”


Situasi yang di alami Jell dan Mai makin merepotkan, itu di karenakan mereka harus masih melawan bos lantai dan melanjutkan entah sampai sejauh mana.


Untuk makan dan minum di Dungeon, Jell dan Mai sudah menyiapkan makanan yang lama busuk, dan masih tersisa setengah.


Dan mereka harus bergegas untuk menyelesaikan penyelidikan Dungeon segera mungkin, Jika tidak, mereka akan melawan musuh yang lebih kuat dari pada bos monster, yaitu rasa lapar dan haus.


***


Sudah sekitar 1jam mereka menelusuri lantai ke-20 ini, dan masih saja tidak berhadapan dengan apa-apa. Untuk itu, mereka memutuskan untuk beristirahat di batu besar yang secara beruntung mereka temukan.


“Ini aneh…”


“Hmm~?”


“Apa kau tidak merasakan ada yang aneh dengan lantai 20 ini? … di sini sangat sedikit penerangan dan juga tidak ada satu pun monster yang terlihat.”


“Bukankah itu bagus? … tidak ada monster, sama dengan keringanan. Dengan kata lain, kita sedang beruntung.”


“Itu benar juga … tapi tidak bisa seperti itu, jika benar lantai ini memiliki keringanan. Bagaimana dengan bos lantai? Apa di sini tidak ada bos lantai?”


“Mana ku tau, aku bukan panitia Dungeon.”


“Kh—!”


Wajah Jell berubah jengkel dengan lelucon tidak lucu. Memang benar Mai tidak tau apapun tentang Dungeon ini, sama seperti dirinya yang juga tidak tau. Akan tetapi lelucon Mai benar-benar tidak lucu sama sekali.


Jell memakan roti yang sudah mereka siapkan, di panaskan dengan skill ber elemen api, untuk menciptakan makanan hangat tiap hari.


Jell yang memakan makanannya tidak bisa menikmati makanan itu. Dia cemas dengan lantai ke-20 ini, penerangan yang makin minim tiap kali mereka bergerak maju, dan makin besarnya lapangan pasir. Membuatnya tidak dapat dengan santai beristirahat di kondisi saat ini.


Di kondisi yang sunyi itu, sesuatu yang tidak di inginkan terjadi…


Tsikk Tskikk Tskikk… (Suara pasir yang di injak)


( !!! )


“Suara apa itu?!”


Jell dan Mai terangkat dengan sebuah suara ramai, suara pasir yang sedang di injak. Begitulah bunyinya. Sedang melintas di belakang mereka, suara ramai seperti gerombolan monster yang sedang berlarian.


Memeriksa asal suara, Jell dan Mai terkejut dengan apa yang mereka lihat.


“A-apa-apaan itu?!” (Jell)


“Sudah jelas itu gerombolan kadal bukan! Apa kau buta?” (Mai)


“Kalau itu juga aku sudah tau! Bahkan anak-anak juga tau itu kadal, bodoh!”


“Ha-ha-ha! Lucu, sangat lucu. Kau pikir itu lucu!”


“Akh!, aku baru ingat kau ini sangat bodoh. Jangan berteriak di saat seperti ini dasar bodoh!”


“Siapa kau bilang bodoh? Hah! Sudah jelas kau yang bodoh karena tidak tau itu kadal bukan!”


“Berisikk!”


“Hah-, ini dia … orang salah yang selalu merasa dirinya benar!”


“Kau membahas kesalahan ya!-, kau merasa kau sangat berguna dan merasa kau sempurna. Lo jangan ngaco ya! Dari semua masalah yang kita hadapi, kau adalah dalang dari semuanya! Dan kau menyebutmu benar? Jangan membuatku tertawa!”


“Kh-!, apa kau bilang!”


“Aku mengatakan kebenaran!”


““KkkHHhh!!!……””


Mereka bertengkar, dan di saat pertengkaran itu tanpa di sadari, gerombolan kadal berpaling dan menuju tempat Jell dan Mai berada. Mereka mendengar suara teriakan dari keduanya, dan itu menjadi alasan mereka menyerang mereka.


Berlari dengan kelompok yang besar, kadal berkepala manusia itu mencapai 10 ekor. Dan menuju batu besar untuk menyerang mangsa yang berada di sebelah.


KkKHaAA…!!!


Kelompok kadal itu melihat Jell dan Mai yang sedang bertengkar. Dapat dilihat mereka saling mencubit satu sama lain.


““Hah! ””


Gerombolan kadal terangkat dengan wajah keriput mereka yang pucat. Itu di karenakan tatapan Jell dan Mai yang memberikan tekanan luar biasa kepada gerombolan itu.


Jell dan Mai sudah sangat panas dan cara menenangkan hati mereka, mereka sangat ingin memukul seseorang. Amarah sudah sampai ubun-ubun, ruangan sangat gelap, dan ada monster berkepala manusia menjijikan tepat di depan mereka. Membuat Jell dan Mai emosi secara bersamaan.


““KALIAN MENGGANGGU…!!!””


Tidak lebih dari 1 menit, semua kadal berwajah menyebalkan itu musnah tanpa sisa, dan menjadi tempat pelampiasan mereka. Apa yang di lakukan gerombolan kadal itu benar-benar tidak beruntung, mereka telah menggali kuburan mereka sendiri.


***


Sudah lebih dari 1jam lagi mereka setelah mengalahkan gerombolan kadal. Saat ini Jell dan Mai sedang berjalan di tempat yang hampir sama dengan tempat sebelumnya.


“Disini sangat gelap~”


“Ahh, di sini sudah tidak ada lagi “Bright Crystal” yang tersisa. Dan juga di sini lebih banyak pasir … berbahaya jika berjalan terlalu lama di sini.”


Jell dan Mai sekarang sedang berjalan di tempat yang tidak biasa, mereka sekarang sedang berjalan di lapangan pasir hisap yang sudah lama mereka hindari.


Jell menemukan solusi untuk menginjakan kaki di pasir hisap tanpa perlu takut untuk di tarik.


Pasir hisap ini ternyata, hanya akan menarik suatu objek yang memiliki aliran mana yang keluar dari tubuhnya. Pasir hisap akan bereaksi kepada sumber mana tersebut dan akan secara langsung menariknya kedalam.


Walaupun begitu, pasir hisap ini memiliki satu solusi, yaitu dengan tidak mengalirkan mana atau menonaktifkan Class.

__ADS_1


Dengan menonaktifkan Class, maka secara langsung akan menonaktifkan mana ke seluruh tubuh. Dengan kata lain, menonaktifkan Class sama saja dengan menjadi manusia normal di bumi.


Jell dan Mai mengambil keputusan beresiko ini untuk melewati lapangan pasir, itu karena jalan mereka terhenti oleh lapangan pasir, dan memaksa mereka untuk melewati pasir tersebut. Hal itu juga di sadari Jell karena bantuan para kadal yang tadi mereka musnahkan.


Kelompok kadal tadi tidak menggunakan mana saat mereka berlarian di pasir. Itu di sadari Jell saat kelompok kadal itu menyerang mereka dengan cara menggigit dan mencakar, kenapa mereka tidak menggunakan lidah panjang mereka? Adalah hal yang dia pikirkan saat melihat gerombolan kadal itu.


“Kita harus cepat menemukan permukaan berbatu. Jika tidak, kita tidak tau apakah akan ada lagi kelompok kadal yang akan melintas.”


“Aku mengerti.”


Benar seperti perkataan Jell. Saat ini situasi mereka sangat tidak di unggulkan, itu di karenakan mereka dalam kondisi menonaktifkan Class, yang di mana mereka sama dengan manusia normal tanpa kekuatan.


Dan saat gerombolan monster kadal datang lagi, disaat itulah Jell dan Mai sudah tidak bisa melakukan apa-apa. Ada satu cara, tetapi itu sangat merepotkan.


Masih menyusuri lapangan pasir yang sudah tidak tau berapa jarak yang mereka tempuh.


“Jika di lihat-lihat, lantai ke-20 ini sangat luas bukan?”


“Benar juga, aku baru menyadarinya, … Akh!, aku sudah muak dengan berjalan di Dungeon terus menerus. Aku ingin berpetualang seperti sebelumnya. Aku ingin pulang!”


“Sabarlah… lagi pula ini merupakan bagian dari misi petualang bukan?”


“Memang benar, tetapi bukan begini juga. Cuih! kalau saja elf berdada besar sialan itu tidak ada. Aku pasti tidak perlu tidur hanya 3jam untuk berjaga.”


“Kau ini ya…, kau hanya tidur 3jam saja sudah muak. Sedangkan aku yang hanya tidur satu setengah jam, tidak mengeluhkan apa-apa.”


“Buu~…”


“Yaampun, sini aku gendong deh.”


“Yatta!~”


(TN: “Yatta” \= hore)


Sambil menggaruk kepalanya Jell merasa capek dibuatnya. Padahal mereka tadi bertengkar dan sekarang mereka sudah kembali damai bagaikan tidak terjadi apa-apa.


Dan itu tidak mengganggu Jell, jika dia sungguh-sungguh bertengkar dengan Mai, maka di situlah dunia bagaikan ruangan tertutup yang hampa dan gelap baginya.


Sambil menggendong Mai di belakangnya mereka maju untuk mencari bos lantai.


***


Sudah sekitar sejam mereka berjalan, dan hanya ada pasir yang terlihat.


Lapangan pasir tidak ada habisnya, dan mereka sama sekali tidak melihat akan ada ujung dari pasir ini. Sudah seperti gurun pasir, Jell merasakan sesuatu yang tidak beres akan hal ini.


Sambil menggendong Mai yang ada di punggungnya, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak.


Sudah sekitar 5 hari mereka berada di dalam Dungeon, dan masih saja mereka belum bisa menyelesaikannya.


Tas besar yang mereka bawa juga sudah tidak bisa mengisi apa-apa lagi, dan itu sudah penuh dengan kristal sihir. Bahan makana mereka juga sudah mulai mencapai 60%, dan itu berbahaya.


Beristirahat di lapangan pasir, benar-benar menggambarkan seorang musafir yang sedang beristirahat.


Mai sudah bangun dari tadi, namun dia tetap masih ingin di gendong dan tidak ingin turun, dan itu adalah salah satu alasan mereka hari ini beristirahat lebih cepat.


Memakan yang sudah di sediakan dan di panaskan menggunakan skill ber elemen api, mereka menyantap makanan dengan nikmat. Makanan yang mereka bawa bukan hanya roti, namun ada juga beberapa makanan lainnya.


Ikan yang di keringkan, buah yang di bekukan oleh skill es, dan ada juga sup yang mereka buat sebelum pergi.


Jell tidak terlalu pandai memasak, dan sebaliknya, Mai adalah orang yang paling jago memasak. Ikan kering, buah dingin, dan sup yang di panaskan adalah makanan yang Mai siapkan.


Untuk sup yang dia buat, dia menggunakan teknik yang bisa di bilang mustahil di lakukan di dunia ini, yaitu dia membuat sebuah bubuk sup. Dan hanya dengan menuangkan air panas dan bubuk sup maka jadilah sup enak siap saji.


Jell yang tidak pernah berpikir akan hal itu, hanya tercengang dengan skillnya yang luar biasa.


Jika saja orang-orang tau dengan keahlian Mai, maka mungkin saja dia bisa menjuarai salah satu kontes memasak yang sering di tayangkan di TV. Adalah apa yang Jell pikirkan sambil melihatnya menyeduh sup untuk di makan bersama roti.


“Mai. Ini memang telat tapi, Kau punya kemampuan yang luar biasa dalam memasak ya.”


“Hmm, Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?”


“Hmm... (Menyeringai) Kenapa? Kau ingin menjadikanku seorang istri? Fufu, akhirnya kau mulai melihat hal-hal feminim ku ya, aku bisa melakukan hal lain lo!”


Mai seketika bersemangat dengan pujian yang Jell berikan, karena dia bisa menjadi ibu rumah tangga yang hebat. Dan itu membuat dia membusungkan dadanya dengan sombong.


“Dibandingkan dengan kelebihan feminim mu, kau lebih banyak sifat negatifnya.”


“Ha?~ Apa yang kau katakan Jell, aku sama sekali tidak merasakannya. Apa mungkin itu hanya khayalan mu saja? Aku wanita sempurna yang di kejar banyak pria lo, kau harusnya bersyukur karena aku mencintaimu.”


Mai makin naik dalam kesombongannya, dan entah sudah berapa tinggi dia naik. Namun semakin tinggi orang itu naik, maka semakin mudah juga untuk menjatuhkannya. Begitu juga cara Jell menjatuhkan dia dari kesombongan tingginya itu.


“Setiap malam kau selalu mengigau dengan mengatakan sesuatu yang aneh, dan itu membuatku jijik. Apa jangan-jangan kau seorang masokis?”


“A-Apa yang kau katakan! Mana mungkin aku melakukan itu, dan juga aku bukan seorang masokis!”


“Aku melihatnya setiap malam lo, bukan hanya di dunia ini, kau juga sering begitu saat masih di bumi.


Kau mengigau sambil mengatakan “Tidak jangan di situ”, “Jangan lakukan, hatiku belum siap” dan sebagainya. Sebenarnya apa yang kau mimpikan, Jijik tau gak?”


“Akh-!”


Mai mendengar kebenaran dan terluka  secara mental karena kenyataan yang dia tidak pernah ketahui.


Dia bisa saja tidak mempercayainya, namun yang mengatakannya adalah Jell, orang yang sudah tidak terhitung berapa kali mereka tidur bersama. Dan itu membuatnya menjadi terdiam muntah darah.


“Jadi? Apa yang kau mimpikan sampai mengigau begitu?”


“Ehehe... Proses reproduksi?...”


“Eh?...”


““...…””


“Dengan siapa?”


Jell menanyakan dalam keadaan yang tadinya hening karena pengakuan Mai. Bukannya menanyakan hal yang lebih cocok dan mendidik, Jell malah menanyakan dengan siapa dia melakukannya.


Dan itu membuat Mai sedikit kaget dengan pertanyaannya dan memerah di seluruh wajahnya.


“Kau......”


Jawaban Mai berikan, dan dengan nada kecil dia menunjuk Jell dengan telunjuk sambil malu memperlihatkannya.


Jell yang mendapatkan jawaban itu terdiam dan memerah, bagaikan bukan Jell yang selalu mengambil keputusan dengan dingin dan tidak berlebihan.


Kali ini dia benar-benar memerah di seluruh wajahnya dan untuk tidak memperlihatkan ekspresinya, dia melanjutkan pembicaraan dengan malu dan perkataannya sedikit gagap.


“B-Begitu ya... , Ya mau bagai mana lagi … aku tau sikapmu bagaimana, namun … sudah sampai memimpikan itu aku rasa …”


Mai yang melihat reaksi Jell yang malu, seketika bersuara dengan nada kecil sambil dia duduk dengan langsung menghadap Jell.


“Kau… mau melakukannya? …”


“Baiklah kita akhiri di sini.”


Jawaban yang tidak terduga dari Jell. Jell dengan dinginnya tidak membalas perasaan Mai, dan seketika berdiri dan menghentikan pembicaraan sampai di situ.


Mai yang merasa sangat malu dan kaget dengan sikap Jell.


“Apa-apaan reaksi mu itu, kau membuatku berkata seperti itu dan kau menolaknya.


Aku benar-benar tidak habis pikir. Kau memaksa seorang cewek membuka rahasianya, dan saat sang cewek menyiapkan dirinya, kau malah menolaknya mentah-mentah.


Apa kau tidak sekalipun tertarik? Apa aku sampai segitunya tidak menarik? Jawab aku Jell!”


Jell memandangnya dan wajahnya tidak menunjukan perbedaan, dan sesaat di pergi kearah Mai yang sedang duduk dengan marah.

__ADS_1


Jell membungkuk di depannya dan menyesuaikan pandangan mereka, menempelkan kedua dahi mereka, dan Jell tersenyum.


Mai yang melihatnya tidak bisa bereaksi dan terpana dengan wajah merona karena senyuman Jell yang menembus hatinya.


“Kau tau, saat aku mendengar orang yang berada di dalam mimpimu itu adalah aku, itu membuatku begitu senang. Dan bukan berarti aku tidak tertarik denganmu, aku mencintai seseorang, dan orang itu adalah wanita yang ada di hadapanku.”


“Hyaak-!”


Jell berkata dengan senyuman dan kadang melempar pandangannya dengan tidak langsung menatap mata Mai, dan Mai yang mendengarkan perkataannya, membuat dadanya seperti tidak bisa berhenti berdetak.


Mai seketika meledak dengan kebahagiaan dan secara naluriah bersuara lucu, dan kepalanya berasap.


Dia tidak akan tau kalau Jell akan mengatakan itu, dan kenyataan Jell mencintainya itu juga terlalu aneh. Jell menyukainya dan dia juga menyukai Jell. Akan tetapi, perkataan Jell tadi benar-benar memberikan serangan telak.


Dengan kondisi yang sedikit canggung, wajah Jell tiba-tiba melucu dan menyeringai.


“Tapi bo’ong.”


“Eh?”


Jell berdiri dan tertawa terbahak-bahak. Mai yang terkejut dengan perkataannya, memiringkan kepalanya dan “?” muncul di kepalanya, dia tidak memahami perkataan Jell tadi.


Jell yang tiba-tiba berdiri dan tertawa membuat dia semakin jatuh dalam kebingungan.


“Hahaha!... Apa kau melihat wajahmu tadi? Reaksi macam apa itu. Kau pikir aku akan mengatakan itu?”


Mendengar perkataan Jell yang tertawa, Mai terdiam dan aura hitam keluar darinya. Jell ternyata hanya mengejeknya dan tidak bersungguh-sungguh untuk mengatakan hal seperti tadi, dan Mai tidak terima penghinaan seperti itu dia berdiri.


Sambil menyiapkan kepalan tangan, Mai memancarkan aura menakutkan bagaikan siap untuk membunuh seseorang.


Dia dengan cepat langsung melemparkan pukulan telak yang sudah dia siapkan. Kepalan tangannya bertujuan menyerang kearah Jell, lebih tepatnya dia mengincar perut.


Untuk meningkatkan kemarahan Mai dia berteriak, teriakan yang bisa di rasakan perasaan yang dia rasakan saat ini.


(Aku membencimu, aku tidak lagi mempercayaimu, terima ini dasar bodoh!)


“BODOH!”


“Hup…”


Pukulan mematikan terhempas menuju bagian berbahaya, bagian perut Jell saat ini dalam masalah besar. Pukulan dengan kecepatan yang di bantu skill buff meluncur dengan kecepatan luar biasa.


Bagi orang-orang biasa, pukulan itu akan tepat menuju target. Akan tetapi yang coba Mai serang adalah Jell. Orang yang sudah di kenalnya selama 10 tahun, orang dengan peringkat pertama di BOA, dan juga orang yang dia cintai.


Dan apa yang terjadi. Jell mampu menerima pukulan itu tepat sebelum mengenai perutnya.


Jell hanya menangkap tinjunya dan tidak sama sekalipun menggunakan bantuan skill buff dari Classnya, dia menerima pukulan itu hanya dengan kekuatan murninya.


Dan di terima dengan sempurna tampah dampak yang di rasakan Jell setelah menangkap pukulan mematikan Mai.


“Heh...”


Mai melihat jalur pukulannya di tahan, tinjunya di tangkap sebelum mengenai target. Dia bingung dan terdiam.


Tangannya masih di pegang oleh Jell, Jell tampaknya tidak mencoba melepaskan tinju itu dan begitupun Mai yang sepetinya tidak ingin mengambilnya kembali.


Dan dalam suasana canggung itu. Jell yang tidak bisa berkata apa-apa, dia melihat langit-langit dengan rasa canggung yang membunuhnya.


Biasanya situasi seperti ini mudah untuk di hilangkan, akan tetapi menurut Jell membuka percakapan dengan Mai yang sedang dalam kondisi seperti ini adalah pilihan buruk.


Jell yang tidak mampu berkata-kata akhirnya membulatkan tekat untuk memaksanya berbicara, dia ingin meminta maaf kepada Mai yang sudah dia tertawa kan. Dia merasa candaannya berlebihan dan itu sebaliknya menyakiti hati Mai.


Tepat di saat dia ingin mengangkat suara, suara lain menghentikannya. Mai bersuara.


“Tadi itu... Apa kau serius?...”


Mai mengangkat suara dan Jell terkejut karenanya. Suara kecil dan sulit di dengar, dia menanyakan keseriusan Jell atas perkataanya tadi.


Jell yang mendengarkan perkataannya menjadi terdiam sejenak dan mulai mendekatinya. Sama halnya dengan sebelumnya, Jell menyamakan pandangan mereka akan tetapi kali ini dahi mereka tidak bertemu.


Jell memasang wajah serius dan menatapnya. Mai yang menerima tatapannya tidak membalas tatapannya dan langsung melempar tatapannya.


“Hmpf!”


Jell yang menerima perilakunya hanya tetap mencoba meluruskan tatapan mereka. Dia dengan kedua tangannya memegang kedua pipi Mai dan dia memfokuskan tatapan Mai kepadanya.


Mai yang langsung mengatakan kebenciannya langsung melempar pandangannya dengan paksa walaupun tangan Jell sedang menekannya. Akan tetapi Jell membalikan kembali pandangannya dan mengatakan perkataan berikutnya.


“Aku serius.”


“Aku membencimu.”


“Aku serius mencintaimu.”


“Eh-!”


Mai yang mendapatkan perkataan itu langsung bersuara lucu, sama halnya dengan tadi, dia memerah di wajahnya. Akan tetapi kali ini dia tidak akan tergoda untuk yang kedua kalinya. Dia melototi Jell dengan tatapan marah.


Wajah Mai kali ini benar-benar begitu manis, bagaikan karakter yang bersikap imut yang sedang marah kepada orang yang di cintai nya, dan Jell bisa-bisa mimisan di buatnya.


“Aku tidak akan terperdaya lagi, kau menipuku. Binatang! Bajingan! Aku membencimu! Jangan berbicara denganku! Jangan menatapku! Aku membencimu bodoh!”


Mai berteriak dan makiannya di berikan kepada Jell, dia marah dan berteriak yang dia bisa. Dan akhir dari perkataannya dia terdiam dan apa yang terjadi berikutnya membuat Jell tercengang.


Mai menangis. Dia menangis di saat wajahnya di pegang oleh Jell dan menatapnya. Air mata dan sedikit ingus di wajahnya, dia merengek dan marah kepada Jell. Mau sekuat apa Mai, dia tetaplah wanita.


Dan dalam kesedihannya Mai tidak sampai di situ, dia masih mengatakan kata-kata makian lagi kepada Jell.


Dia memberontak dan melepaskan tangan Jell dari wajahnya. Dan sambil menangis dan menatap jatuh kebawah.


“Aku membencimu … aku membencimu … pergi kau bodoh … Huee!”


(TN: Hue anggap saja suara tangisan.)


Jell menatapnya dan memegang pundaknya, Jell membuatnya bangkit dari posisinya yang jatuh dan dia menatap Mai untuk sedemikian kalinya.


Dan untuk menenangkannya Jell memasang wajah serius kali ini, wajah yang tidak memberikan kebohongan menatap tajam kearah Mai. Mai yang menangis juga bereaksi dan menatapnya juga.


“Aku akan mengatakan ini sekali lagi. Aku mencintaimu. Apa itu tidak cukup?”


“Hisk, Benarkah?”


“Hm. (mengangguk)”


“Benarkah?”


“Iya~”


“Benarkah?”


“Iyaa!~”


“Benarkah?”


Jawaban Mai hanya berulang-ulang, dan dengan kesabarannya yang menipis, Jell tersenyum kecut karena sepertinya Mai mempermainkannya atau tidak percaya kepada perkataannya.


Karena perkataan tidak dapat membuktikan kenyataan, Jell dengan berani membuktikannya dengan perbuatan.


Dia memegang kedua pipi Mai kembali, dan dengan langsung mengarahkannya ke depan wajahnya.


Menatapnya tajam dan tatapan itu tidak menunjukan sama sekali kebohongan di dalamnya, menatap lurus ke mata Mai dan Mai juga menatapnya balik. Wajah Mai yang memiliki air mata di ujung matanya.


“Aku serius.”


Mengatakan itu dengan tatapan tajam, Jell dengan nada serius terdengar. Mai yang mendengarnya seketika tersenyum dan menyeka air matanya.


“Hm!”

__ADS_1


Wajah bahagia terdapat di wajah Mai, dia merasa lega karena Jell serius terhadap dirinya.


***


__ADS_2