
[Menurutmu bagaimana duniamu itu? Menyenangkan? Penuh kebahagiaan? Tapi, kenapa semua itu masih kurang? Kau ingin kehancuran? Perang besar? Agar dunia itu jauh lebih menyenangkan.]
Perkataan yang selalu muncul di pikiranku. Apakah aku bahagia? Tentu saja, tapi entah kenapa itu membuatku tidak puas. Dunia ini kejam, dan akan selamanya seperti itu. Manusia adalah individu yang penuh akan ***** dan ambisi, tanpa adanya itu peradaban saat ini tidak akan pernah terjadi.
Tapi walaupun begitu, entah kenapa dunia ini terasa sangat membosankan. Tidak adanya sesuatu yang menarik, dan tidak adanya sesuatu yang menakjubkan. Peninggalan sejarah dan tradisi sudah tidak bisa membuatku terkesan, dan hiburan dunia ini hanyalah perkembangan dari hiburan-hiburan sebelumnya.
Tapi walaupun begitu dunia ini sangat menakjubkan, dan aku penasaran sampai mana manusia akan selalu berusaha untuk meningkatkan peradaban mereka, itu sedikit membuatku penasaran.
Dan jika aku di tanyakan tentang bagai mana dunia ini, aku akan menjawabnya “Sangat membosankan”
***
Sampai di penginapan mereka, Jell dengan mengeluarkan semua beban dalam dirinya dia tenggelam di ranjang, lelah adalah apa yang dia rasakan saat ini. Begitupun dengan Mai, dia juga tenggelam dalam ranjang satu orang itu, tapi berbeda dengan Jell, dia terlihat tenggelam di badan Jell yang sedang berbaring.
Sedikit sesak tapi tidak apa-apa, Jell berpikir bahwa mereka bisa menyewa penginapan lain yang jauh lebih luas, tapi untuk menyewa penginapan yang lebih besar harus pergi ke distrik B. Jadi untuk saat ini Jell berpikir untuk memisahkan kamar mereka, mereka bisa saja menyewah kamar lain, karena kamar mereka saat ini adalah kamar murah yang ada di sini.
Tapi pilihan ada di tangan Mai, dan Jell merasa tidak keberatan. Dengan memisah kamar mereka bisa menyimpan privasi mereka sendiri, karena saat ini mereka tinggal sekamar, Jell sering melanggar Mai yang suka makan saat tengah malam.
Dan untuk Jell, dia tidak sering membuat sesuatu yang mencurigakan saat mereka tinggal sekamar.
“Mai, kita akan membagi kamar. Aku tetap di sini dan kau bisa ambil kamar yang kau suka.”
“Eh!”
Mai yang saat ini berbaring di atas Jell seketika terkejut dengan wajah tidak percaya. Dia menolaknya? Adalah apa yang Jeli lihat dari reaksinya.
“Jika kita memisah kamar, kita bisa melakukan semua yang kita suka, jadi kau bisa lakukan semaumu jika kau punya kamar sendiri.”
“EH!”
Reaksinya masih sama dengan reaksi awal. Namun dalam keadaan itu Mai seketika menenggelamkan wajahnya ke dada Jell dan bersuara dengan nada pelan.
“Kau tidak suka sekamar denganku?”
(Ugh-)
Untuk Jell yang di perlihatkan wajah sedihnya, dia tidak bisa menahan betapa sangat berdamage-nya itu, dia harus menahan dirinya, untuk saat ini Jell bisa saja mimisan hanya karena perkataan Mai tadi.
“Tidak bukan begitu, sudah aku bilang bukan, jika kita harus punya privasi sendiri, jadi aku pikir kau akan setuju dengan hal ini.”
“Tentu saja tidak, bodoh…”
Mia menjawabnya dengan nada pelan, dia bagaikan tidak seperti dirinya, tapi sebenarnya ini adalah sisi manis dari Mai. Dia jarang menunjukannya dan lebih sering menunjukan sikap arogan dan sedikit melenceng dari sikap feminim wanita umumnya. Tapi walaupun begitu, status sebagai wanita tercantik ke-3 di sekolahnya bisa di dapatkan dengan sikap arogannya.
“Aku tidak mau pisah kamar, pokonya aku akan satu kamar denganmu. Kalau kau keberatan aku akan menghajarmu, ingat itu!”
Dia bangkit dari pelukannya dan duduk sambil menunjuk Jell dengan ancaman.
Jell yang melihatnya mulai tersenyum dan dia beranjak dan pergi keluar.
“Hm? Kau mau kemana?”
Mai menanyakan terhadap Jell yang dengan santainya pergi untuk keluar tanpa memanggilnya.
“Tidak, aku hanya punya sedikit urusan.”
***
Keduanya keluar dari penginapan dan Jell sudah selesai dengan urusannya. Saat ini adalah hal yang paling di nanti-nantikan oleh Mai, itu adalah kencan.
Mai yang sudah dari awal ingin melakukannya tidak pernah terwujud hingga saat ini, tentu saja alasannya adalah jadwal mereka yang padat. Akan menjadi petualang terkuat tentu saja tidak bisa di dapatkan dengan cara yang mudah, walaupun kekuatan mereka di atas rata-rata manusia normal, tapi Jell dan Mai tetap harus melakukan dan menyelesaikan quest dari Yinn.
Benar, Yinn lah alasan mereka selama ini tidak pernah mengambil libur.
Setelah Jell selesai dengan urusannya, Mai memaksanya untuk melakukan kencan pertama mereka di dunia lain ini, dan tentusaja Jell sedikit keberatan karena masalah kamar masih belum selesai, tapi Mai yang tidak mempedulikan itu merengek dan merontak untuk melakukan kencan, apa dayanya Jell, dia tidak bisa melawan lagi.
“Hei, hei, Jell~ Kita mau kemana dulu? Taman? Kafe? Atau langsung ke hotel?!”
(Pukul)
“Ugh!”
Jell secara reflek memukul, tentu saja, apa yang di inginkan Mai sudah terlalu jauh, jadi menghentikan sebelum terlambat adalah prioritas utama.
“Seriuslah sedikit, kau mau kencan bukan? Lagi pula apa di sini ada kafe?”
“Ugh~ Kau jahat Jell, kau memukulku seperti tidak bersalah. Benar juga, apa di dunia ini tidak ada kafe ya?”
Mai sedikit lebih baik, dan mulai menyadari apa kekurangan dari dunia ini, atau mungkin distrik ini. Dia dan Jell belum lama tinggal di sini, dan sampai saat ini juga mereka tidak pernah menemukan tempat semacam kafe di sini. Apa perbedaan budaya di sini terlalu tertinggal? Adalah apa yang di pikirkan oleh Mai.
“Apa mungkin di distrik lain ada?”
“Kau janji kita hanya akan jalan di sekitar sini bukan.”
“Buu~ Kau membosankan.”
“Hah… Hm, oh benar juga, ada satu tempat bagus yang aku tau.”
Pergi ke tempat yang di baksud oleh Jell, Mai tidak tau apa yang di maksud itu, jadi dia hanya mengikuti Jell dari belakang. Biasanya untuk melakukan kesenangan berdua, Mai lah orang yang selalu merencanakannya, dan Jell akan mengikutinya selama itu menyenangkan.
Mereka menuju arah lain dari arah guild, Mai yang di tarik Jell tidak bisa menahan penasarannya dan bertanya.
“Memangnya kita mau kemana?”
“Kau lihat saja sendiri.”
Mereka jalan cukup jauh dari penginapan dan berakhir di satu bangunan. Bangunan itu lebar dan memiliki teras di depannya, teras yang tidak terlalu luas, tapi cukup untuk menaruh beberapa tempat duduk di situ. Benar, tempat yang di tuju Jell adalah ini.
“Tempat makan?”
“Benar, tempat ini di rekomendasikan oleh Yinn saat aku pergi ke guild tadi, katanya tempat ini baru buka dan cukup terkenal saat kita berada di dungeon loh.”
“Ohh! Kencan di restoran! Bagus, ini bagus Jell! Langsung saja mari kita masuk.”
Dengan penuh semangat, Mai tidak sabar dengan apa yang akan di sediakan oleh restoran ini untuk kencan pertama mereka, jadi kegembiraannya tidak bisa di tahan lagi. Lagi pula ini adalah tempat yang di mau oleh Jell, jadi ini akan menyenangkan, kata Mai dengan semangat.
““Eh-””
(Tutup, kami akan buka bulan depan)
Menghancurkan harapan, saat ini harapan salah satu dari mereka hancur hanya dengan sebuah fakta konyol.
“Eh… Tutup, padahal katanya tempat ini buka setiap hari.”
“Ap…”
“Hm? Apa kau bilang sesuatu? ... Eh!”
__ADS_1
Aura hitam terangkat dari diri Mai, aura yang sangat hitam muncul entah dari mana. Jell yang melihatnya langsung kaget, begitu pula dengan orang-orang yang sedang berjalan di situ, merasakan aura milik Mai.
“Apa-apaan ini! Kau bercanda bukan, Jell sudah membawaku ke sini dan malah tutup.”
Mai marah bukan karena dirinya yang di hianati oleh harapan yang di berikan oleh restoran itu, tapi dia marah karena tempat ini yang di tunjukan oleh Jell tutup di saat mereka kencan. Mai menghargai dan sangat senang dengan partisipasi Jell dalam kencan mereka, tapi itu di khianati oleh tanda tutup.
“Yah mau bagaimana lagi. Sudahlah, ayo ke tempat selanjutnya.”
“Tapi…”
“Sudahlah ayo, masih banyak tempat yang kau ingin kunjungi bukan?”
Merangkul Mai dan membawanya pergi dari tempat itu, mereka menuju arah mereka sebelumnya, menuju guild.
Di distrik A, guild adalah titik pusat dari semua jalan. Jadi untuk menuju arah Utara ke Selatan, harus melintasi guild terlebih dahulu, sama halnya dengan arah lainnya.
Mereka berencana meminta saran dari Yinn untuk menunjukkan tempat-tempat yang cocok untuk kencan, karena Yinn adalah ketua guild, pasti dia tau semua tempat di distrik A ini.
Menuju guild suasana sama halnya dengan hari-hari sebelumnya, mereka memang sudah sekitar seminggu di bawa tanah, tapi rasa hangat berada di atas merupakan kesan tersendiri bagi Jell. Tidak ada perubahan walaupun seminggu mereka di bawah tanah, tapi mungkin ini hanya perasaannya saja, tapi sepertinya alun-alun kota tampak ramai dengan orang-orang.
“Hei, ini hanya perasaanku saja atau alun-alun terlihat lebih ramai dari sebelumnya?”
“Hm? Oh, benar.”
Mai menjawabnya tanpa sekalipun melihat arah alun-alun yang di tunjuk Jell, dia frustasi hanya karena restoran itu tutup, berlebihan tapi itu sangat berarti.
Jell memandang dan hanya menggelengkan kepalanya sambil mengajak Mai melihat ada apa sebenarnya.
“Permisi, sedang apa banyak orang berkumpul di sini?”
Jell menyentuh bahu seorang pria dari banyak orang yang mengerumuni alun-alun, pria itu juga meresponnya dan berbalik.
“Oh, kau tidak tau? Besok ada sayembara untuk pemilihan Raja selanjutnya.”
“P-Pemilihan Raja?”
“Benar, sudah enam bulan semenjak Raja terakhir berkuasa, dan saatnya Raja baru hadir. Sedikit aneh, tapi ini pertama kalinya pemilihan Raja di lakukan dengan cara sayembara, itulah alasan banyak orang berkumpul di sini.”
Dengan informasi yang cukup pria itu memberitahu Jell apa dan alasan mereka berkumpul dan banyaknya orang di alun-alun beberapa hari terakhir.
(Otnah-san pernah mengatakannya kemarin mengenai sayembara, tapi dia tidak mengatakan padaku kalau itu untuk pelihan Raja. jadi itu alasan dia menyuruh kami untuk pulang.)
Jell yang mendengarkan hanya bisa ternganga, sama halnya dengan Mai dia juga sudah mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk bisa menyadari kondisi.
(Pemilihan secara sayembara, apa sebenarnya yang di pikiran oleh para bangsawan. Tidak, keluarga Raja, apa yang mereka pikirkan? Di tambah lagi ini adalah sayembara terbuka yang bisa di ikuti oleh seluruh orang tanpa terkecuali. Dan mata-mata ataupun musuh kerajaan ini pasti akan mengambil langkah cepat dalam hal ini.)
Jell hanyut dalam pikirannya, dan sama halnya dengan Mai, dia juga hanyut dalan pikirannya.
“Jell, apa kau pikir ini aneh? Keluarga kerajaan melakukan sayembara untuk pemilihan Raja berikutnya, mereka tidak takut kehilangan posisi dari keluarga kerajaan? Ini aneh.”
“Ah… Aku pikir juga begitu, tapi mungkin ada alasan di balik semua itu.”
Jell dan Mai berbalik dari alun-alun dan menuju guild, mereka ingin mengetahui lebih lanjut mengenai kejadian ini, jadi kencan saat ini di tunda terlebih dahulu.
***
“Aku juga tidak begitu tau detailnya.”Yinn menjawab dengan nada rendah.
Sampai dan langsung berbicara dengan Yinn di kantornya. Dalam hal ini Mai berbeda dengan biasanya dan dia serius kali ini untuk membicarakan tentang kejadian aneh ini, bagutu juga dengan kencan mereka yang gagal, Mai tidak mengungkit lagi tentang itu.
Yinn menyampaikan jawabannya tentang kurangnya informasi tentang kondisi ini, tapi dia adalah ketua guild, jadi dia pasti memiliki informasi yang juga berguna walaupun sedikit. Dan untuk hal itulah Jell pergi menemui Yinn.
Pengetahuan dan informasi, seperti yang di harapkan dari ketua guild. Dia sangat membantu di saat-saat seperti ini, dan itu salah satu alasan kenapa Jell sangat menghormati Yinn.
[Dari informasi yang Yinn berikan yaitu,
Di ketahui bahwa ada rumor yang mengatakan alasan pemilihan Raja secara sayembara ini berkaitan dengan kejadian enam bulan lalu. Itu adalah kejadian terorisme yang terjadi di salah satu desa bagian distrik E. Dan informasi tentang kasus itu tertutup rapat oleh keluarga kerajaan.
Masih berkaitan dengan kasus enam bulan lalu, ada juga rumor yang mengatakan bahwa alasan pemilihan secara sayembara ini terjadi karena putra mahkota telah berkhianat dan pergi meninggalkan kerajaan, dan oleh sebab itu Putri pertama dan kedua Raja tidak dapat mengambil posisi Raja, dan alasan sayembara itu untuk melihat siapa orang yang cocok menjadi Raja selanjutnya.
Dan rumor terakhir adalah bahwa para bangsawan telah melakukan kudeta dengan aksi ******* yang terjadi enam bulan lalu. Hal itu di dukung oleh sikap para bangsawan yang sangat antusias dalan sayembara pemilihan Raja. Bukan hanya itu, ada juga yang mengatakan bahwa para bangsawan telah melakukan kerja sama dengan kerajaan lain untuk menundukkan kerajaan ini.]
Informasi yang walaupun masih sekedar rumor telah di sampaikan kepada mereka berdua. Untuk informasi itu Jell dan Mai terdiam dan tidak mampu berkata apapun tentang ini, dan yang paling menarik perhatian mereka adalah, semau rumor itu berkaitan dengan kasus enam bulan lalu. Sebenarnya apa yang terjadi enam bulan lalu itu.
“Untuk saat ini aku ingin menyampaikan satu saran kepada kalian berdua.”
“Apa itu?”
“Aku harap kalian tidak mengikuti sayembara itu.”
“...”
Jell tidak bisa merespon dan Mai juga tidak bisa. Mereka tidak memiliki alasan untuk mengikuti sayembara itu dengan alasan bahwa kerajaan ini dalam bahaya besar. Jadi untuk menjadikan alasan itu sebagai tujuan mereka mengikuti sayembara, hanya akan memberikan beban yang sangat besar kepada mereka berdua.
Untuk saat ini melihat keadaan adalah prioritas utama mereka, dan jangan pula mereka harus berurusan dengan para bangsawan yang membabi-buta untuk memenangkan sayembara Raja.
Melihat sikap mereka yang terdiam, Yinn tersenyum melihat mereka. Apa itu senyum kegembiraan ataupun senyum dengan maksud lain, Jell tidak mengetahuinya.
Jell beranjak dan mengajak Mai untuk pergi, tidak lupa berterima kasih kepada Yinn, Jell dan Mai pergi dan pulang.
“Ini semakin menyenangkan...” (suara seseorang dari balik kegelapan.)
Sesampainya di kamar, Jell dengan sikap yang sedikit buruk duduk dan berbaring di meja, sambil melihat Mai yang sedang mengambilkan minum, Jell mengeluarkan isi hatinya saat ini.
“Nee, apa ini akan baik-baik saja?”
“Kau ingin menjadi Raja?”
Dengan mengangkat wajahnya yang berbaring di meja, Jell membuat wajah bermasalah dan menjawab.
“Bukan itu maksudku … Kau tahu bukan, saat ini kerajaan sedang dalan kondisi yang sangat parah. Kemiskinan, pembangunan infrastruktur, dan banyak lainnya tidak di urus dengan baik. Jadi bagaimana jika Raja berikutnya adalah musuh atau mungkin adalah sorang penghianat? Lebih parahnya bagaimana jika yang menang adalah orang yang sama sekali tidak tau keadaan kerajaan saat ini.”
Jell menjelaskan semua apa yang dia pikirkan dan khawatirkan tentang masa depan kerajaan Athera, tapi dia tidak memiliki kekuatan dan hak akan hal itu. Dia dan Mai hanyalah seorang player yang di kirim di dunia ini, dan bukan manusia yang berasal dari dunia ini.
Walaupun begitu, rasa cemas akan kelanjutan dan masa depan kerajaan ini masih membuat Jell risih dan tidak tenang, tapi dia tidak bisa melakukan apapun, kecuali satu cara.
“Sudah aku katakan, kau ingin menjadi Raja?”
“Tidak… … Mungkin…”
Mai yang mendengarnya melemparkan wajah, tersenyum dan sambil memegang cangkir milik Jell, dia menyajikan minuman.
“Kau sangat imut jika dalam kondisi begini Jell.”
“Berisik…”
Sambil minum dan membuang semua beban yang ada, Jell seketika merasa bersemangat dan cerah.
__ADS_1
“Minuman ini! Ini milk shake!”
Wajah Jell yang terlihat suram seketika hilang dan menjadi sangat bercahaya, dia sangat menikmati minumannya yang di sajikan oleh Mai. Bagikan tidak percaya, dia dengan lahap meminum minumannya.
“Bagai mana bisa?”
Bertanya kepada Mai yang menyajikan minuman, Mai dengan wajah sombong membusungkan dadanya.
“Bagaimana? Enak bukan. Aku membeli susu di pasar dan aku membuatnya sendiri.”
“Ohh~”
Wajah terkesan Jell tidak hilang walaupun Mai terlihat sombong dengan pujian Jell.
“Kembali ke topik, jadi Jell apa yang akan kau lakukan?”
Jell tidak bisa langung menjawabnya, tapi dengan sikap diamnya itu Mai sudah mampu mendapatkan apa jawabannya. Sambil meregangkan badannya Mai tidur di kasur sambil berteriak dengan kegirangan. Tapi tidak dengan Jell yang sedari tadi hanya duduk dan minum saja.
“Kau sangat baik ya, Jell.”
“Apa maksudmu?”
Tersenyum dengan wajah manis di lemparkan dari wajah yang selalu membuat Jell kesal, dia menjawabnya dengan penuh perasaan.
“Kau menyukai di dunia ini bukan? Walaupun sering teringat akan sesuatu yang mungkin terjadi di dunia sebelumnya, tapi kau di sini terlihat sangat bahagia.”
“Aku sama dengan sebelumnya, tidak ada yang berubah.”
“Orang jahat tidak akan mengaku kalu dirinya penjahat. Dan aku adalah satu-satunya orang yang tau segalanya, apa dan mana yang di sukai atau tidak oleh Jell Kiyomizu. Jadi akulah yang paling tau jika kau bahagia atau tidak.”
“Jelika, ibu dan ayah lebih darimu.”
“Janga sok kuat dasar siscon, aku tidak kalah dari mereka.”
“Oi, jaga mulutmu, aku bukan siscon.”
Tertawa dengan jawaban Jell, Mai hanya bisa tertawa dan berbaring di kasur. Berbeda dengan Mai, Jell malah terlihat suram dan memandanginya dengan wajah jengkel.
“Hah… kau benar-benar orang yang sangat baik Jell.”
“Sudah aku katakan, apa yang kau maksud sih!”
“Merasa cemas dengan kerajaan ini padahal kebanyakan orang tidak peduli dengan hal itu. Merasa takut jika kerajaan ini jatuh, hutang di mana-mana, penghianat, perang, dan lainnya. Itulah sisi baikmu Jell, kau tidak takut mengambil resiko jika ingin membantu orang dan terkadang sering bersikap berlebihan yang mana menbuat kau terlihat menakutkan, itulah sikap baikmu Jell.”
Terdiam setelah mendengar pendapat dari orang yang selama ini hidup bersamanya membuat Jell tidak bisa mengangkat suara lebih. Namun setelah mendengarkan itu Jell merasa sedikit sakit karena tidak menyadari bahwa dia telah membawa Mai dalam masalahnya yang berlebihan. Jadi untuk menyalahkan Mai tentang sikap-sikapnya selama ini rasanya tidak adil.
“Tapi kau tahu? Aku menyukai sikapmu yang begitu. Dulu aku pernah bilang bukan? Apapun jalan yang kau ambil, aku aka selalu bersamamu apapun alasannya. Haha… dan itulah Jell yang aku kagumi dan cintai semalam ini.”
Menambahkan, Jell hanya bisa terpaku kepada Mai dan tidak bisa mengangkat suara lagi. Dia merasa sengat senang, dia tidak mampu menyalurkan perasaannya terhadap sikapnya, tapi saat ini Jell benar-benar senang.
“Begitu yah… aku rasa aku sedikit lebih baik sekarang. Aku mau mau tidur.”
“Hehehe~”
Tidak bisa memutuskan apa yang bisa dia lakukan, tapi untuk saat ini Jell benar-benar merasa lebih baik dan akan memikirkannya besok, dan apapun keputusannya Mai akan selalu bersamanya walaupun Jell menjadi Raja.
***
“Jell sialan, selalu saja sibuk dan sampai melupakanku, apa sih yang dia lakukan? Apa mungkin dia sedang jalan dengan wanita lain! Sialan. Aku memang memberikan kebebasan terhadap Jell, tapi jika sudah sesering ini aku pasti tidak akan senang, aku akan memergoki dia!”
Pagi cerah yang indah nan tenang di kerajaan Athera, seketika terasa sangat tidak baik, itulah yang di rasakan oleh Mai saat ini.
Pagi tadi Jell pergi untuk urusannya, dan itu semakin sering sehingga membuat Mai curiga, tapi sepertinya itu tidak seperi yang dia pikirkan. Tapi pagi ini Jell terlihat lebih bersemangat dari hari-hari biasanya, apa itu tidak mencurigakan? Adalah apa yang dipikirkan oleh Mai.
Mencari Jell di sekitar penginapan tidak di temukan, jadi Mai memutuskan untuk mencarinya di guild, dan jika tidak ada juga, dia akan memasang poster orang hilang untuk mencarinya.
Namun, sepertinya itu tidak seperti yang Mai pikirkan.
“Ternyata kau benar ada di sini.”
“Hm? Siapa kalian?”
Ada tiga wanita dan satu gadis yang berada di depan penginapan mereka. Masing-masing menggunakan pakaian petualangan dan set full armor yang lebih lengkap daripada miliknya dulu.
“Sialan, jangan main-main dengan kami.”
“Kalian… Oh, kalian adalah wanitanya pria besar itu.”
“Pria besar?…”
Salah satu wanita dengan membuat wajah suram dan mencekam merespon terhadap jawaban Mai, dia adalah wanita dengan full set job Mage.
Seperti akan meledak, wanita itu memerah dengan wajah menakutkan, akan tetapi itu tidak menakutkan sama sekali baginya.
“Kau wanita lacur, beraninya kau memandang rendah Lhava-san dengan sebutan “pria besar”. Akan aku buat kau menyesali yang kau katakan itu!”
Wanita dengan full set armor mage memaki Mai dengan kata-kata yang amat pedas, namun berbeda dengan Mai, dia hanya memasang wajah biasa. Wanita full set armor mage maju dan di ikuti dua wanita lainnya di belakangnya. Masing-masing dari mereka memakai set berbeda-beda, job Mage, job Fighter, dan job Support.
Untuk sesaat aura di antara dua bela pihak terlihat sangat gelap dan mencekam, tidak ada yang bisa menghentikan perselisihan antar keduanya, dan sebaliknya, orang-orang yang berada di sekitar situ tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa menonton dari kejatuhan.
“Sebenarnya apa mau kalian, aku sedang sibuk, jadi pergilah.”
“Apa mau kami, katamu?”
Wanita dengan job suport menjawab dengan nada tertawa. Diantara ketiga wanita itu, wanita inilah yang memasang aura paling mencekam dari pada keduanya. Wanita itu maju dan sambil menunjukan Mai dia berteriak.
“Berduel dengan kami, dan pertaruhkan harta yang kalian ambil dari Lhava-sama!”
Wanita itu mewakili kedua wanita yang berada di belakangnya, wanita dengan job support itu dengan wajah yang sama sekali tidak berubah dari tadi, dia menantang Mai untuk melakukan duel tiga lawan satu. Dan dari semua kekacauan itu hanya satu orang yang tidak bertindak seperti ketiga wanita itu, itu adalah gadis yang bersama mereka.
“Tolong hentikan ini Samarima-Sama, Raina-Sama, Wilata-Sama! Lhava-sama sudah bilang jangan lagi mengganggu mereka, jadi ayo kita pulang.”
Gadis berjubah itu berteriak dan memohon kepada tiga wanita itu. Tampaknya ketiga wanita ini bernama Samarima, Raina, dan Wilata. Suara gadis itu lembut, namun agak serak, bagaikan jarang minum air, suara gadis itu seperti akan kehabisan air liur di mulutnya. Mai yang mengetahui fakta itu membuat wajah sulit.
“Jangan bicara seenaknya, dasar kau tidak tahu diri!”
Wanita dengan job suport menendang tubuh kecil gadis itu, dan jika di sesuaikan sepetinya dia adalah wanita yang bernama Samarima. Mai melihat gadis itu di sakiti, mengeluarkan aura mematikan. Membuat ketiga wanita itu menyadari keberadaannya, Mai membuka suara.
“Baiklah, ayo lalukan duel, dan pertaruhkan semua harta kalian saat ini.”
Mai menyebutkan permintaannya, membuat ketiga wanita itu sedikit mengganti ekspresi, mereka terlihat kesal.
“Seperti yang aku duga, kau memang wanita lacur penggila harta. Aku tidak tau apa yang membuat Lhava-San tertarik padamu, tapi aku tau apa keinginanmu sesungguhnya.”
“Kalian banyak bicara, ya. Cepat selesaikan ini, aku masih harus mengurus sesuatu.”
Mai membalas perkataan wanita bernama Raina. Dengan memasang wajah serius Mai mengucapkan ikrar begitu juga dengan ketiga wanita Lhava.
__ADS_1
““AITIS””
***