BATTLE OR ALIVE

BATTLE OR ALIVE
Chapter 13 : Meeting


__ADS_3

Tidak bisa melihat apa-apa, hanya ada kegelapan. Sunyi, tidak ada satupun suara yang bisa di dengar. Tidak bisa bergerak, tubuhnya tidak bisa bergerak. Bagaikan kematian, ini adalah kondisi yang menyedihkan.


Tertimpah dengan kehampaan, tidak bisa merasakan indera mana pun, seperti mati saja.


Di ujung pandangan, cahaya mulai terlihat. Terbit dengan perlahan menyinari tempat kehampaan itu. Cahaya terang dan makin terang, suara mulai terdengar di telinga, makin keras mengikuti kecepatan penerangan cahaya.


“Hm? Kau sudah bangun?”


“Ah…?”


Pandangannta mulai kembali, dan inderanya mulai berfungsi. Keluar dari kehampaan, menuju ke sebuah tempat yang di terangi oleh cahaya redup. Dan akhirnya Mai mendapatkan kembali kesadarannya.


Bangkit dengan terkejut, dia menoleh kekiri dan kekanan.


Suasana berbeda, dan saat ini dia sedang berbaring di atas batu, batu besar yang tidak mungkin di dapatkan di lantai 20, saat ini ada di bawahnya. Mengalihkan pandangannya dari batu, dia memandang Jell dengan pertanyaan.


“A-Apa yang terjadi?”


Jell yang saat ini sedang membersihkan pedang miliknya dan terkejut karena Mai yang tiba-tiba bangun dan menoleh ke beberapa arah.


Tersenyum karena melihat Mai yang sudah bangun, dia menepuk kepala Mai. Hanya memasang wajah bingung dari perilaku Jell, Mai sana sekali belum memahami keadaan. Namun, rasa khawatir tentang keadaan di hilangkan oleh Jell.


“Tidak perlu memaksakan diri untuk bangun. Kau harus beristirahat lagi.”


“Ne~ Jell, apa yang sudah terjadi?”


“Kau tidak ingat?”


Menggelengkan kepalanya dengan wajah bingung.


“Yang aku tau, kita sedang melawan cacing kolosal. Dan setelah itu … Aku tidak ingat.”


“Mau bagaimana lagi. Kau menggunakan skill peringkat ‘S’, jadi tidak heran kau kelelahan dan pingsan saat itu.”


“Eh! A-Aku pingsan?”


“Benar loh. Kau sudah tidur hampir 2 hari sejak saat itu.”


“D-Dua?! Sialan!”


“Apa kau sekesal itu?”


“Tentusaja bukan. Aku tidak ingat apa yang terjadi saat itu. Pingsan yah. Ini pertama kali aku pingsan, dan aku tidak sadar kalau aku pingsan. Sialan.”


Mendengar perkataan Mai, wajah Jell yang awalnya memasang wajah lembut karena dia sudah bangun dari tidur selama dua hari, dan akhirnya bangun. Membuatnya menyesal karena mengkhawatirkannya. Bukannya menanyakan dengan apa yang sudah terjadi selama dua hari, dia malah menyesal karena tidak sadar kalau dia pingsan.


“Kau bodoh ya. Kalu kau pingsan, tentu saja kau tidak akan sadar.”


“Apa?! Apa memang begitu? Jell apa kau pingsan juga?”


“Tidak, tidak. Bagaimana mungkin aku membawamu kesini, kalau aku pingsan bukan.”


“Benar juga ya. Apa jangan-jangan aku ini sudah tidak waras? Aku harus menjaga kepalaku dari benturan.”


Sambil mengangguk dari perkataannya barusan, membuat situasi menjadi sedikit jengkel bagi Jell.


“Sudahlah, yang penting kau sudah sadar. Ayo makan, dan ini ada minuman hangat.”


“Oo...  Kau bisa menasak juga.”


“Tentu saja bukan. Sedikit.”


Makan dengan lahap setelah tertidur dua hari, Mai terlihat bersemangat seperti sebelumnya. Jell yang menghawatirkannya sejak pertama kali dia pingsan, merasa begitu legah bagaikan melepas ber ton-ton beban di pundaknya. Sambil menatapnya, membuat wajah lembut seperti sebelumnya, Jell bergumam.


“Syukurlah…”


Mai dapat mendengarnya, dia yang sedang makan di awasi oleh Jell yang memasang wajah lembut membuat dia reflek memandanginya juga.


“Kau menghawatirkanku?”


“Tentu saja bukan.”


“Hehehe, Maaf. Membuatmu khawatir, dan merawatku di saat-saat seperti ini.”


Melihat wajah murung Mai, dia menunduk karena rasa bersalah.


Jell yang memandanginya, berdiri dan duduk di sebelahnya. Tersenyum dan tertawa.


“Apa yang kau katakan. Hal itu sudah jelas bukan.”


“Ehehe, terima kasih. Aku senang.”


“Nn. Makanlah yang banyak, dan kita akan melanjutkan perjalanan.”


“Nn~!”


Mai melanjutkan makan dan sambil di temani oleh Jell di sebelahnya, Jell memberikan perilaku spesial saat ini adalah sebuah kenyataan. Jell yang biasanya acuh tak acuh kepadanya, saat ini menunjukan rasa kasih sayang yang sangat besar kepada Mai. Bagaikan saat pertama kali mereka tiba di dunia ini.


***


“Jadi saat ini kita berada di lantai 23?”


“Hm. Situasi di sini lebih terang, tapi tidak seterang lantai 10 ke bawah. Di lantai ini memiliki monster yang tidak terlalu berbeda dengan sebelumnya. Namun lebih menyusahkan.”


“Ohh.”


Saat ini mereka berada di lantai ke-23 labirin. Berbeda dengan kantai 20 ke bawah, di sini tidak ada pasir sama sekali, di sini adalah daratan bebatuan dan tanah. Ada beberapa rumput liar, namun tidak lebat. Lantai 21 keatas memiliki suasana dan aura berbeda dengan lantai-lantai sebelumnya.


“Sebentar. Kalau kita berada di lantai ke-23, berarti kau menggendongku sampai sini? Bagaimana dengan tas yang berisi kristal sihirnya?”


“Aku meninggalkan punya mu, dan aku hanya membawakan tasnya saja.”


“Kalau begitu, ayo kita berburu harta karun lagi!”


Mai bersemangat, namun sedikit kecewa karena kristal sihir miliknya di buang oleh Jell untuk mengurangi beban bawaan. Namun itu tidak terlalu penting, karena di kantai ke-23 ini masih memiliki banyak kristal sihir di pojokan batu. Namun tidak sebanyak lantai 10 kebawah.


“Bagaimana dengan monster yang menyerang?” (Mai)


“Nn?” (Jell)


“Ku bilang, bagaimana kau mengalahkan monster dungeon di saat kau sedang menggendongku.”

__ADS_1


“Aku membuangmu ke tanah.”


“Eh– Apa yang kau katakan Jell~ hahaha, lawakanmu tidak lucu sama sekali~”


“…”


“Kau serius?”


“Sangat serius.”


“Jell kau bodoh! Bagaimana kalau wajah cantikku ini rusak, kau mau tanggung jawab? Di dunia ini tidak ada operasi, dan kau dengan santai melempar diriku yang cantik ini!”


“Berisik! Kalau aku mau, aku akan menggunakanmu sebagai tumbal pada monster-monster itu.”


Kejujuran lepas dari perkataan Jell. Jell yang mengatakan bahwa dia membuang tubuh Mai yang sedang tidak sadarkan diri untuk melawan monster adalah kebenaran. Akan tetapi, Jell tidak sampai membuang tubuhnya ketanah. Malah, dia menurunkan tubuh Mai dengan sangat hati-hati.


Keduanya bertengkar, dan keributan yang hilang selama dua hari kini telah kembali. Entah itu membuat dia bahagia, ataupun cemas. Namun, Jell saat ini sedang tersenyum lebar.


***


Sudah dua hari berlalu, dan saat ini lantai 27.


Mereka berdua, Jell dan Mai. Sudah melewati beberapa lantai, dan sekarang mereka sampai ke lantai ke-27.


Situasi di lantai tidak beda jauh dengan lantai 23, ada beberapa rerumputan dan ada batu-batu besar dan kecil, tidak lupa juga ada beberapa kristal sihir yang lumayan langka di lantai dua puluhan ini. Dan ada beberapa tanaman aneh yang mirip dengan bunga “Rafflesia”, namun yang ada di dungin ini berwarna hijau tua, bagaikan tidak normal. Namun bunga itu sama sekali tidak mengeluarkan bau busuk.


(TN: Bunga Rafflesia adalah bunga terbesar di dunia, dan memiliki aroma yang tidak sedap seperti bau daging busuk.)


Monster yang sudah mereka lewati tidak terlalu beragam. Hanya ada kadal normal sebesar 2 meter, laba-laba beracun, dan ular yang panjangnya 10 meter. Semuanya terkesan normal untuk monster dungeon. Dan berbeda dengan lantai 20, mulai dari lantai 21 sampai 27 ini, ramai dengan monster.


Saat ini Jell dan Mai berada di depan gerbang besar lantai selanjutnya, lantai ke-28.


“Baiklah. Ini lantai berikutnya.”


Jell dengan kata-katanya mendorong gerbang, dan terbuka dengan megahnya.


“Nn. Malai dari sini kantai ke-28. Ayo kita cepat selesaikan dan kita akan pergi kencan saat sudah di luar~!”


“Kau masih memikirkan itu?”


“Tentu saja bukan.”


Jell menatapnya dengan hanya tersenyum. Melihat betapa bersemangatnya dia, padahal dia pingsan saat melawan bos lantai.


Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama, tiba-tiba dari kejauhan muncul kelompok montser mendekat. Berbeda dengan yang mereka lawan di lantai sebelumnya, itu adalah monster berbentuk kucing hitam.


Kucing berbulu hitam, namun memiliki bulu berwarna merah di dahi mereka. Mata emas, menatap tajam. Ukuran mereka sama haknya dengan kucing biasa, dan itu adalah hal yang sedikit menenangkan bagi mereka. Namun, karena monster kucing ini ada di lantai sedalam ini, pasti dia adalah monster yang lebih kuat dari monster-monster sebelumnya.


Kucing berjumlah lima. Berlari menuju arah mereka, dengan kaki mereka yang ramping, mereka terlihat mempesona saat berlari. Dari penilaian Jell, seperti kucing ini memiliki skill bertipe buff.


Berpisah menjadi lima bagian, melompat ke arah dua orang. Kucing bergerak dengan sangat cepat, bahkan melebihi kadal berkepala manusia sebelumnya.


Jell dan Mai dalam posisi bertarung. Keduanya memegang senjata masing-masing. Saat ini kekuatan mereka berdua berada di posisi unggul. Itu di karenakan, di lantai ini mereka bisa menggunakan job sesuka mereka. Job Fighter milik Jell, dan job Assassin milik Mai, siap bertempur.


Kucing memasuki area jangkauan pedang Jell. Jell yang menyadari tanpa kehilangan kesempatan, dia menggekarkan pedang ke arah monster kucing.


Namun hal itu gagal dengan sempurna. Kucing manpu menghindar tanpa luka.


Di saat pedang Jell mengenainya, kucing tampaknya membelokan tubuhnya. Tubuh monster kucing lincah dan lentur, hingga mampu menghindari serangan dari Jell.


Kucing yang menghindar memperbaiki posisinya di udara dan mendarat menuju Jell dengan cengkraman. Di susul monster kucing lainnya di belakang, mereka bagaian ingin menangkap seekor burung kecil.


“Tornado Summon.”


Rencana monster gagal dengan sekali ucapan kata. ‘Tornado Summon’ di keluarkan oleh Mai.


Menciptakan badai tornado berskala sedang di sekitar Jell dan Mai, para gerombolan monster kucing terhempas.


“Padahal kau bisa menggunakan ‘Tornado Blades’, kenapa kau tidak menggunakannya?”


(TN: Tornado Blades, skill yang di gunakan Mai di chapter 09.)


“Nn, aku sengaja.”


“Yah, terserahlah. Namun, kucing-kucing ini lebih merepotkan dari yang aku pikirkan.”


Gerombolan monster kucing berdiri dari serangan mendadak Mai. Mereka tidak terluka sama sekali, namun sepertinya itu tetap saja memberikan kerusakan dalam tubuh mereka. Bangun dan mereka secara bersamaan menyerang Jell dan Mai dengan pola serangan yang sama.


“Kau pikir itu bisa untuk yang kedua kalinya?!”


Jell yang merasa jengkel dengan serangan oertamannya yang tidak mampu memeberikan kerusakan sedikitpun kepada kucing, membuat dia bersemangat untuk tidak kalah dari Mai.


“Fire Slash!”


Skill terucap dari Jell. Pedang milik Jell tiba-tiba menyala dengan api, dan dengan tekanan kuat, Jell menghantamkan tebasan pedang kearah salah satu kucing.


Dan hasilnya, kucing terbelah menjadi dua bagian. Kucing yang menjadi korban Jell, tampaknya tidak bisa menghindari serangannya, dan ini menjadi jalan keluar dari situasi kali ini.


Keempat kucing mencengkram dengan kekuatan mereka kearah Jell dan Mai. Namun, merka tidak sebodih itu untuk menerima serangan terbuka seperti itu. Jell dan Mai melompat kearah berbeda dari tempat pijakan mereka.


“Mai! Kelemahan mereka adalah api. Gunakan skill api untuk mengalahkan mereka.”


“Begitukah? Baiklah, akan aku coba.”


Dari perkataan Mai, tampaknya dia percaya dan tervabtu dengan informasi milik Jell. Itu di karenakan tepat di saat Jell sedang berhadapan dan menggunakn skill api, Mai juga demikian sedang mencoba membereskan salah satu kucing. Dan tampaknya dia gagal karena kucing mampu bergerak bebesa di udarah.


“Sepertinya skill milik mereka adalah mampu mengendalikan tubuh mereka saat di udarah.”


“Itu juga aku sudah tau.”


“Hou~ seperti yang di harapkan dari dirimu.”


“Pujiannya aku terima nanti. Kucing mulai bergerak lagi.”


Seperti perkataannya, kucing-kucing itu sudah mulai bergerak menuju mereka.


Kucing berlari dengan langkah yang indah. Bergerak menuju kearah Jell dan Mai dengan lagi-lagi menggunakan pola serangan yang sama.


“Fire Stage.”


“Fire Blades.”

__ADS_1


Jelk dengan “Fire Stage’nya dan di ikuti oleh Mai menggunakn ‘Fire Blades’. Dua kombinasi serangan dengan elemen yang sama, keduanya maju menyerang gerombolan kucing yang tersisah.


Kucing di serang dengan hantaman tajam pedang dan juga di serangan dengan bilah-bilah sihir elemen api. Keduanya telah mengalahkan gerombolan kucing hitam.


“Akan ada lebih banyak ataupun lebih kuat dari mereka di depan sana. Entah kenapa ini membuatku bersemangat~” (Mai)


“Nn.” (Jell)


Keduanya pergi dari tempat makam kucing hitam, dan maju ke depan.


***


Sudah lantai ke-29.


Dan penampakan dungeon di lantai ini tidak ada perbedaan sama sekali. Masih masa dengab lantai 22-28 yang sudah mereka lewati.


Selesai dari pertempuran di lantai ke-28, Jell dan Mai langsung menuju ke lantai 29, dengan menghindari pertempuran.  Jell berpikir, jikalau mereka terlalu lama di dungeon ini, maka akan membuat pasokan bahan makanan mereka akan semakin menipis. Dan itu adalah hal yang paling di hindari oleh Jell hingga saat ini.


Makanan yang tersisa hanya untuk 3 hari kedepan. Selebihnya mereka hanya akan menggunakan air untuk bertahan.


Dengan menggunakan sihir air, dan menciptakan air untuk di minum. Air dari hasil skill sama sekali tidak berbahaya. Akan tetapi dengan satu syarat, itu adalah harus menggunakan mana alam untuk menciptakan air yang bisa di konsumsi oleh tubuh.


Dan jika tidak menggunakan mana alam, dan melainkan menggunakan mana murni. Maka resikonya adalah, sama dengan halnya memakan daging monster. Itu karena, tekanan dan kandungan dari mana murni, tidak bisa menyesuaikan dengan tubuh dan melainkan mana akan melahap tubuh dari dalam.


Di saat memikirkan berbagai hal di kepalanya, Jell sampai lupa kalau Mai adalah tipe orang yang selalu tidak serius akan sesuatu. Jadi jika saja makanan akan menipis, mungkin dia tidak akan terlalu khawatir. Dan hal seperti itu lah yang membuat Jell selalu menghawatirkan dirinya.


“Ahh~ Jell, ini akan sampai sejauh mana? Aku bosan dan lelah.”


“Tenanglah sedikit. Aku tidak tau, namun aku juga setuju. Aku sangat lelah.”


Kelelahan adalah yang di alami kedua orang ini. Hal tersebut tidak di ketahui dan tidak biasa.


“Apa-apaan ini. Sial, hanya aku saja yang berpikir begini atau kau juga sama denganku, Mai?”


“Nn… Aku merasakannya juga. Mana kita di serap, dan tubuhku tidak bisa menahannya.”


“Sebenarnya apa yang terjadi.”


Tidak ada pasir, dan tidak ada kadal di atas pasir.


Hal aneh sedang terjadi di lantai 29 saat ini. Itu adalah, penyerapan mana secara tidak sadar. Saat ini tubuh Jell dan Mai merasa sangat lelah, itu di karenakan mana mereka mulai berkurang dari pengeluaran biasa. Dan hal ini benar-benar aneh bagi mereka.


Tidak ada hal aneh di sekitar mereka, dan hanya ada beberapa rumput, bunga khas lantai ini, batu, dan sejumlah kristal sihir.


Tidak ada yang mencurigakan di lantai inj. Namun, hal tang di alami Jell dan Mai saat ini harus di curigai. Apa yang membuat dua orang monster penakluk dungeon sampai seperti ini.


Jell dan Mai mencari petunjuk, untuk mencari sumber yang menghisap mana mereka. Dab seperti yang di harapkan, mereka tidak menemukan apa-apa.


“Sebenarnya apa yang sedang terjadi.”


“Nn~ Jell aku mulai ngantuk.”


“Bodoh! Jangan kalah hanya dengan hal seperti ini.”


Mai sudah mulai mencapai batasannya, dan Jell juga menyusulnya.


Mai sudah mulai jatuh dari pijakannya, dan Jell sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu, karena dua juga merasakan hal yang sama.


Namun Jell menemukan jalan terakhir.


Di arah jam 3 dari arah mereka, terdapat sebuah goa. Goa yang lumayan kecil terlihat dari sini.


Jell menggunakan tenaga tersisa untuk mengangkat Mai yang jatuh, dan memindahkannya ke arah goa.


Jell setelah memasukan Mai kedalan goa, dia ikut terjatuh. Badan Jell sudah tidak memiliki tenaga sama sekali. Dan dia kehilangan tenaga untuk berdiri dan terjatuh. Penyerapan mana semakin terasa dan sampai saat ini oun, mereka belum menemukan penyebabnya.


Kehilangan keseimbangan dan Jell terjatuh ke tanah. Matanya berat dan tidak sanggup menahan ngantuk. Dan akhirnya keduanya tertidur...


***


“Jell bangun! Hei bangun Jell! ……”


Suara samar-samar terdengar di kepalanya. Suara tidak bisa di ketahui siapa, sedang memanggilnya dengan keras. Namun, itu tidak akan cukup untuk memebangukan Jell.


“Oi! Jell bangun!……”


Orang itu makin kasar dan makin kuat menggoyangkan tubuh milik Jell.


[Siapa sih…… Aku tidak bisa mendengarkan…… siapa dia…… Siapa aku…… Siapa? ……]


(!!!)


Di saat tenggelam dengan pikirannya, Jell terbangun dengan tiba-tiba. Wajahnya pucat dan dia tampak seperti orang yang selesai melihat mimpi buruk. Gerakan tiba-tiba itu membuat orang di sebelah tubuhnya itu kaget dengan pergeraknnya yang tiba-tiba.


“A-Apa yang…”


Jell melihat sekitar untuk memastikan keadaan. Dan tempat berada di sampingnya adalah orang yang paling dia cintai, Mai.


“Kau sudah bangun. Apa tubuhmu baik-baik saja? Jangan memaksakan diri oke.”


Penggambaran heroin yang menghawatirkan sang hero. Sikap Mai bagaikan berubah dari sebelumnya.


“Apa yang telah terjadi?”


“Aku tidak tau, tapi kita sekarang berada di tampat yang tidak asing.”


Tempat tidak asing yang di katakan Mai, benar. Ini tempat yang tidak asing.


Sejauh mata memandang, hanya ada satu warna. Putih. Semua yang ada di sini berwarnah putih, bagaikan mereka telah di pindahkan ke tempat yang penuh kehampaan. Tidak ada suara yang di hasilkan dan tidak ada suara yang di pantulkan. Bagaikan suara mereka tadi telah lenyap di telan oleh kehampaan.


Menoleh kiri dan kanan, tidak menemukan apa-apa dan siapa-siapa. Tempat itu sama persis dengan tempat pertemuannya dengan karakter melayang.


Memasang posisi hati-hati. Jell dan Mai tidak dapat menggunakan pertahanan apapun. Itu di karenakan, du tempat ini job telah di nonaktif. Dan sama halnya manusia biasa, Jell dan Mai sekarang benar-benar akan mati saat ini jika melawan ada monster di ruang hampa ini.


Namun, apa yang muncul bukanlah monster, seperti yang di pikirkan.


“Yo! Lama tidak berjumpa. No. 1 dan No. 2. Apa kalian menikmati permainannya?”


Suara asing. Tidak sama dengan suara waktu pertama kali mereka bertemu. Suara ini adalah milik seorang laki-laki dewasa.


Menoleh dengan wajah pucat. Jell dan Mai melihatnya tepat di atas mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2