
Serangan yang Mai lakukan memberikan dampak yang sangat besar bagi Scorpio, sekarang penghalang yang Jell katakan jauh lebih kuat kini sudah hancur.
Dengan melihat serangan yang Mai berikan berdampak bagus, Jell langsung mengeluarkan perintah kedua.
Perintah kedua yaitu, para petualang akan menyerang dari arah tengah dan para ksatria akan membantu dari samping.
Maju untuk melakukan serangan, para ksatria langsung mengambil posisi mereka masing-masing.
Para ksatria di bagi menjadi dua kelompok, kelompok A di pimpin oleh Adolf dan kelompok B di pimpin oleh kaki tangannya.
Kedua kelompok sudah mengambil posisi masing-masing, mereka tidak dalam jangkauan serangan Scorpio, dan tugas mereka adalah untuk membantu para petualang jika terjadi hal tak terduga.
Dengan serangan yang Mai lakukan tadi sangat memberikan dampak pada pertempuran ini, itu karena bukan hanya menghancurkan penghalang yang melindungi Scorpio, Mai juga menghancurkan senjata-senjata dan meriam Scorpio.
Dengan begini seharusnya para petualang bisa dengan aman melakukan tugasnya.
Tapi kesenangan mereka tidak bertahan lama, Scorpio yang terjatuh kini langsung bangkit dan dia sepertinya marah, itu bisa di lihat dari matanya yang bersinar merah.
Suara-suara mesin terdengar dari dalam Scorpio, dia sepertinya tidak sebodoh itu untuk membiarkan dirinya di kalahkan walaupun senjatanya telah hancur, dengan itu senjata rahasianya akan langsung dia gunakan.
Badan scorpio yang terlihat sangat tebal tiba-tiba terbuka dengan masing-masing bongkahan besi yang terbuka bagaikan pintu, tapi bukan untuk menjamu para petualang, keluar dari pintu itu adalah pasukan minion.
Dari pada di sebut minion, mereka lebih adalah Drone. Tapi bukan Drone biasa, Drone-drone itu memiliki senjata dan bentuknya tidak mirip sama sekali dengan Drone yang bisa di bayangkan.
Drone itu berbentuk seperti minion atau lebih ke minion robot, minion robot memiliki senjata berupa cakar panjang yang mereka gunakan untuk menghancurkan musuh.
Pasukan minion keluar dari dalam tubuh Scorpio yang membuat reaksi para petualang yang awalnya senang karena tugas mereka jadi lebih mudah, kini malah keluar minion yang juga sama merepotkan dengan senjata dan meriam.
Melihat adanya hal yang tak terduga, Adolf dengan aba-abanya dia memerintahkan pasukannya untuk membantu para petualang.
“Musuh terlihat, Maju!”
““AAAaaa!!!””
Suara teriakan yang di keluarkan oleh para ksatria sangat keras, menunjukan semangat juang mereka, mereka dengan aba-aba dari Adolf maju dan membantu menghabisi para minion.
Situasi perang saat ini tidak bisa di tebak, laser dari ekor Scorpio, dan pasukan minion yang ada di dalam tubuhnya, merupakan hal yang tidak di ketahui oleh Marina.
Dia menatap Jell dengan tajam, Jell bagaikan sudah mengetahui akan hal ini, dengan begitu tidaklah sulit untuk mencegah dan membalas semua serangan kejutan dari musuh.
(Siapa orang ini sebenarnya.)
Marina tidak bisa sekalipun mengerti dan memahami apa yang ada di isi kepala Jell, yang mampu dia ketahui adalah, orang ini sangat hebat.
Pertempuran menjadi sangat panas, serangan yang saling menghantam satu sama lain, suara dari pedang yang saling beradu, bagaikan musik untuk perang yang sedang terjadi.
Jell melihat sudah sampai sejauh mana rencananya berjalan, untuk serangan penghabisan dia memerlukan berbagai informasi lagi dari Scorpio.
Dia tidak ingin di saat dia turun untuk penyerangan terakhir di perang, akan ada hal lain yang tak terduga yang akan menghalangi.
Jell bagaikan menggunakan para petualang dan ksatria sebagai umpan untuk mendapat informasi, tapi walaupun mereka hanyalah umpan, dia tidak akan membiarkan musuh memakannya.
Melihat dan terus meneliti setiap alur pertempuran, Jell tiba-tiba maju dan pergi dari tenda yang di gunakan untuk tempat komandan pasukan mengamati pertempuran.
Melihat Jell yang sudah bergerak, Mai juga ikut dan turun dari atas gerbang dan ikut di belakang mengikutinya.
Rin melihat mereka, menanyakan apa mereka sudah akan melakukan serangan utama, dan Mai menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, aku juga akan ikut membantu.”
“Apa?”
Mendengar apa yang Rin katakan membuat Jell memalingkan wajahnya karena terkejut. Dia awalnya bermaksud untuk membiarkan Rin dan Marina tetap baik-baik saja dan aman, itu karena Jell sudah mengatakan pada Marina bahwa dia tidak akan membiarkan Marina untuk turun tangan.
Jadi, dengan bergeraknya Rin, sama saja dengan melanggar perkataannya.
“Oi oi, apa yang aku katakan.”
“Sudahku bilang, aku ingin membuat.”
“Tapi.”
“Tidak ada tapi. Mai akan membantu dari belakang bukan? Jadi akan lebih mudah jika ada dua orang yang membantu dari belakang.”
Keras kepala, adalah apa yang Jell pikirkan tentang sikap Rin saat ini. Bukan hanya kasar, dia ternyata memiliki sikap keras kepala.
Jell jadi berpikir sebenarnya bagaimana hubungan antara Rin dan Marian. Adik yang keras kepala dan kakak yang tegas.
Mendengar setiap tolakan yang Rin berikan, samapi membuat Jell merasa merepotkan untuk berurusan dengannya. Dapat terlihat keringat mengalir di dahi Jell. Sedangkan Mai, dia tidak ikut campur dan terus melihat pertempuran.
“Sudah aku bilang, kau tidak perlu ikut.”
“Apa, jangan bilang kalau kemampuan Mai jauh lebih hebat dariku.”
“Itu sudah jelas bukan.”
“Ap–”
Untuk menjawab sikap percaya dirinya, Jell menjawab perkataannya dengan cepat. Itu tentusaja, karena kemampuan Mai jauh lebih tinggi dari pada kemampuan milik Rin.
“Aku tidak mau tahu, pokoknya aku akan ikut.”
“Tapi.”
Dalam masalah ini, akhrinya Mai ikut pembicaraan mereka. Dia dengan tenang, seperti bukan dirinya saja, dia mengizinkan Rin untuk ikut membantu.
“Biarkan saja Jell, akan kita perlihatkan padanya sejauh mana perbedaan kekuatan di antara kita.”
“Hah!”
Mendengar perkataan Mai tadi, secara tidak langsung mengatakan bahwa dirinya jauh lebih hebat dari Rin. Mendengar perkataannya membuat Rin tidak terima, dia tidak mau di rendahkan oleh seorang pelawak seperti Mai.
“oh, jadi kau mau menantang ku, begitu?”
“Ara, apa kau marah.”
Rin menatap Mai dengan tajam, dan tatapan yang dia berikan Mai juga tidak kala menusuk dirinya.
Bagaikan keduanya telah memulai perang mereka sendiri, aura hitam muncul di wajah kedua gadis ini.
Jell tidak dapat membantu dalam kondisi ini, yang harus dia lakukan saat ini hanyalah satu, yaitu mengalahkan Scorpio.
***
Bersiap dengan pedang yang sudah berada di punggungnya, Jell sudah dalam kondisi siap tempur.
Begitu pula dengan Mai dan Rin, Rin kali ini tidak mengambil tindakan bodoh, dia sekarang menggunakan senjata yang jauh lebih kuat dari pertempuran sebelumnya.
Itu dia dapatkan dari menyuruh salah satu bawahan Yinn untuk memberikannya senapan terbaik guild. Dan jika di lihat sekarang, senjata milik Mai tidak ada apa-apanya dengan senjata milik Rin, walaupun keduanya menggunakan senjata yang sama.
Keduanya sudah siap dengan persiapan mereka masing-masing. Mai tidak menggunakan alat transportasi seperti halnya Rin, Rin menggunakan alat transportasi terkuat mereka “Jet Boots” dan tentu saja ini dia dapatkan dari guild.
(Hah, hanya dengan senjata tingkat A seperti itu dan juga dengan berjalan kaki, kau tidak ada apa-apanya denganku, Mai.)
Dalam hatinya sikap sombong bangkit dari kegelapan, jika saja Marina mengetahui bahwa adiknya memiliki sikap seperti itu dia pasti kecewa.
“Baiklah, ayo maju!”
Dengan perintah Jell, dalam hitungan detik Jell dan Mai seperti di telan bumi mereka tiba-tiba sudah bergerak secepat cahaya.
Rin yang melihatnya tidak percaya dengan apa yang terjadi, kecepatan keduanya hanya menyisakan angin dan bekas debu dari tempat pijakan mereka.
Jell maju dan Mai di bekakangnnya, posisi mereka sudah mereka tentukan dan dengan posisi begini Mai dapat dengan mudah membantu Jell tanpa harus menghadapi musuh di depannya.
Dan tanpa di ketahui, di belakang mereka Rin sudah mulai menyusul.
Minion yang menyerang para petualang bereaksi terhadap Jell yang dengan cepat berlari menuju kearah mereka.
Mengalihkan pandangannya dari petualang, mereka merasa bahwa Jell merupakan sosok yang harus di hentikan.
Para minion yang melepas dari pertikaian dengan para petualang dan ksatria, mereka menuju dengan berkelompok besar menuju kearah Jell.
Namun Jell tidak akan semudah itu untuk di hentikan, dia sudah menduga dan menebak segala kemungkinan yang ada, dan penyerangan yang di lakukan para minion juga sudah dia prediksikan.
Dengan mengkerut, Jell menggunakan pedangnya menebas minion yang datang.
“Kalian mengganggu.”
Menebas mereka menjadi dua bagian. Para minion tidak bisa mendaratkan satu lukapun pada Jell, itu karena setiap mereka akan menyerangnya serangan mereka akan langsung di bertabrakan dengan serangan milik Jell.
Cakar mereka memang sangat tajam, tapi hanya dengan menguntungkan hal itu tidak bisa mengalahkan pedang Jell dalam hal kekuatan.
Pedang Jell sangatlah kuat, dan bukan hanya kuat pedangnya juga mudah untuk dia gunakan, sehingga menebas musuh dengan cepat bukanlah hal sulit.
__ADS_1
Dan bukan hanya karena serangan Jell yang sangat kuat, titik buta yang Jell berikan juga tidak dapat menerima serangan. Itu karena Mai dengan mudah mampu menyerang musuh dari belakang.
Keduanya maju dengan menghancur semua minion yang datang menghalangi, dan entah kenapa Jell merasa sepertinya minion yang menyerang tidak ada habisnya.
Menyadari ada yang tidak beres dengan kondisi saat ini, Jell memberikan sinyal dan mereka berdua melompat mundur untuk mengambil jarak.
“Mai, kau menyadarinya, bukan.”
“Ah, mereka tidak ada habisnya.”
Seperti yang Mai katakan, tidak tau sudah seberapa banyak minion yang sudah di tebas dan di hancur okeh keduanya. Akan tetapi tidak adanya tanda bahwa rombongan minion itu berhenti.
Jell melihat kondisi untuk menyusun rencana untuknya bisa maju dan menghabisi Scorpio. Para minion masih sangat banyak, dan yang paling aneh walaupun Jell dan Mai sudah memancing banyak perhatian dari minion untuk menyerang mereka, masih ada saja minion yang sedang melawan para ksatria dan petualang.
“Mereka tidak ada habisnya, seharusnya ada pola yang mengatur kondisi ini.”
Mai yang melihat sulitnya kondisi mereka saat ini, mencoba untuk menebak dan mencari pola dari kemunculan para minion.
Tapi hal tersebut dapat langsung di ketahui oleh Jell dengan mudah.
“Sepertinya aku sudah mendapat jawabannya.”
“Oh, seperti yang di harapkan.”
Jell berjalan sedikit ke depan dan meraih salah satu minion yang mendekat, dia menangkapnya dengan mudah tanpa menerima banyak perlawanan dari minion. Jell dengan tangan kosong langsung menghancurkan kepala minion dan mengeluarkan sesuatu.
“Ini adalah inti mereka. Kita memang sudah menghancurkan banyak minion, tapi kita tidak sadar bahwa mereka bisa beregenerasi. Dan inti inilah yang menjadi kelemahan mereka.”
Dengan mengetahui hal itu mengalahkan minion menjadi sangat mudah, Jell berteriak dan memanggil Adolf yang saat ini sibuk melawan minion.
Jell berteriak dan menyampaikan kelemahan dari minion, mendengarkannya Adolf langsung menyampaikan hal tersebut kepada anak buahnya yang lain, dengan begitu kelemahan para minion sudah di ketahui.
“Mai, kau cukup sampai di sini. Aku akan memerlukan bantuan mu dari jarak ini.”
“Hm, baiklah.”
Dengan menyimpan pedangnya di sabuk, Jell dengan cepat berlari menerobos gerombolan minion yang datang untuk menghalangi.
Tapi saat ini kelemahan mereka telah di ketahui, saat Jell akan menerima serangan, bukan hanyak Mai, tapi para ksatria dan petualang juga membukakannya jalan.
“Semuanya, buka jalan untuk Jell maju!”
Dengan teriakan dari Adolf, dia memerintahkan semua orang untuk membantu dan membukakan jalan untuk Jell.
Mendapatkan perlakukan seperti itu, Jell sedikit tersenyum dan maju menerobos.
Setelah melewati cukup banyak halangan yang mengganggu, akhirnya Jell bisa sampai di depan Scorpio.
Melihat perbandingan antara tinggi mereka, Jell terlihat hanya sebagai semut yang mencoba menantang seekor gajah.
(Besar. Tapi, dengan tubuh sebesar itu menyerangnya akan sangat mudah.)
Jell yang berdiri di depannya memasang wajah tak kenal takut, dia tersenyum menyeringai memandang Scorpio.
Scorpio yang hanyalah sebongkah mesin, tapi jika di lihat dari sisi dunia saat ini, sebongkah mesin bisa saja memiliki kesadaran sendiri.
“Yo, jadi kau yang akan menghancurkan kerajaan yang akan segera aku pimpin, ya. Tapi maaf saja, aku tidak akan membiarkannya dengan mudah.”
Jell mengeluarkan pedangnya dia maju. Jell menggunakan berbagai skill buff berupa, “Mega Sword”, “Munlti Sword”, dan skill peningkatan kecepatan yang baru-baru ini dia pelajari “Fast Step”.
Maju dan lurus menuju kaki Scorpio, sejak tadi dia hanya diam menatap pertempuran, apa yang sedang di lakukan Scorpio menurut Jell sama dengan yang dia lakukan saat di pertempuran pertama tadi.
Melihat Jell yang naik ke kakinya, Scorpio bereaksi dan seketika mengeluarkan dari dalam tubuhnya banyak senjata dan meriam.
“Sudah ku duga kau memang sedang beregenerasi, ya.”
Terkejut melihat senjata yang di keluarkan oleh Scorpio cukup banyak, Jell mengubah arah pergerakannya yang awalnya mengincar kepal kini berganti untuk menghancurkan senjatanya dulu.
Sinar laser dan meriam peledak di tembakan menuju arah Jell, Scorpio tidak bodoh untuk menghancurkan dirinya sendiri dengan serangannya, dia menyerang Jell dengan serangan dengan dampak kecil untuk bertujuan menjatuhkannya.
Jell yang di kejar dengan sinar laser dan meriam peledak mengambil pola gerakan rumit, dia berputar, melompat, berbalik arah, dan berhenti tiba-tiba.
Serangan yang di arahkan kepada tidak ada yang berhasil mengenainya, malah sepertinya Jell-lah yang bertujuan untuk menghabisi semua amunisi milik Scorpio.
Tapi hanya dengan menghindari serangan Scorpio tidak dapat mengubah apapun, Jell kini bertujuan akan menghancurkan senjatanya. Mendekati salah satu senjata, dengan pedang dia menebas meriam peledak.
Satu demi satu senajat dan meriamnya di hancurkan, Scorpio yang melihat kondisinya dalam kondisi yang berbahaya mencoba menggerakkan tubuhnya, Scorpio tiba memiringkan tubuhnya.
Tidak hanya sampai di situ, dengan kemiringan yang ekstrem itu tiba-tiba salah satu tempat di tubuh Scorpio terbuka. Dan tentu saja yang keluar dari situ adalah sebuah meriam, meriam itu muncul dan mengunci serangannya menuju Jell yang sedang bergelantungan.
“Oi oi oi, kau bercanda bukan.”
Serangan yang seharusnya bisa membuat Jell jatuh dan mendapatkan beberapa luka, kini meriam itu secara tiba-tiba di hancurkan menjadi berkeping-keping.
“Terimakasih, Mai!”
Tentu saja siapa lagi kalau bukan Mai yang menghancurkannya. Mai dengan jarak yang cukup jauh dia bisa melihat semua situasi yang Jell hadapi, dan melihat Jell yang terpojok dirinya datang membantu.
Meneriaki namanya, Mai membuat wajah puas. Dia merasa senang bisa membantu, lagi pula ini adalah perintah Jell untuk menyuruhnya untuk membantu.
Dan jika di lihat baik-baik, di sebelah Mai terdapat satu orang lagi, dia Rin.
Karena fokus dan sibuk menghadapi minion mereka berdua sampai lupa kalau seharusnya Rin membantu mereka.
Tapi mau bagaimana lagi, Rin tertinggal jauh dengan kecepatan yang berbeda.
(Akhirinya aku bisa menyusul mereka.)
Rin yang baru saja sampai di tempat Mai, memalingkan wajahnya melihat dan bertanya di mana Jell berada.
Untuk pertanyaannya, Mai menjawabnya dengan suara datar menunjuk Jell yang sedang bergelantungan di tubuh Scorpio.
“B-bagaimana bisa?!”
Tentu saja baginya untuk melihat pemandangan Jell saat ini pasti akan terkejut, tapi sikap Mai saat menunjuk Jell terlalu santai sampai-sampai Mai sepertinya tidak menghawatirkan nya sama sekali.
“Tapi, kenapa?”
“Hm?”
“Kenapa kau tidak di sana juga?”
“Hmm, bagaimana mengatakannya, ini perintah? Atau mungkin peran? Pokonya aku di sini, dan Jell di sana. Hanya itu.”
Mendengar jawabannya sedikit menbuat Rin sedih, dia bisa dengan jelas melihat perbedaanya dengan Mai. Jell dan Mai saling mempercayai satu sama lain, dan kepercayaan mereka sangat kuat sampai-sampai dirinya tidak pernah merasakan kepercayaan sebesar itu.
(Jell melindungi Mai, dan Mai melindungi Jell. Apa aku bisa mendapatkan tempat seperti itu juga.)
Dengan wajah murungnya, dia berdiri di belakang Mai dan menyaksikan pertempuran dari situ.
...
Kembali ke Jell, Scorpio saat ini tampaknya masih belum mau untuk membalikan tubuhnya, mengetahui hal itu Jell berniat untuk naik ke salah satu kakinya.
Melompat dengan cara yang mempesona, Jell seperti sedang bermain parkour, tapi bedanya saat ini dia sedang bertaruh nyawa.
Melompat ke salah satu kaki Scorpio, Jell akan memberikan serangan dengan kekuatan besar untuk menghancurkannya.
“Kh, sialan.”
Tapi tampaknya tidak semudah itu, di saat Jell akan segera mengeluarkan skillnya tiba-tiba saja Scorpio bergerak untuk memperbaiki posisi tubuhnya. Dan bukan hanya memperbaiki posisinya dia juga berniat untuk berjalan dari tempatnya saat ini.
Melihat pergerakan yang tiba-tiba itu, membuat Jell sedikit kehilangan keseimbangan, dengan menancapkan pedang ke kaki Scorpio, Jell mendapatkan kembali pijakannya.
“Sialan, benar-benar merepotkan.”
Terlihat juga dari arah bawah, Rin yang melihat Jell yang hampir jatuh dan terlindas, Rin ketakutan dan berteriak.
“Awas!”
“Ap- kenapa tiba-tiba berteriak? Bikin kaget aja.”
Tapi berbeda dengan Rin yang histeris, Mai terlihat sangat santai melihat Jell yang sedang dalam situasi berbahaya.
Rin yang melihatnya tidak dapat mempercayai apa yang dia lakukan Mai, dirinya seperti tidak peduli dengan keselamatan rekannya.
Marah dengan sikap Mai, Rin berteriak dan memandang Mai dengan wajah marah. Dia tidak mengerti kenapa dia masih bisa memasang wajah setenang itu.
Dia tau bahwa Jell dan Mai saling mempercayai satu sama lain, tapi jika situasinya sudah seperti ini tidak heran jika Rin marah kepadanya.
Tapi jawaban yang di berikan Mai dapat membuat Rin terdiam, jawaban yang sangat simpel namun memiliki arti yang sangat kuat. Dengan memasang wajah yang biasa dia menjawab Rin yang sedang marah.
“Jell itu kuat, dia tidak akan mati di tempat seperti ini.”
__ADS_1
Rin terdiam dan mencengkeram kuat tangannya, apa dia marah, sedih, ataupun kesal, Rin juga tidak tau.
Apa yang dia rasakan bukanlah seperti apa yang biasa di rasakan, dia ingin bisa mendapatkan kepercayaan seperti itu juga, dia ingin dapat di percaya seperti itu. Rin saat ini sangat iri kepada Mai.
“Ya, kalau kau ingin aku membantu Jell, maka aku bisa memberikan satu tembakan saja.”
“Eh.”
Saat jatuh dalam rasa irinya, dia dikagetkan dengan perkataan Mai. Mengambil posisi, mengunci arah sasaran dan menunggu waktu yang pas untuk menembak. Mai saat ini dalam kondisi yang sangat serius.
(Itu tidak mungkin, hanya dengan menggunakan senjata lemah seperti ini, tidak akan mungkin memberikan goresan kepada Scorpio.)
Tidak menunggu lama, waktu yang pas muncul saat Scorpio bergerak. Dengan mengunci targetnya Mai menembak.
Skill yang di gunakan Mai dalam tembakannya adalah Skill “Solo Shoot” skill ini adalah, menembakan satu peluru tunggal yang memiliki kecepatan dan daya hantam yang berkali-kali lipat dari peluru biasa.
“Kena kau.”
Suara tembakan terdengar, saat peluru akan di tembakan ada tiga lingkaran sihir yang berada di lintas tembakan.
Peluru melesat dengan kecepatan yang sangat cepat bahkan mata tidak dapat mengikuti kecepatannya, mengarah ke salah satu kaki Scorpio, peluru tepat mengenai bagian sendi di kakinya.
Menerima serangan dari Mai, kaki Scorpio langsung hancur dan lepas dari tubuhnya. Ada sedikit ledakan dari serangan yang dia terima, mendapat serangan mendadak seperti itu pasti membuat Scorpio terkejut.
Bukan hanya Scorpio, tapi Rin yang ada di sampingnya juga terkejut melihat serangan Mai yang mampu menghancurkan kaki Scorpio dengan sekali tembakan.
Dia tidak dapat mempercayainya, skill “Solo Shoot” adalah skill dengan tingkat [A] dan dengan melihat fakta itu, sudah jelas Rin tidak dengan mudah mempercayai apa yang dia lihat barusan.
(Tidak mungkin. Tidak, itu mustahil. Hanya dengan sekali serangan dia mampu menghancurkan satu kaki. Bagaimana jika di menembakan enam peluru, dengan begitu Scorpio dapat di kalahkan walau hanya sendirian.)
Rin yang melihat serangannya dan menunjukan ekspresi tidak percaya, memalingkan wajahnya ke arah Mai.
Dia tidak pernah melihat ataupun mendengar bahwa skill dengan kesulitan ‘A’ bisa memiliki efek kehancuran yang amat sangat dahsyat.
Itu tadi setara dengan skill kesulitan [S].
Dampak dari serangan kejutan Mai tadi bukan hanya mempengaruhi Scorpio, tapi juga untuk Jell.
Jell kaget saat melihat salah satu kaki Scorpio yang tiba-tiba saja hancur yang mengakibatkan Scorpio tiba-tiba terdiam.
(Mai sialan, siapa yang menyuruhnya untuk menyerang. Akan aku hajar dia nanti.)
Dan bukannya senang karena dia mendapatkan bantuan dari Mai, Jell terlihat sangat kesal sampai ubun-ubun. Dia tidak menyuruh Mai untuk melakukan serangan, tapi dia dengan seenaknya sendiri.
Jell sebenarnya tidak sepenuhnya marah, tapi alasan kemarahannya adalah Mai yang terlalu ceroboh. Jell mampu menyerang Scorpio hanya dengan sekali serangan, jadi Jell tidak harus susah payah untuk memanjat dan menghancurkan senjata dan meriam.
Hal yang di takutkan olehnya adalah, jika saja ada bagian-bagian dari tubuh Scorpio yang memiliki fungsi peledak jika terkena serangan.
Hal ini dia ambil dari pengalamannya saat di BOA saat dia melawan musuh Cyborg yang memiliki skill pasif (meledakan diri jika mendapatkan serangan fatal).
Dan tentu saja bagi Jell yang tidak tau itu dari awal, dia mati konyol hanya dengan ledakan bunuh diri dari musuh Cyborg.
Dan hal tersebut di terapkan juga di sini. Tetapi, selain memeriksa hal tadi, Jell sebenarnya ingin memeriksa hal lain.
Pertempuran gelombang kedua memakan waktu yang cukup lama, di bandingkan dengan gelombang pertama yang hanya 1 jam lamanya, gelombang kedua sekarang sudah hampir 2 jam.
...
Jell masih sulit untuk mencari tujuan keduanya, tujuan pertama untuk memastikan tidak adanya peledak bunuh diri sudah selesai dengan bantuan Mai. Jadi saat ini tujuan keduanya akan dia lakukan segera.
“Sepertinya kita sudah bermain cukup lama, ayo kita selesaikan ini.”
Tepat saat dia menyusuri seluruh bagian-bagian Scorpio, Jell tidak mendapat satupun akses untuk masuk ke dalam, dan berakhir dengan hasil yang sangat memuaskan, dia mendapatkan apa yang dia cari.
Sudah mendapat apa yang dia cari, Jell memutuskan untuk mengakhirinya sekarang.
Jell dengan menyimpan pedangnya, dia maju menuju ke kepala Scorpio.
Berdiri di depannya Jell dapat melihat dengan jelas kondisi pertempuran saat ini, kemenangan ada di pihak mereka.
Pasukan telah mundur, para minion telah musnah dan dengan perintah dari Mai, mereka mundur dari pertempuran.
Menyadari keberadaannya, Scorpio dengan menggerakkan kepalanya dia menghempaskan Jell ke langit.
Tentu saja baginya dia kaget saat menerima sikap seperti itu, Jell melayang di udara dan terbang.
“Maaf saja, tapi kita akhiri sampai disini.”
Seperti melawan hukum grafitasi kecepatan jatuh dari jell sedikit melemah. Masih di atas Jell mengeluarkan pedangnya, dengab memegangnya secara horizon ke arah depan, Jell mengeluarkan skill.
“Sword Comet!”
Skill di teriakan oleh Jell, skill adalah skill dengan kesulitan [S] “Sword Comet” di keluarkan oleh Jell.
Tidak mau kalah dirinya, Scorpio entah sejak kapan dia mempersiapkan dirinya, dengan mata merahnya Scorpio mengeluarkan laser ke arah Jell yang sedang terbang.
Skill yang sudah siap, Jell melemparkan pedangnya ke arah Scorpio, dan Scorpio yang juga sudah siap dengan tembakan laser nya, menembakkan laser dari mata mekaniknya.
Tabrakan terjadi di antara kedua serangan, menciptakan suara delakan yang luar biasa dan gelombang kejut yang menerbangkan segalanya yang ada di sekitar mereka.
Tabrakan kedua skill sangatlah besar, yang di mana semua orang yang orang yang ikut dalam perang tersebut dan para warga sipil yang sedang menyaksikan dapat dengan jelas melihat serangan keduanya.
Tabrakan yang sangat kuat antara keduanya dan tidak memerlukan waktu lama, pemenangnya sudah di tentukan.
Laser milik Scorpio secara perlahan mulai melemah dan serangan skill Jell masih saja menghantam serangannya.
Laser milik Scorpio tidak lagi mampu menahannya, lasernya hilang meninggal pedang Jell yang masih dalam kondisi skill aktif.
Pedang Jell yang di lemparkan menuju arah kepala Scorpio, dengan hantaman dan penghalangnya yang sudah hancur, dengan begitu serangan Jell mengenai kepala Scorpio dengan serangan telak.
Scorpio yang menerima serangan tidak dapat melakukan banyak hal, pedangnya menancap dan setelah durasi skill habis pedang Jell memberikan ledakan hebat.
Ledakan memberikan gelombang kejut yang jauh lebih besar dari sebelumnya, membuat orang-orang kaget dengan gelombang yang tiba-tiba.
Dengan begitu, Scorpio jatuh dengan semua sistem di dalamnya mati. Karena tidak adanya tenaga yang tersisa, Scorpio jatuh ke tanah memberikan bunyi yang keras dan debu yang naik dan berterbangan.
Reaksi orang-orang yang melihatnya hanya terdiam terpaku menatap Scorpio yang jatuh. Mereka tidak percaya bahwa mereka bisa melawan bencana yang sudah ratusan tahun meneror dunia ini.
Teriakan dan kegembiraan tidak bisa di tahan di hati mereka, secara serentak mereka berteriak dengan kesenangan yang memenuhi atmosfer.
Teriakan dan tangisan terdengar, mereka yang terikat dari keputus asaan, kini telah bebas bagaikan burung yang keluar dari sangkar.
Tidak terkecuali juga untuk Marina, dia saat ini menahan air matanya karena kemenangan yang mereka dapat.
Begitu pula dengan Adolf dan bawahannya, para staf guild, para petualangan, dan para penyihir menangis bahagia.
Sama halnya dengan semua orang, Rin juga terdiam melihat pemandangan yang Jell berikan sesuai janjinya. Dari pada yang lainnya, dialah yang paling cengeng saat menangis.
“Hisk... Berhasil, kita... berhasil. Hisk...”
Tapi berbeda dengan kebanyakan orang, Mai sama sekali tidak menangis saat mereka menang. Dia bersuka cita, tapi dia tidak samapi segitunya untuk mengekspresikan perasaannya.
Dari pada menangis, Mai malah terlihat berjalan menuju kearah debu yang di mana mayat Scorpio berada. Melihat Mai, Rin juga mengikutinya dari belakangan.
“Tunggu... aku. Hisk...”
Keduanya berlari menuju kearah mayat Scorpio berada, bukan untuk memastikan kematiannya, melainkan menemui orang yang membunuhnya, Jell.
“Jell! Kau di mana?”
Teriakannya dapat terdengar, tapi debu-debu yang naik sangat merepotkan, mereka kesulitan melihat jalan. Tapi jawaban di berikan, dengan santai Jell berteriak.
“Aku di sini.”
Menuju ke arah suara, terlihat dengan jelas, sedang berdiri di depan kepala Scorpio, itu Jell.
Berlari menuju dirinya, Mai dengan membentangkan tangannya berniat untuk memeluk Jell, tapi penolakan yang di terima.
Terlihat sepertinya Jell sedang memegang sesuatu di tangan kanannya, Rin yang menyadarinya mencoba menanyakannya, tampaknya Mai baru sadar akan hal itu.
Jell berniat menunjukkannya, tapi itu di hentikan akan sesuatu.
“Itu dia.”
“Itu orang yang mengalahkan Scorpio seorang diri.”
Suara ribut datang dari belakang mereka, debu sudah mulai turun dan dapat di lihat dari seberang sana ada benayak orang yang sedang menuju ke arah mereka. Semuanya datang menemui Jell dan mereka berdua.
Sesampainya di sana tanpa peringatan, Jell di angkat dan di rangkul di kerumunan orang. Mereka mengangkat di atas mereka, dengan suka cita dapat terlihat mereka sangat berterima kasih kepadanya.
Dengan begitu, ancaman dari Scorpio berhasil di hentikan.
***
__ADS_1