BATTLE OR ALIVE

BATTLE OR ALIVE
Chapter 35 : Home


__ADS_3

Jauh mata memandang, hanya ada satu warna yang dapat di lihat, semuanya menjadi berwarna putih.


Ruang hampa tak ada siapapun di dalam bersamanya seharusnya memberikan dia sebuah rasa takut akan ke sendirian dan kesepian.


Tetapi, di sini dia merasakan hal yang berbeda. Ini adalah hal yang sudah lama hilang dari dalam hatinya, sebuah rasa tenang dan ke bahagian.


Berjalan menyusuri ruang putih, tiba-tiba saja tanpa menerima sebuah peringatan tubuh kecilnya tiba-tiba bertabrakan dengan sesuatu.


Anak yang menabraknya kemudian memperlambat larinya dan melihat kepadanya.


Sambil mengulurkan tangan mereka, kedua anak yang menabrak dirinya memberikan dia bantuan.


Anak laki-laki dan perempuan itu, kemudian tersenyum lebar. Mendapatkan senyuman seperti itu tentu membuat dirinya juga tersenyum membalas keduanya.


Dalam dirinya, kedua anak tersebut seperti tidak asing dalam ingatannya, mereka sepertinya pernah bertemu sebelumnya.


Kedua anak yang menggenggam kedua tangannya sambil senyum dan tidak pernah sekalipun bersuara, dan mengajaknya untuk ngobrol.


Tiba-tiba berhenti setelah berlari, kedua anak tersbeut membalikkan pandangan dan menatapnya secara langsung dan berkata.


““Kenapa bukan kau saja yang mati?””


Ruangan hampa yang hanya berhiaskan warna putih di mana-mana, kini memiliki atmosfer yang kurang mengenakkan.


Dirinya yang sendirian di ruangan tersebut melihat kedua tangannya, dan dia berjalan lagi menyusuri ruangan putih lagi.


Dalam perjalanan yang serba putih itu, tiba-tiba terlihat di ujung pandangannya terlihat sebuah pintu yang berdiri tegak dan tidak terpasang di dinding manapun, bagaikan pintu tersebut hanya di biarkan berdiri di situ.


Membukanya, ruangan di sebelah berubah. Ruangan putih kini menjadi sebuah desa. Desa yang ramai dan indah, desa yang bersahabat dan Makmur.


Menyusuri jalan desa, suasananya kian berubah-ubah, kini semakin masuk dalam desa semakin banyak api yang terlihat.


Di sini tidak panas, dirinya seperti hanya berjalan di sebuah proyeksi gambar. Dirinya tidak dapat di lihat oleh warga desa dan begitu juga di sentuh. Dia bagaikan hantu penasaran yang sedang bergentayangan.


Api semakin membesar membakar desa, banyak orang yang mati. Bukan hanya orang dewasa, orang tua, dan bahkan anak-anak juga ikut terbakar dan mati tertindih puing-puing bangunan.


Dirinya tidak merasa sedih, ataupun memiliki rasa dalam hatinya untuk menolong mereka. Dia hanya bisa melihat mereka satu persatu mati di hadapannya.


Api semakin besar dan sudah melahap seluruh desa, dan kini dia berada di sebuah lapangan rerumputan yang indah.


Dalam hatinya seperti berkata bahwa perasaan ini adalah hal yang selama ini dia inginkan.


Berjalan melewati rerumputan, tepat di depannya berdiri dua orang yang sedang membelakanginya. Kedua orang itu terlihat tidak asing, dalam hatinya rasa sakit dan penyesalan muncul.


Dadanya sesak, perasaan rindu dalam hatinya tidak dapat di bendung lagi. Seakan pada saat momen ini adalah sesuatu yang tidak dapat dia rasakan dengan orang lain.


Berlari menuju keduanya, rasa lelah memenuhi dirinya, tapi perasaan dalam hatinya jauh lebih kuat dari pada itu.


Kedua orang itu tepat berdiri di depannya, mereka tidak merespon sama sekali keberadaannya. Berniat memanggil keduanya, tiba-tiba saja kedua orang itu membalikan kepala dan berkata.


“Ini semua salahmu.”


Dan menghilang dalam kedipan mata.


Perkataan barusan berbeda dengan yang di katakan kedua anak misterius tadi, perasaan yang ada dalam kalimat tadi bukanlah sesuatu yang tidak berarti.


Matanya terbuka lebar, air mata keluar dari ujung matanya dan membasahi pipinya. Air mata yang keluar bukanlah tentang kesepian ataupun kesakitan akan rasa sakit, tapi ini adalah air mata penyesalan.


Dalam pikirannya kini di penuhi beberapa bagian-bagian dari ingatannya yang di perlihatkan kembali dalam kepingan-kepingan film dengan durasi 1 detik, memenuhi kepalanya.


Desa, kedamaian, benci, api, kematian, kematian, kematian.


***


Malam hari di hutan, Jell dan Mai saat ini sedang berada di dalam sebuah tenda kecil yang sudah mereka siapkan untuk berkemah di tengah jalan.


Terbaring di alas, tubuh lemah dan kecil Emma yang sudah tidak sadarkan diri selama 2 jam.


“Sebenarnya apa yang terjadi padanya.”


Mai dengan nada lembut menanyakan alasan tentang kondisi Emma saat ini, dia juga mengelus-elus kepalanya untuk memberikan kenyamanan dalam pangkuannya.


Jell memasang wajah masam saat melihat Emma yang sedang terbaring tak berdaya, dia merasa sedikit penyesalan saat dia ragu untuk menyerang kedua anak tadi. Kemungkinan besar mereka mengetahui sesuatu tentang Emma.


Keluar tenda dan duduk di salah satu kayu. Jell duduk dengan wajah sulit, dalam pikirannya, apakah membawa Emma ke sini adalah hal yang benar. Pertanyaan seperti itu memenuhi kepalanya.


Dari ujung kegelapan, Omunru datang mendekati tempat Jell.


Dari penjelasan Rin, Omunru bukanlah sopir kereta biasa. Dia dulunya adalah seorang ksatria yang ahli dalam mengendarai kuda.


Dan bakatnya dalam turnamen Jousting, bahkan dia mampu mengalahkan komandan kstaria dengan mudah.


Jell dan Omunru sedikit berbincang-bincang, dan tak lama kemudian Mai keluar dari dalam tenda dan duduk di samping Jell.


“Untuk hari ini saya rasa hanya itu yang terjadi, jadi saya ijin pamit dulu.”


“Ah, beristirahatlah. Besok kita akan melanjutkan perjalanan.”


“Saya mengerti.”


Pergi dari keduanya, Omunru kembali ke tendanya yang berada di dekat tenda mereka.


“Bagaimana kondisinya?”


“Dia baik-baik saja. Dia hanya sedikit demam, tapi tidak apa-apa. Besok pasti sudah sembuh.”


Pembicaraan berakhir, keduanya hanya saling duduk bersampingan, dan tentu seperti bisa Mai menyandarkan kepalanya ke bahu Jell.


Sudah tidak begitu lama mereka tinggal di dunia ini, tapi walaupun begitu mereka selalu saja terlibat dengan masalah yang tidak ada habisnya.


Dan satu hal yang juga mengganggunya adalah satu pertanyaan ini, “Ada berapa banyak musuh yang harus mereka hadapi.”.


Melihat wajah Jell yang suram, Mai menggunakan kepalanya langsung memukul Jell. Jell terjatuh dari tempat duduk dan tentu saja dia kaget dengan apa yang Mai lakukan.


“Sialan, kau, apa yang kau lakukan.”


“Menyemangati Mu?”


Sambil mengambil keseimbangannya kembali, Jell marah akan tindakannya dan tidak menerima alasan yang tidak masuk akal itu.


Saat ini mood Jell sedang tidak baik, jadi dia ingin Mai untuk tidak mengganggunya dulu. Tapi orang yang di mintai tolong olehnya adalah orang yang salah, ini adalah Mai, orang yang tidak akan mengikuti perintah orang lain.


Jell menggelengkan kepalanya dan menghela nafas.


Mai menatapnya dengan senyuman yang lebar, dia ingin menghibur Jell, dan itu lah yang terpenting.


Untuk menjadi seorang Raja, menyelesaikan masalah negara dan masalah pribadi itu tidaklah mudah. Dia harus memikirkan antara dua sisi yang berbeda tersebut.


Baginya untuk menjadi Raja adalah hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, untuk dirinya yang masih berusia 17 tahun, ini merupakan sesuatu yang bisa di katakan mustahil.


Tapi dia bisa menempati posisi Raja dengan kekuatannya sendiri, dan itu bukanlah sebuah kebohongan.


Dia selalu memikirkan akan masa depan yang tidak ada siapapun yang tau, tapi dia selalu berusaha untuk menebak apa yang akan terjadi.


Seperti saat ini, Jell tidak pernah menyangka bahwa pilihannya akan bimbingan di saat setengah jalan seperti ini.


Akan tetapi untuk terus menerimanya, adalah satu-satunya jalan.


“Mai, apa kau pernah berpikiran untuk membangun sesuatu di Athera?”


“Hm? Kenapa tiba-tiba?”


“Tidak, aku hanya berpikiran untuk membangun sesuatu di Athera.


Kau tau, kita ini seorang pemimpin, loh. Jadi kita harus melakukan hal yang seperti yang di lakukan seorang pemimpin.”


“Korupsi?”


Dengan menggunakan jarinya, dia menusuk pipi Mai hingga merah dan meninggalkan rasa sakit dan bekas dari tusukannya.


“Bukan itu, bodoh!.”


Tapi bukannya marah dengan serangan Jell yang tidak tiba-tiba, Mai malah tertawa.


“Nah, sekarang kau sudah bersemangat lagi.”


“Apaan, kau tidak harus melakukan itu hanya untuk membuatku bersemangat.”


“Kalau begitu, mau ku cium?”


Langsung melingkarkan tangannya, Mai langsung mendekatkan wajahnya hingga jarak yang berbahaya.


Dia membuka sedikit bibir lembutnya, dapat terlihat saat dia membuka bibirnya ada benang putih, yang membuat dirinya terlihat sangat menggoda.


Mendekatkan wajahnya, Jell yang di kunci tidak bisa untuk menjauhkan wajahnya. Ini adalah serangan telak Mai.


Ok, sekarang ini berlebihan. Jell berdiri dan tubuh Mai yang bersandar di tubuhnya, membuat Mai jatuh.

__ADS_1


“Aduh, apa yang kau lakukan, bego!”


“Aku yang seharusnya mengatakan itu.”


Keduanya yang awalnya akur sekarang terlihat marah satu sama lain, mau bagaimana lagi keduanya memang sering melalukan ini.


...


Paginya, saat ini kereta sedang dalam perjalanan.


Dapat terlihat di luar jendela, sekarang mereka telah keluar dari hutan besar dan mereka sekarang berapa di sebuah lapangan rerumputan lagi.


10 menit yang lalu,


“Hm?”


Membuka matanya, di tenda di pagi hari yang indah. Mata besar yang semalam tertutup kini mulai berkedip dan membuka matanya.


“Emma! Kau sudah sadar.”


Suara seorang gadis yang mencemaskan dirinya. Mai ketika mengetahui Emma yang sudah siuman, langsung memeluknya dan menenggelamkannga ke dua gunung miliknya.


“Ha... Ha, Kak-... Aku, tidak bisa- bernafas...”


Emma yang merasa sesak karena kepalanya yang tenggelam, mencoba untuk melepaskannya dengan kekuatan yang dia punya.


“Ara~”


Entah bagaimana dia bisa melepaskan kepalanya.


Emma masih merasa sedikit pusing saat dia sadar, tapi hal yang paling dia perhatikan adalah sebuah pemandangan yang sedikit berbeda dari ingatan terakhirnya.


“Ini, kita sudah sampai?”


Menggelengkan kepalanya, Mai menjelaskan kepadanya bagaimana dirinya yang tiba-tiba pingsan dan sudah tidur berjam-jam lamanya.


“Kak Jell di mana?”


“Ah, dia ada di luar.”


Menyapa Jell dan memberitahu tentang kondisi yang sudah baik-baik saja, Jell merasa tenang saat mendengarnya.


Akan tetapi seperti yang di harapkan dari seorang Siscon, dia menyuruh semua orang untuk menunda perjalanan dan menunggu Emma pulih sepenuhnya.


“Tidak perlu sekhawatir itu, aku baik-baik saja.”


“Benar kah, kau tidak perlu untuk memaksakan diri, loh.”


“(Menggelengkan kepala) Aku baik-baik saja.”


Melihat Emma yang sepertinya tidak memaksakan dirinya, Jell juga tidak mempunyai alasan untuk tetap menunggu. Dan mereka melanjutkan perjalanan.


Sudah sekitar 30 menit setelah berjalan dari perkemahan mereka tadi, dan Emma terlihat menunjukan beberapa reaksi yang menarik.


“(Endus-endus) Bau ini, aku mengenal bau ini.”


“Oh, kau tau dari baunya? Seperti yang di harapkan.”


“Bau ini, Kak Jell, apa mungkin.”


“Nn, banar.”


Kereta berhenti, mereka berhenti di depan sebuah hutan. Hutan yang tidak terlalu tinggi, tetapi di sini gelap untuk melihat.


Omunru berhenti dan mengatakan bahwa jalan di depan sudah tidak dapat di lewati dengan kereta.


Dia mengatakan sisanya hanya bisa di lalukan dengan berjalan kaki.


“Kami akan masuk, Omunru kau tetap di sini dan jika kami tidak pulang dengan waktu yang lama, maka kau harus bertenda di sini.


Akan aku pastikan dulu keadaan, dan jika memungkinkan aku akan memanggilmu.”


Jell dengan penjelasan panjangnya mengenai apa yang harus dia lakukan. Omunru tentu tidak suka akan hal itu, dia menolak untuk menunggu di sini dan membiarkan Jell pergi untuk memeriksa keadaan.


Tapi Jell mengatakan untuk tidak perlu khawatir, dengan senyuman penuh tekad dia menyakinkan Omunru.


Di sisi lain, Emma entah mengapa merasa kegembiraan di dalam hatinya, dia sedari tadi terlihat tersenyum lebar dan melompat-lompat. Dia sesenang itu, apa yang Jell pikirkan.


Memasuki hutan, bagaikan dia sudah tidak asing dengan tempat ini, Emma berlari di depan mereka berdua.


“Sangat bersemangat, ya. Padahal tadi dia baru saja siuman.”


“Kau ibunya apa...”


Emma sambil melambai-lambaikan tangannya memanggil keduanya untuk menyusul dirinya, Jell dan Mai juga mulai berjalan untuk masuk ke dalam hutan.


Tidak perlu menunggu lama, hanya 5 menit berjalan lurus mereka sudah tiba di sebuah dataran yang luas.


Pohon-pohon tidak tumbuh di daerah itu, bahkan rumput juga tidak menyentuh daerah lahan kosong ini.


Dan hanya berjalan sedikit, mereka akhirnya menemukan sebuah desa.


Di situ terlihat kayu yang panjang yang di gunakan sebagai pagar. Dan juga tidak lupa juga, sebuah gerbang masuk ke desa tersebut.


“Apa-apaan dengan desain ini. Seram.”


Dalam kepala Jell saat melihat gerbang desa yang di hiasi dengan berbagai macam tengkorak hewan.


Memasuki desa, mereka berjalan dan menemui salah satu orang yang sedang bercocok tanam di sebuah halaman.


Sepertinya orang itu menyadari keberadaan mereka dan menoleh, tetapi sebelum mereka bicara, orang itu dengan wajah kaget dan tidak percaya dia berteriak.


“Emma!”


“Ah, kakek!”


Meneriaki nama Emma, Emma juga membalasnya dengan nada bahagia kepada orang tua itu.


Dia yang sedang sibuk untuk melakukan pekerjaannya, melupakan itu dan dengan tergesa-gesa untuk menemui Emma.


Terjatuh dan memegang kedua bahu Emma, orang itu menangis. Sambil menangis dia seperti tidak percaya bahwa dia akan bertemu dengan Emma lagi.


Dengan suaranya yang tak terlihat seperti umurnya, orang tua yang kira-kira umurnya sudah mencapai 70 tahun, berteriak seperti orang yang masih berusia 20 tahun.


“Emma sudah pulang!”


((!!!))


Suaranya bergema ke seluruh desa, Jell dan Mai yang melihat itu hanya bisa ternganga.


Mendengar suara orang tua itu, tiba-tiba saja seluruh desa menjadi ribut. Bunyi seperti barang jatuh dan barang pecah juga tidak dapat di khawatirkan lagi, saat ini mereka semua datang dan melihat kepulangan Emma.


“Itu Emma.”


“Dia benar-benar Emma, dia pulang!”


“Mana, di mana Emma!”


Masing-masing dari mereka meneriaki pertanyaan yang berbeda-beda, tetapi pertanyaan mereka hanya berfokus ke satu orang saja, Emma sudah pulang.


Semua orang mengerumuninya dan mereka sangat bersuka cita kana kepulangannya. Bahkan keberadaan Jell dan Mai tidak dapat di rasakan.


Mereka yang sangat bahagia, menyuruh Emma untuk masuk dan mereka akan merayakan pesta kepulangannya. Dan menyisakan Jell dan Emma di jalan berdua.


“Kalian berdua, apa kalian yang membawa Emma ke sini?”


“Iya.”


“Ooh, masuklah nak, kalian berdua juga harus bergabung.”


Menganggukkan kepalanya, Jell dan Mai masuk ke desa mereka.


Di desa ini tidak terlalu berbeda dengan desa kebanyakan, hanya saja di sini memiliki atmosfer yang sangat aneh.


Desa ini seperti desa mati, tetapi semua orang yang tinggal terlihat sangat sehat. Ini seperti desa Manyur, tetapi orang-orang di sini jauh lebih hidup.


(Eh, benar juga. Nasib desa itu bagaimana, ya. Aku tidak pernah dapat pesan ataupun tugas mengenai desa itu.


Jangan bilang, mereka sudah musnah? Apa aku saat itu terlalu berlebihan, ya?)


Dalam kepalanya, Jell merasa sedikit penyesalan terhadap perbuatannya saat menyelesaikan quest di desa Manyur.


(Tetapi ini benar-benar tidak pernah aku rasakan sebelumnya, sebuah desa yang tidak di huni oleh ras manusia, melainkan ras demon.)


Jell sambil memikirkan itu, dia meneliti desa itu dengan baik.


Mereka berhenti di sebuah rumah, rumah yang terlihat banyak orang yang sudah menyiapkan banyak meja dan sudah mulai memasak.

__ADS_1


Orang tua yang memandu mereka menyuruh mereka untuk masuk, di dalam mereka menuju ruang tamu yang ukurannya cukup luas.


Emma duduk di sana dan di kerumiun oleh banyak orang.


Tetapi untuk anak di usianya, Emma menanyakan sosok terpenting dalam hidupnya.


Dengan wajah polosnya Emma bertanya kepada semua orang.


“Anu, Mama. Mama dan papa ada di mana? Aku tidak melihat mereka di sini.”


Tatapan setiap orang langsung berubah, mereka memalingkan wajah pilu mereka dan tidak menunjukannya kepada Emma.


Tetapi orang tua yang membawa mereka kemari menyuruh Emma untuk pergi keluar desa terlebih dahulu, dengan alasan dia sudah lama dia tidak bertemu dengan teman-temannya.


Emma yang polos keluar dan berjalan di desa, di temani gerombolan orang itu.


Melihat dari jauh, Jell mendekati orang tua itu, dan seperti dia sudah tau apa yang ingin Jell tanyakan kepadanya, orang tua itu mengajak mereka pergi ke suatu tempat.


Mereka pergi tidak terlalu jauh dari rumah Emma, dan mereka memasuki sebuah taman. Bukan tamam biasa, itu adalah taman kuburan.


Menuju ke salah satu dari banyak kuburan, mereka berhenti di depan dua kuburan yang terlihat lebih mencolok dari kuburan lainnya.


“Ini...?”


Jell bertanya sambil membaca nama yang ada di batu nisan itu, dan tertulis di sana “Emiki Eliana” dan di sampingnya “Mikka Eliana” .


“Mereka telah tiada sudah sekitar 5 bulan yang lalu.


Di saat itu mereka sangat khawatir tentang Emma yang tidak pulang berhari-hari, dan mereka berdua di temukan dalam kondisi tidak selamat.


Tapi, keajaiban telah terjadi. Enam bulan lamanya setelah dia menghilang. Dan sekarang dia pulang. Aku benar-benar bersyukur.”


Orang tua itu menceritakan sedikit tentang kejadian kematian kedua orang tua Emma,


[Itu terjadi sekitar enam bulan lalu, itu tepat saat Emma di kabarkan hilang semalaman.


Itu membuat semua orang panik dan mereka mencarinya selama berhari-hari, dan hasilnya nihil.


Emma tidak di temukan di manapun dan kedua orang tuanya memutuskan untuk mencarinya keluar desa.


Tetapi dengan peraturan yang mengikat desa ini, mereka tidak bisa melakukan itu.


Tetapi kekhawatiran mereka tidak bisa di bendung lagi, mereka nekat untuk keluar desa di saat semua orang telah tertidur.


Kepergian mereka mengagetkan semua orang, tetapi mereka juga tidak memiliki cara lain untuk menyusul kedua orang itu.


Dan beberapa hari telah berlalu setelah kepergian mereka, beberapa bulan setelah kepergian mereka, dan akhirnya mereka mendapatkan kabar yang mengatakan bahwa keduanya telah di temukan tidak bernyawa.]


“Tetapi ada yang aneh dari berita itu.”


“Aneh?”


Jell tertarik akan hal yang di katakan orang tua itu dan menanyakan apa yang dia katakan aneh itu.


“Mereka mengatakan bahwa bangkai mereka telah lama membusuk, dan dikatakan mereka sebenarnya sudah mati sekitar lima bulan yang lalu.”


Mata mereka terbuka lebar mendengar kata itu, Jell dan Mai yang hanya berdiri di situ juga tidak percaya dengan apa yang di maksud dengan, sudah lama meninggal itu.


Tetapi jika memang mereka sudah dari enam bulan lalu telah meninggal, jadi hal ini pasti sudah di perkirakan.


Dengan kata lain, itu di rencanakan?


Di kepalanya Jell memutar semua informasi yang ada, penyebab kematian, motif, dan alasan. Tetapi untuk dirinya yang hanya terbatas dengan informasi yang tidak begitu detail dari cerita tadi dia tidak bisa menemukan jawaban apapun.


Orang tua itu bangkit dan berbalik menatap Jell dan Mai, dan dia memperkenalkan dirinya.


“Namaku Sasaru Eliana. Aku kakek dari gadis kecil yang kalian tolong.”


“Namaku Jell Kiyomizu, dan gadis ini adalah Mai Ogawa.”


Orang tua itu setelah mendengar nama Jell dan Mai dia seketika termenung, dia bagaikan seperti tidak asing dengan nama mereka.


“Jell...? Jangan bilang, anda adalah yang mulia Jell Kiyomizu, Raja baru kerajaan Athera?”


Sesaat dia mengetahui identitas asli Jell, membuat orang tua ini sedikit terkejut. Itu sudah jelas sih, jika cucunya di selamatkan oleh seorang Raja.


...


Malam tiba, suasana pesta sangat meriah untuk sebuah desa yang tidak terlalu besar ini. Jika di totalkan jumlah penduduk yang ada di desa ini sekitar 60 orang.


Tetapi jika di perhatikan lagi, di desa sini ada sesuatu yang sangat aneh.


Jika desa ini memang memiliki kemakmuran yang baik, seharusnya populasi penduduk di sini seimbang. Tapi dapat di lihat dengan sangat jelas bahwa populasi perempuan lebih sedikit dari pada populasi laki-laki.


Dan lagi, para perempuan di sini yang berusia muda sangatlah sedikit di bandingkan dengan pria muda.


Dan juga, anak-anak perempuan juga sangat sedikit bahkan berbanding 1/5 jika di totalkan dengan anak-anak laki-laki.


“Ada yang aneh di sini.”


Di dalam kamar di lantai dua rumah Emma, Jell dan Mai di berikan kamar atas yang di mana kamar ini dulunya kamar orang tua Emma.


Sambil melihat pesta yang sudah usai dari atas, Jell mengatakan sesuatu dan Mai juga menganggukkan kepalanya.


“Aku juga berpikir begitu, makanan di sini tidak terlalu enak.”


Buk!


Satu pukulan jatuh di kepalanya, tanpa adanya peringatan dengan emosi Jell memukul kepala Mai dengan keras sehingga meninggalkan asap di kepalanya.


“Apa yang kau lalukan, bodoh!”


“Aku sedang serius maka jawaban juga dengan serius, ok!”


“Ahh, padahal aku hanya bercanda.”


Jell memasang wajah sulit sambil memikirkan hal itu, dalam pikirannya hanya ada satu pertanyaan, apa yang sedang terjadi di desa ini.


Dan sebenarnya Mai juga mengetahui itu tetapi seperti kebiasaannya dia selalu ingin Jell tidak terlalu memusingkan hal yang merepotkan.


Tanpa di sadari selama ini Mai selalu mencoba untuk membuat Jell untuk tidak terlalu memperbanyak pikirannya tentang hal yang seharusnya tidak dia pikirkan.


Namun untuk kali ini dia merasa setuju jika masalah saat ini harus mereka ikut campur di dalamnya.


Tok! Tok! Tok!


Suara pintu mereka di ketuk, Jell dan Mai setelah mendengar itu langsung mengambil posisi mereka, Jell dengan posisi di depan pintu dan Mai berada tepat di arah samping pintu.


Tetapi sikap mereka terlalu berlebihan hanya karena situasi mereka yang sedang buruk, suara seorang gadis kecil terdengar sambil memanggil nama mereka berdua.


“Kak Jell, Kak Mai. Kalian masih bangun?”


Suara yang memanggil kedua kakak tersayangnya dengan suara yang lembut.


Membukanya Jell dengan senyuman melihat Emma yang menggunakan piyama merah muda dan tidak lupa juga topi tidurnya, sambil membawa boneka beruang dan bantal.


Sosok peri tidur telah muncul, apa yang ada dalam pikiran Jell. Sedikit darah keluar dari hidungnya.


“Eh, kak Jell kau mimisan. Kau baik-baik saja?”


“(Menggelengkan kepalanya) tidak, hanya saja melihat seorang peri itu ternyata seperti ini.”


Emma saat di puji langsung membuat wajahnya memerah, seperti mau meledak, muncul asap dari kepalanya.


“Emma, ada apa?”


Dari kejauhan Mai dengan wajahnya yang juga mimisan, menanyakan kedatanganya.


“Itu, aku...aku. Aku ingin tidur bersama kalian, boleh?”


Dengan sikapnya yang malu-malu untuk menyampaikan perasaannya, membuat Mai tiba-tiba pingsan dan darah yang keluar dari hidungnya.


“Tentu saja! Emma bisa memintanya kapan saja, loh.”


“Nn, terima kasih.”


Sambil memeluk Jell dengan pelukan yang kuat, Jell tidak bisa menahan dirinya untuk tetap sadar.


Darah yang keluar dari hidungnya tidak mau berhenti, dengan kekuatan yang tersisa dia berusaha untuk menjaga kesadarannya.


((Emma sangat imut!!!)) Keduanya meledak dalam hati.


Emma tidur di tengah ranjang, sebelum tidur dia selalu membicarakan banyak hal seperti yang selalu dia lakukan jika tidur dengan salah satu dari mereka.


Dia menceritakan apa yang dia lakukan di sini, dan pertemuannya dengan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu.


Tetapi dari cerita Emma, ada satu hal dari perkataannya yang membuat Jell tertarik. Itu adalah mengenai kedua temannya yang tidak ada di desa.

__ADS_1


***


__ADS_2