
Saat ini kondisi kerajaan Athera sedang kacau akan kehancuran yang sedikit lagi menyerang mereka.
Kini distrik A di sibukkan dengan kegiatan orang-orang yang berbeda dari biasanya, banyak toko dan rumah yang di kosongkan. Semua orang sedang mengungsi dan memindahkan barang-barang mereka ke tempat pengungsian.
Di guild saat ini penuh dengan para petualang yang di sewa dan juga mengajukan diri mereka sebagai relawan untuk menghadapi Scorpio. Di dalamnya ada Lhava dan kedua wanitanya dan ada Rin juga ikut mengikuti rapat tersebut.
Rapat membahas tentang rencana untuk menghentikan Scorpio, Marina sudah memberikan perintah untuk guild agar ikut serta dalam penyerangan.
[Rencananya adalah, para petualang akan mengambil ahli dalam penyerangan setelah para penyihir selesai menghancurkan penghalang yang melindungi Scorpio.
Para penyihir adalah orang-orang yang ikut dalam kelompok penyihir yang di usulkan oleh Marina, tugas mereka adalah untuk membuat serangan sihir besar untuk menghancurkan penghalang dari Scorpio.
Dan setelah tugas penyihir selesai, maka para petualang akan mulai bergerak. Mereka akan bertugas untuk menghancurkan kaki-kaki dari Scorpio untuk membuatnya tidak dapat bergerak. Dan hanya sampai situlah tugas untuk para petualang.
Sisanya adalah untuk para ksatria kerajaan yang akan menghancurkan inti sihir dari Scorpio setelah dia lumpuh.]
Dengan selesainya penyusunan strategi, rapat di bubarkan.
(Mereka tidak ada di sini. Aku menyesal saat itu mengakuinya.)
Rin dalam hatinya, dia pergi dari tempat rapat dan bermaksud untuk keluar dari guild. Tetapi ada tembok besar yang menghalangi, tenggelam dalam pikirannya membuat Rin tidak sadar akan tembok itu, dia Lhava.
“Ah. Eh, ternyata Rin-sama.”
“Aduh. Hm, Lhava.”
Tidak menyadari keberadaan Lhava, Rin benar-benar hebat. Dia dengan sempurna menabrak Lhava.
Rin yang melihat yang dia tabrak adalah Lhava, langsung terpikirkan dengan perkataan Emma tentang duel yang pernah dia dan Jell lakukan. Dia ingin tau detail dari pertemuan kedua mereka yang di rahasiakan oleh guild dari umum.
Lhava yang kaget ketika Rin menanyakannya tentang duel itu membuat wajahnya sedikit murung, dan dia sedikit membuat senyum di wajahnya. Dia bagaikan bukan Lhava yang Rin kenal.
“Dari wajahmu itu, jadi benar kau kalah darinya?”
“Ah, benar. Aku kalah telak.”
Rin yang mendengarkannya langsung dari Lhava membuatnya tidak percaya, dia tidak habis pikir bagaimana cara Jell mengalahkan Lhava yang bahkan dia sekalipun kesusahan melawannya.
“Bisa kau ceritakan semua detailnya, aku ingin tahu.”
Rin sedikit memaksa dengan menatap langsung ke mata Lhava. Lhava terlihat jelas tidak ingin menceritakan tentang kejadian itu, dan salah satu wanita Lhava yang menyadari ketidak nyamanannya menghentikan Rin.
“Sudah cukup, aku rasa Lhava-sama tidak ingin menceriakan tentang hal itu.”
“Tidak apa, Samarima. Aku akan menceritakan semua detailnya.”
“..., Baiklah, Lhava-sama.”
Samarima mundur dan dia diikuti satu wanita lainnya membiarkan Lhava dan Rin berdua.
Lhava menceritakan semuanya kepada Rin. Mulai dari ketidak seriusan Jell dalam duel, sampai skill tingkat ‘SSS’ yang Jell keluarkan saat melawannya.
Mendengarkannya Rin sama sekali tidak bisa berhenti untuk tidak percaya. “Tidak ada satupun serangan ku yang mengenainya”, “dia tidak pernah serius melawanku”, dan “dia mengeluarkan skill tingkat tinggi, Explosion.” Lhava menceriakan segalanya.
Setelah mendengar cerita Lhava, Rin pergi. Dia tidak pergi ke arah penginapan milik Jell, tapi dia pergi ke arah gerbang untuk mengikuti gerombolan petualang yang siap untung pertempuran.
***
Sejam sudah berlalu setelah rapat guild, saat ini Scorpio terdeteksi dalam waktu 10 menit dia akan terlihat dari barat.
Dan sama dengan perhitungan, terlihat dengan sangat jelas, diujung penglihatan mereka, mereka bisa melihat sebuah besi besar berwarna hitam sedang bergerak mendekat.
Bongkahan besi besar berbentuk model kalajengking, dengan banyak meriam yang terdapat di tubuhnya. Pemandangan ini merupakan sebuah keajaiban melihat banyaknya orang yang ingin melawan benteng penghancur Scorpio.
“Wah, besar sekali. Lihat, Jell, itu besar sekali. Aku penasaran bagaimana orang-orang ini mampu mengalahkannya.”
“Nn, aku juga ingin tau itu.”
Jell dan Mai berada di gerbang distrik A, mereka berjauhan dengan grup penyihir yang sedang bersiap juga di gerbang.
Banyak sekali ksatria dan petualang yang akan melawan Scorpio, bagaikan ini merupakan tugas mereka untuk melindungi tanah air mereka hingga titik penghabisan, membuat Jell kagum akan hal itu.
“Jadi, Emma. Apa kau ingin ikut membantu?”
“Nn! Ingin. Tapi jika Onii-chan dan Onee-chan tidak ikut, itu tidak ada artinya. Jadi lebih baik aku duduk di sini dengan kalian.”
Mengusap kepalanya, Jell tersenyum mendengar jawabannya.
***
Scorpio sudah berada dalam jangkauan para penyihir, menyadari hal itu, Marina sebagai pemimpin pasukan memberikan aba-aba.
“Penyihir, bersiap!”
Dengan aba-aba itu otomatis membuat para penyihir membuat sebuah skill. Rapalan mereka di keraskan, yang membuat Jell dan lainnya mampu mendengarkannya walau dari jarak yang jauh.
“Kekuatan yang kami punya, pengorbanan yang kami berikan, untuk melindungi apa yang kami cintai, untuk menghancurkan musuh yang mencoba mengambil rumah kami. Akan kami hancurkan semua yang mencoba mengganggu, Laser Beam!”
Merapalkan mantra, skill tingkat ‘S’ di luncurkan dengan kekuatan penuh.
Laser meluncur dengan kecepatan 50 km perdetik. Kecepatannya sangat cepat dan langsung menghantam Scorpio.
Seperti yang di bahas dalam rapat, Scorpio memiliki sebuah pelindung yang melindungi tubuh aslinya dari serangan langsung, dan cara menghancurkannya hanya dengan sihir tingkat tinggi.
Laser Beam mengenai sasaran, dengan cukup lama bertabrakan langsung dengan Scorpio membuat para penyihir jatuh karena kelelahan. Laser terus bertabrakan dengan Scorpio dengan cukup lama hingga durasi skill habis.
Dan hasilnya luar biasa. Seperti yang di harapkan, pelindung yang melindungi Scorpio berhasil di hancurkan, dan sekarang giliran para petualang untuk maju menghadapi musuh utama.
Para petualang ragu-ragu untuk maju, itu tentu saja untuk membuat orang mati dengan sia-sia. Para petualang membuat wajah sulit di wajah mereka, mereka ketakutan dan tidak percaya kalau mereka bisa mengalahkan benteng penghancur itu.
“Ah, aku kecewa melihat mental lemah mereka. Kalau begini kerajaan akan hancur, loh. Hey, orang-orang bodoh, bergerak atau kalian akan mati dengan mesin itu.”
Melihat para petualang yang ketakutan membuat Mai untuk mengangkat suara. Dia mengejek mental lemah mereka, padahal para penyihir sudah melakukan yang terbaik dan mereka tidak bisa melalukan tugas mereka dengan benar. Benar-benar mengecewakan.
Jell memperhatikan mereka, dia tidak risih seperti halnya Mai yang risih dengan kelemahan mereka, Jell terlihat hanya diam memperhatikan. Jell terlalu santai untuk kondisi saat ini.
Mai yang memperhatikan sikap tenang Jell, membuat senyum.
(Fufu, di saat dia sedang serius dia terlihat sangat manis. Aku ingin menggodanya, tapi sepertinya itu bukan waktu yang tepat.
Orang-orang ini akan mati dalam waktu dekat jika mereka tidak mampu melawan ketakutan mereka, dan menurutku itu wajar karena lawan mereka yang seperti itu.)
Mai dalam dengungannya mengasihani para petualang dan untuk orang-orang yang sudah capek-capek mengatur strategi untuk penyerangan ini.
“Hah, membosankan.”
Para petualang hanya saling menatap satu sama lain di saat Marina sudah memberikan mereka tanda untuk maju.
Marina yang melihat keraguan mereka memunculkan nadi di kepalanya. Marina tidak percaya bahwa masih ada yang ragu dalam pertempuran seperti ini, dan dia dikejutkan oleh seseorang dari para petualang yang maju sambil menaiki kuda.
“Ayo!”
Dia adalah Lhava yang dengan mengendarai kuda dia berlari menuju medan perang. Dengan menggunakan pedangnya yang dia angkat, dia terlihat seperti seorang komandan pasukan.
Wajah Jell sedikit bereaksi melihat apa yang di lakukan Lhava, dia sangat sembrono untuk perang melawan Scorpio.
Tapi dia tidak sendirian, kedua wanitanya juga mengikutinya dari belakang. Dan bukan hanya mereka bertiga, ada satu orang lagi yang ikut dalam penyerangan bunuh diri Lhava, dia adalah Rin.
Menaiki Jet Pack, Rin terbang rendang mengikuti Lhava dari belakang. Rin dengan wajah tanpa rasa takut maju sambil membawa senjatanya di tangan dan ada beberapa barang lain yang sepertinya dia bawa.
Menemukan jarak yang pas antara dia dan Scorpio, Rin berhenti di udara dan langsung menembakan pelurunya ke arah Scorpio yang terdiam.
Setelah menerima serangan dari para penyihir, membuat Scorpio sedikit terhenti dan harus melalukan beberapa perbaikan darurat. Jadi selama dia diam Rin berencana akan menghancurkannya sebelum dia pulih.
Menembakan banyak peluru, Rin terlihat sangat fokus untuk melawannya. Bukan hanya peluru yang dia tembakan, ada kalanya dia akan melemparkan beberapa granat tangan yang dia bawa dan beberapa peledak.
Sama halnya dengan Rin, Lhava juga menyerang dengan penuh kekuatan. Dia menggunakan skill “Mege Sword” untuk menghancurkan kaki-kaki Scorpio. Dan juga tidak lupa kedua wanita Lhava yang juga ikut serta membantu penyerangan.
Pemandangan yang di perlihatkan mereka berempat sangat luar biasa, Jell juga mempu melihat mereka dari sini.
“Oh, si Lhava itu ternyata bukan pengecut.”
__ADS_1
Memperhatikan mereka, Mai memberikan pujiannya kepada Lhava karena dia tidak lari.
Pemandangan yang mereka berikan sangat mengesankan, tapi itu tidak membuat perubahan sama sekali di wajah Jell yang dari tadi datar menyaksikan pertempuran.
(Ah, mereka melakukan kesalahan. Ini akan berakhir.)
Wajah para petualang terdiam menatap mereka berempat yang tanpa rasa takut maju untuk menyerang Scorpio yang besarnya 10 kali ukuran mereka.
Tinggi Scorpio sekitar 17 meter, dengan panjang tubuh dari kepala hingga ekor sekitar 25 meter. Scorpio memiliki banyak bagian dalam tubuhnya dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Dan bukan hanya itu, Scorpio juga memiliki banyak skill yang menguntungkan dirinya. Dan karena hal-hal itulah yang membuat rasa prihatin Mai kepada mereka.
Entah karena perbuatan keempat orang itu atau mungkin karena rasa semangat mereka, para petualang sedang ribut dalam kelompok mereka.
Mereka mulai berteriak semangat dengan mengangkat senjata mereka masing-masing. Mengangkatnya tinggi-tinggi memberikan kesan kelompok viking yang siap untuk menyerbu.
(Rasa semangat merupakan salah satu bagian unik dari manusia. Tapi, mari kita lihat, sampai mana itu bertahan.)
Jell terus memfokuskan pandangannya ke arah para petualang dan bukan pada keempat orang yang sedang menahan Scorpio.
Para petualang sekarang menaiki kuda mereka masing-masing, dan ada juga yang tidak menaiki kuda karena keterbatasan kouta.
Berlari dengan semangat yang membara di jiwa mereka, para petualang sampai melupakan apa dan siapa yang mereka lawan. Benteng penghancur setinggi 17 meter masih diam memperbaiki dirinya, dengan kondisi itu membuat mereka berusaha mengalahkannya sebelum perbaikan selesai.
Rin yang melihat semangat juang para petualang, membuat senyum di wajahnya. Dia terlihat lebih bersemangat setelah melihat bantuan yang datang.
(Dengan ini, tanpa adanya dia rencananya akan berhasil. Kami akan menang!)
Rin semakin percaya akan kemenangannya, akan tetapi dia tidak tau apa yang sebenarnya yang dia lawan. Sebuah benteng bergerak yang pernah memusnahkan satu negara, tidak bisa di anggap remeh begitu saja.
“Eh, mereka jadi makin semangat. Tapi musuh seperti itu juga sangat merepotkan, ya. Aku jadi ingin melawannya.”
Scorpio yang hanya diam memperbaiki dirinya dari dalam, sedangkan para petualang yang sedang berusaha menghancurkan kaki-kakinya, memberikan pemandangan tersendiri bagi orang-orang yang sedang memperhatikan pertempuran itu.
Marina masih membuat wajah sulit, tapi kesulitan itu sudah sedikit memudar saat dia melihat para petualang yang mulau menyerang.
(Dengan ini, kami pasti akan berhasil!)
Rin yang sedang menyerang tidak menghabiskan semua waktunya untuk menyerang satu titik, dia juga memperhatikan di sebelah mana bagian dari Scorpio yang memiliki perlindungan lemah dan menjadi target empuk baginya.
Wajahnya berubah sulit karena masih tidak menemukan celah di kaki besi tebal berwarna hitam itu.
(Ini aneh, kenapa dia tidak bergerak sama sekali? Padahal ini sudah cukup lama untuk memulihkan tenaganya untuk menyerang balik. Tapi kenapa dia hanya diam saja.)
Sikapnya masih sangat tenang walaupun dalam kondisi yang sangat sulit seperti ini. Rin masih mengitari dan mencari semua celah untuk melalukan serangan telak, tapi dia masih belum mendapatkannya.
(Pemulihan yang lambat, apa dia memang sedang memulihkan tenaganya untuk bangkit, atau mungkin?!)
Wajahnya yang tenang seperti putri es kini berubah pucat. Bagaikan semua ketenangannya tadi hanyalah sebuah ilusi, Rin saat ini bagaikan orang yang habis melihat sesuatu yang sangat mengerikan.
Jell menyadari perubahan wajahnya dan entah kenapa dia bereaksi akan hal itu.
“Dia menyadarinya.”
“Kau benar.”
Jell mengatakannya dan Mai menjawabnya dengan santai sambil dia melihat mereka. Jika saja ada orang yang melihat ketenangan yang di miliki kedua orang ini, sudah pasti akan ada yang mengatakan bahwa mereka berdua lah yang sebenarnya membangkitkan Scorpio dari tidur lelap.
Bahkan Emma yang berada di dekat mereka mulai merasa takut karena Kedua orang ini sangat tenang dan mereka juga memberikan komentar bagaikan mereka sudah tau apa yang akan terjadi.
***
Saat di BOA, ada satu dari banyak story yang Jell selesaikan yaitu mengalahkan sebuah robot raksasa. Dalam story, Jell di haruskan menahan serangannya bersama dengan banyak NPC yang juga terlibat. Dan pemandangan yang dia lihat saat ini terlihat sangat mirip dengan misi itu.
(Di BOA ada misi untuk mengalahkan sebuah robot raksasa, robot itu memiliki banyak skill dan levelnya mencapai level 120.
Untuk mengalahkannya, aku harus menghancurkan perisai yang melindungi dirinya dari serangan fisik, dan di susul untuk menghancurkan senjata yang dia gunakan.
Tapi melalukan itu tidak semudah yang di pikirkan. Robot itu sangat kuat dan cerdas, bukan hanya itu dia juga memiliki banyak skill. Jadi, apakah story itu merupakan alasan pria misterius itu untuk mengirimkan Scorpio ke sini?)
Pemikiran seperti itu memenuhi kepala Jell, serangan Scorpio bukanlah sebuah kebetulan dan tentu saja Jell tidak akan berpikir ini hanyalah kebetulan.
Ada pihak lain yang menggerakkan Scorpio dari balik layar, dan jika benar tidak ada sosok lain selain sosok pria misterius yang pernah mereka temui sebagai pelakunya.
Ada berbagai kemungkinan yang selalu terjadi di dunia ini, dan salah satunya adalah adanya seorang penghianat.
Banyaknya orang yang tidak sengaja berkontak langsung dengan mereka yang membuat pria misterius dapat dengan mudah mengawasi mereka.
***
Rin yang merasa adanya hal buruk yang terjadi, mulai mengambil jarak dari Scorpio. Dia terbang setinggi dua meter dari tinggi Scorpio, dan dia mulia mengelilingi kembali benteng itu dan tidak menemukan adanya keanehan.
Bagaikan mereka hanya menyerang bangkai robot, Scorpio tidak membuat sebuah pergerakan sama sekali.
Namun seketika hal terburuk pun terjadi. Sebuah bulatan kaca yang berada di bagian kepala Scorpio yang membentuk mata, menyala merah.
Scorpio yang tadinya diam tak bersuara bagaikan rongsokan, kini di dalamnya terdengar bunyi mesin yang sangat berisik.
Orang-orang yang ada di situ kaget akan apa yang terjadi, seketika melihat Scorpio bangkit, mereka semua terdiam membatu.
Scorpio mengangkat satu kakinya dan diikuti kaki lainnya, dia berdiri dengan tingginya 17 meter.
Memandangi Scorpio yang bangkit, wajah Marina berubah pucat. Bukan hanya itu, pelindung yang melindungi Scorpio dari serangan langsung juga kini telah pulih. Dengan begitu, serangan fisik kini tidak akan berpengaruh terhadapnya lagi.
Rin membuat wajah sulit, dia tidak percaya melihat bahwa ternyata selama ini Scorpio sedang memperbaiki seluruh pelindungnya. Kini rencana yang di susun oleh Marina gagal total.
Para petualang masih terdiam membatu memandangi Scorpio yang bersiap membalas serangan mereka. Tapi berbeda dengan Lhava, dia berteriak dan menyadarkan petualang lain.
Rin juga mencoba untuk menyadarkan mereka, sambil terbang mundur menuju pasukan belakang. Rin ingin menemui Marina untuk meminta langkah lanjutan.
“Onee-sama, apa yang harus kita lakukan sekarang. Dia telah memperbaiki pelindung yang mampu menahan serangan langsung. Kita harus menyerangnya lagi dengan sihir untuk menghilangkan pelindungnya.”
Rin memanggil Marina dan memberikan usulan untuk dilakukan, sambil dia melihat para penyihir yang sedang beristirahat di tembok-tembok gerbang.
Tapi, jawaban yang Marina berikan tidak seperti yang Rin harapkan. Dia menundukkan wajahnya sambil mencengkeram kuat tangannya, dapat di lihat mengalir darah dari tangannya.
Rin yang melihatnya tidak percaya, Marina adalah orang yang sangat berbakat. Selain kakak laki-lakinya, Marina Lah orang kedua yang paling pintar dan berbakat yang dia kenal.
Marina mampu dengan mudah mengolah informasi sulit dan mampu memberikan sebuah jawaban atas pertanyaan yang bahkan orang dewasa pun kesulitan untuk memecahkannya.
Marina sejak kecil sudah di ajarkan berbagai macam pendidikan. Mulai dari ilmu pedang, pengetahuan dasar, politik, dan lain-lain. Oleh karena itu, Marina merupakan orang yang selalu memberikan informasi dan strategi ketika kerajaan mengalami perang.
Dan tentu saja sebagai anak termuda, Rin sangat mengagumi kakak perempuannya. Tapi saat ini kakak yang selalu dia kagumi tidak dapat menyelesaikan masalahnya.
Marina terjatuh dalam kehancuran. Dia tidak percaya bahwa semua strategi yang sudah dia pikirkan matang-matang dapat dengan mudah di hancurkan. Mereka bahkan tidak dapat menemukan titik lemah dari Scorpio.
“Ini semua telah berakhir, ini akhir bagi Athera.”
Marina dengan kehancuran yang dia terima, kesalahan yang dia lakukan, dengan mudah mengatakan itu. Tapi, dibandingkan dengan Marina yang jatuh, Rin kini bangkit dan pergi dari tempatnya.
“Kau, mau pergi kemana.”
Marina yang melihat adiknya yang pergi, menanyakan bahwa dia akan pergi kemana di saat situasi sudah menjadi kacau. Tidak ada lagi harapan, tidak ada lagi tempat sembunyi, kini Athera akan menjadi satu dengan tanah.
Tapi jawaban yang Rin berikan berbeda dengan apa yang dia pikirkan.
“Aku akan meminta bantuan. Masih ada harapan, dan aku percaya itu.”
Matanya terbuka lebar melihat Rin yang mengatakan hal itu pada dirinya. Dia yang selalu mendapatkan perilaku terbaik melebihi adiknya, dan kini dia malah di ceramahi dalam kondisi yang menyedihkan seperti ini.
Marina sekali lagi mencengkeram tangannya, dia menangis. Dengan kata-kata seperti itu tidak akan mengubah kenyataan.
Meminta bantuan kepada siapa lagi, di saat semua petualang dan ksatria berbakat saja tidak mampu menanganinya.
Perkataan Rin tidak membuat hati Marina membaik, tapi dia makin jatuh dalama keputusasaan.
...
Para petualang yang sadarkan kini mereka sedang berlarian bagaikan sarang semut yang dia hancurkan. Mereka berlarian menjauh dari kematian yang tepat berada di mata mereka, dan tidak juga untuk Lhava.
Lhava dengan kudanya lari dari Scorpio, dia ketakutan dengan keringat dingin di wajahnya. Dia tidak percaya bahwa mereka akan gagal untuk menghancurkan kaki Scorpio, kini yang harus di lakukan adalah lari.
Di ikuti oleh kedua wanitanya, mereka lari dari Scorpio yang bangkit yang siap membalas serangan mereka.
__ADS_1
Scorpio yang bangkit dan melihat para petualang berlarian, tidak membiarkan mereka begitu saja. Dengan meriam yang ada di tubuhnya, dia menembakan peluru yang dapat menghabisi musuhnya dengan mudah.
Para petualang yang melihat serangan yang akan di keluarkan oleh Scorpio, membuat mereka semakin panik dan berlari semakin kencang. Namun, sayang sekali untuk mereka yang tidak memakai kuda, banyak dari mereka yang sudah tertembak dan mati.
Peluruh yang di tembakan menciptakan ledakan kecil dengan serangan arena yang mematikan. Jadi walaupun serangan pertamanya tidak kena, masih ada ledakan kedua yang menyusul.
Suara orang-orang dapat terdengar sampai di tempat Marina berada, melihat seberapa brutal Scorpio membantai petualang itu, sudah cukup membuat dia berhenti untuk berusaha.
Teriakan terjadi di mana-mana, tangisan, keputusasaan kini memenuhi area pertempuran. Rin dapat dengan mudah mendengar suara-suara itu, kematian sia-sia, membuat Rin berwajah sulit. Dia sedang berlari mengitari tembok menuju menara di sebelah gerbang.
Tak hanya para petualang yang jatuh dalam keputusasaan, kini orang-orang yang melihat pertempuran juga melakukan hal yang sama.
Mereka berlarian dan menjauh dari gerbang. Banyak dari mereka langsung memindahkan dan membawa barang-barang mereka yang mereka tidak bawa saat pengungsian.
Rin yang berlari di tembok di keliling oleh keputusasaan dari semua arah, sebelah kanannya ada para petualang yang berteriak berlarian dari kematian, dan sebelah kirinya banyak orang-orang yang sudah pasrah akan kematian yang sedikit lagi menimpa mereka.
Namun itu tidak membuat lari Rin melambat, dia malah semakin cepat untuk berlari menuju menara sebelah. Dia tidak menggunakan Jet Packnya, karena itu merupakan peralatan yang menurutnya merepotkan, dia sudah melepaskannya sejak bertemu dengan Marina.
Di dunia ini selain menggunakan Jet Pack sebagai alat transportasi untuk terbang, ada juga beberapa alat lain. Yang paling terkenal ada sepatu boots yang dapat mengeluarkan sihir angin, yang dapat membuat orang terbang dengan mudah bagaikan berjalan di tanah.
Tapi dalam pertempuran ini, Rin tidak menggunakannya. Dia terlalu memandang remeh musuhnya dengan menggunakan alat biasa.
Dan untuk senjata yang dia gunakan juga sama dengan senjata yang dia pakai saat melawan Jell, senjata yang dia gunakan bisa di katakan lumayan kuat, tapi masih lebih kuat pedang milik Lhava.
Rin tidak menggunakan peralatan tempur dari kerajaan. Padahal sebagai keluarga kerajaan, menggunakan peralatan seperti yang dia pakai itu sama dengan menggunakan sampah.
Untuk para ksatria biasa saja, mereka menggunakan peralatan terbaik mereka saat ini dan masih saja tidak sanggup untuk menembus pertahanan Scorpio.
(Kesalahan, aku terlalu meremehkan musuh. Hanya karena kami dalam kelompok besar, aku sampai di buat ceroboh seperti ini.)
Rin dalam perjalanannya, dia memaki dirinya sendiri karena terlalu naif. Dan akhirinya dia sampai juga di menara sebelah dari gerbang.
Dan yang sedang ada di sana adalah, Jell, Mai, dan Emma yang dari tadi mengawasi dari situ.
***
Rin sampai di menara, dia kelelahan dengan nafas yang sulit. Jell yang berada di menara itu memperhatikan kedatangannya, dan menatapnya menanyakan ada perlu apa dia datang kemari.
“Wah, tuan putri. Ada perlu apa anda datang ke sini?”
Rin yang di panggil dengan nama tuan putri oleh Jell, membuat dia kesal. Dia mengerutkan wajahnya, menatap Jell dengan tajam dia berdiri di depannya.
Berdiri di depannya dengan menatap matanya secara langsung. Tentu saja Rin harus mengangkat sedikit kepalanya kerena tinggi badan mereka yang berbeda.
“Jell, aku mohon pinjamkan kami kekuatanmu!”
Rin tanpa basa-basi dia langsung mengatakan alasan kedatanganya, dia tiba-tiba menunduk dan mengatakannya membuat Jell terkejut melihat sikapnya. Menundukkan Kepalanya sama seperti saat dia meminta Jell untuk ikut serta dalam sayembara, kini terulang kembali dalam ingatannya.
“Menyedihkan, ya.”
Jell yang menerima sikap seperti itu pergi dari hadapannya. Dia pergi dari Rin yang menunduk dan melihat keadaan pertempuran saat ini.
Mendapatkan jawaban seperti itu membuat Rin berwajah sulit.
Satu-satunya harapan yang dia percayai, menolak permintaannya. Rin dari awal memang sudah mengakui kekuatan Jell yang di luar kata normal, Jell merupakan sosok yang sangat tinggi menembus awan. Bahkan dia akan mengakuinya, bahwa Jell jauh lebih kuat dari kakak laki-lakinya.
Dan karena kepercayaan itu, membuat dirinya berlari sekuat tenaga untuk meminta pertolongan dari orang yang dia akui, tapi dia di tolak dengan cara yang menyakitkan.
Namun, tekad dalam hatinya tidak hancur. Dia bangkit dan berdiri menatap Jell dari depan sekali lagi, menyamakan pandangan mereka, dia menatap Jell dengan tajam.
Jell melihat tekad yang sangat kuat dalam tatapan yang Rin berikan, tapi itu sama sekali tidak mempengaruhi Jell. Jell dengan mudah memalingkan wajahnya dan menatap lapangan pertarungan sekali lagi.
“Kenapa?”
“Hm?”
Tidak mendapatkan jawaban dari memperlihatkan tekadnya, Rin kali ini benar-benar jatuh dalam keputusasaan. Dia tidak tau kepada siapa lagi dia ingin meminta bantuan, hanya dialah satu-satunya harapan untuk menyelamatkan Athera dari kehancuran.
“Apa karena sikapku saat itu menyakitimu? Kalau begitu aku ingin minta maaf, jika permintaan maaf ku ini tidak berlaku, aku akan memberikan segalanya agar kau memaafkan ku.”
Bagaikan tekadnya tadi hanyalah khayalan semata, Rin sebenarnya sudah sangat putus asa dalam menghadapi semua hal. Dia tidak dapat berbuat banyak untuk mengalahkan Scorpio, dan dia telah menyakiti perasaan Jell. Dia ingin mengulanginya sekali lagi.
“Benar-benar sangat menyedihkan, ya. Kau dengan mudahnya membuang kami, dan tiba-tiba kau datang meminta bantuan. Kau pikir kau siapa.”
Mendengar perkataan itu sangat menusuk bagi Rin.
“Kau pernah menunduk seperti itu dan kami menolong mu. Tapi apaan itu, tiba-tiba kau membuang kami bagaikan barang. Kau sangat egois.”
“Aku minta maaf! Aku akan mengabulkan semua yang kau minta, jadi aku mohon. Hanya kaulah, satu-satunya yang bisa menolong kami.”
Mengatakan rasa bersalahnya Rin tidak dapat menahan air matanya.
Jell menatap Rin dengan tajam, perkataannya untuk akan mengabulkan semua permintaannya, membuat Jell tertarik.
Mendekatinya dengan perlahan, Jell sedikit membuat tekanan yang dengan jelas dapat Rin rasakan.
“Akan mengabulkan semua permintaanku, ya?”
Rin mendengarkan, dia membuat tatapan tajam bahwa dia akan memegang perkataannya tadi. Dengan percaya diri dan tekad yang kuat dia mengkonfirmasi pertanyaan Jell.
Jell yang mendapat jawabannya langsung menyeringai, wajahnya yang menyeringai tiba-tiba membuat Rin merinding. Dia tidak melihat Jell yang dia kenal, bagaikan Jell tiba-tiba berubah, saat ini Jell terlihat sangat jahat dengan senyum menakutkan.
Jell mendekatinya yang membuat Rin mundur dari tempatnya, Jell tidak membiarkannya lepas, dia mendekati Rin sampai dia terpojok di dinding menara. Mendorongnya ke dinding, Jell mengunci jalan keluar Rin dengan tangannya.
Rin yang menerima perlakuan seperti itu tidak dapat mengontrol dirinya, wajahnya tiba-tiba memerah.
Jell mendekatinya lebih dekat lagi, tangannya memegang dagu milik Rin dan Rin secara naluri memalingkan pandangannya. Tapi Jell tidak membiarkan itu, dia dengan kasar membalikkan pandangan mereka lagi, tatapan Jell sangat tajam menusuk matanya. Dengan suara kecil yang berbisik di telinganya, Jell berkata.
“Kalau begitu, aku menginginkan tubuhmu.”
Mendengar permintaan Jell membuat Rin makin memerah, dia sangat merah seperti apel. Tapi, melihat Jell tertarik dan menerima permintaannya, dia tidak akan melepaskannya. Untuk membuat Jell berpihak padanya, membayar dengan tubuh bukanlah biaya yang mahal.
Dia membalas perkataan Jell dengan tekad yang sangat kuat, bagaikan tekadnya sekuat dinding pelindung, dia menjawab Jell.
“Baiklah.”
Untuk mendapatkan kekuatan darinya, Rin dengan mudah memberikan apa saja bahkan walau harus membayarnya dengan tubuhnya. Itu merupakan sebuah tekad yang sangat kuat dan orang seperti itu sangat langka bagi Jell.
Tapi, berbeda dengan apa yang Rin harapkan, tiba-tiba suasana menjadi sangat aneh.
“Pfu, hahaha! Apaan itu, apa kau melihatnya, Mai. Wajahnya sangat merah.”
“Hahaha! Aku melihatnya, melihatnya dengan sangat jelas.”
“Eh?”
“Ya ampun, kalian berdua. Itu sangat berlebihan.”
Emma sambil menggelengkan kepalanya.
Mereka tertawa. Bukan tertawa biasa, Jell dan Mai tertawa terbahak-bahak. Mereka menertawakan Rin yang dengan serius menerima permintaan Jell, padahal mereka berpikir bahwa permintaannya akan di tolak, mengingat sikap Rin yang kasar.
“Apa...”
“Ah, maaf. Rin, aku hanya bercanda. Aku tadi bermain dengan Mai, karena aku kalah dia memintaku untuk membuatmu seperti itu.”
“Apa...”
Rin menundukkan kepalanya, aura hitam muncul di wajahnya.
“Awalnya aku menolak loh, tapi Mai memaksakannya, jadi mau bagaimana lagi. Jadi ini salahnya.”
“Eh, kenapa aku. Sudah jelas kau yang melakukannya.”
Rin yang di hiraukan, membuatnya mengeluarkan aura hitam yang tiba-tiba meledak dari dirinya, wajahnya menghitam. Mengambil langkah, dia dengan sekuat tenaga memukul wajah Jell, pukulan telak tepat di pipinya.
“Itu balasan karena kalian memainkan perasaan orang.”
Mai kaget dengan pergerakan Rin tadi, dan melihat Jell tumbang di sampingnya. Emma yang hanya memperhatikan dari tadi, hanya menggelengkan kepalanya.
***
__ADS_1