
Saat ini, di kantor, Jell sedang duduk dengan posisi serius. Dengan kedua tangannya yang menongkah kepalanya, saat ini dia memasuki mode super serius.
Mai juga berada di ruangan tersebut, untuk Emma dia sedang pergi keluar dan Rin dia sedang memiliki urusan penting.
Atmosfer di ruangan tersebut sangat hening, keduanya tidak membuka suara masing-masing. Hanya Mai yang terlihat bingung dengan dirinya yang tidak mengerti alasan Jell memanggilnya ke sini.
“Jadi, ada apa kau memanggilku?”
Jell hanya diam dengan tatapan kosong. Dirinya seperti memikirkan sesuatu yang amat sangat penting dan dia ingin Mai untuk mendengarkan.
“Emma...”
“Emma? Dia kenapa, apa ada yang terjadi?”
Mai ketika Jell menyebutkan nama Emma, Mai seketika berdiri dari kursi dan dengan khawatir bertanya tentang masalah Emma.
Dia tidak akan membiarkan Emma sendirian lagi, aku akan selalu berada di sampingnya, kata-kata itu selalu melekat pada Mai setiap kali dia berpikir Emma dalam bahaya. Dan kini juga begitu.
“Emma... Semalam dia datang ke kamarku.”
“Ada apa, apa ada yang terjadi padanya?”
“Ahh. Sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi.”
Jell kini makin serius ketika dia mengangkat wajahnya dan menatap Mai dengan tajam.
“Emma, semalam tidak bisa tidur!”
“Apa!!!”
Mata Mai bergetar ketika mendengar fakta mengejutkan itu, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Ini merupakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika Emma sedang dalam masalah, ini masalah yang tidak pernah dia perkiraan.
Jell berdiri dan melanjutkan cerita kejadian tadi malam. Mai juga berdiri dan mendengarkan dengan seksama.
Aura di ruangan itu sangat menekan saat ini, bahkan jika ada manusia yang masuk ke dalam ruangan itu, sudah di pastikan dia tidak akan pulang dengan selamat.
“Dia mengatakan padaku, dia tidak bisa tidur. Dan aku menanyakan alasannya, Tapi, dia tidak mengatakannya.”
“Tidak mungkin, apa ada yang salah dengan kamarnya?”
“Tidak ada. Aku sudah memeriksanya di setiap sudut dan inci, tapi tidak ada masalah di kamarnya.”
“Bagaimana dengan temannya, apa ini karena teman-temannya?”
“Tidak. Aku sudah memeriksa informasi semua orang yang melakukan kontak dengan Emma, dan tidak ada yang terlihat mencurigakan.”
“Kalau begitu apa!”
Untuk pertama kalinya di dunia ini, keduanya mengalami keputusasaan. Tidak ada secercah harapan yang bisa menyelamatkan mereka, mereka telah gagal melindungi Emma.
“Kalian berdua, sedang apa?”
Tidak tau dari mana dan sejak kapan, Rin tiba-tiba sudah berada di ruang kantor.
Sebenarnya Rin baru saja masuk untuk membicarakan sesuatu kepada Jell, tapi saat dia masuk dia merasakan aura aneh dari dalam, jadi dia memutuskan untuk masuk dan memeriksa.
Rin tidak tau apa yang sedang di bicarakan keduanya, tapi yang dapat dia lihat keduanya sangat serius.
“Jadi, sebenarnya ada apa.”
“Emma...”
“Hm, Emma? Dia kenapa.”
“Semalam, dia datang ke kamarku. Ghuk–”
“Apa yang kau lakukan dasar pedofil! Mesum, bejat, bajingan. Bisa-bisanya kau melakukan hal itu kepada Emma.”
Tanpa mendengarkan kebenaran, Rin dengan kekuatan penuhnya langsung memukul Jell hingga roboh. Dirinya seketika bereaksi sendiri, tapi kebenaran bahwa Jell semalam bersama Emma jelas membuat dirinya marah.
“Rin, dengarkan alasannya dulu. Kau berlebihan.”
Tatapan berbahaya di pancarkan oleh Mai, Rin yang di bicarakan langsung memalingkan wajahnya.
“Kau ini benar-benar kasar, ya. Kau tidak akan punya pasangan kalau kau begitu, loh.”
“Aku berhak memilih pasangan ku, kau mau aku hajar lagi?”
Sambil memperbaiki hidungnya yang patah, Jell kembali duduk dan menjelaskan semua kepada Rin.
Dan seperti yang di perkiraan, Rin merasa keduanya memanglah orang-orang bodoh. Mereka mengeluarkan aura yang bisa saja membunuh seseorang, hanya karena permasalahan Emma yang tidak bisa tidur.
Tapi Jell melanjutkan ceritanya, bahwa Emma sudah begini selama 1 minggu. Dan Jell juga menjelaskan bahwa dia pernah melihat Emma yang mengigau ketakutan saat tidur.
Rin tentu saat mendengarkan itu memilih diam dan sedikit bersalah karena memukul Jell. Mai tidak tahu apa yang harus dia perbuat untuk menolongnya, dia berpikir bahwa kemungkinan ini karena masa pertumbuhan yang sedang terjadi pada Emma, tapi walau bagaimanapun dia tetap merasa khawatir.
Tapi sepertinya jalan keluarnya sudah di temukan dari awal. Jell mengatakan bahwa dalam setiap kali Emma ketakutan dalam mimpinya dia selalu mengatakan,
“Papa, mama.”
Saat Jell mengatakan itu, suasana di dalam ruangan terasa sangat sunyi. Mereka mengira bahwa bisa saja hanya hal-hal yang bisa mereka bereskan, tapi ini berbeda.
Kerinduannya terhadap kedua orang tuanya membuat Jell dan Mai tidak bisa melakukan apa-apa, dan hal lain yang mereka pikirkan saat ini adalah apa orang tuanya masih hidup atau tidak.
Mengingat bahwa Emma adalah mantan budak, bisa di simpulkan bahwa hubungan Emma dan orang tuanya sudah pasti terputus.
Mereka sampai saat ini tidak mengetahui apapun mengenai kisah hidup Emma.
Emma tidak pernah membicarakan tentang bagaimana dia bisa menjadi seorang budak, dan Jell juga tidak berniat untuk membuka bekas luka itu.
Tapi saat dia mengetahui seberapa rindunya Emma terhadap orang tuanya, Jell jadi tidak bisa memilih apa yang harus dia lakukan.
“Kalau begitu, bagaimana jika kita tanyakan pada, Lhava?”
Rin mengusulkan solusi, bahwa satu satunya yang bisa menjawab pertanyaan Jell dan Mai saat ini hanyalah dia, mantan tuan Emma, Lhava.
Jell juga berpikiran sama dengannya, akan tetapi berbeda dengan Mai yang menolaknya.
Mai bukannya membenci pria itu, tapi dia sangat membenci apa yang mereka perlakukan terhadap Emma.
Tapi untuk menemukan jawaban tercepat dari permasalahan ini hanya Lhava yang mampu menjawabnya, Jell dengan keras menolak penolakan Mai dan memutuskan untuk pergi menemui Lhava.
***
Dari yang di katakan Rin, rumah Lhava berada di distrik D. Distrik yang di kenal sebagai tempat sampah di kerajaan Athera.
Jell tidak pernah menuju ke sana dan itu sebabnya Rin lah orang yang akan menemaninya.
Mereka sampai di gerbang masuk distrik D, dari desain gerbangnya sudah terlihat jelas seberapa tidak terurusnya tempat ini.
Gerbang yang kotor, dan tidak ada yang berniat untuk membersihkannya.
Di gerbang itu ada pos penjaga, dapat terlihat ada empat penjaga yang sedang menjaga di situ.
Mereka saat melihat Jell seketika berkumpul dan berbaris. Jell salut akan ucapan selamat datang dari mereka, tapi ada hal lain yang mengganggunya, wajah orang-orang ini terlihat pucat.
Mata mereka lemas dan wajah mereka terlihat pucat, bibir mereka juga kelihatan hitam.
Jell menjelaskan kedatangannya di sini dan memerintahkan mereka untuk membiarkan mereka masuk.
Masuk kedalam distrik D, terlihat sangat jelas bahwa pemukiman di sini sangat lusuh. Banyak sampah dan tercium bau busuk di setiap gang.
“Rin, orang-orang tadi.”
“Ah, mereka sepertinya pengguna obat berbahaya. Padahal aku tau bahwa permukiman di sini sangat buruk, tapi tetap saja ini membuatku terkejut.”
Tidak perlu memakan waktu lama, Jell dan Rin sekarang sudah sampai di sebuah rumah yang cukup besar.
Rumah itu memiliki 3 tingkat, dan terlihat sangat besar jika di bandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya.
“Jadi, ini rumahnya?”
“Benar.”
Saat melihat rumah ini Jell entah kenapa langsung terpikirkan akan satu hal di masa lalu. Itu adalah, salah satu dari wanita Lhava yang sedang di rawat.
__ADS_1
Jell berpikir apa perawatan yang dia lakukan untuk wanita itu berasal dari sini atau di tempat lain.
Jell tidak bisa melihat adanya persentase bahwa tingkat kesehatan di sini dalam kondisi baik, itu sangat berbeda dengan distrik B yang sudah jelas memiliki tingkat kebersihan dan kualitas yang sangat di perhatikan.
Memasuki halaman rumah dan mengetuk pintu rumah Lhava, jawaban yang di berikan cukup lama dan seseorang datang membukakan pintu, itu salah satu dari wanita Lhava.
“Ya, ada perlu ap–”
Tidak selesai menyelesaikan pertanyaan nya, wanita itu saat menyadari bahwa Jell yang ada di depan pintu langung membuatnya terdiam.
“Ah, maaf mengganggu. Aku datang untuk membicarakan sesuatu dengan Lhava, apa dia ada di rumah?”
“B-baik...”
Tidak sampai lima menit saat dia meninggalkan pintu, Lhava datang.
Lhava terlihat agak sulit untuk menatap mata Jell, dia terlihat sangat sulit dan hanya berbicara sambil mengalihkan pandangannya.
“Jadi, ada perlu apa ka-, Yang mulia datang kemari?”
“Ada apa dengan sikapmu itu, tidak usah berperilaku formal di depanku.”
“A-ah, saya mengerti.”
Apa dia sangat gigih atau ada hal lain yang membuat dirinya tidak bisa berbicara seperti dirinya dulu, tapi yang jelas adalah Lhava memiliki sifat yang sangat berbeda sekarang.
Jell menjelaskan tentang maksud kedatangannya, Lhava juga terlihat mendengarkan dengan seksama.
Jell menceritakan tentang kondisi Emma yang setiap malam sering bermimpi buruk tentang masa lalunya.
“Jadi, dia kembali seperti dulu, ya.”
Lhava saat selesai mendengarkan perkataan Jell, langsung mengatakan akan hal yang sepertinya tidak asing baginya. Jell tentu sadar akan hal itu dan dia menanyakan apa maksud dari perkataannya tadi.
“Apakah Emma tidak mengatakan apapun tentang masa lalunya kepadamu?”
“Tidak, dia tidak pernah mengatakan apapun.”
(Yang kami tau dia berasal dari Kekaisaran Utara.)
Lhava mulai menjelaskan tentang masa lalu Emma,
Eliana Emma adalah anak dari sebuah desa kecil yang berada di perbatasan antara dua nagara, kerajaan Athera dan Kekaisaran Utara.
Desa yang di tinggali Emma adalah desa yang tidak terikat akan pemerintahan mana pun, akan tetapi ada kabar yang mengatakan bahwa desa tersebut akhirnya menandatangani perjanjian dengan bergabung dengan kekaisaran Utara, kurang lebih hal tersebut terjadi delapan bulan lalu.
Akan tetapi ini bukan membahas tentang letak dan masalah desa tersebut, tapi apa itu desa kelahiran Emma.
Di katakan oleh Lhava bahwa desa itu bukanlah desa manusia ataupun ras mayoritas, tapi itu adalah ras tingkat tinggi yang keberadaan mereka sangatlah sulit untuk di temukan, mereka adalah ras Demonoid.
Jell saat mendengar perkataannya itu langsung tercengang akan fakta itu, dia tau bahwa Emma bukanlah dari ras manusia, tapi siapa sangka dia adalah ras demon.
Melanjutkan perkataannya,
Demonoid adalah sebuah ras yang terdiri dari gabungan dua ras, yaitu Manusia dan Iblis.
Hal itu dapat terjadi jika diantara kedua ras berbeda itu memiliki seorang anak, maka anak tersebut akan memiliki dua darah yang mengalir di dalam tubuhnya yaitu darah manusia dan darah iblis, kondisi tersebut di namakan “Demonoid”.
Dan ada alasan yang kuat yang membuat Emma sering berteriak dan memanggil kedua orang tuanya, hal itu karena Emma adalah seorang budak yang di beli oleh Lhava.
Lhava mengatakan bahwa dia pertama kali bertemu dengan Emma saat dia sedang menyelesaikan misi di kekaisaran Utara enam bulan lalu.
Dia melihat ada seorang bangsawan yang sedang menyiksa budak-budaknya di terik matahari.
Kondisi Emma saat itu terlihat sangat kurus dan jika saja dia hanyalah manusia biasa maka sudah tidak bisa di katakan lagi, dia pasti sudah lama mati.
Dan saat pertemuannya dengan Emma, dia mengatakan bahwa dirinya bukanlah manusia biasa kepada Lhava.
Dan untuk tidak mengakibatkan masalah yang lebih besar karena telah memperbudak ras iblis, Lhava harus bersikap kasar kepadanya.
Hal itu di karenakan ada sebuah cerita yang mengatakan, ada seorang bangsawan yang menyiksa ras iblis di depan umum, dan tidak lama kemudian bangsawan tersebut di temukan mati dengan kondisi tubuhnya tidak terbentuk lagi.
***
Jell saat ini sedang berada di kantornya, dia duduk dengan kaki yang dia angkat di atas mejanya dan dia menyuruh seluruh orang untuk tidak datang ke kantornya dulu.
(Melihat dari jumlah dan status mereka sebagai ras yang kuat, sudah di pastikan desa itu memang telah di incar oleh kekaisaran.)
Jell coba memikirkan semua kemungkinan tentang kasus kampung halaman Emma ini, dia memikirkan semua hal, mulai dari apa yang membuat Emma me jadi seorang budak, hingga kenapa dia merahasiakan hal ini dari dirinya dan Mai.
Tidak bisa mendapatkan jawaban yang tepat Jell mengacak-acak rambutnya dan mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum berpikir, dia tidak bisa menemukan jawaban sama sekali dari masalah ini.
(Ahh, apa aku benar-benar bisa melakukan ini? Aku kakak yang gagal.)
Berdiri dan memutuskan untuk keluar untuk mengambil udara segar, tiba-tiba pintu terbuka dan masuk seorang gadis kecil umur 13 tahun.
Dengan membawa beberapa cemilan di tangannya, dia kesusahan untuk membuka pintu yang letaknya tepat di kepalanya, yang membuat beberapa cemilan itu terjatuh.
“Emma, sedang apa di sini?”
“Kakak~”
Dengan suara yang indah dia berteriak sambil memanggil kakak tercintanya.
Dia mendekat dengan tergesa-gesa untuk menaruh cemilannya dan dia melompat di pelukan Jell.
Jell sangat senang saat dia berkunjung, padahal dia sudah menyuruh semua orang untuk tidak membiarkan siapapun untuk masuk ke kantornya.
“Kak, ini aku bawakan cemilan buatanku sendiri.”
“Buatan sendiri? Benarkah.”
“Tidak sepenuhnya sih, Kak Mai juga membantuku.”
Saling bercanda tawa keduanya memperlihatkan betapa sayangnya mereka antara satu sama lain. Dalam hati terdalam Jell dia merasa marah terhadap dirinya yang ingin Emma selalu ada di sisinya.
Tapi sekarang Emma bukanlah sosok lemah seperti dulu lagi, dia sekarang adalah sosok yang sudah jauh lebih kuat.
Dalam hatinya dia membulatkan tekadnya, bahwa inilah yang terbaik untuk Emma.
“Akhirnya kau sudah selesai menyendiri?”
Rin tiba-tiba saja datang dan berdiri di depan pintu, dia sedang membawa beberapa kertas yang sepertinya bukan kertas biasa, itu adalah kertas emas.
“Rin, itu?”
“Hah! Apanya yang “Itu” ini adakah hasil dari peraturan yang kalian berdua buat. Lihat, ada sejumlah bangsawan yang protes akan peraturan tersebut.”
Jell berdiri dan menuju meja, melihat apa yang tertulis di kertas-kertas tersebut, dan seperti yang Rin katakan, ini adalah surat untuk menarik keputusan dari peraturan yang Jell dan Mai buat beberapa hari lalu.
***
Ruang kerja Jell beberapa hari lalu,
“Oke. Mengingat bahwa pemerintahan kita telah berubah 180 derajat, jadi kita akan membuat peraturan yang akan mereka patuhi.”
Mai dengan memukul meja dia berteriak dengan keras.
Rin sedikit heran dengan sikapnya hari ini, Mai yang biasanya hanya suka bermain-main dan tidur sekarang ingin mendiskusikan sebuah peraturan.
Dengan wajah busuk dia menatap Mai dengan tidak percaya.
“Apa-apaan wajahmu itu, itu sangat menyakitkan.”
“Habisnya, seorang Mai yang hanya suka bolos secara tiba-tiba ingin bekerja. Bukankah itu aneh?”
Mai menerima serangan langsung, dia tidak dapat menghindarinya.
Tapi dia tidak akan diam begitu saja dirinya di hina oleh Rin, dan dia memberikan serangan balasan yang jauh lebih kuat.
“Yah mau bagaimana lagi bukan, soalnya aku kan seorang Ratu.”
Dengan gaya yang amat sangat mengesalkan, Mai memamerkan jabatannya sambil memegang dadanya.
Dua serangan telak mengenai Rin tanpa memberikannya kesempatan untuk menghindari, serangan itu benar-benar merusak dirinya.
__ADS_1
“Ada apa tiba-tiba ingin membuat peraturan?”
Seseorang yang seharusnya menjadi penegak dari keduanya terlihat tidak terlalu peduli dengan kedua wanita ini yang sedang bertikai.
Dengan santainya dia menanyakan sesuatu bagaikan dia tidak menyadari Rin yang terlihat kesakitan.
“Itu loh. Kan kita sudah membuat ulang pemerintahan negeri ini, jadi aku bermaksud untuk membuat peraturan yang mempu meminimalisir terjadinya kasus yang sama di masa depan.”
“Dan apa itu.”
“Meniadakan kas pemerintahan.”
Mendengar hal itu, Rin yang kesadarannya menghilang, tiba-tiba langsung merespon perkataan Mai tadi.
“Apa kau bilang?” Rin dengan histeris
“Oh, sepertinya itu bisa di coba.” Jell dengan nada santai
Jell dengan nada santai menyetujui hal itu, Rin tidak percaya dengan apa yang di pikirkan keduanya tapi ini benar-benar sudah di luar akal sehatnya.
Apa keduanya ingin memancing amarah para bangsawan atau memiliki tujuan lain, yang jelas mereka benar-benar ingin mengubah semua dengan pola pemikiran mereka sendiri.
Rin menolak dengan tegas sambil memarahi Jell karena dia seenaknya menyetujui hal gila yang di katakan Mai.
Tapi Jell tentu tidak akan mendengarkan Rin, dia berdiri dan pergi keluar bersama Mai untuk mempublikasikan peraturan baru ini ke seluruh kerajaan.
“Sebenarnya, apa yang di pikirkan kedua orang itu.”
Rin terdiam melihat mereka pergi memasuki sebuah pintu.
***
“Oh, jadi mereka memutuskan untuk tidak tutup mulut, ya.”
Jell yang melihat laporan itu, hanya menanggapinya dengan santai bagaikan ini bukanlah masalah besar yang harus dia kerjakan.
Tapi mengingat bahwa dirinya adalah seorang Raja maka ini adalah tanggung jawabnya.
“Apaan jawabanmu itu. Harusnya kau lebih serius untuk menanggapi ini.
Ini masalah serius loh, kalau saja tidak adanya para bangsawan itu, maka mengurus negeri ini akan sangat sulit.”
Rin sudah capek melihat rekasi yang Jell perlihatkan, dia tidak ingin kejadian ini akan menjadi api untuk terjadinya kudeta terhadap keluarga kerajaan.
Dan yang paling dia takuti akan adanya penghianat yang akan mengincar Raja.
Rin memikirkan semua itu tentu saja bukan untuk dirinya sendiri, dia juga mencemaskan Jell. Tetapi Jell sepetinya tidak menyadari hal itu.
Dia selama menjadi sekretaris Raja, dia sudah mendapat lebih dari beberapa penolakan atas jabatan Jell sebagai Raja.
Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa melihat bahwa Jell menjadi Raja dengan jalur resmi.
Dan dia juga sudah mendengar beberapa kabar burung yang mengatakan bahwa adanya beberapa bangsawan yang sudah melakukan kontak dengan negara lain, yang bertujuan untuk menjatuhkan pemerintahan.
Tentu Rin tidak akan tinggal diam, dia memerintahkan Marina untuk memastikan hal itu.
Marina memiliki jabatan sebagai sekretaris kedua, dan tentu saja jabatan Rin lebih tinggi dari dirinya saat ini.
Jell yang melihat Rin yang kurang semangat, memutuskan untuk berdiri di depannya. Rin yang sedang duduk di lantai dan Jell jongkok sambil menatap matanya secara langsung.
“Tenang saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Ini semua sesuai dengan yang aku dan Mai Rencanakan.”
Dengan mengatakan itu Jell keluar dari kantor dan memanggil Marina.
Dia menyuruhnya untuk memanggil semua bangsawan untuk melakukan pertemuan saat malam nanti.
Mendengar perintah Raja-nya, Marina langsung pergi tanpa menanyakan alasannya.
...
Malamnya,
Saat ini di tempat yang pernah mereka pakai untuk rapat sebelumnya, saat ini semua orang yang ada di situ lebih dari ratusan orang.
Mengingat yang sudah menjadi pekerjaan mereka adalah para pasangan dari para bangsawan, jadi Jell juga memanggil mereka untuk ikut rapat tersebut.
Selain para bangsawan, Jell, Mai, Rin, dan Marina juga mengikuti pertemuan itu.
Jell memulai rapat dengan terimakasih atas mereka yang sudah datang untuk menemui rapat kali ini.
Dalam rapat ini yang akan di bahasa hanya satu hal, yaitu mengenai peraturan meniadakan uang kas pemerintahan.
Walaupun ini masih salam dan menceritakan topik yang harus di bahas, tapi salah satu bangsawan sudah berteriak.
“Saya sudah mengabdikan diri saya selama puluhan tahun untuk negeri ini, dan begitu juga dengan leluhur saya yang sudah mengabdi untuk negeri ini.
Tapi kali ini saya benar-benar tidak setuju akan hal ini, saya menolak peraturan meniadakan kas pemerintahan ini!”
Jell mengerti akan perasaan mereka dan reaksi mereka tentang peraturan baru ini, dan akan hal itu lah rapat ini di lakukan.
Rapat di lakukan lebih dari dua jam, dan hasil keputusan itu adalah, peraturan untuk meniadakan kas pemerintahan, di setujui.
Berada di lorong kerajaan, Jell sedang berjalan untuk pergi menuju ke suatu tempat. Dan di balik pilar-pilar yang gelap itu, muncul sosok hitam yang sedang berdiri di balik salah satu pilar.
Jell menyadarinya, tapi dia memutuskan untuk mengabaikannya dan memutuskan untuk pergi dari sana.
“Ini sangat menarik.”
Mendengar kata itu, langkah kaki Jell langsung berhenti.
“Apa kau menikmati kehidupan di dunia ini. Dunia yang indah dengan banyak ras dan ker–”
“Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, tapi suatu hari nanti aku akan membunuhmu, itu pasti.”
Tanpa mendengarkan seluruh perkataan orang misterius itu, Jell langsung menyelahnya dengan kata-kata yang sangat kasar.
Tapi orang misterius itu juga tidak berniat melanjutkan perkataannya.
“Semuanya saling terhubung. Katakan padaku, apa yang terjadi pada enam bulan lalu.”
Menanyakan tentang apa yang terjadi pada kejadian enam bulan lalu, Jell menoleh ke sosok hitam tersebut dengan tatapan sinis.
Tapi sosok hitam itu sama sekali tidak menjawab Jell.
Dengan jengkel Jell langsung menghancurkan pilar tersebut dengan kakinya dengan waktu yang tidak sampai sedetik.
Dan dengan kecepatan itu juga sosok itu hancur bersama dengan pilar itu, tapi seperti yang dia duga itu hanya sebuah bayangan.
Menghilang di kegelapan suara sosok misterius itu masih mengatakan satu hal lagi.
“Aku berharap besar padamu, “No.1” .”
Jell langsung mendecit dan meninggalkan tempat itu.
Sampai di kamarnya, Jell memutuskan untuk langsung tidur untuk merilekskan tubuhnya.
Tapi harapan itu sedikit di khianati, itu karena Mai sudah ada di kasurnya dengan keadaan hanya menggunakan pakaian dalam.
Tidak menanggapinya, Jell tetap berusaha untuk tidur walaupun Mai terlihat jelas sedang menggodanya.
Jell di peluk dari belakang dengan sensasi dada Mai bisa di rasakan dengan jelas, jika saja orang lain berada di kondisinya saat ini pasti dia tidak akan berpikir lagi dan langsung menyantapnya.
“Tadi, apa yang kau bicarakan dengannya?”
“Apa, ternyata kau melihatnya.”
Mai mendekati Jell lagi, kali ini badan Jell terlentang dan Mai menaiki tubuhnya dari atas. Dan menidurkan kepalanya di dada Jell.
“Tentu saja, tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku.”
Jell saat terakhir kali berbicara dengan sosok misterius tadi, wajahnya sama sekali tidak berubah, dia berwajah kesal.
Malam berlalu dengan lambat untuk menantikan pagi yang akan segera tiba.
“Hei, apa yang kau gigit!”
__ADS_1
“Ehehe.”
***