
“AITIS!”
Ikrar di sebutkan. Berbeda dengan ikrar yang pernah dilakukan oleh Jell dan Lhava, saat menyebutkan ikrar mereka berempat tidak berteleportasi, dan hanya berada di tempat mereka saat ini.
(Rantai ikrar muncul dan mengunci arena pertempuran kami, tapi kami tidak berteleportasi kemana pun. Apa mungkin ada beberapa syarat yang harus di penuhi?)
Untuk situasi ini Mai masih belum bisa sepenuhnya mengerti tentang bagaimana ikrar di dunia ini bekerja seperti sistem, akan tetapi satu hal yang dia tau bahwa rantai ikrar akan muncul kapan dan di manapun saat kau membuat ikrar dan berduel.
Pertandingan dimulai dan Mai masih mencermati prinsip dari ikrar dunia, dan ke tiga wanita Lvaha sudah siap dengan posisi mereka masing-masing.
Untuk posisi mereka, mereka memakai posisi 1-1-1, atau Fighter-Mage-Suport. Posisi yang brilian untuk mereka bertiga, Mai memuji kepintaran pertempuran mereka. Tidak seperti halnya Lhava bertempur dengan Jell, ketiga wanita ini memasang posisi bertahan dan menyerang yang kuat, bagaikan mereka adalah seorang profesional.
Untuk saat ini Mai tidak bisa di unggulkan, tiga lawan satu apa itu sportif? Mai mengoceh dalam hatinya. Tapi itu sama sekali tidak masalah, dan ini hanyalah masalah kecil yang harus dia selesaikan untuk mencari keberadaan Jell yang entah pergi kemana sejak pagi.
“Baiklah, mari kita selesaikan ini dengan cepat.”
“Jangan meremehkan kami kau lacur.”
Mai memasang Job dan mengeluarkan Dual Knife miliknya. Setelah mendapatkan Duel Knife yang dia dapat di dungeon, Mai sama sekali belum mencobanya, jadi ini akan menjadi percobaan yang bagus.
Mai mengambil posisi, dengan menunduk ke bawah, satu kaki berada di depan dan kaki satunya berada di belakang dengan jarak yang cukup lebar dan lurus, tangannya juga mengikuti ke depan dan satunya lagi di belakang, pantat naik melewati tinggi kepala, menciptakan posisi kuda-kuda yang menakutkan.
Kuda-kuda ini adalah posisi serangan cepat yang berada dalam seni beladiri assasin, membuat seorang assasin bergaya seperti dalam tokoh utama dalam cerita Spi*erman.
Memasang kuda-kuda, Mai dengan penuh konsentrasi memandang lurus kearah tiga wanita Lhava. Sama halnya dengan mereka bertiga, mereka juga memandang lurus pada Mai yang sedang dalam posisi kuda-kudanya.
(Shuu!) (Mai melesat)
Mai menyerang duluan, melepas kuda-kuda dan melesat ke depan. Skill di gunakan, “Slow Watch” membuat waktu berputar sangat lambat. Kecepatan mencapai 60 km/detik, tidak ada seorangpun yang mampu menyaingi kecepatan Mai saat ini, dan begitu juga dengan wanita-wanita itu.
Menuju salah satu wanita, Raina, job Fighter. Raina yang di tuju tidak bisa membuta mata dengan apa yang terjadi padanya, dalam waktu kurang dari satu detik itu, tubuh dan kepalanya sudah terpisah menjadi bagian berbeda. Jatuh dan tereliminasi dari pertempuran, Raina kalah dengan sekejap mata.
(Apa itu! Raina tadinya ada di situ, sekarang kepalanya sudah tidak ada, apa yang terjadi tadi?!)
Dalam hatinya Wilata tidak mengerti dan tak mampu mencerna apa yang sudah terjadi dalam waktu kurang dari satu detik tadi, tapi yang dia tau bahwa kepala Raina sekarang sudah tidak ada di tempatnya.
Dalam situasi ini juga dia mampu melihat Mai yang sudah mengiris kepala Raina dan saat ini menuju kepadanya. Dalam pengaruh skill “Slow Watch” musuh yang di tandai akan merasakan waktu berjalan begitu lambat, akan tetapi kesadaran mereka tetap masih ada, bagaikan merekalah yang menjadi sangat lambat.
Dengan pengaruh skill itu juga, Wilata dapat melihat siapa dan bagaimana Mai mampu memenggal kepala Raina dengan rapi dalam waktu yang sesingkat itu, dan dia juga tau bahwa dialah orang yang selanjutnya yang akan menerima serangannya.
Mai berhasil memenggal kepala wanita pertama dan melanjutkan menyerang wanita kedua, dia mendarat setelah naik untuk menyerang kepala wanita pertama, Mai mendarat dan mengambil pijakan untuk serangan cepat kedua.
Untuk serangan kedua Mai akan mencoba untuk memotong kedua tangan musuh untuk melihat seberapa akurat dia jika menyerang dua tempat sekaligus. Sejauh ini Mai selalu menyerang musuh di bagian kepala mereka, dan sangat jarang untuk menyerang dengan dua arah serangan, jadi untuk mencoba dan meningkatkannya dia akan membuat wanita kedua ini sebagai bahan latihan.
Mai menatap wanita kedua setelah mendarat dan membuat aura menekan yang gila. Ekspresi wanita kedua tidaklah bagus, dia pucat di matanya dan tidak bisa mengembalikan ketenangannya untuk membuat pertempuran dapat berbalik. Tapi itu mustahil, karena lawan mereka adalah Mai, yang di kenal mampu menyaingi Jell dalam hal serangan cepat.
(Tidak bisa bergerak! Bukan, tubuhku tidak mau bergerak!)
Wilata tidak dapat mengembalikan fungsi tubuhnya karena tekanan dari Mai. Setelah serangan mengenai Reina, Mai sudah melepaskan skill “Slow Watch” dan memutuskan menyerang Wilata dengan serangan tanpa skill tambahan, jadi dia akan menebas dengan kekuatan fisiknya, dengan cara ini Mai mampu melihat seberapa kuat serangan fisiknya.
Wilata jatuh dalam keputusasaan, dia hanya bisa melihat kegelapan di depannya, tidak dapat bangkit dan tubuhnya juga tidak mau mengikutinya. Dia sudah hancur dalam hal mental dan tidak akan bisa pulih dalam waktu dekat.
Mai dengan menggunakan kedua Dual Knifenya dan momentum yang sempurna ini, Mai dengan percaya diri mampu memotong kedua tangan wanita kedua dengan sempurna.
(Zing!) (Zing!)
Kedua Duel Knifenya memotong tangan wanita kedua. Mai setelah memotong mundur dan untuk mengambil posisinya lagi, selain itu dia ingin melihat bagaiman hasil potongannya, jadi dia tidak memutuskan untuk langsung membunuh wanita kedua dalam momentum itu.
“AaAKKkhHH!!!”
Wilata menjerit dalam kesakitan, kehilangan kedua tangannya memberikan delay dari rasa sakit yang dia terima.
Wilata tidak bisa memahami apa sebenarnya yang dia hadapi, kecepatan yang melebihi suara, dia tidak mampu melihat apa yang telah musuh lakukan pada dirinya, tapi hanya satu yang dia tau, bahwa dia telah menantang orang yang salah, dia telah menantang sang kekuatan tertinggi.
Mai kembali kebelakang untuk melihat hasil potongan, namun itu mengecewakan, potongan sebelah kiri miliknya tidak semulus potongan sebelah kanan. Mengetahuinya wajah Mai hanya hitam dan tidak bisa membuka mulut.
(Ahh, sialan! Tidak terpotong dengan sempurna, jika saja aku melakukan ini saat itu, mungkin potongannya dapat lebih mulus.)
Mai membuat wajah kesal setelah melihat hasil tebasannya yang tidak rapi, jadi karena tidak sempurna dia memutuskan akan membunuhnya saja. Mai maju dari tempatnya dan berjalan ke arah wanita kedua, dia akan membunuhnya dengan mulus, dan itu pasti.
(Zing!)
Kepalanya hilang, wanita kedua telah kehilangan kepalanya dan sudah tidak bergerak lagi. Tersisa wanita terakhir, dan susah di pastikan kemenangan ada di pihak Mai, mau bagaimanapun wanita yang dia lawan hanyalah pengguna job Support yang terlemah dari semua job.
(Walaupun itu job terlemah, aku penasaran apakah ada pengguna job Support yang kuat yang mampu menandingi job lain.)
Mai menuju wanita terakhir, wanita ketiga adalah job support. Dia tidak kelihatan putus asa di matanya, malahan dia memberikan mata yang penuh dengan tekad. Matanya membara dengan perasaan yang campur aduk, dia marah, takut, dan kecewa. Amarah yang pertama kali dalam hidupnya yang pernah dia rasakan, dia tidak bisa berekspresi seperti apa, tapi satu hal yang dia tau, bahwa dia tidak akan bisa menang.
Wanita ketiga tidak melawan maupun bertahan, dia hanya diam dan tidak melakukan apapun selain menatap Mai dengan mata tajam setajam jarum.
Mai yang mendapatkan tatapannya hanya membuat wajah sulit, karena tekad lawannya ternyata serius untuk bisa mengalahkannya, padahal dia dari tadi tidak serius melawan mereka.
(Apa itu? Wajahnya menakutkan. Apa dia masih serius melawanku? Hey, berhentilah, wajahmu membuatku takut.)
Mai membuat wajah sulit karena tatapan tajam wanita ketiga, dia akan membunuhnya sama halnya dengan kedua wanita tadi, sepertinya dia tidak bisa melakukan percobaan pada wanita ini, dia membuat Mai takut.
Mai mendekat dan memenggal kepala wanita terakhir tanpa adanya perlawanan, lebih tepatnya perlawanan fisik, dia melawan secara mental. Mai canggung melawan orang seperti itu, terutama jika membuat orang seperti itu sebagai bahan percobaan. Wanita terakhir berbeda dengan dua wanita sebelumnya.
Wanita pertama kuat secara fisik dan mental, tapi dia lambat dalam hal genting, wanita pertama tipe orang yang lambat dalam mencerna informasi dan kondisi.
Untuk wanita kedua dia memiliki fisik yang kuat, mampu mencerna informasi dengan cepat melebihi kedua wanita lainnya, tapi dia memiliki mental yang sangat rapuh, jadi diantara ketiga wanita ini, dialah yang paling mudah putus asa.
Dan untuk wanita ketiga dia memiliki mental yang sangat kuat melebihi kedua wanita lainnya, memiliki pemikiran yang teguh, dan mampu menyerap informasi dari keadaan dengan cepat, namun tidak secepat wanita kedua. Tapi diantara wanita lainnya dialah yang memiliki fisik paling lemah, dan job miliknya juga tidak mampu meningkatkan fisik lemahnya.
***
Duel berakhir dengan kemenangan mutlak dari Mai. Ketiga wanita di kalahkan kurang dari 5 menit, yang membuatnya lambat kemungkinan tekanan dari wanita ketiga yang memberikan rasa tidak nyaman untuk Mai.
Untuk kemenangan Mai, dia berhak mendapatkan semua harta yang sedang di bawa oleh tiga wanita ini, itu diantaranya set armor, senjata, uang, dan pakaian. Memang sangat tidak manusiawi untuk mempertaruhkan semua harta milik mereka, tetapi Mai juga memberikan taruhan yang tidak sedikit.
Rantai penghalang arena telah hilang, ketiga wanita Lhava terlentang di tanah tak berdaya. Namun hanya satu orang saja yang memedulikan mereka, itu adalah gadis kecil yang mereka sakiti sebelum pertandingan tadi.
(Oh iya, aku belum tau nama anak ini.)
Mai mendekat dan duduk di depan pandangan gadis itu, menyamakan posisi pandangan mereka Mai tersenyum cerah. Mengulurkan tangan Mai berkata.
“Salam kenal, aku Mai Ogawa, senang bertemu denganmu.”
Mai memperkenalkan dirinya, dengan senyum yang mampu memperdaya itu, Mai mengeluarkan pesonanya di depan gadis itu, dan tentu saja itu penting. Dia ingin agar gadis itu tau dan mempunyai pemikiran dan pandangan yang baik terhadap Mai, terlebih lagi dia sudah mengalahkan ketiga wanita itu, jadi dia pikir mungkin gadis ini lah yang akan menantangnya ke depan, dan untuk menghindari itu dia harus membuat kesan yang baik kepadanya.
Namun semua tidak sesuai harapan, gadis itu hanya diam dan tidak membalas perkataannya, seperti membeku, gadis itu tidak memperhatikannya sejak tadi. Itu sedikit membuat Mai sakit.
“K-kamu… sekali lagi aku perkenalkan, namaku Mai Ogawa senang bertemu denganmu.”
Untuk terus memulai pembicaraan Mai memperkenalkan dirinya lagi, tapi respon untuk kedua kalinya ini berbeda dari yang tadi, kali ini gadis itu menatapnya dari balik jubah yang sama sekali tidak pernah dilihatnya membukanya.
“Apa tidak apa?”
“Eh?”
Gadis itu menanyakan sesuatu yang kurang jelas, Mai yang menerima jawaban itu tidak tau apa yang dia maksud.
“Apa yang kau katakan?”
__ADS_1
Mengkonfirmasi kembali apa yang di katakan gadis itu, Mai menanyakan kembali maksud dari perkataanya. Dan maksud dari perkataannya ternya mengandung hal yang sangat tidak masuk akal bahkan untuk manusia dari dunia lain seperti Mai.
“Apa tidak keberatan untuk berbicara dengan seorang budak?”
Mata yang tertutup jubah selama ini telah keluar dari kegelapan, mata kuning keemasan, mata yang tidak bisa dilihat adanya kehidupan di mata itu, dan sangat mencekam bagai melihat sebuah lubang kegelapan.
Mai tertatap dan tidak memandang ke tempat lain dan terpaku pada mata emas itu, Mai tidak bisa melihat adanya kebahagiaan, tawa, maupun kehidupan. Seperti kehidupannya selama ini seperti neraka untuk gadis ini, Mai tidak bisa menahan perasaan dalan hatinya. Mai melihat kegelapan yang amat hitam dan mencekam.
Dan dari semua itu, Mai sepertinya tau apa yang telah terjadi kepada gadis ini, Perbudakan. Mai dan Jell belum melihat dan tidak pernah melihat adanya perbudakan di dunia ini, lebih tepatnya di distrik A ini. Seperti ketidak tahuan yang sangat parah, mereka sampai melupakan tema dari dunia yang mereka tinggali ini.
Dunia abad pertengahan, dengan semua kekerasan dan kekuasaan yang tidak di atur oleh aturan. Di mana masing-masing kerajaan selalu bertindak sesuka mereka tanpa melihat apa dan bagaiman dampak yang telah mereka lakukan, kerakusan bangsawan, kejamnya pajak, dan kemiskinan adalah apa yang selalu terjadi di setiap kerajaan. Dan tentu saja perbudakan juga termasuk di dalamnya.
Untuk Mai dan Jell yang tinggal di dunia modern kata perbudakan adalah hal yang sangat tidak manusiawi dan harusnya tidak pernah terjadi di dunia manapun. Akan tetapi kenyataan begitu kejam bagi orang-orang seperti mereka, kekejaman dunia pertengahan sangatlah tidak manusiawi dan untuk saat ini Mai akhirnya sadar apa yang telah mereka lakukan selama ini.
(Apa yang aku pikirkan saat ini, aku pikir dunia ini hanyalah untuk melihat seberapa lama kami mencoba dunia ini, jadi aku merasa ini akan berakhir pada waktunya, tapi aku salah. Dunia ini nyata, kematian dapat terjadi di mana saja, dan begitu juga dengan aku dan Jell, kami dapat mati kapan saja, dan aku tidak memahami itu sejak awal.)
Informasi selama ini telah terkumpul terserap secara bersamaan di otak Mai, dia baru saja menerima informasi yang tidak pernah dia sadari sejak awal. Mai yang mendapatkan kondisi sulit seperti itu tidak bisa menahan perasaan dalam hatinya, dia kesal karena lambat.
Dia berdiri dan pergi dari tatapan gadis itu, semua barang yang di terima di bawa Mai masuk dalam penginapan, dia tidak melihat kearah gadis itu ketika pergi dari situ.
Mai duduk di salah satu kursi di kamar, dia duduk sambil merenung untuk mencerna semua informasi yang telah terkumpul dan lambat dia sadari. Menggunakan seluruh otaknya untuk memahami semau rangkaian dia terdiam bagaikan patung.
(Aku benar-benar sangat lambat, kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal! Apa yang ada di kepalaku hanya ada bunga saja? Aku bodoh! Dan selama ini Jell sudah sadar, dia tidak memberitahuku agar aku menyadarinya sendiri, dan aku baru saja menyadarinya. Dia selama ini berusaha sendirian untuk mempertahankan hidup kami berdua dan aku hanya menghalanginya saja, aku bodoh!)
Mai terdiam dalam renungannya dan menangis sambil memikirkan betapa bodohnya apa yang pernah dia lakukan selama ini, dan salah satu contohnya bahwa dia lupa mengaktifkan alat pelacak saat mereka di dungeon, dia menyesal.
Dalam renungannya pintu kamarnya terbuka, yang masuk adalah Jell sambil membawa tas yang berisi makanan untuk makan siang mereka, Jell lah yang selalu melalukan kegiatan membeli makanan dan menyediakan bahan untuk sarapan, makan siang, dan makan malam, dan untuk memasak dia menyerahkannya kepada Mai.
Jell yang masuk langsung melihat Mai yang sedang dalam renungan membuat Jell bingung apa yang telah jadi padanya, biasanya dia hanya akan tidur atau mengerjainya setelah dia pulang, tapi hari ini dia tidak memiliki semangat sama sekali.
“Oi, kau kenapa? Tidak enak badan? Aku akan siramkan teh untukmu.”
Jell pergi sedikit di sebelah lemari, di situ ada sebuah meja kecil yang sering Mai gunakan untuk memotong ataupun melakukan kegiatan lainnya yang tidak bisa di lakukan di meja utama. Selesai menyeduh teh, Jell memberikan kepada Mai dan menyuruh nya untuk istirahat.
“Ini minumlah, sebaiknya kau istirahat dulu, kau terlihat pucat.”
Namun bukannya pergi dan tidur untuk menenangkan pikiran dan beristirahat, Mai malah berdiri dan memeluk Jell, dia memeluknya dengan erat dan tidak berniat melepaskannya.
“Mai? Ada apa, apa ada yang sakit? Mau aku belikan obat?”
“Aku minta maaf… aku seharusnya menyadarinya dari awal… aku minta maaf.”
Jell yang melihat perilakunya paham apa yang terjadi padanya dan dia mengerti itu. Dia berpikir akan memerlukan waktu lama untuk membuat Mai menyadari betapa berartinya hidup di dunia ini, dan tampaknya dia sudah menyadarinya, syukurlah.
Jell bersyukur karena dia sudah menyadarinya, untuk Mai yang tidak akan sadar akan seberapa kejamnya dunia ini, Jell takut kalau Mai akan tetelan dengan kenyamanannya dan akan berhati batu dan berpaling dari kebenaran yang pahit. Tapi sepertinya dia sudah mengerti.
“Sudahlah, tidurlah dulu, kau terlihat pucat loh.”
Mai hanya terdiam dan tidak mengikuti perkataan Jell, dia hanya memandang Jell, dengan penyesalannya.
“Jell kau tau gadis dan wanita-wanita yang bersama Lhava waktu itu kan?”
“Hm, aku tahu mereka, memangnya kenapa?”
“Mereka menantangku tadi dan mereka kalah, lalu aku baru saja tau kalau gadis itu adalah budak mereka.”
Untuk mendengar kenyataan itu Jell hanya kaget, dia sudah menduganya dan tidak ada keraguan di dadanya, tapi dia masih saja tidak percaya, namun sekarang dia paham. Sama halnya dengan Mai, Jell juga tidak terima dengan hukum perbudakan yang ada di dunia ini, tapi mau bagaimana lagi.
“Sudahlah, pokonya kau harus tidur … Hm? Mai?”
Mai tidak melepaskan pelukannya dari Jell, dan sebaliknya dia memeluknya lebih erat lagi. Dia berdiri dan masih memeluknya tanpa mengelurakn wajahnya dari dada Jell, begitu manja, Jell merasa sedikit sesak tapi tidak apa, sejujurnya dia sangat senang.
“Mau jalan-jalan.”
“Ehh…”
***
Keluar dari penginapan, Jell ingin membawa Mai untuk pergi ketempat yang menurutnya bagus, itu adalah tempat mereka pertama kali berada di dunia ini. Dengan melihat pemandangan penuh bunga, pasti Mai akan merasa lebih baik.
“Tunggu! Tunggu sebentar!”
Suara berat dan keras menghentikan langkah Jell, asal suara itu berada di belakang mereka, itu Lhava. Tidak lupa juga, dia bersama dengan dua wanita dan seorang gadis. Untuk wanita yang hadir adalah wanita pertama dan ketiga, untuk yang kedua sepetinya tidak ikut.
Jell memahami alasan kedatangannya kesini, tapi bayangan Jell tentang Lhava mengerti apa yang telah mereka perbuat pasti tidak akan berakhir menemuinya lagi, tapi mereka saat ini berdiri di depan mereka.
“Ada apa? Aku rasa kau pasti mengerti dengan apa yang telah mereka berbuat bukan? Jadi seharusnya tidak ada pembalasan untuk kejadian itu.”
“Aku tahu itu, tapi untuk kejadian ini aku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Walau harus membuang nama baikku, aku akan memperjuangkan ini.”
Jell mengubah tatapan matanya, tatapannya saat ini penuh dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Apa yang di inginkan si bodoh ini di saat keadaan Mai seperti ini, adalah apa yang dia maki dalam hatinya saat Lhava memperlihatkan tekadnya.
Jika saja Jell saat ini dalam mode tenang, seharusnya dia bisa melihat betapa bertekadnya Lhava untuk menantang Jell melakukan duet kedua mereka. Tapi dia sudah termakan api, Jell sudah sangat panas sampai-sampai dia mampu membunuh Lhava saat ini juga.
“Aku pikir kita dapat mengerti walau hanya sedikit, tapi ternyata tidak.”
Jell maju kearahnya dengan mata hitamnya yang tajam, tapi tatapan kali ini berbeda matanya hitam sehitam kegelapan, matanya tidak menunjukan akan kebaikan maupun ke ceriaan Jell. Sepeti sikap Jell selama ini hanyalah kebohongan, saat ini dia bisa saja membunuh siapa saja yang ada di depannya.
Maju dengan aura mematikan membuat Lhava ketakutan, dia tidak bisa berpaling dari kegelapan mata Jell. Di saat yang sama Jell mengeluarkan pedang miliknya, pedang hitam pekat membuat cahaya bisa di telan dengan mudah, dikeluarkan dari sistem penyimpanan.
“Tunggu! Mohon tunggu sebentar tuan!”
“Ha-?”
Jubah kecil muncul di depan langkah Jell. Wajah, rambut, maupun mata tidak dapat dia lihat dari balik jubah gadis itu. Tapi sepertinya gadis itu masih memiliki keberuntungan yang besar, untuk sesaat Jell berniat untuk membunuh gadis itu karena telah menghalangi jalannya. Dan penyelamat itu adalah Mai. Dia mengangkat suaranya dengan nada tinggi sambil menongkah badannya di salah satu pohon yang ada di jalan depan penginapan.
“Jell! Dinginkan kepalamu, aku baik-baik saja.”
Jell terdiam tidak menyangkah bisa saja membunuh gadis tidak berdosa itu, tapi sesaat Jell hanya menatap kosong padanya.
“Jadi apa yang ingin kau katakan?”
Lhava bangkit dari ketidak sadarannya, dia dengan tekad kuat sama dengan sebelumnya, dia mengatakan alasannya.
“Ini memanglah hal bodoh, dan idiot yang pernah aku lakukan. Tapi untuk itu juga aku akan melakukan apa saja untuk menjaga mereka bertiga.
Walita mengalami trauma dan kerusakan mental yang parah, dan tidak bisa sembuh hanya dengan perawatan biasa. Jadi untuk membalaskan dendamnya aku menantangmu berduel, dan pertaruhkan semua harta yang telah kalian rebut dari kami.”
Sesaat kedua wanita yang mendengarkan perkataan Lhava membuat mereka memerah di wajah mereka, sedikit air mata keluar dan mereka secara serentak mengeluarkan suka citanya kepada Lhava.
Jell hanya diam memandangai Lhava yang mengoceh panjangan lebar, tapi dia tidak bisa menolak apa yang sudah dia dengarkan tadi, salah satu dari wanitanya mengalami kerusakan mental yang parah, jadi dia bermaksud untuk mentangnya agar agar dia bisa membayar biaya perawatan wanita itu. Sungguh baik bajingan satu ini, adalah apa yang Jell katakan dalam hati.
“Baiklah aku terima duel ini. Aku akan mempertaruhkan semua harta kalian, dan kalian harus mempertaruhkan gadis itu.”
Sejenak perkataan Jell barusan membuat suasan menjadi canggung dan lambat untuk memahami apa yang dia katakan. Tapi hanya Mai lah yang mengerti itu dan dia tertawa kecil karena kondisinya, biasanya dia akan tertawa keras, tapi saat ini dia sedang tidak baik-baik saja.
Dan untuk Lhava dan ketiga wanita yang ada di belakangnya membuat wajah bingung dam lambat dalam memahami perkataanya. Bahkan untuk wanita ketiga yang biasanya dapat memahami situasi dengan cepat, dia juga membuat wajah bingung.
Dan untuk gadis itu juga dia tidak memahami apa yang Jell katakan. Tapi Jell maju mendekati gadis itu dan menepuk kepalanya dan berkata sekali lagi dengan senyuman khasnya.
“Aku katakan lagi, aku akan mengambil gadis ini sebagai hadiah duelku. Karena budak sama harganya dengan barang, jadi tidak apa. Tambah lagi dalam daftar tabu tidak ada pelanggaran tentang itu.”
Mereka memahami di gelombang kedua saat Jell menjelaskan rinciannya, dan Lhava setuju akan hal ini juga. Untuk itu duel terakhir antara Jell dan Lhava sudah di putuskan.
__ADS_1
““AITIS!””
Ikrar di sebutkan, dan sama halnya dengan yang pernah di lakukan oleh Mai dan tiga wanita tadi, Jell dan Lhava tidak berpindah tempat tapi rantai ikrar muncul membentuk batas arena pertempuran.
(Tidak berteleportasi? Apa mungkin ada beberapa syarat yang harus di penuhi?)
Untuk menjawab pertanyaan itu Jell tidak bisa memahami situasi, jadi untuk saat ini biarkan dulu itu dan fokus pada pertempuran.
Permulaan di lakukan oleh Lhava dengan mengambil pedang miliknya yang berada di bahu, dia tidak memaki armor mengkilapnya seperti terakhir kali mereka melakukan duel.
(Dia menjualnya untuk perawatan gadis itu, ya? Aku pikir dia menyimpannya.)
Mengeluarkan pedang besar miliknya dan megibaskannya, Lhava penuh tekad dan aura yang berbeda di duel kali ini. Dia serius dan hanya ada satu hal yang ada di pikirannya saat ini, orang ini sangat kuat.
Begitu pula dengan Jell, dia memasang kuda-kuda kali ini. Terakhir kali dia tidak serius menghadapi Lhava dan bahkan tidak menggunakan pedangnya untuk melawannya, tapi saat ini dia serius untuk melawan Lhava. Dengan menyeringai Jell memfokuskan pandangannya kearah Lhava.
(perlihatkan padaku kekuatan penuh dari black rank Lhava!)
Lhava maju untuk membuat serangan pertama di duel mereka kali ini, dengan menggunakan perpaduan dua skill buff spesial Fighter dia maju menggunakan skill “Mega Sword” dan “Multi Sword” sungguh perpaduan yang bukan seorang amatir, Jell memujinya.
Untuk Jell yang tidak bergerak dari posisi awal, Lhava memberikan pukulan telak kearahnya.
Membuat debu naik gelombang kejut dari serangan Lhava menggetarkan arena. Dari serangan telak miliknya, “Mega Sword” berefek untuk menguatkan ayunan dan dampak serangan pedang, dan untuk “Multi Sword” berefek menggandakan serangan yang di berikan, memberikan ilusi bagaikan pedang yang dia gunakan lebih dari satu menghantam ke satu titik. Untuk Lhava tadi, Multi Sword menciptakan 4 gandaan serangan.
“Untuk seorang bajingan rank hitam, kau benar-benar kuat ,ya!”
“Terima kasih atas pujiannya, tapi aku pasti akan mengalahkanmu!”
Jell yang dalam posisi menangkis serangan telak Lhava, dia akan menendang Lhava untuk menciptakan jarak untuk melakukan serangan.
Jell membuat jarak dan Lhava terlempar sejauh empat meter. Jell membuat posisi serangan kali ini, tidak untuk bertahan sepeti tadi, Jell kali ini akan melakukan serangan.
Jell maju, mendekati Lhava Jell mengayunkan pedangnya dengan kecepatan tinggi. Dan tentu Lhava dapat menahannya, tapi itu tidak semudah yang di pikiran. Jell mempercepat tempo serangan dan kecepatan ayunan pedangnya dengan menggunakan skill “Faster Attack” Jell mampu membuat serangan ayunan pedang yang sama dengan kecepatan serangan seorang assassin.
Lhava yang menerima serangan tidak bisa menahan lama, celah sering terbuka saat dia menangkis serangan Jell. Setiap menangkis satu serangan pedang miliknya sering terbawa lintasa pedang milik Jell, sehingga untuk menangkis serangan kedua harus mengeluarkan kekuatan ekstra agar pedangnya tidak mengikuti lintasan musuh.
Beradu pedang dengan kecepatan tinggi terjadi di arena pertempuran. Mai tentu saja melihat pertempuran itu, dan tentu saja kedua wanita itu menontonnya juga.
Mai yang melihat pertempuran itu menyimak pergerakan satu persatu dari mereka berdua.
(Untuk seukuran Lhava hebat juga dia bisa menahan serangan cepat dari Jell. Tapi lukanya tidak bisa sembuh sendiri, hanya menuggu waktu untuk Lhava yang akan kalah dari pertempuran.)
Jell sama sekali tidak memiliki niat untuk menghentikan serangan cepatnya, dengan memutar pedang dan badannya, menciptakan pemandangan yang sangat indah untuk seni berpedang.
(Untuk seukuran Lhava, dia hebat bisa menahannya. Tapi bagaimana kalau begini?!)
Jell yang melalukan serangan cepat, mengganti pola serangan dengan mengaktifkan skill lain. Tapi sebelum melalukan itu Jell memberikan serangan kejutan yang kuat untuk membuat benturan dari adu pedang mereka.
Lhava terkena stun dari serangan kejutan milik Jell, dan dalam tempo yang cepat itu Jell mengeluarkan skill “Long laser”.
“Kgha!”
Dalam tempo secepat itu Jell berhasil mendaratkan serangan di tubuh Lhava, skill yang dia gunakan adalah “Long Laser” skill yang memerlukan mana besar untuk membentuk laser di pedang sang pengguna, menggunakan elemen tersebut pengguna dapat melemparkannya seperti melempar sebuah cahaya besar yang ada di pedangnya. Untuk kejadian Jell ini dia menggunakan skill berelemen api.
Lhava terlempar karena menerima serangan telak terhempas jauh hingga ke batas arena duel. Tapi ajaib nya setelah menerima serangan telak mengenai dadanya itu dia masih berdiri dan memegang pedangnya. Dia jauh lebih tangguh dari dugaanku, Jell dalam hati.
“Hei! Bagaimana jiga kita akhiri ini sekarang juga? Aku tidak akan menahan diri lagi.”
“Kofu- (batuk) ahh… ayo selesaikan ini dengan cepat.”
Jell menyeringai menanggapi tanggapan Lhava.
Lhava yang berdiri mengambil posisi kuda-kuda yang belum pernah dia gunakan selama duel. Dia memegang pedang besarnya dengan dua tangan ke arah belakang menyilang ke pinggang kirinya. Dari kuda-kudanya sudah dapat di ketahui kalau dia akan melalukan serangan penghabisan dengan menghantamkan pedangnya.
Dan untuk Jell, dia mengambil kuda-kuda sambil memega pedangnya ke atas kepalanya, menggunakan kedua tangannya pedang Jell berdiri tegak lurus di atas kepalanya.
Sesaat untuk melihat pemandangan itu Lhava membuat wajah bermasalah, bukan hanya Lhava tapi seluruh orang yang menyaksikannya juga membuat wajah bermasalah, tidak terkecuali Mai yang terpana dengan posisi pedang milik Jell.
(Kau bercanda bukan? Kalau begini bagaimana aku akan mengobati Wilata jika harus menghadapi yang seperti ini.)
Lhava menarik dan menghembuskan nafas berat dan panjang, dia putua asa? Takut? Benar. Saat ini Lhava berada dalam ketakutan terbesarnya.
Apa yang mereka lihat adalah posisi skill paling kuat diantara yang terkuat yang ada di dunia ini, skill itu bernama “Explosion”.
Skill terkuat di dunia ini dan hanya sebuah legenda begi mereka untuk bisa melakukan maupun menggunakannya, skill dengan tingkat kesulitan ‘SSS’ Explosion sudah dianggap sebagai legenda keberadaanya.
Sebagai perbandingan, “Mega Sword” adalah skill dengan tingkat kesulitan B, “Faster Attack” adalah B, dan “Long Laser” adalah A. Jadi perbedaan kekuatan antara tiap skill sangat berbeda dengan Explosion. Itulah yang membuat skill ini tidak pernah dan bahkan tidak akan pernah bisa di kuasai.
“Oh tuhan, lihat dia… dia adalah dewa.”
“Explosion… skill legendaris. Bagaiman bisa?”
“Satu dari tujuh skill tingkat ‘SSS’ Explosion. Sungguh cantik di pandang.”
Untuk semua orang, mereka tanpa sengaja dan tanpa ragu menganggap bahwa Jell adalah sosok tertinggi yang pernah mereka lihat karena sebuah skill tingkat tertinggi di tunjukan.
...
Jell dengan posisis pedang anggun mengangkat pedangnya secara tegak lurus, seketika mana keluar dari seluruh tempat pijakannya. Mana itu bukan mana alam, itu adalah mana milik Jell sendiri. Mana naik dan keluar karena pengaktifan skill, mengelilingi tubuh dan pedang milik Jell, mana memberikan warna merah terang yang indah, mana elemen api.
“Baiklah! Aku maju!”
Lhava maju dengan kecepatan tinggi, menyisakan pijakan rusak di tanah yang dia injak tadi menandakan betapa cepatnya kecepatan Lhava saat ini. Dengan berteriak dia memegangi pedangnya, menuju Jell yang masih dalam posisi, menciptakan sebuah celah untuk serangan Lhava.
Tapi itu semua di khianati. Persiapan Jell sudah selesai dan berkata.
“Ex…Plosion.”
Pedang di jatuhkan dengan arah lintas menuju Lhava, sinar laser besar yang tidak masuk akal keluar dan mengikuti pergerakan pedang. Dan...
DddUUuAAaRrR!!!
Ledakan besar yang di ikuti cahaya menyilaukan, jatuh di salah satu daerah di distrik A, tempat terjadinya duel.
.
.
.
Beberapa saat arena pertempuran antara Jell dan Lhava menjadi terang menerang dan menyisakan badai debu yang menghalangi pandangan.
Orang-orang yang berada di sekirat area mencoba mengelilingi arena untuk melihat hasil dari pertempuran mereka, tapi itu di khianati oleh debu yang tebal dan mungkin akan sedikit lama untuk hilang.
“Lihat! Di sana.”
Salah satu penonton berteriak sambil menunjuk arena, orang-orang yang mendengarnya secara otomatis melihat kearah yang di tujuh, dan hasil pertempuran telah terlihat.
Sosok seorang pria berdiri di antara debu tebal, orang itu tidak memegang pedangnya, atau pedangnya tergeletak di tanah karena kehilangan keseimbangan. Debu mulai menipis dan sosok orang tersebut akhirnya terlihat.
Jell adalah pemenangnya.
Sorak meriah memenuhi salah satu daerah di distrik A, mereka telah melihat sebuah legenda, seseorang yang mampu menggunakan skill tertinggi, Explosion.
__ADS_1
Sorakan yang meriah untuk Jell Kiyomizu.
***