
Pertempuran telah usai dengan kemenangan telak dari Jell. Lhava kalah karena terkena serangan terbesar milik Jell “Explosion” satu dari tujuh skill terkuat di dunia ini.
Arena terbuka dengan menghilangnya rantai ikrar yang mengelilingi arena pertempuran. Untuk kerusakan yang di akibatkan oleh Jell, akan langsung di perbaiki oleh sistem, hal ini sama dengan sistem kematian yang di alami oleh orang yang melakukan duel.
Kerusakan yang di akibatkan oleh Jell adalah lubang besar sedalam 10 meter panjang hampir 15 meter. Itu sama lebarnya dengan arena pertempuran mereka. Dengan kata lain, skill telah menghancurkan seluruh penjuru arena, dan Lhava memang tidak memiliki kesempatan untuk menang.
Rekasi orang yang melihat pemandangan kekuatan Explosion sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat, bukan hanya beberapa orang yang melihatnya tapi hampir seluruh orang yang tinggal di area distrik A dapat melihat dan merasakan tekanan dari Explosion yang di keluarkan Jell.
Hanya ada kawah panas yang tersisa, hanya ada satu tempat pijakan milik Jell yang sedang dia tempati. Jell bediri sambil memasukan pedangnya ke sarung yang ada di punggungnya.
Namun salah satu dari orang-orang yang bingun itu hanya satu yang melompat dan pergi ke arah keberadaan Jell, dia Mai.
Mai melompat dan terbang menciptakan pemandangan seorang Valkyrie yang turun untuk menjemput Jell menuju surga, tapi bedanya dia hanyalah Mai. Dia melompat dan memfokuskan pendapatannya menuju tepat ke pijakan Jell.
Jell yang berada di sana menyadarinya dan menoleh padanya. Sambil berbisik Jell memanggil namanya, dan begitu pula dengan Mai yang sedang melompat, berteriak memanggilnya.
“Jell!”
“M… Mai…?”
Mendarat tepat di pijakan Jell, Mai dengan cepat memeluknya. Jell yang di peluk jatuh dari pijakannya, dia menongkahkan tubuhnya pada Mai yang memeluknya, dan Mai juga menongkahnya agar tidak jatuh ke kawah panas yang ada di bawah mereka.
Memeluk Jell dan lompat untuk keluar dari kawah, Mai menggunakan penguatan tubuh tingkat rendah, “Super Jump” skill tingkat C.
Mendarat di sisi lain arena, Jell sudah tanpa kekuatan untuk menjaga tubuhnya. Namun kesadarannya masih belum pudar, dia sadar dengan kondisi yang mengelilinginya, orang-orang bergerombolan menemui Jell.
Dari mereka ada banyak orang, mulai dari pedagang, petualang, kesatria, maupun rakyat biasa yang sedang bersantai di distrik ini. Semuanya mengerumuni Jell yang sedang tanpa energi.
Namun ada beberapa orang yang mampu menahan mereka semua, mereka menahan orang-orang agar tidak menemui Jell terlebih dahulu, karena mereka tidak mau keamanan Jell terancam, dan orang-orang itu adalah para pegawai guild dan Yinn sang ketua guild.
Membuka Jalan untuk tim medis agar bisa membawa Jell untuk perawatan, mereka membawa Jell menuju guild. Melewati para gerombolan orang, mereka berpapasan dengan Lhava dan dua wanitanya, dan gadis itu juga berada bersaman mereka.
Menghentikan pergerakan, Jell meminta kepada Yinn untuk membawa Lhava bersamanya. Dia tidak ingin Lhava mendapatkan hujatan dan perlakukan buruk dari orang-orang. Untuk menghindari itu Jell meminta agar mereka juga membawa Lhava bersama mereka.
***
Menara tertinggi di distrik A, tepat berada di alun-alun. Sosok hitam berjumlah tiga orang sedang berdiri di sana. Melihat kearah area duel Jell dan Lhava.
Sosok ketiganya melihat dari arah kejauhan, dan pertempuran Jell dan Lhava dapat di lihat dengan jelas dari atas sana. Melihat semua kejadian dan berakhir dengan serangan ultimate dari Jell yang menciptakan cahaya putih menyinari distrik A.
Cahaya mulai melemah dan menghilang, hanya menyisakan debu-debu yang naik di arena. Dan begitu pula dengan keberadaan tiga sosok tadi. Menghilang sama seperti cahaya putih.
***
Sudah 10 menit setelah pertempuran, Jell dan Lhava masih belum sadarkan diri. Di tempat lain dari ruang perawatan, kantor kepala guild, Mai sedang berbicara empat mata dengan Yinn.
“Jadi untuk menanyakan tentang kekacauan yang terjadi di distrik A, Mai-san, aku memanggilmu ke sini.”
“Hm, aku tau itu.”
Yinn dengan wajah serius dan posisi duduk yang serius juga, mendukung betapa pentingnya pembicaraan mereka saat ini. Sama halnya dengan yang di lakukan Mai, dia juga serius untuk menjawab apa yang akan di tanyakan oleh Yinn kepadanya.
“Petama, dari informasi yang kami dapatkan, bahwa Jell telah mengeluarkan skill terkuat dari tujuh skill tingkat ‘SSS’ apa itu benar?”
“Ahh, seperti itu.”
Yinn menulis apa yang dia terima dan akan apa yang dia tanyakan di buku yang dia pegang saat ini.
“Apa penyebab dari pertempuran mereka kali ini?”
Untuk pertanyaan kedua Yinn, Mai membuat wajah sulit. Dia tidak ingin membuat Jell dalam masalah karena kesalahan yang dia lakukan. Alasan sebenarnya dari pertempuran ini adalah Mai, jadi untuk tidak melibatkan Jell lebih jauh lagi dia akan menahannya selama mungkin.
“Alasannya karena Lhava ingin membalaskan dendamnya.”
“Dendam? Pada Jell?”
“Tidak. Tapi padaku.”
Yinn yang mendengarkan kali ini yang membuat wajah sulit. Dia tidak menyangka kalau Lhava akan menyerang Jell padahal dia tau seberapa kuat Jell. Tapi dia masih sulit untuk mengerti.
“Apa tidak ada alasan lain?”
Yinn menanyakan lagi. Untuk mendapatkan dan memperluas informasi yang dia perlukan, kali ini dia menanyakan tentang alasan lain.
“Untuk itu, ada.”
Yinn yang mendengar perkataan Mai mengangkat alis, dia ingin memastikan ini dan ingin tau apa itu. Yinn mulai mencatat dan siap mendengarkan apa yang akan di katakan oleh Mai, tapi apa yang dia katakan membuat Yinn kaget dan tidak percaya.
“Alasan kedua adalah karena dia ingin menyembuhkan teman wanitanya.”
“Teman wanitanya? Apa itu benar?”
“Ahh.”
Untuk perkataan Mai ini, Yinn tidak mempercayainya dan untuk itu dia menanyakannya kembali dan jawabannya tetap sama dengan apa yang Mai katakan padanya tadi. Tapi itu sama sekali tidak mungkin untuk seorang bajingan seperti Lhava untuk menolong sesama. Yinn masih mencerna informasi untuk kondisi ini.
“Oleh karena itu Yinn-san, aku ingin mengatakan satu hal padamu.”
Mai mengatakan apa yang ingin dia katakan kepada Yinn, dan reaksinya sama terkejutnya dengan sebelumnya. Tapi kali ini Yinn membuat wajah cerah dan tersenyum sambil menatap Mai dengan lembut.
“Apa kau yakin Jell akan mengizinkannya?”
“Apa kau lupa Yinn-san? Aku dan Jell adalah satu, apa yang di pikirkan oleh Jell sama dengan apa yang aku pikirkan. Dan itu pasti.”
Yinn yang mendengarnya tertawa kecil sambil menyeka air mata di ujung matanya, dia tertawa terlalu banyak, tapi dia tidak terbahak-bahak seperti Mai. Dia wanita yang gangguan, sebut Mai dalam hatinya.
“Baiklah kalau begitu.”
***
Di ruang perawatan di salah satu dari bagian bangunan guild, rumah sakit untuk petualang berada. Walaupun namanya rumah sakit, tapi ini lebih cocok di sebut tempat praktek dokter untuk ukuran ruangannya.
Terdapat enam “Hospital Bed” di ruangan ini, dan Jell juga termasuk di dalamnya. Di ruangan ini ada tiga Hospital Bed yang di gunakan, untuk Jell, Lhava, dan satunya lagi adalah wanita Lhava yang bernama Wilita.
Dan diantara orang-orang yang sakit ada juga beberapa orang yang tidur di tempat pasien berada, orang yang sering mengurus mereka, orang terdekat.
Mai tidur dengan menongkah kepalanya di kasur milik Jell dengan tangannya, dia tertidur sangat lelap sampai sedikit air liurnya keluar sedikit demi sedikit dari mulutnya.
Itu merupakan pemandangan yang mengerikan jika Mai tau kalau dia tidur sambil mengeluarkan liur. Tapi untuk pemandangan ini adalah sesuatu yang sangat manis mengingat betapa murungnya dia saat pagi tadi.
“Ini… Dimana…?”
Salah satu pasien bangun dan mengamati sekeliling. Kepalanya masih sakit untuk beberapa alasan, dan kesadarannya masih belum sepenuhnya kembali, jadi masih memerlukan waktu untuk sepenuhnya bangkit dari tidurnya selama satu jam.
“Mai?!”
__ADS_1
Untuk pasien yang bangun, dia adalah Jell. Dia berteriak dengan nada rendah saat melihat Mai yang tidur di ranjangnya. Dia tidak mengingat kenapa dia berada di sini, tapi yang jelas dia sepertinya pingsan setelah duelnya dengan Lhava.
“Jadi masih sulit menyesuaikan diri dengan avatar dari dunia ini, ya?”
Jell berdengung dengan nada berbisik. Dia mengolah semua informasi yang sudah dia dapatkan dari duelnya dengan Lhava, dan hasilnya sedikit miris.
(Kami tidak bisa leluasa menggunakan kekuatan penuh kami di dunia ini. Karena kami menggunakan tubuh asli kami dan bukan avatar dari BOA. Jika ini adalah BOA aku tidak akan pingsan hanya karena menggunakan skill tingkat ‘SSS’ tapi kenapa? Apa karena ketahanan tubuh kami? Tapi jika dilihat dari diagram pada Plat Status seharusnya kami berada di tingkat yang cukup tinggi. Tapi kenapa?)
Jell yang mencoba mengurai semua informasi yang dia punya, mengapa dia pingsan, kenapa dia kelelahan adalah apa yang dia pertanyakan saat ini. Tapi ini masih menjadi misteri baginya jika memikirkannya lagi.
(Untuk kesimpulan, mungkin saja tubuhku mengalami kejutan saat menggunakan skill tingkat ‘SSS’ jadi dengan alasan itu kondisiku menjadi jelas.)
Jell masih terlelap dalam pikirannya sampai dia melupakan sesuatu yang seharusnya dia sadari. Tiba-tiba saja sebuah kecupan kecil mendarat di pipinya, untuknya karena hal mendadak itu Jell terangkat dari kesadarannya dan melihat siapa itu.
“Kau akhirnya bangun.”
Sambil tersenyum lebar dan tulus, air mata keluar dari matanya dan mengalir ke pipinya. Matanya berair yang membuat mata biru langitnya menjadi sangat indah bagai sebuah berlian langkah dan satu-satunya di bumi. Mai telah bangun.
Mai memegang tangan Jell dengan erat, dia menangis? Tapi pemandangan tadi membuat jantung Jell berdetak kencang. Wajahnya memerah dan tidak seperti dirinya yang selalu bersikap tenang.
“Maaf telah membuatmu khawatir. Tapi ada satu pertanyaan yang ingin aku tanyakan.”
“Hm~ Apa?”
“Kenapa kau tiba-tiba memberikan kecupan?”
Untuk wajah Mai yang tadinya penuh air mata, sekarang berubah mejadi merah dengan perpaduan sedikit air mata di ujung matanya. Perpaduan sempurna untuk seorang heroin yang berhati baik.
“I-Itu karena aku… sangat senang kau bangun…”
Sambil memelankan nada suaranya Mai memberikan alasan. Untuk reaksinya itu Jell tidak lagi bisa menyembunyikan wajah merahnya yang sudah mulai berasap. Dia memalingkan wajahnya dari Mai dan begitu juga sebaliknya.
Tapi untuk situasi berbunga ini tidak bertahan lama. Untuk Jell yang sepetinya memikirkan sesuatu yang tampaknya janggal jika tidak dia tanyakan sekarang.
“Hei, kau tidak melakukan yang aneh-aneh pada tubuhku kan?”
Sambil membuat wajah marah Jell menatapnya, Mai yang mendapatkan tatapan dan pertanyaan itu makin memalingkan wajahnya dengan membuat wajah bermasalah. Seperti wajahnya yang super imut tadi hanyalah sebuah sandiwara, sekarang Mai berkeringat dingin sambil memalingkan wajahnya dari Jell.
“Hei, apa yang kau lakukan ke tubuhku?”
“Ehh~ T-tidak, aku tidak melakukan apapun.”
Wajah Jell menatapnya dengan lebih tajam.
“Terdapat bekas merah di leherku. Apa yang kau lakukan?!”
“Ah! Benar juga, aku lupa aku harus mengurus sesuatu.”
Untuk Mai yang berdiri dan berpaling untuk keluar dari tempat Jell, dia menahannya di bagian kerah bajunya. Mai berlari dengan sekuat tenaga, tapi apa dayanya, dia hanya berlari di tempat dan tidak bergerak semester pun.
“Jawab aku Mai…”
Untuk pertanyaan Jell kali ini, dia memberikan wajah yang lebih menakutkan dari yang sebelumnya. Jell tersenyum dengan aura hitam pekat mengikuti senyumannya. Senyuman iblis, adalah julukan yang Mai berikan untuk sikapnya yang seperti itu.
“Baiklah! Baiklah! Aku cerita.”
Sambil membuat wajah menggepal seperti tupai yang memasukan banyak kacang di mulutnya, Mai mulai berbicara.
“Water Mark.”
“Kau tau kan, kondisi di mana pasien dan papan nama pengenalnya sering tertukar. Jadi untuk mengantisipasi itu aku harus membuat water mart padamu.”
“Kondisi macam apa itu, lagi pula bagaimana kau bisa kehilangan seseorang di tempat yang hanya sebesar aula ini?”
“Sudah aku bilang bukan~, untuk antisipasi.”
Untuk leluconnya Mai mendapatkan satu benjolan besar di kepalanya. Mencium dan memainkan tubuh seseorang di saat dia tidak sadarkan diri, Mai seperti penjahat kelamin.
Menyudahinya di situ, Jell mulai memandang Mai yang memegangi kepalanya bekas pukulan Jell dengan menangis. Dia sudah lebih baik dari sebelumnya, apa yang Jell katakan di dalam hatinya.
“Jadi Mai, bagaimana dengan kondisi Lhava?”
“Hm~? Dia dirawat di sini juga, loh.”
“begitu, ya…”
Mendengar perkataan Mai, Jell merasa lebih baik. Untuk memikirkan seorang bajingan seperti Lhava, Jell adalah orang yang baik.
Kondisi rumah sakit di guild ini dan bagaimana kualitasnya, bisa di katakan luar biasa untuk seukuran rumah sakit di abad pertengahan. Terdapat banyak pelataran modern, seperti sana halnya ruangan praktek seorang dokter.
Hal ini bukanlah sebuah kebanggaan, ataupun sebuah kebetulan yang bisa di banggakan. Itu karena konsep dunia inilah yang mendukung perkembangan teknologi dan informasi di sini.
Sebelumnya pernah di katakan bahwa di dunia ini ada sebuah Job yang terdapat di setiap orang, dan salah satunya adalah Marksman. Job ini adalah job bertipe penyerang jarak jauh, dan apa yang berkaitan dengan serangan jarak jauh adalah, berupa busur, tombak, dan tentu saja senjata mesin.
Di job Marksman pengguna bukan hanya menggunakan busur maupun tombak, tapi di dunia ini ada senjata moderen seperti rifle, sniper, dan machine gun. Itu karena sistem dunia ini adalah dunia BOA. Di BOA, seorang Marskman menggunakan rifle sebagi senjatanya, bukan hanya tombak dan busur. Jadi jika melihat perbedaan yang sangat kontras dari segi budaya dan perkembangannya, Jell dan Mai sudah membiasakan diri mereka.
Dan ini adalah salah satu alasan kenapa Mai merasa ragu jika dia akan mengambil Marskman sebagai job keduanya. Sebelum mengetahui fakta perbedaan budaya itu Jell dan Mai mengira job Marskman hanyalah pengguna busur dan tombak.
Kembali ke Jell dan Mai yang sedang berbincang, Jell menanyakan sesuatu yang seharusnya dia tidak katakan, tapi itu akan sangat janggal di dadanya jika dia tidak menanyakannya kepada Mai.
“Mai, bagaiman dengan-”
Untuk perkataan Jell yang belum sepenuhnya di sampaikan, Mai memotongnya dan menyampaikan apa yang ingin Jell tanyakan padanya. Dia tau apa yang Jell tanyakan dan itu sudah jelas.
“Untuk wanita itu dia sudah di rawat di sini. Dia berada di sebelah Lhava, jadi tidak usah khawatir.”
Mendengar perkataan Mai untuk menjawab secara langsung dan tanpa ragu untuk pertanyaannya, Jell tertawa.
“Hahah… seperti yang di harapkan darimu, kau bisa memikirkannya?”
“Tentu saja bukan? Kau pikir sudah berapa lama kita bersama.”
“Hm, kau benar.”
Jell melemparkan wajah dengan senyuman yang cerah dan sama halnya Jell, Mai juga membalas senyumannya. Pemandangan hangat dan berbunga keluar dari tempat milik Jell.
“Sepertinya kau sudah sembuh.”
Yinn yang merasakan perasan itu membuat wajah indah yang sama bahagianya dengan kedua orang itu. Yinn mendekati mereka dan menyampaikan beberapa hal mengenai duel mereka, dan sepertinya Mai berhasil menghilangkan masalah serius untuk kasus ini. Jell dan Mai tidak bersalah atas kekacauan yang mereka sebabkan dari duel mereka.
***
Berada di aula besar dalam ruangan, itu adalah tempat utama di guild, ada beberapa orang yang melakukan kegiatan di sini. Mulai dari petualang, kesatria, dan para karyawan.
Memutuskan untuk pergi dari guild ketika Jell sembuh total, mereka harus menyelesaikan satu masalah lagi, bukan masalah besar. Tapi ini adalah hal penting dari duelnya melawan Lhava, itu adalah.
__ADS_1
“Hm?”
Tempat berada di depan pintu besar guild yang terbuka lebar, ada sosok lemah berdiri di samping pintu seperti menunggu seseorang, dengan jubah yang menutupi seluruh tubuh dan kepala, gadis itu berdiri di sana menciptakan pemandangan misterius. Gadis itu adalah yang Jell maksud tadi.
Gadis itu menyadari keberadaan Jell dan Mai, dengan sikap patuh dan terlatih dia berlari ke depan mereka. Gadis itu langsung mengambil posisi di belakang Mai dengan jarak antara mereka dan dia kurang lebih sejauh 1 meter.
Jell yang melihat reaksi cepatnya yang berpindah dari depan ke belakang membuatnya memasang suasana hati yang suram. Dia tidak berpikir gadis itu akan langsung mengambil posisinya sebagai budak mereka setelah kekalahan Lhava.
Sama halnya dengan reaksi Jell, Mai juga memakai reaksi yang sama. Namun dia berbeda dengan tampang suram Jell, Mai membuat wajah hitam dan ketidak nyamanan yang tinggi.
Dia tidak seperti Jell yang langsung menatap gadis itu ketika berpindah, Mai malah memalingkan matanya seperti tidak mempedulikan sosoknya.
Jell menyadari reaksinya hanya membuat wajah sulit dengan senyum masam di wajahnya. Jell kebelakang dan memanggil gadis itu menuju dirinya. Tentu seperti yang di harapkan darinya, gadis itu langsung menemui tuannya yang baru, dengan berlari dia mendekat ke panggilan Jell.
“Apa yang harus saya lakukan, tuan?”
Jell belum mengatakan apa-apa dan gadis itu langsung menyebutnya tuan, apa perbudakan di dunia ini segitunya? Adalah apa yang di pikiran Jell saat ini.
Jell merasa sangat terganggu oleh kondisi gadis itu, dia seperti mengingat masa lalu yang sedikit kelam baginya saat sekolah.
“Ah, itu, apa yang ingin aku katakan ya? Ahh, bagini ya.”
Jell sambil menggaruk kepalanya dia sulit menemukan kata-kata untuk memulai percakapan dengan gadis ini, dia canggung. Tidak seperti dirinya, Jell sulit untuk menatap gadis ini secara langsung, tapi apa dia bisa melihat gadis itu dari jubah yang menutupi tubuhnya? Jell masih sulit melihatnya walaupun gadis itu tertutup jubah.
Gadis yang melihat Jell yang kebingungan hanya membuat tanda tanya muncul dari kepala gadis itu, dia tidak mengerti apa yang ingin dan maksud dari perkataan Jell. Bagaimana dia mau mengerti, sedangkan Jell juga tidak mengerti dia mau mengatakan apa, perbincangan mereka hanya menjadi perbincangan yang sangat canggung.
“Ahh, pokoknya hentikan memanggilku dengan kata “tuan”, namaku Jell, Jell Kiyomizu. Dan dia adalah Mai, Mai Ogawa.”
Untuk perbincangan pertama mereka Jell memulainya dengan baik, perkenalan diri adalah hal tepat untuk bisa saling mengenal satu sama lain.
Karena mereka akan mulai tinggal bersama, jadi perkenalan diri adalah hal utama dan penting.
Gadis itu hanya menatapnya dari sisi jubah, dia mengangguk dengan perkataan Jell. Dia sepertinya mengerti suasana hatinya, dan Jell merasa lebih baik sekarang.
“Ya, untuk sekarang ayo pergi ke tempat yang lebih baik, kalau disini sepertinya kurang cocok.”
Jell, Mai dan gadis itu pergi dari depan guild menuju penginapan mereka, tapi kali ini ada sedikit perbedaan. Jell bukannya langsung pergi ke lantai dua tempat kamar mereka berada, kini dia pergi menuju arah lobby.
Jell berbincang dan mengeluarkan kantung dari saku dadanya, memberikannya ke penjaga dan Jell memperoleh kunci.
“Baiklah! Sekarang kita akan pindah kamar.”
Untuk perkataan Jell, Mai tidak bersemangat sama sekali, dia hanya menanggapinya dengan sorakan yang sangat payah, tidak seperti dirinya yang selalu bertindak sesukanya. Dan reaksi gadis itu tidak terlihat, wajahnya tertutup jubah.
“Ayolah cerialah sedikit, kita akan pindah kamar loh, jadi ayo.”
Mereka naik dan sampai ke kamar yang telah di pesan Jell, kamar nomor 15, lantai dua. Kamar itu lima kali lebih besar dari kamar mereka sebelumnya.
Kamar ini seperti kamar hotel mewah yang pernah dia lihat di TV, tapi ini sepertinya di luar ekspektasinya, itu di karenakan dekorasi dan perabotan yang ada di kamar itu kosong dan hanya berisi dua ranjang berukuran besar.
“Kita harus mendekorasinya sendiri, ya?”
Sambil membuat wajah kesal dia di kecewakan dengan kualitas kamar di penginapan yang dia sewa ini. Tapi jika ingin mendapatkan kualitas yang Bagus dari sebuah penginapan, kau harus pergi ke daerah distrik B, dan tentu saja harganya jauh lebih mahal daripada di sini.
“Setidaknya kita sudah dapat kamar yang lebih baik. Hm, benar, jauh lebih baik!”
Sambil menganggukkan kepalanya dan memegang pinggangnya Jell terlihat puas dengan usahanya selama ini untuk memiliki kamar yang lebih luas. Tapi diantara mereka yang bersuka cita hanyalah Jell seorang, Mai membuat wajah kesal dan gadis itu tidak merespon apa pun.
“Kau tidak bertanya lebih dulu kepada pemilik itu bukan? Kau tidak menanyakan kualitas dan fasilitas apa yang di berikan. Kau payah!”
Untuk Jell yang di katakan payah oleh Mai, membuat dia menerima kerusakan yang cukup parah dengan bayangan gelap muncul di wajahnya. Dia lupa menanyakan hal yang paling utama dalam sebuah barang jual, kualitas.
Dan gara-gara tindakannya yang ceroboh itu dia mendapatkan kata payah dari Mai, dia melakukan kesalahan fatal.
“Ano, itu.”
Untuk Jell yang masih terjatuh dengan kepayahannya karena melupakan kualitas, dia akhirnya bangkit dan kaget dengan perkataan tadi, itu berasal dari gadis yang sedari tadi diam membeku.
“Hm? Ada apa?”
Untuk perkataan pertamanya kepada Jell setelah perkenalan mereka, Jell bersemangat dalam kondisi ini. Tapi kesenangan hatinya di hancur kan oleh perkataan gadis itu selanjutnya.
“Saya meminta izin untuk pergi sekarang, jadi panggil saya jika ada keperluan, Jell-sama.”
(Apa yang di katakan gadis itu? Pergi? Pergi kemana?)
Hati Jell menjadi hancur dengan perkataannya, gadis itu meminta izinnya untuk pergi dan tak tau itu akan kemana. Tapi untuk pertanyaan itu orang yang menanyakannya adalah orang yang tidak di sangka.
“Kau mau kemana?!”
“Mai...”
Untuk pertanyaan tuannya tentu saja gadis itu menjawabnya dengan jelas dan tanpa kebohongan di dalamnya.
“Jika di izinkan, saya mau menyiapkan tempat saya sementara waktu. Jadi maafkan kelancangan saya.”
Perkataan itu di ucapkan, dan maksud dari perkataannya itu tentu saja di ketahui oleh Jell dan Mai, itu adalah kamar budak. Kamar budak adalah satu dari beberapa kamar yang ada di berbagai penginapan, tujuan kamar itu tentu saja untuk menaruh budak agar tidak ikut tidur dan berkeliaran di penginapan tuannya.
Jika seorang budak berada di kamar budak, hal itu sama dengan menaruh hewan peliharaan di kandang mereka agar tidak merusak pemandangan dari penginapan tersebut, hal itu juga sudah menjadi rahasia umum untuk seorang budak agar di perlakukan seperti hewan peliharaan saat mereka di sebuah penginapan atau hotel.
“Aku sudah muak dengan semua yang kau katakan. Lagi pula apa-apaan dengan jubah itu, hah! Buka sekarang juga.”
Mai sudah tidak dapat mengontrol emosinya lagi, dia dengan kasar merampas dan membuka jubah gadis itu. Jubah di lempar dan tidak lagi menutupi gadis itu lagi, pemandangan yang ada di balik jubah sangat misterius.
Pakaiannya putih kotor kekuningan, pakaian yang robek dan sudah tak layak pakai lagi, hanya memakai daster putih. Rambutnya panjang hingga menyentuh pinggul, rambut hitam berantakan dan tidak di urus dengan baik. Dan yang paling mencolok adalah mata gadis tersebut, matanya kuning keemasan, sengat indah dan sangat misterius.
Sosok gadis itu telah terlihat, hanya ada satu kata di pikiran Jell saat dia melihat pemandangan gadis itu, Kejam.
Namun apa daya dengan semua peraturan yang ada di dunia abad pertengahan ini, di dunia ini hanya menjunjung satu moto, kuat yang berkuasa dan lemah yang di injak, yang lemah harus melakukan apa saja untuk yang kuat. Itulah rantai kehidupan yang ada di dunia ini.
(Sangat kejam. Aku ingin menghancurkannya… sangat ingin menghancurkannya!)
(Peluk)
Gadis itu terdiam saat dia merasakan perasan aneh. Mai memeluknya dengan kuat, bagaikan tidak ingin melepaskannya lagi.
Mai memeluknya sambil menangis dengan penuh rasa penyesalan, dia sangat menyesal melarikan diri saat itu, dia ingin memukul dirinya saat itu, tapi saat ini hanya dengan memeluknya saja Mai sudah merasa bersalah.
Dia mungkin tidak dapat memaafkan dirinya yang melarikan diri saat pertemuannya, tapi saat ini dia tidak akan pernah lagi melepaskannya.
(Eh? Perasaan apa ini… seperti nostalgia… hangat, pelukannya sangat hangat.)
Dalam hati sang gadis dia memenuhi dirinya dengan kehangatan, dia tidak bisa membuka mulutnya, tapi saat ini perasaannya tidaklah bohong. Gadis itu ingin menangis, tapi air matanya tidak keluar, seperi sumber air yang kering.
(Perasaan ini mengingatkanku seperti saat itu… saat-saat menyenangkan waktu itu… ayah, ibu.)
__ADS_1
***