
Suasana gelap dan sulit untuk melihat ke mana arah untuk bergerak. Dalam kesunyian itu hanya dapat di lihat ada satu tempat yang bercahaya, cahaya yang di hasilkan dari ‘Bright Crystal’ bisa di lihat di ujung pandangan.
Berada di lapangan pasir yang luas dan gelap. Sama sekali tidak ada penerangan di lantai Dungeon ini. Lantai 20 benar-benar misterius.
[Sebagai tambahan. Penerapan bos lantai di setiap tingkatan berbeda-beda, di tingkat 1 atau lantai 1-10, bos lantainya berada di lantai ke-11. Tingkat 2 atau lantai 12-20, bos lantai berada di lantai ke-20. Dan untuk tingkat ke-3 masih belum di ketahui.]
Lantai 20 besar dan hanya berlantaikan pasir hisap mematikan, dan untuk keadaan ini, Jell dan Mai benar-benar dalam posisi yang tidak menguntungkan karena kekuatan mereka di segel oleh pasir hisap.
Dan jika saja rombongan kadal berwajah manusia muncul untuk sedemikian kalinya dan berhadapan dengan mereka, maka Jell dan Mai akan mendapatkan akhir yang tidak menyenangkan.
Akan tetapi di lantai ke-20 bisa di katakan sunyi dan kosong. Bagaikan rintangan yang di sediakan hanya lah melewati lapangan pasir hisap yang tak berujung.
Namun Jell tidak lah percaya akan hal itu, karena sejauh mereka melewati Dungeon ini mereka sama sekali tidak pernah mendapatkan kejadian seperi ini. Dan untuk hal yang terjadi di lantai 20 adalah hal yang janggal.
***
“Semakin kita maju, semakin gelap saja.”
“Nn, ini sedikit merepotkan.”
Jell dan Mai bergerak menyusuri lapangan pasir dan memandangi sekitar dan tidak bisa melihat apa-apa. Hanya ada gelap gulita.
Namun...
““!!!””
Dalam kegelapan yang sunyi dan dari tadi tidak ada penyerangan yang terjadi, untuk pertama kalinya mereka di lantai 20 merasakan hal yang benar-benar berbahaya.
“Mai! Kau merasakannya? Jangan lengah, tetap waspada.”
“Nn! Aku juga merasakannya. Aku tau.”
Seperti yang mereka bicarakan. Terjadi sesuatu yang membuat Jell dan Mai menjadi seketika waspada.
Hal itu tidak jelas dan tidak tampak di kegelapan, namun Jell dan Mai mampu merasakannya. Aura menekan yang luar biasa dapat di rasakan dari kegelapan.
Sesuatu yang besar dan kuat, tidak bisa di bandingkan dengan bos lantai 11. Kali ini benar-benar bahaya.
Jell dan Mai dalam posisi berjaga akan hal tak terduga. Walaupun dalam kondisi non-Class (Class tidak di aktifkan, dengan kata lain kekuatan mereka lebih lemah dari biasanya.) mereka tetap waspada akan hal terburuk.
Dan jika itu adalah sesuatu yang tidak bisa di tangani dengan kondisi non-Class, maka Jell dan Mai terpaksa mengaktifkan Class mereka, walaupun kondisi terburuknya mereka bisa saja terseret pasir hisap.
Jell memegang Mini Sword dengan panjang sekitar 30cm dan Mai juga memegang Mini Sword yang sama dengannya.
Dalam mode non-Class, kita tidak bisa menggunakan peralatan yang memerlukan kecocokan Class. Seperti sword milik Jell yang kecocokannya dengan Class fighter miliknya, maka tidak bisa dia gunakan dalam mode non-Class.
Dan jika tetap di paksakan itu melarang tabu yang sudah di terapkan oleh tuhan dunia ini. Dan melanggar tabu akan mendapatkan ganjaran.
***
Tidak bisa menggunakan Class di kondisi saat ini, benar-benar membuat Jell dan Mai bagaikan mangsa yang tidak bisa berbuat apa-apa dan menunggu untuk di mangsa.
“Sialan, bagaimana kita akan menghadapi ini.” (Jell)
“Kalau keadaannya memburuk, kau harus menjadi umpan ok!” (Mai)
Perkelahian terjadi diantara mereka. Memutuskan siapa yang harus menjadi umpan hidup demi menyelamatkan satu nyawa, hal itu harus di pikirkan baik-baik.
Sambil tersenyum tanpa rasa takut, keduanya membuat formasi pertahanan dari dua arah diantara kedua punggung mereka bersentuhan.
Bagaikan tidak memiliki rasa takut akan kematian yang sedikit lagi menghampiri, keduanya malah seperti menanti-nantikan hal ini, dan tidak sabar bertemu dengan sosok yang membuat aura menekan tadi.
Dan tepat di saat mereka dalam posisi waspada, apa yang muncul dari permukaan adalah hal yang tak terduga.
Keluar dari dalam pasir hisap, itu adalah Monster yang hanya ada di dunia fantasi dan hanya sebuah legenda. Cacing pasir.
Dengan panjang lebih dari 6meter, memiliki berat sekitar 4000 kg. Kulitnya bersisik dengan pola tajam dan memiliki sebuah pola bergaris di samping tubuh mereka, garis dengan warna hijau gelap membentang hingga ekor, dan itu menghasilkan sebuah cahaya buram.
Bukan hanya itu, cacing itu memiliki mulut yang terbuka bulat selebar tubuhnya dan memiliki ratusan gigi di dalamnya. Gigi yang melingkar di mulutnya memiliki kesan luar biasa, itu adalah Death Worm.
Tepat di hadapan mereka. Jell langsung memegangi tangan Mai dan membanting tubuh mereka di arah berlawanan.
Di saat cacing itu keluar dari tanah, tepat di saat dia akan melakukan pendaratan, cacing itu sepertinya mengincar Mai. Mai yang hanya tercengang dengan kemunculan cacing raksasa itu hanya bisa melihatnya dan tidak mendapatkan kesadarannya.
Berikutnya, cacing itu yang mengincar Mai, menabrak tanah dengan wajahnya.
Debu bertebaran di mana-mana, tabrakan kuat mengakibatkan gempa ringan, dan dalam tabrakan itu Death Worm menghilang tanpa jejak.
Pasir yang di hantam tidak meninggalkan tanda. Bagaikan menghilang di telan bumi adalah peri bahasa yang cocok dengan kejadian ini.
Jell dan Mai yang melihat tidak adanya bekas atau tanda kerusakan di pasir langsung memperhatikan sekitar. Melihat ke sekeliling dan tidak menemukan apa-apa. Cacing raksasa itu benar-benar lenyap dan tidak di temukan lagi.
“Barusan tadi—” (Mai)
“Death Worm. Siapa sangka mereka ada di dunia ini. Padahal yang aku tau, tidak pernah ada Death Worm di BOA … Sialan ini merepotkan.” (Jell)
Jell dan Mai tidak kehilangan kewaspadaan. Selagi mencari informasi dan memahami situasi, mereka berdua dengan memegang pisau di tangan mereka dengan posisi waspada.
Di saat Jell dan Mai yang sedang kebingungan dengan kemunculan cacing raksasa itu, tiba-tiba muncul di hadapan mereka sekali lagi.
Cacing raksasa berukuran 6 meter menyapa mereka kembali. Melompat ke atas bagaikan terbang, dan sekali lagi menciptakan pandangan yang elegan dan dengan kuat menghantam pasir tempat pijakan mereka.
Jell dan Mai saat ini dalam kondisi yang tidak menguntungkan dan dalam bahaya. Class tidak bisa di keluarkan saat ini, dan cacing raksasa terus muncul ke permukaan dengan hantaman yang luar biasa.
Pergerakan cacing saat jatuh begitu cepat, dan di tambah tubuh cacing itu memiliki sisik yang seperti sisik buaya yang mengelilingi bagian atas tubuhnya.
Jika orang-orang menyebutnya naga, maka mereka tidak bisa menyangkalnya, itu karena Death Worm di dunia ini lebih baik di sebut naga tanah dari pada cacing.
Sisik keras bagian atas, dan tentunya sangat sulit untuk pisau mereka untuk melukainya. Pertahanan yang kuat, pola serangan yang sulit di baca, bersembunyi di pasir mematikan. Benar-benar menggambarkan tank berjalan, sejujurnya lebih dari itu.
“Sialan! Bagaimana caranya untuk melukai mereka.”
Jell memaki dengan keadaan saat ini, sambil mencoba melukai tubuh cacing, dan cacing itu sama sekali tidak memberikan kerusakan sama sekali.
Death Worm menyelam di pasir dengan gaya jatuh yang elegan, dan sembari menunggu kemunculannya lagi Jell dan Mai sudah siap akan hal itu.
Namun penantian mereka di hancurkan. Death Worm tidak kembali dalam waktu cepat.
“Apa yang dia lalukan?”
Dalam keheranan dengan sikap cacing yang tidak disiplin karena terlambat, Jell kebingungan dan mulai melihat sekeliling untuk mencari lokasi cacing.
Di luar dugaan, saat setelah Jell melihat untuk mencari cacing, tanpa di sadari dari bahwa tempat pijakan mereka muncul cahaya hijau gelap yang lama kelamaan membesar.
Dan...
GgGhHhuaAAHH!!!
Keluar dari dalam pasir. Disertai dengan ledakan besar dari kemunculan mereka. Benar, mereka. Itu adalah gerombolan cacing raksasa yang keluar dari tanah secara bersamaan.
Jatuh ke tanah dengan hantaman yang luar biasa. Mereka dengan serentak jatuh secara bersamaan dengan pola bunga mekar.
Jell hanya tercengang dengan apa yang dia lihat. Cacing raksasa itu tidak sendirian dan tiba-tiba ingatan tentang merasakan aura tekanan waktu itu, muncul di benaknya.
Cacing raksasa yang menghantam tanah naik kembali memenuhi harapan, mereka cepat dan kuat. Menghantam pasir seperti menyelam di air.
Mengincar dua orang yang tidak berdaya di daerah kekuasaan mereka, cacing-cacing itu bagaikan tertawa menyiksa makhluk lemah.
“Sialan! Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan, bagaimana ini~!”
“Berisik! Pokonya, kita harus lari dari sini dan menemukan tempat yang tidak berpasir.”
Jell dan Mai melarikan diri di saat cacing-cacing itu muncul ke permukaan untuk kedua kalinya. Mahluk lemah , kata itu sudah bisa di pakai untuk menunjukkan aksi dari kedua orang ini.
Mereka lari terbirit-birit secara zig-zag. Menghindari tabrakan dari cacing raksasa, mereka berlari menuju kearah depan dari tempat mereka berpijak.
Berlari menunjukan sedikit pengaruh, cacing-cacing itu sudah lebih jarang muncul ke permukaan, namun keberadaan mereka di dalam pasir sama menakutkannya. Namun ini lebih baik dari pada berlari zig-zag secara terus menerus.
***
Sudah 15 menit berlari dan menghantam, kedua pihak tidak saling menyerah untuk menghentikan kejar-kejaran yang dari tadi mereka lakukan.
Jell dan Mai tidak kelelahan, dan cacing-cacing raksa itu juga tidak kelelahan. Dalam hal ini, beradu ketahanan akan menjadi kemenangan.
Akan tetapi jika di lihat secara norman, maka pihak Jell lah yang mengalami kekalahan. Tidak bisa menggunakan Class, adalah kekalahan mereka.
“Sepertinya, memang tidak ada pilihan lain.”
“!!!”
Untuk Jell yang mengatakan kekalahan mereka, Mai terdiam dan merasakan kesakitan di dadanya.
Jell berhenti berlari dan berdiam diri, Mai hanya memandanginya dengan tatapan kosong dan masih berlari. Memperlambat kecepatannya dia memandang Jell yang terdiam.
__ADS_1
“Jell, apa yang ingin kau lalukan kali ini, kau akan berlagak keren lagi dan menjadi pahlawan? Ini di atas pasir kau tau, kalau kau menggunakan Class di sini, maka habislah.”
“Nn, aku tau kok. Namun, apa kau pikir berjalan lebih dari ini akan membuahkan hasil? Saat pertama kali masuk ke Dungeon ini, aku sudah berpikir. Dungeon ini di kontrol. Di kontrol oleh orang yang membuatnya dan dia mempersulit kita untuk menyelesaikannya.”
“Apa yang kau katakan…”
“Dan untuk kasus lapangan pasir ini, bukankah kau sudah mengerti? Ini tidak akan ada ujungnya, dan aku berpikir kalau kita hanya berputar-putar di tempat yang sama.”
“Kalau memang begitu, kenapa! Bertahan hidup dari gerombolan cacing itu wajar bukan? Dan yang kau lakukan ini sama saja seperti sudah menyerah!”
“Ini tidak akan ada habisnya. Dan di sini akan aku jadikan penghabisan.”
“ (!!!) Apa yang ingin kau lakukan! Kenapa kau selalu saja melakukan tindakan bodoh, padahal aku bisa melindungi diriku sendiri. Jika kau melakukannya, aku juga akan ikut.”
“Mai! Apa yang kau katakan Ka-”
“Aku tidak akan menerima penolakan, aku akan membantumu di sini.
Kau pergi aku akan pergi, kau maju maka aku juga akan maju.”
“Apa yang kau lakukan. Aku akan memberimu waktu untuk mencari tempat tidak berpasir.”
Mai tersenyum lebar dengan penuh perasaan di dalamnya.
“Kapan dan di manapun, aku akan selalu ada. Walaupun itu tempat penilaian terakhir manusia, aku akan selalu berada di sampingmu.”
Mai mengatakannya, dengan senyum lebarnya. Apa yang di dalam pikirannya tidak bisa di tebak oleh Jell, dan itu kadang membuatnya pusing.
Namun kali ini Jell benar-benar bahagia dengan perkataannya. Dia rela memasuki kematian hanya demi bisa bersama dengannya. Dan itu sudah cukup bagi Jell untuk tidak menghentikan tekad milik Mai.
(Tambahan, di saat mereka berbicara, gerombolan Death Worm masih mengejar mereka. Jell dan Mai lari lebih cepat dari pada gerombolan itu.)
Gerombolan cacing dengan capat berlari menuju arah mereka. Jell dan Mai berada di depan dan masih tidak mengaktifkan Class sama sekali.
Jika di perhatikan, gerombolan cacing itu sepertinya bersemangat dan lebih cepat menuju ke arah mereka berdua. Cacing-cacing itu sepertinya berpikir bahwa Jell dan Mai sudah menyerah dan dengan suka rela akan menjadi santapan mereka.
Namun. Harapan mereka hilang dalam sekejap.
(!!!)
Tepat di depan mata mereka, Jell dan Mai mengeluarkan aura membunuh luar biasa. Aura yang terpancar dari tubuh mereka meluap keluar bagaikan asap dari sebuah api besar.
Cacing-cacing itu tidak tau apa yang telah mereka lakukan dan tetap menuju arah Jell dan Mai dengan amarah yang meluap.
Apa yang di lakukan Jell dan Mai adalah menggunakan mana alam. Mereka menggunakan mana alam yang melimpah di Dungeon, dan menggunakannya untuk mengaktifkan skill yang akan di gunakan.
Pasir hisap tidak akan bereaksi terhadap mana alam, dan lebih tepatnya, pasir hisap lah yang menjadi sumber mana alam tersebut.
Jell memasang kuda-kuda dan Mai mengikutinya dengan memasang kuda-kuda yang sama. Mana alam yang mereka gunakan tidak bisa mengaktifkan skill, dan lebih tepatnya mereka hanya bisa menggunakan skill tipe buff.
Walaupun begitu, itu cukup untuk melakukan serangan balik dari gerombolan cacing raksasa.
Jarak diantara cacing dan Jell sudah mencapai 5 meter dan itu adalah jarak yang cukup untuk melakukan tebasan penghabisan.
Mini Sword dengan panjang yang hanya 30 cm, meningkat menjadi 40 cm. Panjang dari pisau di lapisi oleh skill buff yang mereka gunakan.
Menjadikan Mini Sword yang awalnya terlihat lemah, menjadi senjata yang harus di perhatikan sebelum bertindak.
Gerombolan cacing menyelam dalam tanah, dan dengan seirama gerombolan itu muncul dan melesat ke permukaan.
Melesat ke udara, menciptakan pemandangan yang misterius. Membentuk sebuah pohon yang memiliki banyak ranting, cacing-cacing itu secara bersamaan membentuk pola.
Tepat di atas dan mendarat dengan hantaman. Cacing-cacing itu menargetkan sasarannya adalah dua orang bocah yang telah berani menantang mereka.
Dengan menjatuhkan tubuh mereka dengan anggun secara menusuk. Jell dan Mai juga tidak akan kalah dalam hal kerja sama. Tujuan dari serangan penghabisan Jell dan Mai adalah, mereka akan langsung menyerang daerah vital dari cacing itu.
Tepatnya adalah bagian yang tidak di lindungi oleh sisik keras mereka, mulut adalah targetnya.
Akan mengiris tubuh cacing dengan Mini Sword, dengan membelah mereka menjadi dua bagian. Menyerang dari mulut hingga ekor, adalah serangan penghabisannya.
““AAAaaa!!!””
““SSshHHAaa!!!””
Berlari menuju arah cacing-cacing raksasa dan cacing-cacing raksasa menuju kearah dua bocah.
Berteriak untuk menggambarkan kekuatan dan tekad dari serangan penghabisan, Jell dan Mai berteriak dengan perasaan yang kuat. Tidak mau kalah akan semangat, cacing-cacing itu juga mengeluarkan suara kuat juga.
Berhadapan satu sama lain. Cacing-cacing raksasa yang berada dari atas yang jatuh secara vertikal menghantam Jell dan Mai.
Dalam tempo yang indah, di saat Jell akan mengeluarkan serangan pertama, salah satu cacing dari gerombolan menghadangnya dan menjatuhkan tubuhnya.
Jell yang menyadarinya, akan membuat pilihan tersebut salah dan dia akan menjadi korban pertama di pertempuran penghabisan ini.
Zing!
Di gores mulut cacing yang menghalangi, di tebas dari mulutnya menuju ekor. Dan satu korban telah muncul di pertempuran.
***
Mai yang berlari menuju arah cacing, mencoba melakukan hal seperti yang di lakukan Jell. Salah satu cacing mendekat dengan jatuh secara vertikal menujunya.
Mai yang berpikir bisa membunuh lebih dari satu cacing di tempo bersamaan, melakukan hal gila.
Salah satu cacing yang mengincarnya di tebas dari mulut menuju ekor. Dengan kondisi yang melompat ke udara, seharusnya Mai harus melakukan pendaratan untuk mengambil pijakan untuk lompatan selanjutnya, namun hal itu di tolak.
Di saat selesai menebas salah satu cacing, Mai langsung menggunakan tubuh cacing tersebut sebagai pijakannya di udara.
Berlari di atas cacing yang menjadi pijakannya, Mai menuju cacing lain yang berada di depan, dan menebasnya.
Tempo yang di gunakan Mai sangat cepat dan benar-benar tidak bisa di baca pergerakannya. Siapa yang mengira, dia akan menggunakan cacing yang memiliki sisik keras sebagai pijakan. Dan akhirnya dia menjatuhkan dua korban dalam sekali lompatan.
“Jangan ceroboh Mai, Death Worm masih belum terdeteksi kekuatan mereka. Bagai mana jika mereka bisa mengubah lintasan pergerakan mereka?”
“Buu– , kau tidak asik Jell, jika sikapmu begitu tidak ada wanita yang mau denganmu loh.”
Vena muncul di kepala Jell. Mai melakukan lawakan di saat situasi serius ini, dan kebiasaannya ini membuat dia sedikit menyesal karena tekad untuk melindunginya.
Di pukul kepala Mai dan di mengeluarkan suara aneh karena mendapatkan serangan mendadak dari Jell.
“Kya–, apa yang kau–”
Kemarahan Mai tidak di lanjutkan. Itu di karenakan, cacing-cacing raksasa mulai bersikap aneh.
(Tambahan, jumlah cacing yang berada di gerombolan berjumlah 6 ekor.)
Cacing-cacing raksasa tepat saat menghantam tanah, mereka muncul kepermukaan dengan sikap yang aneh. Mereka hanya menggantung tubuh mereka dari permukaan dengan bentuk seperti “r”.
Mereka seperti takut atau cemas akan sesuatu. Bagaikan hewan liar yang memiliki indra untuk merasakan bencana, cacing-cacing itu bersikap demikian. Mereka membungkuk dengan menggantung tubuh mereka, dan bisa di katakan mereka ketakutan.
***
Jell dan Main yang melihatnya hanya memasang wajah bingung sambil bersiaga. Mereka tidak terlihat sebersemangat tadi, bagaikan di sapu angin kencang semangat mereka.
Namun, jawaban yang seberanya telah tiba.
(!!!)
(Apa itu? Tekanan apa tadi itu. Kuat, itu sangat kuat)
Jell lenyap dalam pikirannya, dan tidak dapat mengekspresikan apa yang dia rasakan dari tekanan tadi. Dia tidak bisa membuka mulutnya dan hanya bisa bersuara di dalam hatinya.
Sejenak melihat Mai. Mai memasang wajah yang kurang lebih sama dengannya, sedikit pucat dan tidak bisa berkata-kata. Tekanan yang di rasakan mereka tadi 10 kali lebih kuat dari tekanan yang di berikan cacing raksasa.
Setelah melihat Mai yang setidaknya baik-baik saja. Jell memalingkan pandangannya menuju gerombolan cacing yang menggantung.
Mereka masih di sana menggantung diri mereka, namun kemudian mereka kembali ke tanah dengan perlahan.
“Kau merasakannya?”
“Nn, tadi itu menakutkan.”
Jell membukan pembicaraan. Sepertinya kekuatan tubuh Jell dari tekanan sudah kembali, dia menanyakan pendapat Mai dan Mai menjawabnya dengan jujur.
Namun dalam kondisi yang tidak enak itu, tiba-tiba muncul sosok yabg benar-benar tidak ingin mereka jumpai.
“MAI AWAS!!!”
Jell langsung membanting tubuh Mai, namun kali ini Jell melakukannya dengan kasar.
Dengan posisi keduanya terjatuh ketanah, tiba-tiba ledakan atau gumpalan tanah meledak di sekitar mereka, dan membuat mereka berdua terhempas dari pijakan.
Badai debu dari pasir menghembus dengan kasar dan menghantam segalanya. Jell dan Mai yang ikut terhempas oleh badai, mendapatkan kembali keseimbangan dan melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
Tidak ada apapun yang bisa di lihat dari gumpalan awan debu di depan mata mereka, menutup segalanya dan gelap. Namum cahaya redup mulai muncul dari gumapal debu, cahaya berwarna hijau zamrud buram muncul dari dalam debu.
Cahaya memiliki tinggi sekitar 20 meter. Jell memandanginya dan cahaya itu muncul mendekati mereka.
Dan...
“!!!”
Sebuah hantaman besar seberat puluhan ton hingga ratusan ton menghantam tanah. Guncangan dari hantaman membuat gempa bumi di daerah itu. Tanah yang di hantam meninggalkan bekas, itu adalah cacing kolosal.
“Berbeda. Dia berbeda dengan mereka yang sebelumnya.”
Tinggi 20 meter menjulang tinggi ke langit-langit dungeon. Berat yang di miliki tidak di ketahui, dia 10 kali lebih berat dari cacing raksasa. Cacing kolosal muncul dengan anggun berdiri tergantung menatap dua bocah.
(TN: Cacing raksasa : 6 meter, sedangkan cacing kolosal : 20 meter.)
Tidak bisa memalingkan pandangan dari keagungan cecing kolosal, Jell hanya terdiam menatapnya.
Namun, cacing kolosal tidak memberikan istirahat kepada mereka, dan langsung membanting tubuhnya yang berdiri tegak. Dan mengakibatkan hantaman yang sama kuatnya dengan hantaman pertama.
“Mai, dia adalah bos lantai. Hati-hati, dia 10 kali lebih kuat dari pada cacing-cacing sebelumnya.”
“Nn! Tapi jika di lihat, kita dalam masalah.”
Keduanya memasang posisi bertempur sebelumnya, dan menunggu cacing kolosal menggantung tubuhnya lagi. Cacing kolosal saat menghantam tanah, tidak menghantam dengan kepala, melainkan menggunakan tubuhnya. Sehingga dia tidak menyelam di pasir, dan saat ini masih berbaring di tanah.
Zet! Zet! (Suara lompatan)
Keduanya menyerang duluan, menggunakan kombinasi sebelumnya, Jell dan Mai maju menuju cacing kolosal yang terbaring tak berdaya. Namun itu tidak bisa di lakukan dengan mudah.
SSshHHAaa!!!
Cacing kolosal berteriak, dan dalam sekajap muncul cacing-cacing raksasa menutup jalan serangan Jell dan Mai.
Cacing-cacing raksasa mencoba melindungi cacing kolosal. Dari teriakan tadi, sepertinya itu adalah sebuah sinyal. Cacing kolosal adalah pemimpin mereka, dan cacing-cacing raksasa adalah anak buahnya.
Terkejut dengan kemunculan gerombolan cacing, Jell dan Mai mengubah arah dan berbalik. Mereka tidak bisa mendekati cacing kolosal di karenakan cacing-cacing raksasa menjadi tameng.
Cacing kolosal yang tertidur bangun, bangun dan menggantung. Dan kemudian seperti sebelumnya, dia membandingkan tubuhnya dengan keras menuju arah Jell dan Mai.
DduUAARR!
Hantaman mengenai tanah dan mereka tidak ada di sana. Jell dan Mai saat ini dalan kondisi yang tidak bisa di untungkan, mana alam tidak cukup untuk mengalahkan cacing kolosal dan anak buahnya.
“Satu-satunya cara hanya menggunakan job.”
Dalam pikiran yang bercampur aduk, Jell menyuarakan harapan. Mai yang memandanginya langsung pergi ke arah nya.
“Jell. Kalau memang itu satu-satunya harapan, biarkan aku yang akan melakukannya!”
Kaget dengan perkataan Mai, Jell menatapnya dengan persaan tidak enak.
(Jump!)
Sepertinya cacing-cacing raksasa itu tidak memberikan Jell dan Mai waktu, dan cacing kolosal sudah mulai naik ke atas untuk ke tiga kalinya.
“Apa yang membuatmu merasa begitu.”
Tersenyum kecil dari kekhawatiran Jell, Mai mengepalkan tangannya dan menepuknya di dada, sambil mengangkat tangan satunya lagi untuk memperlihatkan otot. Walaupun ototnya tidak terlihat.
“Hehe, kau pikir aku ini siapa?!”
Dengan jawaban Mai, Jell tersenyum kecil. Dan senyuman itu terangkat dan menjadi senyumnya tanpa rasa takut.
“Yosha! Ayo kalahkan para bajingan ini!”
“Nn!”
““Job Active!””
Berteriak secara bersamaan. Cahaya muncul dari tubuh mereka, dan kemudian pedang dan Dual Knife milik mereka muncul dengan mengambang di hadapan mereka. Muncul secara misterius membuat kondisi mengagumkan. Bagaikan sebuah item yang muncul di hadapan pemain dalam game, adalah kondisi saat ini.
“Saa, maju sini!”
““SSshHHAAa!!!””
Berlari menuju pertempuran, kali ini benar-benar pertempuran penghabisan.
“Jell, aku serahkan para kroco itu padamu!”
“Ahh, serahkan padaku.”
Pergerakan keduanya berubah pola. Dalam pertempuran biasa, Jell adalah orang yang akan menghadapi bos dan melemahkan dan membunuhnya. Namun kali ini mereka bergantian, Jell sekaranglah yang akan melawan anak buah musuh dan Mai yang akan menghadapi hidangan utama.
Di karenakan penggunakan mana dan job, pasir hisap seperti yang di harapkan, mereka mulai menelan kaki Jell dan Mai. Namun, mereka bergerak dengan cepat dan itu tidak akan memberikan masalah jika kaki mereka di telan secara perlahan. Namun tujuan mereka adalah, menggunakan cacing-cacing raksasa sebagai pijakan. Sama halnya yang pernah di lakukan Mai.
Menyeringai dengan wajah tanpa rasa takut, Jell menambah kecepatan.
“Aku benar-benar sudah muak.”
Dengan pedang miliknya, Jell menebas cacing raksasa dengan sekali serang. Tidak perlu menebas hingga ekor, Jell menambahkan skill buff memperpanjang pedang miliknya.
Dengan tempo tidak berhenti, Jell melompat dan menggunakan mayat cacing raksasa sebagai pijakan aman, dan berlari menuju cacing raksasa lainnya.
Di potong dengan arah horizontal dan vertikal, cacing-cacing raksasa mati tanpa perlawanan. Cacing-cacing raksasa muncul terus menerus dari kedalaman pasir, dan mereka tidak ada habisnya.
Mai yang menggunakan mayat sebagai pijakan dari cacing yang sudah di bunuh Jell, dia berlari ke arah cacing kolosal yang sudah siap dengan hantamannya.
“Tidak akan kuabiarkan.”
Senyum di wajah Mai, menunjukan perasaan yang membara seperti sudah menunggu saat-saat ini.
“Dash!”
Skill buff di ucapkan Mai dan dengan cepat dia memanjat sisik dari cacing kolosal.
Cacing kolosal tidak menunjukan tanda-tanda untuk berhenti menggunakan hantaman, dan segera setelah Mai sudah memanjat setengah tubuhnya, tiba-tiba sisik dari cacing mengeluarkan asap.
Asap panas yang keluar dari sela-sela sisik, dan asalnya sepertinya dari kulitnya. Dan karena asap panas yang tiba-tiba itu, Mai kehilangan keseimbangan dan jatuh dari badannya.
Asap panas makin banyak dan panas, sekitar 100°c hingga 200°c panasnya. Dan ternyata kegunaan dari asap itu adalah menambah gaya hantam yang akan di gunakan cacing kolosal.
Skill yang di miliki cacing kolosal adalah skill buff yang meningkatkan kekuatan dan kecepatan. Dan dari asap itu juga, bisa menjadi pertahanan sememtara.
“Kau menyimpannya untuk saat-saat sepeti ini ya. Aku berterima kasih akan hal itu!”
Mai mengambil posisi tepat setelah dia mendarat di tumpukan mayat.
(Tarik napas … Buang … Target adalah cacing kolosal … Serangan penghabisan …)
Mai tertelan dengan konsentrasinya, dan tidak memikirkan apa pun yang berada di sampingnya, begitupun jika dia di serang oleh cacing raksasa, dia tidak akan takut. Karena dia percaya Jell akan melindunginya.
Tubuh Mai seketika di keliling oleh aliran mana, mana yang begitu kuat dan menekan, memgeliling tubuhnya. Aura yang di keluarkan Mai sama besarnya dengan yang di berikan oleh cacing kolosal.
Membuka matanya … Dan...
“Falcon!”
Menyebutkan skill dan seketika Dual Knife milik Mai terdapat pusaran angin mengelilinginya. Dan dengan menggunakn posisi menebas, Mai menebaslan Dual Knifenya dengan pola “X”.
Dari tebasan mengakibatkan sebuah badai tornado besar, dengan kecepatan yang tak tertandingi, tornado terbentuk di hadapan semua orang. Tornado dengan besar 900 meter tercipta bagaikan sebuah mukjizat.
Dari tornado muncul sebuah sorot mata, mata kuning terang muncul dari tornado. Dan keluar disertai mengecilnya besar tornado. Dan muncul dari dalamnya adalah seekor burung.
Bagaikan tornado adalah sayapnya yang sedang menutup, tornado menghilang dan menyisakan seekor burung raksasa. Badannya terbuat dari badadai petir yang lebat, mata kucing bersinar menakjubkan.
Burung mengepakkan sayapnya dan terbang keatas langit-langit dungeon. Berputar dengan putatan indah, burung itu menjatuhkan dirinya menuju cacing kolosal.
Cacing kolosal tidak kehilangan kosentrasinya dan dia mengeluarkan lebih banyak asap panas dari tubuhnya. Bagaikan dia akan melompat dan menabrak burung badai, cacing kolosal sudah siap dengan persiapannya.
Burung badai menjatuhkan dirinya munuju cacing kolosal.
Pemandangan yang menakjubkan terjadi, bagaikan seekor burung badai petir melawan naga badai panas. Membuat keduanya seperti pertarungan dalam legenda kuno.
Keduanya bertabrakan dan...
DDdUuUaAARRR!!!
Ledakan besar terjadi dan membuat gelombang kejut luar biasa yang menerbangkan segalanya.
Angin kencang menerpa segalanya. Tubuh Mai sudah kehabisan tenaga dan tubuhnya terbawa angin, namun seseorang menangkapnya, itu Jell.
Menggunakan tubuhnya sendiri Jell melindungi Mai dari efek ledakan. Jell menahan berat mereka dengan pedang yang dia tancapkan.
__ADS_1
Memerlukan waktu sekitar 3 menit hingga ledakan berhenti dan menyisahkan lubang dengan lebar 500 meter.
***