BATTLE OR ALIVE

BATTLE OR ALIVE
Chapter 07 : Holiday For The Strongest


__ADS_3

Melanjutkan sisa perjalanan, Jell dan rombongan akhirnya sampai di sekitaran daerah desa Manyur.


Dapat terlihat jarak mereka dengan desa hanya sekitar puluhan meter, Jell dan rombongan memilih untuk mengawasi situasi desa terlebih dahulu, agar bahaya gelombang kedua bisa saja datang.


Jell berpikir bahwa masih ada beberapa bandit di desa dan bisa saja menyerang mereka, walaupun tidak akan berefek apa-apa, akan tetapi waspada juga diperlukan.


Jell mencoba menanyakan informasi tambahan dari bandit itu dan reaksinya sama dia hanya meraung-raung. Tampak tidak ada pilihan lain, Jell dan rombongan memutuskan untuk pergi ke desa Manyur.


Memasuki wilayah desa, dapat dilihat ada gerbang kecil yang sama dengan yang dimiliki desa Yull, tetapi ada tambahan tower tinggi di dalam gerbang.


Memasuki wilayah desa, mereka diminta untuk membayar pajak masuk sebesar 500 rumiah, mahal! Akan tetapi Jell dan Mai tidak perlu melakukan itu karena Olokoto sudah membayarnya juga.


Memasuki desa, tampak desa itu lebih sunyi dari yang Jell dan Mai bayangkan, berbeda dengan situasi ramai di desa Yull. Hanya sedikit orang yang keluar dan beraktifitas, walaupun begitu kondisi mereka pasti sangat lesu dan sepeti tidak bernyawa.


Mereka berjalan dengan berayun-ayun lemas, berjalan menuju rumah kepala desa, Jell dengan berani memimpin kelompok itu dan Olokoto berada di sampingnya.


Mengetuk dan di buka pintu rumah itu, terlihat yang membukanya adalah anak laki-laki berusia 4-6 tahun, Jell dengan ramah menyuruh anak itu untuk memanggil orang tuanya, yang tidak bukan ialah kepala desa.


Menunggu lima menit, seorang laki-laki dengan umur sekitaran 36 tahun keluar dan ada perempuan berusia sekitar 28-30 tahun di sisinya, dan seperti yang di harapkan dari orang itu, dia tampak pucat dengan apa yang dia lihat.


Mai memegang kepal ketua bandit itu, kondisi bandit itu lusuh dan matanya bengkak karena menangis.


“Apa-…” adalah yang dia bisikkan saat dia melihat bandit itu, seperti yang Jell duga, dia mengenal orang ini. Jell dengan senyum mengambil bandit itu dari tangan Mai menuju kepala desa Manyur.


“Ahaha… maaf mengganggu pak, layanan Travel Staples telah sampai dengan selamat … Namun ada sedikit kendala yang terjadi, namun tak usah cemas karena barang yang akan kalian beli terjamin keamanan dan kualitasnya … Ini kebetulan ada orang yang ingin bertemu dengan Anda.”


Jell dengan tersenyum menyapa kepala desa dan menunjukkan bahwa mereka selamat. Kepala desa hanya berkeringat dingin saat dia melihat reaksi dari Jell dengan senyumannya yang menakutkan, senyuman yang tekanannya sama dengan tekanan yang pernah dia keluarkan untuk bajingan di guild hari itu.


“Barang pesanan telah sampai ya pak. Baiklah … Saatnya membayar.”


Jell masih dengan senyum menakutkan menyampaikan perkataannya, kepala desa hanya terdiam dan tiba-tiba bersujud di depan Jell.


“Maaf! Kami saat ini tidak bisa membayarnya, kami mengalami kekurangan ekonomi dan kami tidak punya uang untuk membayar.”


Kepala desa itu sujud di depan Jell, reaksi Olokoto dan teman-temannya kaget, dan juga istri dan anak dari kepala desa itu juga kaget dengan apa yang dilakukan orang ini.


Jell hanya menatap dan tidak mempedulikan itu, Jell mencoba mengangkat orang itu dan menyuruhnya untuk tegak agar dia bisa melihatnya.


Jell hanya tersenyum sama seperti sebelumnya dan menyampaikan perkataan yang terkesan sangat tidak manusiawi.


“Tidak, tidak… Anda telah memesan barang dan tugas kami menyediakan dan mengantarnya agar bisa Anda bayar. Dan jika Anda malah melakukan itu, siapa yang akan membayar kerugian ini?”


Kepal desa hanya memandangnya dengan kosong, Jell sekali lagi tersenyum dan sekali lagi mengatakan sesuatu kepadanya.


“Jika kalian tidak bisa membayarnya … Kenapa kalian malah memesannya? Bukankah itu bodoh? dan juga membayar bandit untuk menyerang kami, Anda memang orang yang hebat ya… Jadi ayo silakan bayar. Saya tidak mau tau kondisi Anda saat ini.”


Wajah Jell langsung berubah dengan ekspresi suram dan tatapan tajam. Kepala desa tiba-tiba pucat dan langsung berteriak keras bagaikan orang kesurupan.


Olokoto dan lainnya kaget karena teriakannya dan heran dengan itu, Kepala desa itu masih belum menyerah, dia bersujud dan memohon di kaki Jell.


Untuk mendukung tindakannya kepala desa menyeru dan mengatakan bahwa para banditlah yang salah. Kepala bandit yang tadinya lesu seketika tersadarkan atas tuduhan itu, dan mereka berdua mulai beradu mulut atas pertanggung jawaban masalah ini.


Istri kepala desa belum memahami kondisi atas tindakan pengecut suaminya dan meminta penjelasan, Mai menanggapinya dan menceritakan apa yang telah suaminya lakukan.


Reaksinya kaget dengan kenyataan itu dan memandangi suaminya, istrinya tidak bisa melakukan sesuatu dengan kondisi ini dan memutuskan tidak membantu suaminya, kepala desa terkejut dengan kenyataan bahwa istrinya tidak akan membantu dan itu membuat dia semakin menggila.


Sudah 3 jam dari kejadian di rumah kepala desa Manyur. Jell dan rombongan terlihat berjalan berlawanan dengan arah desa dan pergi ke arah sebelumnya, tampak bahwa mereka sudah meninggalkan desa dan pulang ke ibukota.


Dalam kondisi ini kerugian besar telah ditanggung oleh pihak desa Manyur, dengan total hutang sebesar 500,000 Rumiah.


Dalam rombongan, wajah Jell tampak tidak puas dan gelap. Olokoto yang berada di kereta depan memperhatikan itu, dan menanyakan ekspresi dan sikap Jell kepada Mai yang berada di arah lain dari Jell.


Mai menjawab, itu merupakan salah satu sikap paling di benci oleh Jell, yaitu tidak bertanggung jawab. Jell membenci kepala desa itu dan tidak memberikan ampun kepadanya karena dia telah membawa rakyatnya yang tidak tau apa-apa dan menyewa bandit untuk menyerang mereka.


Jell membencinya karena menyalahgunakan posisinya dan merasa tidak peduli dengan desa itu. Jika di biarkan, tidak salah lagi dalam waktu beberapa bulan ke depan, desa Manyur akan hilang dari peta kerajaan.


Olokoto yang mendengarkan itu mulai sedikit memahami Jell. Jell yang memiliki sikap baik, ramah, cerah berubah menjadi Debt Collector dengan sikap bajingan, benar-benar berubah 180° dari sikapnya yang baik.


Merenungkan apa yang dia bayangkan tentang Jell, Olokoto tersenyum kecil. Sama dengan jadwal mereka sebelumnya, mereka melakukan istirahat setiap satu jam. Akan tetapi, karena waktu yang berbeda, mereka diharuskan untuk bermalam di sekitaran jalan sekaligus mengistirahatkan kuda mereka.


Malam tenang dengan bulan sabit menghiasi malam, suara angin yang bertabrakan dengan dedaunan pohon membuat suasana menjadi lebih misterius.


Dapat di lihat terdapat 3 tenda di sana, di balik tenangnya tenda-tenda itu ada 2 orang yang sedang duduk berdampingan, yang satu sedang menyandarkan kepalanya ke bahu yang satunya, tapak romantis degan perpaduan api unggun di depan mereka.


“Jell~, kenapa kau tadi sangat kasar pada kepala desa?”


Mai membuka percakapan di malam itu dan sambil memencet-mencet hidung Jell, tetapi tanggapan yang dia terima di luar dari itu, Jell tampak tidak menjawab dan hanya diam menatap api unggun.


Mai yang memperhatikan itu mulai secara kasar memainkan hidung Jell, dan sama seperti sebelumnya, dia tidak menjawab sama sekali.


Karena kesal diabaikan, Mai langsung membanting tubuhnya ke arah Jell dan membuat mereka berdua terjatuh dari tempat duduk. Jell yang terkena dampak paling besar merasa sakit di bokong dan marah pada Mai dengan tindakan idiotnya.


“A-apa yang kau lakukan sialan…”

__ADS_1


“Akhirnya kau menjawab juga.”


Mai tersenyum karena sedari tadi di abaikan, dan mulai mengusap-usap wajahnya ke dada Jell yang sedang terjatuh.


“Jeelll~…”


Jell yang keadaan di luar kondisinya, hanya membuat senyum kecut dan mengusap-usap kepala Mai. Mai bersiap sangat manja di pelukannya dan terus mengusapkan wajahnya ke dada Jell, untuk sementara itu meninggalkan aroma, aroma khas dari Mai. Aromanya lembut dan Wangi menenangkan.


Pagi telah tiba, dan kelompok Jell meneruskan perjalanan menuju ibukota, sesampainya di ibukota tepat jam 10 pagi. Jell, Mai, Olokoto dan gerombolan berdiri di sisi lain gerbang, Olokoto mengucapkan terima kasih kepada Jell dan Mai.


Olokoto dan teman-temannya sudah berada jauh dari pandangan mereka. Mai melambaikan tangan dengan kepergian mereka, sedangkan Jell hanya memandanginya dengan kosong, memutuskan langkah selanjutnya, Mai memegangi tangan Jell dan berlari menuju kantor guild.


Sesampainya di sana guild ramai seperti yang di harapkan, ada banyak petualang dan ada beberapa kesatria yang terlihat makan di kedai sebelah guild.


Berbeda dengan yang pernah terjadi, para petualang pria tidak berani memandangi mereka berdua, dan seperti yang di harapkan dari petualangan perempuan, mereka seketika berteriak “Kyaa-” saat melihat Jell.


Tidak mempedulikan reaksi mereka, Mai terus menarik tangan Jell dan pergi ke arah counter. Bertemu dengan Yinn dan menyerahkan lembaran quest yang sudah di konfirmasi selesai oleh Olokoto.


Yinn melihat lembaran dan tersenyum kepada mereka karena telah melakukannya dengan baik, tetapi dia melihat ada yang kurang dari kondisi ini, yaitu Jell terlihat tidak banyak bicara dan Mai yang lebih aktif mewakili.


Biasanya Mai akan pergi ketempat makan dan memesan makanan ringan dan memakannya di sana sambil menunggu Jell selesai untuk mengurus hasil dan imbalan quest.


Dan saat ini Mai lah yang mengurusnya dan Jell tampak tidak melakukan apa-apa. Berpamitan dan pergi ke penginapan mereka, Jell masih saja suram saat berbaring di kasur satu set itu.


Mai memandangi dan tersenyum, sama dengan yang pernah dia lakukan sebelumnya, Mai melompat ke arah Jell yang sedang terkapar di kasur, bagaikan dia berenang di lautan kasur yang lembut.


Berteriak lebih dari yang semalam, Jell tampak sesak dan kesakitan di bagian badannya. 


“Kha!- … Sialan! apa yang kau lakukan tiba-tiba.”


Mai hanya tetap berbaring sambil berputar-putar di kasur manusia itu, dan dengan senyum longgar di wajahnya, wajah melambangkan kenyamanan dan ketidak pedulian kepada Jell yang kesakitan, dia terlihat menikmati saat-saat itu.


Jell memandanginya menahan pergerakannya dan seketika melakukan posisi berbahaya.


Jell berada di atas dan Mai berbaring telentang di bawahnya, Jell mengunci tangannya dan mengunci perlawanan. Posisi yang berbahaya, tetapi Jell hanya tetap memandangi wajah Mai dengan tajam. Wajah mereka berdua hanya sekitar beberapa cm maka akan melakukan ciuman.


Wajah Mai memerah dan berasap kuat, sedangkan Jell hanya menatapnya dengan sangat tajam, keduanya hanya menatap satu sama lain dan tidak saling menyerang maupun bertahan.


“Apa yang akan kau lakukan sekarang…”


Jell menanyakan itu dengan suara kecil terhadap serangannya kepada Mai. Mai dapat merasakan hembusan nafas Jell di wajahnya, itu menyegarkan.


Mai hanya terdiam tidak bisa bereaksi. Dia bagaikan telah pasrah dan akan membiarkan dirinya di ambil penuh oleh Jell. Dan menjawab pertanyaan itu dengan nada yang sama.


“Kau … Mau menghamili ku sekarang? … Tanpa pernikahan, apa akan baik-baik saja dengan itu…?”


(TN : Di sini Saya menggunakan kata itu untuk mendukung kondisi yang terjadi, jika menggunakan bahasa Indonesia kesannya serasa tidak pas, dan lebih pas jika menggunakan kata tersebut. Baka \= bodoh.)


Jell merespon jawaban ngawur Mai dan tetap dengan aura yang sama, dan akhirnya Jell melepaskan kuncianya dan duduk di kursi yang ada di kamar itu, memegangi kepalanya, Jell terlihat menyesal karena membuat kesan yang tidak baik sambil menghela napas panjang.


Berkata, “Apa yang aku lalukan, walaupun itu hanya bercanda, dia tetap akan marah kalau sudah seperti itu. Mungkin.” Adalah apa yang Jell gumamkan di hatinya. Mai biasanya tidak perduli dengan hal-hal gila, namun jika yang Jell lalukan sudah sampai seperti itu, tampaknya itu terlalu berlebihan untuk sekedar main-main.


Mai melihatnya, bangkit dan menatapnya dan berbicara.


“Sikapmu tidak berubah sama sekali ya. Padahal ini dunia lain, akan tetapi kau masih saja sama dengan yang dulu … Dan aku tidak membenci sikapmu itu … Kau sebenarnya marah hanya karena kepala desa itu melibatkan warganya bukan? Dan di situlah alasan kau marah.”


“Mai…”


Jell tersenyum kecil sambil melihat Mai yang memahami dirinya. Jell dan Mai sudah hidup bersama selama 10 tahun, dan tentu saja Mai sudah tau apa yang dia sukai dan tidak Jell sukai, dan Jell pun sebaliknya.


Kedekatan mereka sudah benar-benar lengket, sampai-sampai bisa di katakan Jell tau tiga ukuran milik Mai, itu karena Mai yang sering berpakaian tidak senonoh di kamarnya, dan Jell sudah sering memukulnya karena tindakan tidak pantasnya itu.


Mai mendekati Jell yang duduk dan mendudukinya lagi dahi keduanya bertemu satu sama lain, dan mereka tertawa dan tersenyum longgar.


 Di saat sepeti itu Jell mampu dan begitupun Mai mampu, mengatakan kepadanya dia mencintainya. Untuk sesaat Jell merasa sangat senang dan ringan karena kenyamanan yang diberikan Mai, dan hal-hal itupun berlalu hingga malam datang.


Pagi cerah keesokan harinya. Jell dan Mai pergi ke guild untuk membayar hutang Jell dari pedang beberapa hari lalu, dan setelah itu, mereka pergi lagi menuju toko pakaian untuk membeli pakaian milik Jell.


Jell kaget dengan apa yang dia lihat, manajer toko itu berlari menuju Mai yang dilihat masuk ke tokonya.


Jell tersadarkan karena dia melihat Mai dan pemilik toko itu tampak akrab, memiliki reaksi sama dengan Mai saat pertama bertemu dengan manajer toko.


Manajer toko dengan senyum kaget melihat tamu yang di bawa Mai ke tokonya. 


“Ciss~ Amaran-San aku datang berkunjung.”


“Arara~? Kau membawa pacarmu ke toko ku?”


“Bisa di katakan begitu. Hehe… bagaiman, menurutmu?”


“Maa~ Dia benar-benar tampan. Dasar~ kau kesini bukan hanya menunjukan itu kan?”


“Kami datang untuk membeli pakaian untuknya.”

__ADS_1


“Baiklah! Ayo pilih mana yang kau inginkan~”


Memilih pakaian petualang untuk Jell, pemilik toko memamerkan semua pakaian yang cocok dengan Jell. Tetapi di luar apa yang di harapkan, penjaga toko terlihat meneliti setiap bagian dari tubuh Jell, dan dia tampak aneh.


Penjaga toko kemudian membisikan sesuatu kepada Mai dan seketika wajah Mai bersinar dengan senyum longgar yang menakutkan, apa yang di katakan pemilik toko tidak di ketahui Jell.


Sedang asik melihat pakaian yang cocok dengannya, dia dikagetkan karena ada tenaga yang luar biasa menarik bahunya, menariknya menuju ruangan ganti.


“Ap-!”


Teriakannya tidak di lanjutkan karena pemilik toko dan Mai juga berada di ruang ganti, pergerakan keduanya begitu cepat dan Jell yang tidak dapat memahami situasi, Jell tidak bisa merespon, dan seketika pergerakan mereka terhenti dan apa yang terjadi membuat Jell terdiam.


“Horaa~… Sudah selesai~!”


“Arara~ ternyata cocok juga, mataku tidak akan salah menilai!”


Jell terdiam berdiri di depan cermin, apa yang dia lihat adalah seorang wanita cantik berambut pendek dengan pakaian manis, dengan gaun berwarna biru dan putih. Rambutnya diikat kuncir dua, dan ditambahkan pita berwarna kuning, rok hanya mencapai lutut, dengan rumbai-rumbai, dan tidak lupa tongkat sihir berbentuk bintang di tangan kanannya.


“Akhg-!”


Jell tampak terkena kerusakan mental karena penampilan yang telah menghilangkan keperkasaan pria miliknya, apa yang terjadi dengan dirinya menjadi seimut itu.


Dia memang tau kalau wajahnya memang mirip dengan wajah perempuan, tetapi jika di praktikkan akan membuat harga diri yang dia bangun sebagai seorang pria selama 17 tahun hilang tersapu bersih, bagai debu yang terbawa angin.


Dan pernah suatu hari saat adik perempuannya Jelika mendandaninya saat dia tertidur, dan saat bangun dia kaget melihat wajahnya seperti wajah orang lain.


Di saat Jell yang tak bisa merespon, penjaga toko memperhatikannya dengan mata bersinar.


“Kau benar-benar cocok dengan itu, jika kau ingin, aku akan memberikannya cuma-cuma.”


Dengan mengucapkan perkataan yang tidak pantas baginya, dan reaksi Mai yaitu tertawa terbahak-bahak. Dia tertawa sampai berbaring di lantai, dia tidak tahan jika Jell yang dia kenal selama ini akan cocok dengan pakaian wanita, dan saat dia melihatnya langsung, itu membuatnya tidak tahan untuk tidak tertawa terbahak-bahak.


Pergi dari toko pakaian, dengan hasil. Jell mendapatkan pakaian petualang yang dia suka, dan bonus dari pemilik toko, yaitu pakaian ‘Witch Cute Love’ gratis, dan tujuan mereka sekarang yaitu menuju toko pelataran untuk mengganti Dual Knife milik Mai.


Kota tampak ramai dengan kesibukan di mana-mana, ada pedagang, kesatria, petualang, dan banyak lagi. Perjalanan terasa menyenangkan, dan kenyamanan itu tidak berlangsung lama. Ada sejumlah orang di sebelah jalan, berdiri memandangi mereka. Bukan. Tetapi memandangi Mai.


Mai juga dapat merasakan tatapan orang-orang itu dan memutuskan untuk mengabaikan mereka.


Berjalan melewati mereka begitu saja, akan tetapi di luar dari apa yang mereka pikirkan, orang-orang itu tiba-tiba berdiri di saat Jell dan Mai melewati mereka.


Tampaknya mereka tidak begitu menakutkan dari pads bajingan yang waktu itu. Akan tetapi, tatapan menjijikkan mereka lebih kuat dari pada bajingan sebelumnya.


Dapat dilihat wajah mesum mereka. Mereka langsung bermuka encer saat menatap Mai, seakan mereka sangat ingin melakukan sesuatu kepadanya. Jell yang menanggapi itu langsung menoleh mereka.


Mereka berjumlah 7 orang, dan mereka mengelilingi Mai dengan memperkecil jarak diantara mereka dengannya. Mereka tidak mempedulikan Jell, bahkan mereka tidak akan sadar akan kehadirannya. Jell yang kehilangan kesabaran langsung menghadapi mereka.


“Kalian. Apa yang kalian lakukan?”


Orang-orang itu yang awalnya tidak memperhatikannya, sekarang melihatnya dengan tatapan berbeda dari sebelumnya, mereka berekspresi sombong dengan dagu mereka ke depan.


Wajah yang menunjukkan artian “Siapa yang kau panggil bicara.” dapat secara langsung di lihat dari wajah mereka.


Mereka yang tadinya mengelilingi Mai, sekarang berbalik mengelilingi Jell. Mereka berupaya memojokkannya untuk membuat aura mereka lebih besar dengan cara menyudutkan Jell.


Itu pilihan yang efektif untuk menekan orang yang akan melawan mereka, namun Jell memandang mereka dengan tajam dan orang-orang itu memandangnya juga. Jell yang seakan ingin mengambil tindakan, di hentikan oleh Mai.


“Tidak perlu Jell- … Biar aku yang akan melakukannya. Agar mereka tau, siapa orang yang mereka goda.”


Mai menahan Jell dan Jell terheran menatapnya. Seakan paham akan apa yang akan di lakukan Mai, Jell mundur dan tersenyum kecil.


“Oi oi, nona. Kau ingin melawan kami? … Hahahah, kau sombong sekali untuk seorang perempuan … Sini biar aku beri kau pelajaran, sampai kau menyesal akan tindakanmu!”


Orang-orang itu melihat Mai dan tertawa terbahak-bahak karena perkataannya. Mereka seperti menganggap bahwa Mai bermain-main dan mereka tidak memasang posisi bertahan.


Terhina oleh perkataan mereka, Mai langsung membentuk kuda-kuda. Dengan posisi yang dapat di lihat, dia akan melakukan tendangan tepat ke arah kepala orang di depannya.


Dalam kurun waktu singkat, Mai mengangkat kakinya dan dengan posisi yang mempesona menendang kepala orang yang di depannya.


Orang-orang itu melihat teman mereka, dan terlihat orang itu muntah darah dan matanya memutih. Mereka seketika menatap Mai dan reaksi mereka tiba-tiba berubah. Mereka ketakutan dan berkeringat dingin tak bergerak. Dan salah satu dari mereka secara terang-terangan berteriak.


“M-maaf! Aku tidak bersalah! Aku hanya mengikuti mereka dan memaksaku untuk membantu, … Jadi aku tidak ada hubungannya dengan ini bukan?!”


Orang itu membuat alasan dengan cara mengorbankan teman-temannya, sungguh hina, lebih hina dari binatang.


Mai memandanginya dan orang itu entah menurutnya Mai akan mengikuti perkataannya, tiba-tiba berbalik dan mundur dengan santai. Mai yang melihatnya, dengan seketika berteriak kepadanya.


“Kau tidak ada hubungannya kau bilang? Maaf tapi, kalian sudah membuatku muak, jadi tidak ada kata ampun.”


Kurun waktu tidak sampai 5 menit, orang-orang itu terkapar di tanah dengan berdarah-darah. Mai tampak sangat marah dengan salah satu dari mereka.


Pergi dari tempat itu. Menuju toko yang sebelumnya pernah di kunjungi Jell, Mai memutuskan membeli sesuai dengan keinginannya.


Dual Knife berwarna gelap dengan bilah berwarna warna merah, dengan panjang sekitar 20cm, bilah nya sangat tajam. Memiliki efek yang luar biasa, meningkatkan kelincahan 10%, efek skill 10%, dan akurasi potongan meningkat 10%.

__ADS_1


Dengan itu Jell dan Mai sudah memiliki semua keperluan dan perlengkapan yang sempurna. pakaian pendukung dan senjata sesuai Class masing-masing. Semua itu menunjukkan bahwa Jell dan Mai sudah terlihat sebagai petualang dengan rank kuning.


***


__ADS_2