
Mulai sekarang Jell Mai dan Emma, telah resmi menjadi keluarga besar kerajaan Athera.
Naiknya Jell sebagai Raja batu Athera, kabar tersebut sudah mulai menyebar ke seluruh dunia, terutama negara-negara yang berada di Utara.
Walaupun kenaikan Jell sebagai Raja sudah di ketahui banyak orang, tapi sebenarnya Jell masih belum resmi menjadi seorang Raja.
Dari penjelasan Rin, dia mengatakan semua hal yang harus di lakukan untuk melakukan kenaikan takhta, mulai dari berbagai macam acara, dan berbagai hal lain.
Jell yang mendengarkan begitu banyak hal yang harus dia lakukan, Jell menenggelamkan kepalanya di kasur besar mewah yang sangat empuk.
(Ahh~ sudah lama sekali dari terakhir kali aku tidur di kasur yang empuk. Tidak, ini yang paling empuk.)
Melihatnya yang hanya membalas perkataannya dengan bermalas-malasan, Rin dengan dengan amarah sudah mencapai batasannya memukul Jell dengan keras.
Jell saat ini sedang dalam mode tidak memasang pertahanan, dia lengah dan menerima serangan telak di kepalanya.
“Bodoh! Apa yang kau lakukan.”
“Setelah repot-repot aku menjelaskan, kau masih bisa bertanya di mana letak kesalahanmu.”
Jell yang berdiri karena menerima pukulan yang tiba-tiba, duduk dan mulai memperlihatkan wajah serius pada Rin.
“Apa, kau akhirnya mulai serius juga. Akan aku ajarkan semua yang harus kau lakukan. Tenang saja, begini-begini aku ini adalah murid terbaik di akademi.”
Dengan wajah anggun dia mengangkat dagunya memperlihatkan seberapa bangganya dia akan hal itu, tapi Jell yang memasang wajah serius langsung berubah ekspresi dan membuat Rin marah.
Untuk saat ini meraka berdua hanya sedang melakukan komedi romantis, tapi tujuan sebenarnya Rin bukan itu. Dia ingin mengubah sikap Jell.
Dengan terpilihnya Jell sebagai Raja baru, tentu saja membuat banyak orang merasakan kekhawatiran yang amat besar.
Dan yang paling bisa merasakannya adalah para keluarga kerajaan bangsawan, hingga para ksatria, dan orang-orang penting di kerajaan merasakan hal yang sama. Ke khawatiran itu di sebabkan Jell bukanlah keluarga kerajaan murni.
Dengan fakta itu tentu membuat heboh banyak orang. Jell berasal keluarga biasa, berbeda dengan Marina dan Rin yang seorang keluarga kerajaan.
Dengan fakta ini banyak sekali penolakan terhadap terpilihnya Jell, dan bukan dari para bangsawan saja, tapi banyak orang-orang penting di kerajaan juga menolaknya. Akan tetapi penolakan mereka menerima penolakan, Marina sebelum Jell resmi menjadi Raja dialah yang menggantikan posisi kursi kosong tersebut.
Marina dalam rapat besar yang di lakukan oleh para penolak, mengatakan bahwa dia menolak adanya penolakan terhadap Jell. Dan tentu saja Rin berada di sana menemani kakaknya.
Melihat kakaknya yang dengan tegas dan percaya kepada Jell, membuat dirinya tidak bisa diam saja, dia akan membuat Jell dapat di terima oleh banyak orang. Dengan jiwa yang berapi-api Rin berjalan menuju ke tempat Jell.
Dan apa yang dia dapat dari semangatnya adalah seorang pemalas yang sedang kegirangan dengan sebuah kasur empuk.
Melihat Rin yang tiba-tiba menurunkan kepalanya, Jell berdiri.
“Kau mau kemana?”
Jell yang berjalan keluar kamar, menatapnya dari belakang sambil mengatakannya.
“Kemana lagi bukan, perpustakaan. Itu tempat yang cocok untuk belajar.”
Rin mendengar itu sedikit lambat menerima apa yang Jell katakan, dengan reflek dia mengatakan hal jahat pada Jell.
“Eh, orang bego mau belajar juga, ternyata.”
“Oi!”
...
Sedang di dalam perpustakaan kerajaan, tempat ini sangat hebat jika di bandingkan dengan perpustakaan moderen.
Buku-buku yang di letakkan dengan sangat rapi sampai langit-langit, bukan hanya rak buku biasa, tapi rak buku yang ada di sini terlihat sangat mewah. Dan di tambah dengan adanya rak-rak terbang yang memberikan kesan perpustakaan sihir.
“Hebat, apa di sini juga ada buku yang bernama “Buku dunia”?”
“Ha?”
Melihat perpustakaan itu sudah sanggup menarik hati Jell dan Mai untuk selalu mengunjungi tempat ini. Mai juga berada di sini, mereka tidak sengaja bertemu dan Mai ikut karena penasaran.
“Ne, Jell. Apa di sini aku bisa menemukan buku itu, tidak.”
“Ah, aku juga ingin melihatnya juga.”
“Dari tadi kalian bicara apa sih?”
Asik dengan dunia mereka sendiri, Rin yang sama sekali tidak masuk dalam pembicaraan hanya diam melihat mereka yang seperti anak kecik di taman bermain.
Dari keasikan mereka sudah jelas keributan dapat terdengar, Jell dan Mai yang berlarian melihat-lihat koleksi buku tidak dapat menahan suara mereka dengan kekaguman.
Dengan hal itu dari balik tumpukan buku di lantai 3, turun sosok anak kecil yang sedang memegang buku, turun menemui mereka.
“Eh, Oniichan dan Onee-chan! Kalian di sini.”
“Emma.”
Dia Emma, turun dari atas menggunakan sebuah alat seperti lift, dia turun dan menyapa kedua kakaknya.
Alasan Emma ada di perpustakaan merupakan suatu keegoisan yang ada di hatinya. Dia sadar bahwa hanya dengan mengandalkan kekuatan dia tidak bisa di bandingin dengan Jell dan Mai, dan oleh sebab itu dia selalu di larang berada di tempat pertempuran.
Tapi jika tidak bisa dengan kekuatan maka bisa dengan pengetahuan, hal itu dia sadari saat ketidak tahuan Jell tentang Scorpio. Dan dengan menambah ilmu di perpustakaan ini, dia berharap bisa membantu keduanya kedepannya.
Jell dan gerombolan duduk di salah satu meja panjang yang terdapat di ruangan itu, duduk di sana dengan di siapkan teh dan kue oleh pelayan, mereka siap untuk belajar.
“Jadi, Mai kau akan bergabung dengan kami.”
Mai asik dengan menikmati kue yang di siapkan, sudah berapa lama dia tidak makan makanan kelas tinggi seperti kue ini di dunia ini, itulah yang meningkatkan nafsu makannya.
Mendengar bahwa dirinya akan di libatkan, Mai berdiri dan memukul meja dengan kuat. Menunjuk Rin dengan kue, dia mencari alasan untuk tidak ikut.
“Kau tau Rin, sifat yang paling aku benci adalah melibatkan orang lain dalam masalahnya.”
Rin yang mendapatkan penolakan tentu tidak akan mundur begitu saja, dia memakan kue di tangan Mai dan mulai melemparkan opininya.
“Tapi, orang yang tidak menolong temannya dalam masalah juga merupakan tindakan buruk, loh.”
Serangan pertama di luncurkan, Mai menerima kerusakan ketika fakta bahwa dia dan Jell selalu membagi kebahagiaan dan kesedihan bersama.
Tapi itu masih belum seberapa, Mai akan membalasnya.
“Aku dan Jell bukan hanya sebatas teman, aku adalah satu-satunya miliknya dan itu tak tergantikan.”
Meluncurkan tembakan balasan, dengan wajah yang menyeringai dia memberitahukan seberapa dekat dia dan Jell.
Tapi ini bukan lagi pembahasan tentang belajar, Mai mengganti topik dengan manfaatkan perkataan Rin mengenai hubungan keduanya sebagai teman.
Rin menerima serangan balasan yang menusuk hingga dalam hatinya, dia menerima kerusakan fatal yang harus segera di perbaiki.
Dia memerah dan sedikit air mata di ujung matanya. Mengalihkan pandangannya ke arah Jell, dia ingin mengetahui kebenaran dari perkataan Mai tadi.
Jell sedang membaca buku, mendapat tatapan itu Jell memberikan jawaban.
“Itu benar. Lagi pula, kami teman masa kecil.”
Rin kini telah kalah, dengan kerusakan yang ekstra dari kata Jell, dia kini kalah dari Mai.
Mengelah nafas, Jell memberitahu bahwa hubungan keduanya tidaklah sejauh yang Rin kira. Untuk mengantisipasi adanya kesalah pahaman, Jell menjelaskan hubungan mereka.
Mendengar itu, entah datang dari mana kini Rin sudah bersemangat. Matanya berkilau dan dia tidak lagi mempedulikan kekalahannya. Itu tentu saja karena penjelasan Jell tadi, dia hanya menceritakan hal-hal buruk yang selalu Jell dan Mai alami, jadi tentu saja dia merasa baikan.
Mai tentu tidak mau diam kalau dirinya di rendahkan seperti itu, dia merahi Jell dengan keras. Tapi sebelum itu di lalukan, Jell menghentikan pergerakannya dengan menguncinya agar tidak bisa bergerak.
“Yosh, ayo belajar.” Rin dengan penuh semangat
“Ohh~” Jell dengan sedikit senyuman
“Ooo..hhh~” Mai yang sepertinya sedikit pingsan
***
Pembelajaran yang mereka lakukan hari ini adalah sebatas dasar-dasar menjadi seorang Raja, di lanjutkan dengan beberapa tatakrama dan model berpakaian.
__ADS_1
Dari apa yang mereka pelajari, keduanya tidak ada hambatan yang terjadi, menerima kenyataan itu Rin menjadi sangat terkesan kepada keduanya.
Dasar-dasar sebagai seorang Raja di mulai dari banyak hal, mulai dari percakapan, postur saat berjalan dan keagungan. Banyak yang di pelajari di materi awal ini, tapi mereka bisa mengikuti dan menerima semuanya dengan mudah.
...
Materi kedua, yaitu tatakrama. Memperbaiki lagi sikap merka kepada orang lain, kehebatan dalam berpendapat, dan berpolitik. Semuanya di lakukan dengan mudah, tapi dalam hal ini Mai mendapatkan nilai rata-rata.
Dalam materi ini merupakan kelemahan Mai, dengan bersikap sopan dan adil, melakukan itu bukanlah sifat seorang Mai. Tapi berbeda dengan Jell, materi ini dialah yang paling hebat.
...
Materi ketiga, yaitu model berpakaian. Di sini Rin menunjukkan kepada mereka bagaimana berpakaian dengan anggun dan bermartabat, dengan menggunakan pakaian yang anggun dapat membuat kharisma keduanya menjadi lebih terlihat.
Di materi ini lagi dan lagi, Mai mendapatkan nilai bawah. Rin tidak bisa mengerti tentang Mai, Mai memiliki kharisma yang jauh lebih luar biasa di bandingkan dengan Jell. Tapi dalam hal ini, Mai gagal dalam hal berpakaian.
Mai memiliki hobi dan itu sudah menjadi kebiasaan yang tidak lagi bisa di hilangkan, dia lebih suka pakaian pria.
Mai sedikit tomboy, tapi dia jauh lebih feminin dari Rin. Membandingkan kecantikan keduanya, Mai jauh lebih cantik di bandingkan dengan Rin, dan hal itu sedikit membuatnya cemburu.
...
Hari ini telah selesai, pelajaran yang memakan waktu lama sudah berakhir, dan saatnya untuk istirahat untuk keduanya.
Pemandian di istana sangatlah mewah, dengan banyaknya dekorasi yang terlihat sangat mahal. Berendam di sini seperti mau mati saja, Mai dalam hatinya saat pertama kali melihatnya.
Yang sedang berendam saat ini adalah Mai dan Rin. Jell berada di ruangan sebelah mereka.
Keduanya mandi dengan tenang dan tidak ada dari mereka yang memulai percakapan, suasana sangat canggung antara keduanya, tapi jika di lihat hanya Rin yang merasa canggung, sedangkan Mai sedang berenang di pemandian.
“Oi! Jangan berenang di pemandian.”
Memiliki perilaku yang berbeda dengan penampilannya, Rin merasa heran dengan apa yang ada di dalam kepala Mai. Dia cantik dan memiliki kharisma yang sangat hebat, bahkan melebihi ekspektasinya.
Sekejap dalam renungannya, Rin mulai menyadari sebuah perbedaan yang sangat mencolok dari keduanya. Rin juga tidak kalah cantik dengan Mai, tapi yang membuat kecantikannya berkurang adalah karena rambutnya.
Poni yang menutupi mata sebelah kanannya, yang membuat dia terlihat kurang feminim.
“Mai, hubungan kalian berdua sudah sejauh mana?”
Menanyakan hal itu tentu membuat Mai sedikit terkejut, Rin yang memulai pembicaraan dengannya itu jarang.
Mendengar pertanyaannya, Mai tidak menjawabnya dengan jawaban yang spesifik, tetapi dia menjawabnya dengan bertele-tele.
“Ya, kami berdua adalah teman masa kecil, kami selalu bersama dan apapun yang dia lakukan aku akan selalu mengikutinya.”
Rin mendengar itu membuat dia membungkukkan kepalanya. Mai tentu menyadarinya, melanjutkan jawabannya, dalam kata selanjutnya sedikit membuat Rin mengangkat kepalanya.
“Tapi, dia sama sekali tidak melihatku. Kami tidak pernah ciuman, ataupun melakukan hubungan sepasang kekasih.
Dia pria payah, dia tidak pernah mengambil kesempatan untuk menyentuh maupun menyantap diriku, padahal aku sudah berusaha keras.”
“Pfu, Ahaha~”
“Aa! Kenapa kau tertawa, itu tidak lucu!”
Rin tertawa mendengar seberapa besar usaha Mai untuk menggoda Jell, akan tetapi dia terus saja gagal. Rin yang tertawa tidak dapat menjaga etikanya, dia sekarang sudah terlihat seperti gadis pada umumnya. Mai menatapnya dan tersenyum tipis.
...
“Dan oleh karena itu, kita akan memutuskan pembagian kamar.”
Sudah malam, tapi bukannya beristirahat kini mereka berempat ada di meja dapur. Melalukan perunding setelah makan malam, sedikir memberikan kesan yang serius, tapi ini berbeda dengan apa yang di bayangkan. Ini hanya permasalahan pembagian kamar.
Mai tidak suka hal-hal yang merepotkan, dengan seenaknya dia menyampaikan suaranya.
“Hei, Rin kau ini suka sekali membuat kerepotan, ya.”
“Apa, apa maksud perkataan mu.”
Sedikit membaringkan tubuhnya di atas meja, Mai menjawabnya dengan santai.
Mendengarnya, Rin berdiri dan memukul meja dengan keras. Wajahnya memanas dengan warna merah yang menerangi wajahnya.
Rin memiliki kamarnya sendiri, dan saat mereka samapi di istana juga, Rin sudah menjelaskan dan memperlihatkan kepada mereka tata letak istana ini.
Terdapat kamar utama, yang tidak lain adalah kamar Raja dan Ratu. Selain kamar utama, Raja juga memiliki kamarnya sendiri dan sama halnya dengan Ratu juga memilikinya.
Kamar Rin dan kamar utama tidaklah terlalu jauh, cukup berjalan melewati satu tikungan maka akan terlihat kamar utama.
Dan entah kenapa Rin terlihat memiliki permasalahan dengan itu, dia tidak ingin Jell dan Mai tidur di kamar utama, dan ditambah lagi Emma tidak bersama mereka, bisa saja mereka akan memalukan hal-hal tidak senonoh. Adalah apa yang dia pikirkan.
“T-Tidak bisa! Itu tidak bisa. Kalian harus tidur di kamar masing-masing, aku sudah menunjukannya, bukan. Jadi kalian harus tidur di kamar masing-masing.”
“Eh, padahal ini kesempatan bagus untuk mengobrol berdua dengan Mai.”
Jell tanpa memperhatikan apa yang baru saja dia katakan, Rin terdiam menerima perkataannya itu. Jell ingin tidur bersama dengan Mai, adalah apa yang sedang terpikirkan di kepalanya.
“A-Apa, Jell jangan-jangan kau ingin.”
“Tidak, bodoh. Ada yang ingin aku katakan padamu, jadi dengan tidur di kamar yang sama aku bisa menghemat waktu untuk tidak bolak-balik kamar.”
“Cih.”
“Kenapa wajahmu seperti di khianati.”
Dengan wajah merah, sebuah serangan meluncur menuju dagu Jell. Pukulan telak di terima oleh Jell.
Selesainya permasalahan kamar ini dengan hasil, mereka masing-masing tidur di kamar berbeda-beda.
***
Malam yang menyelimuti seluruh pandangan, terdapat gunung-gunung yang berjejeran berbaris indah. Dan diantara sela gunung dapat terlihat dengan jelas adanya pantulan cahaya yang menyinari malam.
Dalam sebuah ruangan, ruangan dengan banyak kursi mengelilingi meja bundar yang berada di tengah ruangan.
Meja mewah dan kursi yang mewah juga, ada banyak orang di tempat itu, dan hanya 9 orang saja yang sedang duduk di kursi mewah tersebut.
Dan yang paling mencolok dari ke-9 orang ini adalah orang yang sedang duduk di kursi yang terlihat beda sendiri, kursi itu sangat mewah di bandingkan dengan kursi-kursi yang ada di situ.
“Jadi, dalam pertemuan kita kali ini, kita akan membahas tentang Raja baru kerajaan Athera, Yang mulia.”
Sosok yang berada di kursi sebelah kanan dari kursi pertama, seorang pria tua sedang menjamu semua orang yang ada di dalam ruangan.
Dan dari perkataannya tadi, orang yang duduk di kirsi pertama tadi tidak lain adalah seorang Kaisar. Tantianus, Kaisar kekaisaran Utara ke-9.
Dengan kekuatan militer yang sangat kuat bahkan di katakan bisa membinasakan Athera kapan saja, seorang kaisar yang rakus akan kekuatan dan kekayaan, dan di kenal sebagai kaisar yang paling di hormari di Kekaisaran Utara, dialah Tantianus.
Dalam pertemuan mereka kali ini, semua departemen di undang dalam perkumpulan membahas tentang kerajaan Athera.
Pembahasan di mulai dari mendapat masing-masing departemen tentang Jell sebagai Raja baru. Dan hasil dari pendapat mereka adalah sebagian sama.
Departemen pertahanan, merupakan satu dari 2 yang menolak Jell. Alasannya terdengar cukup simpel, dia merasa bahwa Jell hanyalah boneka yang di kendalikan oleh keluarga kerajaan untuk tetap bisa mempertahankan posisi mereka.
Dan satu diantara dua yang menerima Jell adalah, salah satunya departemen perdagangan. Alasan yang di sampai juga merupakan bagian dari sebuah penolakan, tapi dia menyampaikan bahwa dengan adanya Raja baru tersebut, mereka bisa saja memanipulasi pasar dengan mudah. Mengingat Jell hanyalah Raja yang naik karena memenangkan sayembara.
Saling menyampaikan arguman masing-masing dari berbagai departemen yang ada, dan Kaisar juga terlihat setuju bahwa Jell tidaklah layak untuk berkuasa.
“Sepetinya mereka sudah siap untuk di jajah.”
Kaisar dengan suara yang menghentikan percakapan. Anggota departemen terdiam mendengar hal itu, tapi setelah mereka memikirkan apa yang bisa mereka dapatkan dari melakukan hal itu, mereka memutuskan bahwa itu bukanlah pilihan buruk.
Rapat yang di lakukan berjalan cukup lama dengan pembahasan tentang Athera, dengan ini Athera tidak bisa berlama-lama untuk menarik nafas lega.
***
Waktu berjalan dengan begitu cepat, hari ini merupakan hari pelantikan Jell sebagai Raja Athera.
Dari dalam lingkungan istana terdapat tempat yang di gunakan sebagai tempat Raja-raja sebelumnya melalukan pelantikannya.
__ADS_1
Tempat itu mengarah langsung ke salah satu menara yang berada di luar lingkungan istana, menara itu tinggi dan memiliki sebuah balkon yang lumayan lebar.
Orang-orang telah berkumpul di lapangan yang berada di depan menara, lapangan yang indah untuk tempat rekreasi keluarga. Lapangan itu tidak di buat dengan buruk, tapi lapangan itu terlihat sangat indah.
Menara yang berada langsung di atasnya memberikan kesan kekuasaan yang amat sangat besar bagi siapapun yang melihat seseorang berdiri di balkon menara.
Hampir 30% rakyat Athera berkumpul di lapangan yang berada di distrik B ini, dan tidak dapat di hindari rasa sesak yang mereka rasakan di barisan ratusan ribu manusia itu.
Tapi masalah yang sebenarnya bukan berasal dari barisan itu, tapi berada di tempat tunggu sedang terjadi kekacauan yang besar.
“Apa?! Kau tidak tahu akan mengatakan apa di pidatomu!”
“Ah, mau bagaimana lagi bukan, aku tidak pandai dalam hal berpidato. Di tambah lagi aku tidak tau kalau harus melakukan ini.”
Tidak mendengarkan penjelasan Jell, Rin dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun tiba-tiba memukul Jell.
Jell yang menerima pukulan mendadak tidak dapat menghindarinya, akibatnya Jell terbang keluar dari sofa.
“A..apa yang... kau lakukan...”
“Dasar bodoh. Kau seharusnya tahu kalau harus berpidato kalau kau ingin menjadi Raja!”
Rin sama sekali tidak mendengarkan alasan Jell, tapi hal ini merupakan sebuah masalah baginya.
Bagai mana tidak, seorang Raja yang sebentar lagi akan menyapa dan berpidato di depan rakyatnya, ternyata tidak memiliki kata-kata untuk di sampaikan.
Melihat bahwa Jell yang selalu di salahkan, tentu saja tidak membuat Mai diam begitu saja.
Meluruskan badannya dari tidur di sofa yang berbeda dengan milik Jell, dia mengatakan hal yang Jell lakukan bukan sepenuhnya kesalahannya.
“Aku ingin bertanya, sebenarnya apa yang ingin kau harapkan dari kami untuk melakukan pidato itu? Kau seharusnya tau kalau kasta kita berbeda, dan permasalahan mau atau tidaknya bukan urusanmu.”
“Kau mengatakan apa. Kau pikir hanya dengan menyapa mereka sambil tersenyum, akan memberikannya kesan layak.”
Mai berdiri dari sofa dan mengangkat suaranya, dia tidak ingin Jell di salahkan dan bukan berarti ini salah Rin. Saat ini dia tidak ingin Jell tidak mendapatkan pembelaan dari dirinya.
“Lagi pula ini juga salahmu karena tidak mengajarkan kami tentang hal ini. Jadi ini bukan sepenuhnya salah Jell.”
Setelah mendengar perkataan Mai, Rin teridam. Dia memikirkannya lagi dan sepertinya Mai benar. Rin melirik Mai dengan mata yang lengkung dan langsung memalingkan wajahnya dan pergi dari situ.
Dengan begitu pelantikan pun berjalan dengan sesuai jadwal. Semua acara yang di persiapkan kan sudah di lakukan dan kini tinggal satu hal yang harus Jell lakukan, itu adalah pidatonya.
...
Pidato di sampaikan, semua kata-kata yang dia katakan adalah apa yang ada di dalam kepalanya saat ini. Dalam pidatonya dia membahas banyak hal tentang kelangsungan hidup Athera, dan berbagai masalah yang terjadi di Athera.
Rin yang berada di sisi lain balkon sedikit terkejut dengan pidatonya, itu karena Jell sama sekali tidak terlihat gugup maupun terbata-bata dalam menyampaikan pidatonya. Dan yang paling membuat dia kaget adalah, semua kata-kata yang dia katakan bisa di pahami dan sangat tertata rapi.
(Dia mengatakan bahwa dia tidak tahu harus berkata apa. Tapi ini apa, bukannya dia sangat hebat dalam hal ini?)
Dalam lamunannya Rin memuji keahlian Jell, dan entah dari mana dia teringat dengan bagaimana Jell membujuk Marina untuk memberikan kekuasan dalam perang sebelumnya.
Sedikit tersenyum, Rin menatap Jell dengan tatapan lembut dan cerah.
Semua selesai dengan lancar, Jell selesai menyelesaikan semuanya dan mendapatkan sorakan yang amat meriah dari masyarakat.
Kata-katanya bisa bisa mempengaruhi seseorang, adalah apa yang Rin pikirkan tentang dia.
“Kerja bagus. Jell aku membawakan kamu–”
“Kerja bagus, ini aku berikan minum. Jell~”
“Ah, makasih Mai. Wha, ini enak.”
“Fufufu, aku senang kau menyukainya.”
Tidak dapat menyelesaikan perkataannya, tapat di saat Jell masuk setelah selesai mengakhiri semua acara, Rin berpikir untuk menghampirinya dan memberikannya minum. Tapi itu sangat terlambat, Mai dengan cepat bisa melakukan itu terlebih dahulu.
Kedekatan mereka sangat tidak biasa, di setiap ada Jell sudah pasti di dekat situ juga ada Mai, dan sebaliknya juga seperti itu. Memikirkannya Rin merasa kesedihan karena kekalahannya.
Tapi ini belum berakhir, walaupun Mai sudah mendahuluinya, dia tetap akan maju.
“Jell kerja bagus, ternyata kau bisa melakukannya jika kau niat.”
“Ah, Rin.”
Tidak akan kalah, apa yang sedang menggejolak di dadanya. Dia tidak akan kalah dalam hal perhatian di bandingkan dengan Mai.
“Hm, ini apa?”
“Ah, ini milk shake. Mau coba?”
“Ahh.”
Mengambil minuman yang di pegang Jell, seketika Rin mengetahui bahwa ada sesuatu yang amat sangat hebat sedang terjadi di sini.
(Sedotan, sedotannya tidak di ganti! Mungkinkah ini, apa ini yang sering di katakan itu, ciuman tidak langsung. Ini, ini!!!)
Seketika menyadari itu wajah Rin seketika memerah dengan asap yang keluar dari kepalanya.
Mengambilnya dan siap untuk meminumnya, tiba-tiba dengan sangat cepat tiba-tiba sedotan itu hilang.
“Rin, kau bisa minum punyaku. Lagi pula rasanya sama.”
“A–!”
Rin yang rasanya di khianati memasang wajah yang suram, dia memerah dan dia juga sedang marah.
Mai mengambil sedotannya sesaat dia ingin menggunakannya juga. Dan lagi sedotan itu sudah berada di mulut Mai sekarang, dia menggunakannya bagaikan seseorang yang habis makan permen.
(Fufufu, tidak akan aku biarkan.)
(Sialan, kau.)
Keduanya saling menatap dengan pandangan hitam dan ada sengatan listrik dari keduanya, dan pembicaraan mereka, mereka menggunakan telepati.
“Emma, dia dimana?”
Tidak mementingkan keduanya, Jell malah mencari Emma dan meninggalkan keduanya.
Merasa bahwa dirinya kalah lagi dia mengambil minuman yang di suguhkan dan meminumnya dengan kasar. Dia tidak terlihat seperti seorang Putri lagi sekarang.
“Hm! A-apa ini, ini enak!”
Wajahnya yang marah kini berubah ceria, bagaikan wajahnya tadi hanyalah sebuah kebohongan, Rin terlihat bersinar saat meminum milk shake buatan Mai.
“Gimana, enak bukan. Ini milk shake, minuman kesukaan Jell.”
“Apa, ini merupakan minuman kesukaannya.”
“Umu, dia sangat suka jika di hidangkan ini. Apa lagi jika saat dia kelelahan, dia akan terlihat sangat imut saat meminumnya. Bikin nagih!”
“Cih, lagi-lagi.”
Tidak bisa mengungkapkan perasaannya atas perbedaan keduanya yang amat sangat jauh, Rin tidak bisa membantah kalau minuman ini memang sangat enak.
Dengan suara kecil, membuang matanya dan tidak menatapnya langsung, Rin meminta Mai untuk mengajarinya membuat milk shake.
“Untuk apa? Jangan-jangan.”
Menanyakan alasannya, Mai menebak apa alasan Rin yang terlihat bukan seperti dirinya saja. Rin yang mendapatkan perkataan seperti itu langsung berteriak dan memberikannya alasan.
“I-ini untuk Kakak! Benar, ini untuk kakak. Ini bukan untuk Jell atau siapapun, aku hanya ingin membuatkannya untuk kakak.”
“Hm.”
Dengan sedikit keributan yang di sebabkan keduanya, akhrinya keduanya langsung pergi dan tidak mulai untuk membuat milk shake yang di minta oleh Rin.
***
__ADS_1