
Yang ada di hadapan mereka hanyalah sosok gadis lemah yang mengenaskan yang sedang di peluk oleh Mai.
Sambil menangis menyesali perbuatannya, Mai menepuk dan memberikan kehangatan kepada gadis itu. Jell yang melihatnya hanya membuat senyum lebar di wajahnya sambil menenangkan Mai.
Dia memisahkan keduanya, kali ini adalah giliran Jell. Dia duduk untuk menyamakan pandangan mereka, gadis itu menatap Jell dengan tatapan mata yang indah.
“Baiklah, aku ingin menanyakan beberapa hal, tapi untuk saat ini aku hanya ingin mengetahui satu hal.”
“Satu… hal?”
Sambil memiringkan kepalanya yang menimbulkan tanda tanya di atas, dia menatap Jell dengan wajah sulit mengerti. Gadis ini masih sangat kecil, dan jika di lihat umurnya mungkin sekitar 13 tahun.
Jell sambil melanjutkan perkataannya, dia menepuk kepala gadis itu.
“Namamu? Kau belum memberi tahu namamu, bukan?”
Dengan nada pelan dan sopan, untuk menjaga martabatnya Jell memberikan kesan sosok dewasa yang keren. Menyampaikan pertanyaannya, anak itu dengan nada pelan dan lembut dia menjawab.
“Emma… Eliana Emma.”
“Emma?”
Untuk nama gadis itu di ucapkan, Jell mengulanginya dengan nada bisik. Untuk perkataan Jell itu yang mengulangi perkataannya, Mai menyadarinya dan menanyakan ada apa tentang nama gadis itu.
Jawaban untuk pertanyaan Mai, Jell tidak terlalu mengkhawatirkannya, dia hanya merasa familiar dengan nama Emma untuk dunia ini.
“Sepertinya nama itu tidak asing, tapi siapa ya?”
Masih mencari jawaban dari pertanyaan itu, Mai membimbing gadis itu untuk menuju keluar kamar.
“Jell, kami akan keluar untuk mandi, kau mau ikut?”
Sayang sekli Jell terlelap dengan pikirannya, untuk pertanyaan Mai dia tidak menjawabnya dan masih berpikir, apa yang salah dengan nama gadis ini? Adalah apa yang Mai katakan di hatinya.
Mai dan Emma pergi keluar dan menuju pemandian umum di dekat situ, di penginapan ini tidak ada kamar mandi yang di sediakan, untuk kamar mandi umum saja tidak tersedia di mana-mana. Jadi untuk mandi atau buang air mereka harus pergi ke pemandian umum atau toilet umum.
Mai dan Emma sampai di pemandian yang berjarak tidak lenih dari 20 meter dari penginapan. Sambil melepaskan pakaiannya Mai melihat Emma yang hanya diam membeku di ruang ganti.
“Ada apa Emma?”
“Itu... Apa tidak apa-apa kalau aku mandi?”
Perkataan itu keluar lagi dari mulutnya, bagi Mai itu menjengkelkan. Tapi dia menjawabnya dengan senyuman yang tulus, dia menepuk kepala Emma dan mengusapnya dengan lembut.
“Jangan katakan lagi yang seperti itu. Emma perempuan bukan? Dan perempuan harus terlihat cantik setiap saat, jadi ayo mandi, aku akan memandikan Emma.”
Wajah Emma bersinar, mata emas besarnya mengeluarkan air dan memberikan pantulan cahaya yang sangat indah. Mai yang melihatnya juga membalas tatapannya dengan senyuman tulus.
“tapi, aku tidak ada baju ganti.”
Untuk pengakhir yang sangat kejam dari situasi mereka yang manis, Emma menyebutkan masalah sebenarnya. Untuk Mai yang lupa akan hal itu seketika terdiam, dia berpikir bodoh untuk mengajak Emma mandi dan kotor lagi dengan pakaiannya.
“Aku akan belikan dulu!”
Sambil memegang handuk yang menutupi dada samapi paha, Mai berlari menuju lobi dan bertanya apa di sini menjual pakaian untuk anak-anak.
Untuk Emma yang di tinggalkan sendiri di ruang ganti dia merasa kesepian, Mai pergi dengan cepat tanpa dia mengatakan sesuatu. Dalam hidupnya, Emma tidak pernah menyangka masih ada orang yang peduli akan dirinya.
Hidupnya sewaktu menjadi budak Lhava sangatlah suram, dia di pisahkan dari wanita-wanita milik Lhava, tentu saja selama menjadi budaknya, Emma hanya mandi sebulan sekali, dan tentu dia sendirian melakukannya.
Kurang dari lima menit, Mai sampai dan kembali ke tempat ganti, Emma menunggu di sana sambil duduk di kursi yang di sediakan. Mai membawa pakaian untuknya, itu adalah daster putih, berbeda dengan yang pernah dia punya, daster itu memiliki rumbai di ujung dasternya, dan itu terlihat cocok untuk Emma.
“Aku sampai. Maaf menunggu ya Emma, tidak ku sangka kalau mencari pakaian untuk seorang gadis itu menyulitkan.”
Untuk perkataan dan keluh kesah Mai, Emma hanya bisa menjawabnya dalam hatinya. (Kau juga perempuan bukan?) tapi dia tidak bisa menyampaikannya, untuk itu dia hanya tersenyum kecil di wajahnya.
***
Kembali dari pemandian, Mai dan Emma pergi menuju kamar 15 tempat Jell terakhir tinggal, tapi dia tidak ada di sana. Ruangan itu kosong dan tidak ada siapapun di sana.
“Sepertinya dia tidak di sini.”
Mai dan Emma yang mengkonfirmasi tidak adanya Jell di kamar 15 pergi menuju kamar lama mereka kamar 12.
“Jell, kau di sini?”
Pencariannya berhasil, Jell berada di kamar 12. Dia duduk di meja dengan membuka sebuah lembaran besar di meja, apa dia masih dalam renungan bodohnya? Mai bingung dengan sikapnya.
Mendekati Jell, Mai melihat apa yang sedang dia lakukan dengan lembaran besar yang ada di meja itu. Tapi ekspresinya berubah saat tau apa yang Jell buka adalah sebuah peta dunia bagian Utara.
Untuk Jell yang tiba-tiba membuka peta sudah pasti hal yang tidak biasa, biasanya dia akan membuka peta untuk keperluan yang mendesak saja, seperti quest.
Tapi kali ini dia membuka peta dunia dan sambil memegang kepalanya Jell sedang berpikir keras, pasti ini adalah sesuatu yang sangat penting, apa yang Mai pikirkan saat ini.
“Apa terjadi sesuatu?”
Untuk mengkonfirmasi kekhawatirannya, dia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Jell menjawabnya dengan jelas.
“Lihat peta ini, lebih tepatnya di sini. Ini adalah bagian luar dari ‘Athera Kingdom’ dan berbatasan dengan ‘Kekaisaran Utara’.”
“Nn, ada apa dengan itu.”
“Apa kau pernah berpikir kenapa nama orang-orang dan toko di kerajaan ini terdengar aneh? Dan aku pun berpikir, mungkin peradaban yang ada di tahun ini adalah peradaban sebelum tahun masehi di ciptakan. Dengan kata lain kita berada di tahun “Berofe Chirist”.”
Untuk perkataan Jell, Mai membuat wajah yang mulai serius tapi ini menurutnya adalah pembicaraan bodoh tentang nama-nama orang yang ada di kerajaan ini. Tapi bagi Jell itu sangat janggal dan aneh baginya.
“Kenapa kau berpikir begitu?”
“Itu mudah. Nama yang di berikan untuk bot BOA selalu menggunakan nama orang eropa dan asia.
Tapi untuk penamaan kerajaan ini sangat aneh, jadi aku pikir mungkin keberadaan dunia ini adalah dunia sebelum adanya tahun masehi, atau sebelum munculnya nama modern.
Tapi untuk Emma berbeda, dia memiliki nama modern orang eropa.”
Pernyaan Jell di sampaikan dan Mai membuka matanya dengan kebetulan ini, mungkin ini ada hubungannya dengan sosok yang selalu mengawasi mereka, pria berjubah.
Mai memahami apa yang Jell katakan padanya, tapi apa mungkin gadis sekecil Emma bisa menjadi salah satu anggota atau bawahan dari pria berjubah itu. Mai tidak bisa menerimanya, dia baru saja ingin membalas kesalahannya dan sekarang di hadapkan dengan kondisi yang seperti ini.
(Tidak mungkin Emma adalah seorang player yang sama dengan kami berdua, yang di tugaskan untuk memata-matai kami.)
Tapi untuk Jell dia berpikir tenang tanpa melibatkan keegoisan di hatinya, dia harus memastikannya. Dan yang bisa memastikan itu adalah Emma seorang.
Untuk Emma yang diam membatu dengan bingung melihat apa yang mereka bersua bahas, Emma tidak bisa mengikuti alur mereka.
__ADS_1
Emma di panggil pergi untuk menemui Jell, dia menyiapkan kursi untuk pijakan Emma dan dia menunjukan peta dunia bagian Utara.
“Emma, bisa kau katakan dari mana kau berasal?”
“Jell!”
Mendengar perkataan Jell barusan, Mai mengangkat suaranya. Di teriakan itu bercampur bermacam emosi, marah, cemas, dan takut.
Dia tidak ingin membiarkan Jell melakukan sesuatu kepada Emma, dan dia juga tidak bisa melalukan sesuatu terhadap keputusan milik Jell. Saat ini Mai berada di dua pilihan yang sangat berat.
Namun keberuntungan berada di pihak mereka, Emma menunjuk salah satu tempat di peta dan Jell membuat wajah cerah dengan apa yang dia tunjuk, salah saru bagian barat dari Kekaisaran Utara.
“Jadi benar kau berasal dari sana, ya?”
Jell bersuka cita dengan kebenaran itu, tapi Mai masih belum tenang, dia tidak tau apa yang membuat Jell berganti sikap setelah keputusannya. Untuk pertanyaan Mai, Jell menjelaskannya.
Pertama Jell sudah tidak mencurigai Emma sebagai mata-mata ataupun umpan lagi, itu karena tempat kelahiran Emma ternyata berasal dari Kekaisaran Utara dan bukan dari Athera Kingdom.
Di Kekaisaran Utara, atau bernama Kekaisaran Antitum, berada di bagian timur dari kerajaan Athera, dan apa alasan kekhawatiran Jell mereda karena kelahiran Emma bukan dari sini, adalah mereka salah satu dari banyak kerajaan bagian dunia utara, dan yang paling mencolok adalah perkembangan budaya mereka.
Bisa di katakan mereka seperti Kekaisaran Romawi di dunia ini. Mereka di kenal sebagai Kekaisaran yang sangat kuat dan yang terkuat di dunia bagian Utara.
Kaisar sekarang yang menjabat bernama Tantianus, dan di kenal sebagai kaisar yang amat sangat suka peperangan.
Dengan kepemimpinan kaisar Tantianus sudah menguasai 30% dari besar dunia bagian utara, yang menjadikan mereka kerajaan kedua terbesar di dunia utara.
Selain kekuatan militer mereka yang luar biasa yang bahkan menandingi Athera, Kekaisaran Antitum juga memiliki kebudayaan yang amat sangat maju, mereka bagaikan negara modern di dunia ini, dan nama-nama orang yang berasal dari sana menggunakan nama dari bahasa asia dan eropa.
Dengan mengetahui fakta itu Mai melepaskan nafas lega dan duduk di kursi satunya lagi, dia tidak pernah tau kalau Kekaisaran Utara sudah memiliki kebudayaan yang amat maju dari pada Athera, tapi ini adalah informasi yang amat sangat penting bagi mereka untuk bisa hidup dan bertahan di dunia ini.
“Aku tidak pernah tau kalau ada yang seperti itu.”
Mai menyampaikan ketidak tahuannya tentang dunia luar, dan itu sedikit membuat dia kesal karena Jell sudah menyelidikinya lebih dulu.
“Ah, setelah aku mendengar nama Emma, aku teringat dengan perkataan Saorin-chan tentang Kekaisaran Utara yang memiliki budaya yang jauh lebih maju.”
“Begitu, ya... Eh, kapan kau berbicara dengan gadis itu?”
“Itu tidak penting, yang terpenting aku bersyukur karena Emma ternyata berasal dari sana.”
Jell mengalihkan pembicaraan dan menepuk kepala Emma sambil mengelusnya, untuk saat ini dia merasa lega bahwa ini bukan merupakan rencana pria yang pernah mereka temui di dungeon.
“Ini sudah larut, ayo tidur.”
Mengakhiri hari ini, Jell menyeru dan bersiap untuk tidur. Mereka akan tidur di kamar 15 karena kasur di kamar 12 sangat kecil dan tidak mampu menopang tiga orang.
Untuk posisi tidur, Jell tidur sendirian sedangkan Mai dan Emma berada dalam saru kasur satunya.
Untuk kejadian hari ini sangat menenangkan untuk mereka berdua, kelelahan menyerang seluruh tubuh mereka dan sesampainya di kasur mereka langsung terlelap. Untuk kedepannya mereka akan memikirkannya besok.
***
Pagi pukul tujuh, guild sudah mulai ramai dengan para pengunjung, bergabung dengan perkumpulan orang itu, Jell, Mai dan Emma juga berada di sana untuk sarapan. Penginapan tidak menyiapkan makanan jadi untuk sarapan mereka memutuskan untuk pergi ke kantin guild.
Pemandangan dari ketiganya saat sarapan sangat menyenangkan hati, Jell, Mai dan Emma sangat akur dan ceria ketika mereka makan, sampai di perhatian oleh orang-orang guild.
Mereka sepertinya sudah mengetahui apa taruhan yang mereka pasang dari duel Jell dengan Lhava, jadi mereka tau siapa gadis yang bersama mereka.
“Apa enak, Emma?”
Emma makan dengan penuh lahap, dia makan sampai dua porsi untuk seukuran anak berusia 13 tahun.
“Emma, setelah makan kita akan jalan-jalan, jadi jangan kebanyakn makan karena kita akan mencicipi seluruh jajanan yang ada di distrik A.”
Mai yang memperingati Emma, membuat posisi semangat sambil mengangkat tinjunya, dia berencana menghabiskan uang mereka.
Jell yang melihatnya hanya membuat wajah sulit, dia mengetok kepala Mai untuk tidak berlebihan kalau mengatakan sesuatu.
“Anu...”
Untuk Emma yang berhenti makan dan bersuara, Jell dan Mai memperhatikannya dengan bertanya apa ada yang salah.
“Aku harus memanggil kalian dengan sebutan apa?”
Untuk pertanyaan itu Jell dan Mai saling bertatapan sebentar, dan membuat tawa kecil dengan pertanyaan gadis umur 13 tahun ini. Dia menyadari kekurangannya dalam berkomunikasi dengan mereka berdua.
“Panggi saja apa yang kau mau.”
Emma yang mendapatkan perkataan Jell dan persetujuan Mai menbuat wajah sulit dan berhenti makan, dia berpikir sambil menatap mereka berdua.
Setelah cukup lama dia mengangkat senyum lebar di wajahnya, sambil tersenyum dia menyampaikan pendapatnya.
“Bagaimana dengan, Onii-chan dan Onee-chan!”
(Onii-chan \= kaka laki-laki dan Onee-chan \= Kaka perempuan dalam bahasa Jepang.)
Mendengar pendapat Emma tentang sebutannya untuk mereka berdua, Jell dan Mai membuat wajah cerah dengan senyum lebar di wajah mereka dan setuju menggunakan panggilan itu.
Keluar dari guild dan berpamitan dengan Yinn, mereka bertiga pergi untuk jalan-jalan yang pernah mereka tunda saat itu.
Mereka bertiga pergi ke berbagai tempat, mulai dari salon untuk memperbaiki penampilan Emma.
“Emma kau terlihat sangat cocok dengan itu.”
Untuk penampilan Emma yang baru, Mai mengangkat suaranya dengan kegembiraan. Penampilan baru Emma sekarang adalah rambut panjangnya di gunting pendek menyentuh bahu dengan di beri hiasan pita kelinci di kepalanya.
Membuat rambut hitamnya terurai lembut dan bercahaya memberikan pesona dewasa, namun dengan perpaduan pita pesona dewasanya meredup dan menjadi pesona gadis yang sangat cantik.
Setelah dari salon mereka berencana membelikan pakaian untuk Emma, jadi mereka memutuskan untuk pergi ke toko milik Amaran.
Sesampainya di sana seperti biasa Mai yang membuka percakapannya dengan Amaran yang sedang senggang sambil merapikan pakaian yang dia pamerkan, dan sama reaksinya dengan Mai, Amaran juga menyambutnya dengan ceria.
“Ara? Siapa gadis itu?”
Melihat ada yang bertambah dari jumlah mereka berdua sejak terakhir kali bertemu, Amaran menanyakan siapa gadis yang bersama mereka itu.
Untuk pertanyaan itu Jell bermaksud memperkenalkannya tapi itu sudah terlambat, mulut Mai melesat setajam silet dan melesat secepat kilat.
“Dia anak kami, namanya Emma Kiyomizu.”
Kata Mai sambil tersenyum memperkenalkan Emma pada Amaran.
Amaran yang mendengarkan perkataannya mengangkat wajah terkejut, dia tidak berpikir bahwa mereka akhirnya punya anak.
__ADS_1
Di kondisi ini Amaran merasa bahagia atas kelahiran anak pertama mereka berdua. Dia tidak peduli itu anak angkat, tapi saat ini dia sangat bahagia untuk mereka.
Jell yang melihat Amaran menangis bahagia, membuat wajah bermasalah sambil terngaga melihat Amaran yang dengan mudah mencerna informasi palsu itu.
(Oi, sudah jelas itu bohong bukan! Kau menangis?!)
Meluruskan informasi ini Jell dengan tegas dan keras memukul kepala Mai hingga berasap, meninggalkan benjolan besar di kepalanya Mai terjatuh ke lantai sambil terlentang.
“Tidak-tidak, dia Emma, dia adalah keluarga kami yang baru.”
Jell menjelaskan dan meluruskan masalah yang Mai buat, dia tidak percaya kalau Amaran akan mempercainya dan itu sedikit membuat Jell kecewa kalau dia tipe orang yang mudah di tipu, atau mungkin dia mempermainkanku? Adalah apa yang Jell pertanyakan dalam hatinya.
Untuk menentukan pakaian seperti apa yang akan di gunakan oleh Emma, Mai meberikan rekomendasinya, di dalamnya terdapat banyak jenis pakaian, dari semua pakaian yang di tunjukan Mai, Emma hanya memilih satu, itu adalah daster anak-anak.
“Emma, buaknya kau sudah punya yang seperti itu? Tidak mau beli yang lain?”
Untuk perkataan Mai, Emma menggelengkan kepalanya dan menyakinkan bahwa dia lebih menyukai pakaian ini, untuk itu Jell dan Mai tidak bisa membantahnya lagi.
Berpamitan dengan Amaran mereka bertiga pergi dan melanjutkan perjalanan mereka.
Banyak toko dan tempat unik sudah di singgahi, dan itu sangat menyenangkan bagi mereka. Untuk sesaat Emma tidak bisa melepaskan senyumnya dari wajah manisnya, begitu pula dengan Jell dan Mai yang sama bersenang-senang dengan perjalanan mereka hari ini.
Hari sudah mulai sore, mereka pulang dan mengakhiri hari yang menyenangkan ini.
Sampainya di penginapan, lebih tepatnya di kamar 15 di penuhi dengan kegembiraan, itu adalah bekas perasaan dari liburan yang menyenangkan.
Di kamar itu sudah memiliki setidaknya furniture yang cukup untuk suatu kamar, ada meja besar, 4 kursi, dua lemari besar dan 1 lemari kecil. Itu semua mereka beli saat jalan-jalan tadi, untuk menghemat waktu, jadi mereka memutuskan untuk membeli beberapa furniture.
“Ini sudah lebih baik.”
Mai menyampaikan isi hatinya sambil meregangkan badanya di kasur, Jell sedang duduk di kursi dan Emma duduk di kasur yang di tiduri Mai. Emma belum melepaskan senyum pada wajahnya dan begitu juga dengan mereka berdua.
Tapi, walaupun dalam kondisi yang sedang berbunga-bunga, Jell seperti tidak tersenyum seperti biasanya, dia bagaikan memaksakan senyumnya karena suatu alasan, dan hal itu terjadi saat mereka melewati toko perlengkapan tadi.
Mai menyadarinya tapi dia tutup mulut, dia tidak ingin mengurus hal ini, tapi sepertinya dia tidak bisa menahan perasaannya dari rasa penasaran.
“Ne, Jell, kau kenapa memasang senyum seperti itu?”
Jell terangkat saat Mai menegurnya, wajah Jell seketika murung dan memaksakan lagi senyumnya dia menyampaikan isi hatinya.
“Ini mungkin pertanyaan yang kurang cocok untuk kondisi saat ini, tapi tetap saja mengganggu di pikiranku.”
Sambil menatap pada Emma yang duduk di kasur Jell menatap langsung padanya dan menyampaikan perkataanya.
“Emma, kau mantan budak milik Lhava, jadi seharusnya kau pasti memilki job, bukan?”
Senyum di wajahnya hilang, Emma saat ini menurunkan kepalanya dan membuat aura sedih. Melihat rekasinya Jell langsung berdiri dan mendekatinya untuk minta maaf karena mengatakan sesuatu yang seharusnya dia tidak katakan, begitu juga Mai, dia setelah Emma yang murung dia buru-buru memeluknya.
“Benar...”
Sambil di peluk oleh Mai, Emma menjawab pertanyaan Jell. Dia yang mendapat jawabannya membuat wajah yang sulit untuk mengatakan alasan kenapa dia bertanya seperti itu kepadanya.
Untuk setiap pertanyaan Jell pasti memiliki suatu alasan, dan Mai tau itu, jadi dia juga tau kalau pertanyaan Jell ke Emma sebenarnya ada sangkut pautnya dengan pria misterius waktu itu, Apakah dia masih berpikir Emma adalah mata-mata? Kata Mai dalam hati.
“Maaf ya, Emma, tapi aku tidak bisa tenang kalau tidak menanyakan itu.”
Menjelaskannya kepada Emma, Jell bermaksud ingin membuat dia ceria lagi untuk tidak terlalu memikirkan apa yang dia tanyakan tadi, tapi itu di tolak, kali ini Emma lah yang mengajukan pertanyaan.
“Apa aku bisa tanya satu hal?”
“Hm? Katakan.”
“Onii-chan dan Onee-chan, sebenarnya siapa?”
Pertanyaan Emma di sampaikan, tapi berbeda dengan yang di bayangkan untuk pertanyaan dari anak berusia 13 tahun, Jell dan Mai kaget dan merinding. Tulang punggung mereka seketika dingin mendengar perkataan Emma.
“Soalnya, kalian berdua memiliki mana yang berbeda dengan yang lainnya.”
“Mana” adalah alasan pertanyaan Emma kepada dua orang ini, dia menanyakan tentang tekanan dan aura yang mereka berikan berbeda dari manusia biasa, dan semua itu alasannya adalah mana.
Mana bisa menggambarkan bagaiman sosok sesuatu, jadi jika mana seseorang tenang, maka sikap orang tersebut relatif tenang. Dari alasan itu, Emma menanyakan sebenarnya mereka adalah manusia atau bukan karen tekanan dan mana dari Jell dan Mai sangat berbeda.
“Mana yang kalian miliki seperti bukan manusia, kalian terlihat bagaikan sebuah gunung besar bertubuh manusia.”
“Hahaha.”
Jawaban yang di berikan tidak sesuai apa yang di pikirkan Emma, Jell saat ini tertawa ringan. Dalam kondisi dan alur pembicaraan seperti ini Jell terkesan seperti seorang antagonis yang sudah terbongkar penyamarannya.
Tapi alasan Jell tertawa bukanlah karena identitasnya di ketahui orang lain, tapi dia tertawa karena gadis berusia 13 tahun bisa memikirkan dan mengatakan itu padanya.
Jell yang merasa agak aneh di kondisi saat ini dia menepuk kepala Emma dan tersenyum, kali ini dengan senyum yang tulus.
“Yang pasti kami bukan orang biasa.”
Jell mengatakan itu membuat Emma memasang wajah kagum di matanya, mata Emma saat ini terbuka lebar dengan perkataan Jell, bukan karena mereka bukan manusia biasa, tapi karen perkataan Jell tadi sangat keren.
“Benar juga, Emma apa job yang kau gunakan? Bagaimana kalau kita melatihnya besok, begini-begini aku sebenarnya pandai mengajari orang, loh.”
Dengan senyum dan semangat Emma menjawab.
“Iya.”
***
Kegelapan menyelimuti seluruh ruangan, tidak ada penerangan yang di sediakan kecuali sebuah lentera yang terdapat di meja bundar yang berisikan tujuh kursi.
Kursi-kursi itu terdapat nomor dengan angka dari bahasa dunia ini, dan dari ketujuh kursi itu hanya dua kursi yang terisi, nomor satu dan dua.
Sosok orang nomor satu tidak di kenali, karena topeng yang dia pakai sosok pira ini sangatlah misterius. Sama halnya dengan orang yang duduk di kursi nomor satu, orang yang duduk di kursi nomor dua juga menggunakan pakaian yang menutupi indentitasnya, jubah yang dia pakai menutupi seluruh tubuhnya dari atas sampai bawah.
Kedua orang itu sedang menatap ke depan tempat meja berada, di depan mereka terdapat sebuah hologram yang memiliki layar yang besar, tapi sebenarnya yang terjadi adalah apa yang ada di hologram itu, terdapat sebuah model yang membingungkan terlihat dari situ.
“Mereka berdua tampak bersenang-senang, tidak adil jika hanya mereka yang selalu bersenang-senang bukan? Kalau begitu bagaimana kalau kita gunakan ini untuk menambah keseruan permainan ini.”
Sambil menyentuh hologram, pria itu tertawa sambil menyampaikan perasaannya kepada orang yang berada di sebelahnya.
...[Menggunakan mahluk legendaris]...
...[Scorpio]...
...[Yes] [No]...
Dengan menekan pilihan [Yes] dalam hologram itu, pria itu tampak puas walaupun wajahnya tidak terlihat dengan topang yang dia gunakan.
__ADS_1
“Satu langkah lagi untuk menuju kunci.”
***