
Pulang dari peternakan Soyutu, Jell dan Mai berpamitan degan penjaga gerbang.
Dan sama seperti sebelum-sebelumnya, mereka tidak di minta pajak masuk ataupun di peringatkan kembali akan hutang masuk. Desa ini benar-benar luarbiasa, di saat desa ini berkembang, desa ini benar-benar Indah dan bersih. Ibukota memang tempat yang luar biasa, akan tetapi kebersihan di daerah ibukota tidak terawat dengan baik. Banyak sampah dan juga bau busuk di gang sempit yang ada di kota. Dan jika di bandingkan dengan desa ini, ibukota kerajaan hatuanya meniru sikap mereka.
Memulai lagi perjalanan selama 20 menit untuk kembali ke ibu kota. Tapi kali ini akan sulit, dikarenakan saat ini Jell dan Mai membawa tas besar di punggung mereka. Itu adalah bagian-bagian dari kelinci kolosal yang mereka lawan sekitar 20 menit tadi, monster lv.1, Rabbit Frosted adalah namanya. Tas itu sudah mereka bawa dan belum di kenakan saat pergi menuju peternakan. Sesuai saran Yinn, membawa tas ini benar-benar membantu.
Mundur 30 menit sebelum mereka pergi, yaitu saat Jell dan Mai belajar sesuatu dari Soyutu.
Jell dan Mai menunda waktu pulang mereka karena beberapa alasan baik. Itu di karena kan Soyutu mengajarkan mereka bagaimana cara membelah daging monster. Dia mengajarkan mereka karena dia berpikir Jell dan Mai sangat inim pengetahuan tentang teknik pembedahan. Jadi menurut Soyutu, tidak masalah jikalau di membantu memberikan sedikit pengetahuannya tentang ini.
Soyutu menjelaskan bahwa, Di dalam daging monster yang mereka lawan tadi terdapat inti monster. Inti itu berbentuk kristal seukuran 15Cm. Dari penjelasan Soyutu, kristal inti bentuk nya berbeda-beda setiap monster. Mulai dari ukuran 3Cm hingga lebih. Kondisi ini di dasari dari besar kecilnya monster. Kegunaan kristal itu adalah sumber sihir monster.
Soyutu menjelaskan dasar-dasar dari mengelola monster. Itu di mulai dari membagi beberapa bagian tubuh mereka. Pertama, ambil kristal inti yang berada di dekat jantung mereka. Kedua, ambil bagian pentingnya saja. Memang setiap bagian monster itu bisa di jual, akan tetapi yang paling laku hanya bagian tertentu. Contohnya adalah, Telinga, mata, gigi, kulit, dan tulang paha.
Terlepas dari berbagai percobaan yang di lakukan Jell dan Mai terhadap daging yang mereka pegang, Soyutu memperingati mereka akan sesuatu. Itu adalah daging monster adalah racun yang sangat berbahaya. Tidak ada manusia yang bisa selamat jika memakan daging monster. Jika itu terjadi, maka darah korban akan membengkak dan menghentikan aliran darah. Dan dari cerita yang pernah dia dengar, orang yang memakan daging monster mati dengan mengenaskan dan juga memiliki pemandangan yang berdarah-darah keluar dari tebuhnnya. Hal itu karena, tubuh manusia tidak dapat menahan reaksi yang terdapat pada daging monster saat di cerna tubuh manusia. Bukan hanya itu, darah dan mayat dari korban akan berbau busuk yang sangat menyengat.
30 menit telah berlalu. Jell dan Mai pamit dari peternakan dan mulai pergi.

Di tengah jalan menuju ibu kota. Jell dan Mai yang berbicara seperti biasa, melewati sebuah hutan yang lebat. Jalan yang tertandai menjadi patokan mereka jika mereka tidak ingin tersesat. Jikalau ada jalan lain, Jell lebih memilih itu, karena jalan berhutan cukup berbahaya. Jell yang menikmati perjalanan melihat sekitar dan notice akan sesuatu. Tampak ada yang aneh dari sebelumnya mereka melewati daerh ini. Di arah jam 10 dari sebelah mereka terdapat sesuatu. Jell yang menyadarinya pergi dan memeriksa, Mai memiringkan kepalanya dan bingung apa yang dia lakukan, dan karena penasaran juga Mai mengikutinya juga dari belakang.
Di tengah hutan yang lumayan lebat itu, penuh dengan pohon rimbun yang tidak tau jenis apa, dengan ketinggian rata-rata 9-14 meter. Menutup dan memberikan aura misterius di hutan yang gelap dan hanya ada lubang-lubang sinar matahari dari dedaunan pohon. Dan yang mereka temui, itu adalah sebuah goa besar.
““Dungeon.””
Secara serentak kata itu terucap dari mulut mereka. Itu dikarenakan Dungeon besar tepat berada di mata mereka. Tidak dapat mempercayai apa yang mereka lihat, mereka hanya membuka mulut lebar dan bersuara “Wahh...” dengan datar dan berwajah bodo. Mereka yang hanya tau dari kisah-kisah fantasi akhirnya bisa melihatnya secara langsung. Rasa fa tasi yang di dunia ini semakin bertambah, dikarenakan sebuah dungeon besar.
Dungeon atau penjara bawah tanah. Adalah sebuah tempat menyerupai kastil atau menara dan di dalamnya ada ruangan unik yang di dalamnya tersimpan berbagai misteri. Bukan hanya itu di dalamnya juga terdapat beberapa peninggalan, seperti Artefak dan harta karun.
Terpesona dengan dungeon besar itu, Jell dan Mai menyadarkan diri mereka yang sedari tadi melihat dungeon gelap. Memberikan aura misterius yang membuat hati penasaran, Mereka bermaksud untuk masuk, akan tetapi jadwal quest mereka akan hangus jika mereka terlalu lama. Pergi dari tempat itu Jell dan Mai melanjutkan perjalanan mereka.
Seperti perhitungan mereka, 20menit adalah jarak antar desa dan ibukota. Memasuki gerbang, sama seperti saat mereka pertama kali datang dan saat mereka terakhir kali melihat pos jaga, itu sama. Kosong. Tidak ada orang yang menjaga di gerbang depan ibukota itu. “Bagai mana jika ada orang asing yang berbahaya masuk?”, pikiran ngawur mereka terhadap penjagaan kota ini. Tetapi mereka sadar, jikalau ada penjaganya mereka pasti akan kesusahan masuk ke kota. Dan akan melalui situasi yang merepotkan dan bisa saja mereka tidak akan di izinkan masuk karena mereka tidak memiliki alat pengenal, jika di katakan mereka dati dunia lain, sudah di pastikan Jell dan Mai akan di cap sebagai orang gila.
Berjalan sekitar beberapa meter mengikuti jalan maka akan berpas-pasan dengan Guild. Posisi letak guild sangat strategis, berada di tengah putaran jalan dan berada tepat di tengah daerah, membuat guild bisa di temukan dengan mudah. Memasuki guild seperti biasa, ramai dan berisik. Suasana yang ramah tetapi menenggangkan. Aura intimidasi dapat di rasakan di setiap pojok, aura mencekam yang bertujuan untuk membuktikan guild adalah tempat yang snagat berbahaya dan menakutkan. Di saat masuk, Para petualang yang sedari tadi duduk di tempat makan mulai melihati mereka. Seperti saat mereka pertama kali masuk ke guild, tatapan para petualang veteran mengintai mereka. Bagaikan menilai mereka, bagaikan Jell dan Mai hannyalah kutu yang hanya salah tempat. Aura mereka benar-benar mencoba mencekam Jell dan Mai, namun mereka berdua tidak merasakan apa-apa.
“Yo gadis kecil. Tampaknya kau baru saja melakukan quest ya. Bagai mana jika kita makan di sebalah sana?”
Seseorang berukuran besar mendekati Jell dan Mai. Dengan tinggi sekitar 2 meter, berdiri di depan Mai yang hanya memiliki tidak memiliki tinggi seperti itu. Memberikan tekanan kuat kepada mereka dan teman-teman orang ini ikut berdiri dan mengepung Mai. Mereka tidak mempedulikan Jell yang berhenti dan menatap mereka. Mereka hanya memfokuskan diri mereka kepada Mai, dan Mai tidak memperdulikan tindakan mereka dan hanya melewati mereka bagai melewati tiang besar.
Orang-orang besar itu tampak keheranan dengan sikap dingin Mai. Tampak harga diri mereka di injak oleh gadis kecil yang baru saja mereka semua, amarah daoat di rasakan dari mereka. Dan salah satu dari mereka melakukan tindakan cepat, memegang tangan Mai untuk menghentikannya. Di tahan dengan kuat dan diperkuat juga dengan lengan besarnya, Mai terhenti dan hanya diam di tempat. Jell tampak hanya mengamati sambil tetap berjalan santai ke arah counter.
Mai hanya tetap diam dan mulai kehabisan kesabaran. Seketika aurah dingin mulai muncul darinya. Dan saat Mai mulai melakukan tindakan mematikan, seketika terhenti.
“Maaf, bisa kau lepaskan tanganmu darinya? Dia tampak tidak nyaman Anda tahu?”
Yang menghentikan tindakan Mai itu ialah Jell. Dengan tatapan tajam, Jell menatap orang yang memegang tangan Mai. Dengan aura mematikan muncul dari tatapannya. Reksi orang-orang itu tampak seketika teralihkan, dan mulai keringat dingin. Tatapan Jell benar-benar penuh dengan kebencian dan rasa jijik yang menumpuk. Akan tetapi orang yang memegang Mai tampak tidak gentar akan tekanan yang Jell berikan.
“Sialan, kau mau menantangku ha?! Kau tidak tau siapa aku? Aku adalah sang hitam, Bakoo. Yang di takuti ke-2 di guild!”
Dengan berlagak sombong dengan gelar apalah itu. Dia berkata bahwa dia yang ke-2 yang berarti ada yang pertama bukan?.
“Orang brengsek bisa menjadi yang di takuti ya? Berarti akan aku perlihatkan apa arti yang di takuti sebenarnya padamu.”
Dengan “Haa!”, orang yang menyebut dirinya Bakoo menganggapi perkataan Jell. Merasa arga dirinya di injak-injak oleh bocah pemulah membuat dia murkah besar.
Namun tidak perlu waktu lama. Seketika dalam kedipan mata, Bajingan itu terlempar dan keluar guild.
“Gghhaaa-.”
Gerangan adalah kata terakhir yang dia sampaikan sebelum terbang keluar. Di ngan tubuh yang menyedihkan, terhempas dari temoatnnya barusan dan mendarat dengan benturan luar biasa ke arah dinding guild.
Apa yang terjadi menjadikan seisi guild terdiam tanpa suara. Itu di karena kan Bakoo, sanga banjingan guild telah terhempas dari pijakannya. Tidak ada yang bisa memikirkan bahwa tubuh besar 2meter miliknya bisa terhempas dengan orang yang tingginya hanya 178meter.
Apa yang Jell lakukan adalah hal sepele. Jell dalam waktu kurang dari seperkian derik itu, Jell melompat dan menendang manusia besar itu.
Tidak ada yang bisa melihatnya melakukan gerakan itu, dan hanya sunyi yang tersisa. Kedua teman banjingan itu tampak tidak bisa membantah kenyataan. Teman mereka terhempas dengan tanpa mereka sadari. Berbalik ke arah mereka Jell dengan aura yang sama dengan apa yang dia keluarkan tadi. Menatap mereka dengan tatapan setajam jarum.
“Siapa selanjutnya.”
__ADS_1
Hanya “Higghh-” jawaban yang mereka berikan, suara lucu keluar dari bajingan-bajingan 2 meter itu dan rasanya itu sangat mengecewakan. Sambil terduduk mereka menatap Jell. Jell yang menatap mereka kembali dari atas, memberikan aurah yang memiliki arti di dalamnya “Jangan macam-macam dengan kami oke?…”. San reaksi orang-orang itu mengangguk dengan sekuat tenaga sambil ketakutan. Selesai meladeni mereka Jell pergi kembali ke tujuan awal yaitu pergi ke counter, dan Mai secara alami mengikuti. Mai tampak senang dan me gikutinya sambil melompat-lompat.
Melihat reaksi dan tindakan Jell, para petualang laki-laki yang awalnya merasa kasihan dengan Mai, di karena kan Bakoo dan temannya mengincar Mai. Seketika takut dan tidak berani mendekati Jell. “Kecepatan dan kekuatan yang bisa menghempaskan seekor gajah, mana ada manusia yang seperti itu.” Adalah hal yang berada di kepala mereka.
Namun berbeda dengan yang di pikirkan para petualang perempuan. Mereka kagum dan bahkan terkesan dengan tindakan Jell, memerah karena terpesona oleh pertunjukan itu.
Melindungi Mai dari para bajingan adalah hal yang berbinar-binar di mata mereka. “Pangeran.” adalah dengungan di kepala mereka. Mereka melihat Jell sebagai pangeran, karena sudah memusnahkan para bajingan yang selalu mengganggu mereka.
Tampaknya Bakoo dan teman-temannya sudah sedari lama sering berperilaku seperti ini.
Menghadap di depan counter. Jell dan Yinn melakukan kontak. Yinn tampak kaget dan tertawa masam. Dengan tidak mempedulikan reaksi Yinn, Jell mengeluarkan barang yang ada di tasnya dan tas Mai.
“Kami sudah melakukan perburuan. Dan ini bukti konfirmasi dari Soyutu-San. Jadi apa selanjutnya?”
“H-ha…. Ehem! Baiklah mari kita lihat.”
Yinn tampak masih melamun dan menggunakan batuk untuk menyadarkan kondisi. Yinn memeriksa dan mengkonfirmasi quest yang di selesaikan. Dia tampak kaget dengan apa yang ada di tas mereka dan hasil dari quest yang mereka selesaikan. Menanggapi pertanyaan Jell tadi Yinn memberitahu saran Bagus kepada Jell.
“Baiklah, setelah aku periksa memang benar kau sudah melakukannya. Kerja Bagus untuk misi pertama kalian. …Untuk selanjutnya bukan? bagai mana kalau kalian menjual hasil buruan ini ke pasar saja? Aku akan memberikan peta arahan untuk kalian.”
Menjual hasil buruan. Sama dengan yang di katakan oleh kakek Soyutu. Yinn mengambilkan peta mini dari laci. Di peta itu terdapat beberapa tanda, seperti penginapan, toko, dan lainnya.
“Untuk menjual hasil buruan kalian, aku sarankan untuk ke toko ini. Di toko itu kalian bisa menjual dengan harga 5% lebih mahal. Di tambah kalian juga seorang petualang, mungkin kalian akan di berikan beberapa bonus.”
Toko yang di tunjuk oleh Yinn adalah toko daging monster. Toko itu bukan menjual dagingnya tapi membelinya. Jell mengkonfirmasi, dan berpamitan dengan Yinn untuk pergi ke toko yang dia sarankan dengan berjarak sekitar 1km dari guild.
Sepanjang jalan terasa berbeda bagi mereka berdua. Kesan awal memang ramai, tetapi saat mereka lihat lebih dalam ke kota situasi benar-benar ramai. Banyak toko, kios, dan tempat makan di jalan. Pasar dan tempat mereka saat ini berbeda, akan tetapi di sekitar mereka bisa disebut banyak dengan kios buah. Mang tidak banyak, namun jika pergi kedaerah pasar, maka di sanalah tempat yang pas untuk membeli bahan pokok sehari-hari. Berjalan sejauh 1km dengan pemandangan kota yang Indah dan damai memang yang terbaik. Walau ada bajingannya, akan tetapi situasi saat ini begitu damai.
Sampai di tempat itu, toko penjual monster. Jika di baca dari penanda di depan toko, mungkin di situ tertulis.
“Meat Meteta.”
Mai membacakannya juga untuk Jell, tulisan menggunakan tulisan mereka. Mai tampaknya sudah terbiasa dengan itu. Dengan sedikit terbata-bata membacanya, akan tetapi itu sudah bisa di katakan fasih. Sedangkan untuk Jell, dia masih perlu waktu sedikit lebih lama lagi di bandingkan dengan Mai, Walau pun mereka tinggal belum sebulan di dunia ini.
Seperti yang di harapkan dari Mai. Memuji Mai, Jell mengelus kepala Mai, Mai bingung tapi bahagia. Pujian yang di berikan karena kehebatan pemahaman dan kecepatannya dalam mempelajari sesuatu, dan itu alasan kenapa dia mendapatkan posisi pertama di kelas dan masuk sepuluh terbaik di sekolahnya.
Memasuki toko, bunyi lonceng di pintu terdengar, dan juga “Selamat datang di Meat Meteta.” dari seorang penjaga toko di kasir. Penjaga toko itu beri salam dan tersenyum kepada mereka, tampaknya dia lebih ramah dari yang di bayangkan dari gambaran penjaga toko daging yang kasar dan perkasa.
Memasuki toko bisa di lihat ada beberapa rak yang unik, di dalamnya ada daging monster yang tersimpan rapi. Mungkin tujuannya untuk menunjukkan harga daging untuk di jual di toko ini.
Jell dan Mai pergi ke penjaga dan membawa tas besar berisi bagian tubuh monster. Menyerahkannya, dan tampak penjaga meneliti melihat bagian-bagian monster itu.
“Whoa, kalau di jumlahkan sekitar 10 ekor Rabbit Frosted, bukan?”
“Benar, kami mengolahnya sesuai instruksi yang kami tau, jadi totalnya sekitar 60 bagian.”
“Baiklahh!.”
Penjaga tampak bersemangat dengan jumlah itu. Mata yang bersinar sambil menghitung jumlah, dengan teliti di lihatnya. Jell yang tampak bingung dengan reaksinya, akhirnya menanyakannya langsung.
“Ano, kalau boleh tau, kenapa Anda begitu bersemangat?”
Bertanya sambil tertawa masam, Jell tampak tidak sopan menilai pekerjaan orang lain. Dia penasaran dengan reaksi penjaga toko itu, Itu hanya daging, adalah apa yang dia pikirkan. Penjaga terdiam dan tersenyum kepadanya. Lelaki sekitar umur 24 itu memberitahunya.
“Hahah, apa aku terlihat sebegitunya ya? Memang sih, itu di karena kan kalian membawakan Rabbit Frosted yang masih segar.”
“Hm?, memangnya petualang lain menyerahkan yang sudah basi?”
“Benar, kebanyakan dari mereka sih. Tetapi yang seperti kalian jarang aku temui.”
Penjaga toko itu memberi tahu mereka alasan semangatnya itu. Itu di karena kan level dari Rabbit Frosted yang mereka lawan itu rank S, yang seharusnya di lawan oleh peringkat Hitam. Semakin tinggi tingkatan monster, maka tingkat kesulitannya juga akan naik menyesuaikan dengan monster yang mereka lawan.
Jell dan Mai tampak kaget dengan apa yang di beritahu oleh penjaga. Kenyataan bahwa monster yang mereka lawan ini, seharusnya di lawan oleh para veteran dengan rank Hitam. Masih bingung dengan pertanyaannya, Jell mendesak dan menanyakan beberapa hal.
Dari pertanyaan Jell ke penjaga. Di ketahui bahwa Rabbit Frosted, adalah monster tingkat D. Itu di karena kan ukuran mereka dan sihir yang mereka punya. Bukan hanya itu, kulit mereka yang keras, membuat para petualang kewalahan melawan mereka. Yang anehnya Rabbit Frosted menempatkan posisi D, yang di mana itu adalah monster tingkat lemah.
Walau begitu dari pemeriksaan yang penjaga lakukan. Di ketahui kalau Rabbit Frosted yang mereka lawan benar-benar kuat. Di tambah dengan musim kawin mereka, para monster itu jadi lebih kuat 60% dari musim biasanya. Sehingga para petualang tidak ada yang akan melawan mereka di waktu yang menyusahkan itu.
Jell yang menyimpulkan semuanya tampak bingung. Dengan kata kalau bahwa, Yinn menyuruh mereka untuk melawan Rabbit Frosted, yang di mana mereka masih pemula atau Rocky. Kemudian, apa alasan Soyutu menyerahkan hasil buruan itu, karena dia melihat potensi mereka? Dan jika iya, quest Soyutu itu tidak pernah di terima dalam jangka waktu itu. Dan Mereka berdua di jadikan tumbal atau kelinci percobaan untuk memburu 10 ekor Rabbit Frosted.
***
__ADS_1
Pembelian selesai. Jell dan Mai mendapatkan bayaran dari pembelian daging monster. Total yang mereka dapatkan bukan cuma-cuma yaitu 1,200 Runiah.
Keluar dari toko, Jell dan Mai memutuskan untuk kembali ke guild untuk meminta penjelasan. Pulang ke arah sebaliknya, Jell dan Mai menuju ke guild.
DoKkk…
Suara pintu depan di dorong dengan kekuatan berlebih. Itu Jell dan Mai. Memasuki guild tampak berbeda, para bajingan-bajingan itu sudah tidak ada di sini, akan tetapi lubang besar masih tersisa. Petualang laki-laki sudah tidak berani melirik mereka dan malah sebaliknya, para petualang perempuan berteriak tenang saat melihat Jell datang. “Kyaa…”, “Pangeran tiba…”, dan teriakan lainnya. Tidak mempedulikan itu, Jell dengan sigap menuju counter. Yinn terlihat di sana, dan tampaknya tau apa alasan Jell mengarah kepadanya.
“… Yinn-San … Aku minta bayaranku…”
Nada dingin dari kata-kata Jell dapat di dengar. Yinn terangkat dan kaku sambil memberikan bayarannya. (100 Runiah)
“Ano, J-Jell-San … Sepertinya ada yang menekan dari sikapmu ya. Hah… haha…”
Yinn sepertinya mencoba menanyakan bagai orang bodoh terhadap sikap dinginnya. Jell hanya menatapnya dan berdiri di depan counter lebih lama sambil tersenyum dingin. Senyum menyeringai dari wajah Jell tampak menakutkan, dan di tambah aura tidak nyaman yang berada di sekitar Jell membuat dia tampak seperti di kelilingi iblis. Dengan Yinn yang merasa bersalah dan membicarakan dengan Jell secara baik-baik.
“Pertama, biarkan aku mengucapkan maaf atas tindakan egoisku (menunduk). Kalau tidak dengan begitu, aku akan ragu terhadap diri kalian. Jadi aku benar-benar minta maaf. … Aku akan mengabulkan satu permintaan kalian sebagai gantinya. Silahkan katakan apa saja!”
Jell tampak tetap menatapnya dan tidak merespon. Seketika Jell berbalik dan memberi tau apa kemauannya.
“Kalau begitu, aku minta kami naik pangkat hingga kuning.”
Tersenyum sambil pergi ke pintu keluar, Jell menyebutkan itu. Sesaat melihat respon Jell, Yinn tersenyum semangat dan seketika berkata.
“Serahkan saja padaku!”
***
Kota ramai dan berisik. Jell dan Mai yang berjalan diantara orang-orang menuju arah timur dari arah guild. Dari brosur yang di berikan Yinn, di situ terdapat sebuah penginapan yang di rekomendasikan. “Murah dan Nyaman.”, itu moto penginapan yang tertulis di brosur itu.
Tidak memakan waktu lama, mereka sudah berada di depan penginapan. Penginapan besar dan tampak 4 tingkat terlihat. Bangunan bergaya abad pertengahan seperti bangunan lainnya.
Memasuki bangunan besar itu, pada lantai bawah terdapat Bar. Bar itu terletak tak jauh dari counter penginapan. Dari informasi brosurnya, di lantai satu itu bar, lantai dua dan tiga adalah penginapan.
Jell dengan spontan pergi ke arah counter dan Mai malah asik melihat orang berjudi di bar. “Wah, lihat ada beberapa orang pengangguran di sana~” dengan mengatakan hinaan itu dengan ekspresi terang, dia melihat para orang-orang tua dan ada beberapa pria umur 20 tahun yang sedang berjudi di sana, sepertinya mereka memang segerombolan orang pengangguran.
“Selamat datang…”
Penjaga menyapa Jell dengan nada tinggi. Jell sejenak melihat wajah penjaga itu, dan dia mengambil satu kesimpulan penting. “Orang ini bajingan.”
“Aku ingin menginap dengan jumlah uang segini.”
Jell mengeluarkan sekantung uang dari saku celananya dan menyerahkannya. Jumlah uangnya sejumlah 200 Runiah.
“Hmm, kalau begini kalian hanya bisa 1 minggu sudah check out.”
Menatap penjaga toko, Jell mendekati kepalanya, seketika ekspresinya berubah. Pandangan mereka seketika bertemu, saat pertama bertemu, penjaga toko sama sekali tidak menatap Jell dan hanya fokus membersihkan gelas yang dia pegang.
Jika ada orang yang memperhatikannya, pasti akan bertanya sudah berapa lama dia membersihkan gelas itu.
“Seminggu? kau bercanda ya, hahaha. Lawakanmu sangat menggelikan kau tau.”
“Aku serius...”
“Hah? Kau sedang serius rupanya ya. Maaf, aku kira kau hanya sedang bercanda dengan jangka waktu kamar. Aku katakan ini, jika kau tidak ingin ada gosip tidak enak dari toko ini, jangan salahkan aku.”
Yang di ketahui oleh Jell di sini adalah dia mengetahui bahwa penjaga penginapan ini tidak pernah mengatakan harga kamar kepada Jell.
Jell menggertak dengan mengelabui penjaga toko. Kenyataannya Jell sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melakukan hal itu, itu di karenakan di kota ini tidak ada yang Jell kenal.
Penjaga toko dengan suara “Cih”, dengan reaksi di wajah Jell. “Orang yang tidak bisa di kulabui.” Wajah Jell mencerminkan itu. Jell dengan serius menatapnya dengan wajah tersenyum menyeringai.
“Baiklah, sebulan. Akan tetapi itu tidak akan mendapatkan fasilitas ok?”
“Tidak masalah, selama kami tidur dengan nyenyak itu cukup.”
Penjaga menyerahkan kunci kamar yang bernomor 12. Memanggil Mai, Jell dan Mai pergi ke lantai tiga. Memasuki ruangan dan dengan gembira meregangkan badan.
Satu ranjang, meja kecil, dua kursi, lemari 1 pasang. Fasilitas pas-pasan, akan tetapi dia tidak menyesalinya karena bisa hidup selama sebulan di sini.
“Dengan ini kita sudah mendapatkan tempat tinggal ya.”
__ADS_1
Bersemangat dengan situasi, Jell menggambarkan isi hatinya.
***