BATTLE OR ALIVE

BATTLE OR ALIVE
Chapter 02 : Farewell


__ADS_3

Cahaya terang mengisi seluruh ruangan. Jell yang sedang kebingungan mencari apa arti dari semua yang terjadi. Sosok karakter itu melayang dan mendekatinya, mengambang di udara tampak lucu dengan bentuk tubuh chibi*nya.


(T/N: Chibi adalah orang kecil atau kerdil.)


Terpaku dengan sosok itu, Jell memasang posisi waspada. Seketika di tempat yang sunyi itu akhirnya terdengar sebuah suara.


Suara kecil lembut di dengar, “Suara anak kecil.” sosok karakter itu menatap dan mengatakan sesuatu pada Jell.


“Selamat datang di duniaku. aku menyambut mu dengan gembira dan ramah, No.1!”


Bingungnya karena situasi yang terlalu mendadak. “Apa-apaan ini? Siapa dia? di mana aku, Kenapa aku di sini?.” seribu kata muncul di kepalanya, dan tak ada yang dapat menjelaskan itu semua. Hanya sosok di depannya saja yang dapat menjelaskan.


“Aku merasa senang dengan partisipasi mu di sini. Karena kau sudah setuju dengan semua syarat, maka ayo kita mulai saja permainannya!.”


Sosok itu tampak membicarakan hal yang tak masuk akal bagi Jell, dengan tenang dia memberanikan dirinya untuk bertanya.


“Siapa kau? di mana ini?!”


Sosok itu tampak tidak bisa bereaksi terhadap pertanyaan, itu di karena kan karakter boneka ini tak berekspresi dan tanpa mulut? Sosok itu hanya menjelaskan beberapa hal kepada Jell dengan tampak anggun dia melayang dan mengelilinginya.


“Apa yang kau katakan No.1? bukannya kau sudah setuju dengan permainan kita tadi pagi. Apa mungkin kau sudah lupa?.”


Udara dingin menghembus tulang punggung Jell. Dia tampak pucat dengan apa karakter itu bicarakan, dan lebih penting, karakter boneka ini memang sangat mirip dengan profil orang tadi pagi.


“Kau sudah menyetujui permainan kita di chat pagi tadi. Jadi aku datang untuk menjemputmu. Yang lebih penting aku akan menjelaskan apa yang harus kau lakukan No.1.”


“Apa yang kau bicarakan?!.”


Jell tampak belum bisa memahami apa yang sedang terjadi. Sosok karakter itu tidak memedulikan pertanyaan Jell dan melanjutkan perkataannya.


“Mulai saat ini kau akan aku kirim ke dunia lain No.1. Kau akan menjalin kehidupan baru di dunia itu. Dunia fantasi yang tidak seorang pun terpikirkan akan hal ini. Beauty Of Another World!.”


Sosok itu tampak menjelaskan dengan berbinar-binar dan tampak memukau. Tapi hal demikian dapat di rasakan, jika sosok karakter itu bukan boneka chibi lucu yang mengambang-ngambang.


“D-Dunia lain?.”


Jell mulai mengikuti arus pembicaraan ini, dan melupakan semua pertanyaan tadi dan mulai memasuki pertanyaan baru yang lebih sulit di mengerti. Karakter itu tampak bersemangat dengan pertanyaannya. Walau tak bisa di lihat tapi bisa dirasakan kalau dia seperti itu.


“Benar!, Dunia lain yang Indah, kau akan memulai permainannya dari situ. Mulai dari nol menjadi Seratus! … Kau akan hidup di dunia fantasi dengan banyak ras dan kerajaan yang melengkapi dunia itu. Banyak hal yang bisa kau lakukan dan buatlah dunia itu menjadi kehidupan terbaik yang melebihi kehidupan nyata yang membosan ini.”


“Sebenarnya apa yang kau rencanakan? memaksaku masuk ke dunia lain? apa-apaan itu!.”


Jell tampak keberatan dengan perkataan karakter chibi melayang ini. Karakter itu tidak mengambil pusing dan tampak punya alasan yang bisa melampaui pemikiran Jell.


“Memaksamu? Tidak, aku tidak pernah memaksamu No.1! Kaulah yang menerima tantanganku.”


Jell shock dengan apa yang karakter itu katakan. Dia tampa sadar melibatkan dirinya ke keadaan yang rumit seperti ini. Ingatan tentang E-mail pagi tadi muncul di pikirannya, dia mengingat bahwa dia telah mengkonfirmasi tantangan itu tanpa dia sadari.


“Baiklah. Tapi permainan macam apa yang aku mainkan?!.” *Prolog


Tampak dengan sedikit menggigit bibirnya. “Kesalahan!”, itulah yang Jell pikirkan saat ini. Jell yang merasa tak bisa melakukan apa-apa saat ini, terpaksa melakukan apa yang di katakan karakter chibi melayang ini. Tampak karakter melayang ini mulai melanjutkan ceritanya.


“Jadi–, apa yang harus aku lakukan?.”


“Mudah!. Kau hanya perlu hidup di dunia ini, mudah bukan?.”


“Ha!–, kau hanya menyuruhku tinggal. Kalau begitu kenapa kau tidak memanggil orang lain saja?.”


“Tidak bisa. Hanya kau dan orang itulah yang pantas akan hal ini. Itu karena kalian adalah pemain BOA terbaik di Dunia ... … Pemain terbaik No.1, Jell Kiyomizu. Kau adalah pemain dengan peringkat tertinggi di BOA, dan di kenal dengan permainan yang tak terkalahkan!. Di juluki dengan sebutan “KING” sebagai posisi No.1 di leaderboard Game Battle Or Alive.”

__ADS_1


Tercengang bahwa alasan dia terlibat adalah karena posisi No.1-nya sebagai pemain terbaik dunia, membuat dia merasa sedikit penyesalan dengan prestasinya itu. Jell seketika mengingat perkataan karakter ini, dia mengatakan “Kau dan orang itulah—…”, berarti ada orang lain yang terpanggil selain dirinya.


“Kau, kau bilang bahwa ada orang lain yang terpilih denganku bukan? siapa dia?.”


“Tenang saja No.1 kau tidak sendirian, yang akan terpanggil bersamamu adalah “No.2”.”


Jell menanyakan hal itu dan kaget dengan jawaban yang dia terima. Nomor peringkat No.2 bukankah dia. Dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun, Jell berteriak dengan amarah.


“Brengsek!, apa yang kau lakukan?!, kau memperlibatkan Mai di kondisi seperti ini!.”


Karakter tersebut tampak bingung dengan teriakan marah Jell, dia sepertinya merasa ada yang terlewat di sini yang belum dia jelaskan.


“Berbahagialah No.1, bahwa No.2 akan ikut denganmu. Kau sepertinya tidak di beritahu oleh nya, bahwa dia juga mendapatkan permintaan yang sama denganmu pagi tadi.”


Tercengang dengan fakta. Mai ternyata juga mendapat E-mail dari orang ini, dan dia tidak di beritahu akan hal itu. Jell dan Mai mendapatkan E-mail yang sama pagi tadi dari orang ini.


Karakter chibi mengambang ini melihat tampang bingung Jell, dan melanjutkan ceritanya yang sedari tadi belum selesai, karena selalu di potong oleh Jell.


Dia menjelaskan peraturan dunia yang akan di hidupi mereka berdua. Peraturan/Tabu yang harus di ingat jika berada di dunia ini. Berbeda dengan aturan seperti Undang-undang, Karakter ini menjelaskan kalau peraturan yang dia sampaikan bagaikan peraturan suci dari tuhan. Jadi setiap ikrar tabu yang sudah di tentukan berarti mutlak di kerjakan, dan jika tidak, maka akan ada ganjaran yang di berikan.


Jell yang mendengar dan memahami semua yang di sampaikan. Karakter terdiam menatap Jell, dan melihat Jell sudah mengerti peraturannya dia pun mulai berseru kembali.


“Baiklah. Sudah saatnya kita mulai permainannya.”


Ruangan yang putih menerang itu seketika berubah menjadi gelap seperti saat sebelumnya. Seketika di atas mereka terlihat sebuah logo lingkaran dengan gambar-gambar di sekelilingnya. Itu Gerbang Sihir. Gerbang sihir itu membesar di kepala mereka, dan sekali lagi seisi ruangan mulai menerang dan cahaya mengkilap kuat menyilaukan mata Jell. Dengan reflek dia menggunakan kedua tangannya sebagai pelindung.


Cahaya terang menerang masih membuat mata Jell berkunang-kunang. Seketika tubuhnya merasakan sensasi berbeda dari tempat tadi.


Jell merasa sejuk di seluruh tubuhnya. Di bukanya matanya dan sungguh apa yang terlihat bisa membuat orang-orang tidak dapat berkata-kata.


Apa yang mereka saksikan bukanlah khayalan dan bukanlah ilusi. Angin sepoi-sepoi menabrak wajah kemudian ke seluruh tubuhnya. Apa yang dialami selama dia hidup tidak bisa menandingi apa yang Jell rasakan saat ini.


Padang rumput hijau dapat di lihat di seluruh tempat Jell berada, dengan angin segar tanpa polusi menambah keindahan ini menjadi sempurna.


itulah yang ada di pikiran Jell saat dia melihat, pemandangan Indah di hiasi bunga-bunga Indah yang belum pernah Jell lihat sebelumnya.


Sejauh mata memandang terdapat padang rumput dan gunung besar. Sementara matanya di hipnotis dengan pemandangan di depannya Jell tidak melihat kondisi dan keadaannya saat ini, baginya apa pun yang mengganggunya saat ini akan dia hajar. Suara seketika keluar dari mulut Jell sebagai komentarnya.


““Indah sekali…””


Secara bersamaan dua suara keluar begitu saja dengan nada dan komentar yang sama. Terangkat tubuh dan kesadarannya sambil berteriak dia melihat suara siapa tadi itu.


Itu adalah sosok perempuan tak dikenal, dengan rambut cokelat jingga panjang yang di kuncir kuda, wajahnya tertutupi poni panjang, yang membuat Jell tidak bisa melihat wajah wanita itu. Sekali lagi Jell berkomentar sama dengan pemandangan yang pertama tadi.


“Cantik…”


Jell memerah tipis di wajahnya. Sebenarnya Jell akan memerah sepenuhnya bahkan kikuk jika berada di posisi itu, tetapi dia bertingkah malu seperti itu hanya akan dia perlihatkan untuk wanita pertama baginya.


Bagi Jell, Mai adalah semua baginya. Jika di bandingkan dengan wanita cantik mana pun Mai tetap takkan tergantikan. “Tetapi untuk saat ini tidak salah untuk bereaksi bukan?”, saat ini Jell memikirkan hal itu.


Seketika sebuah suara keluar dari perempuan itu, suara lembut dan indah, tetapi sepertinya suara terdengar tidak asing.


“Apa-apaan dengan reaksi mu itu?.”


“Eh!”


Terkejut dengan kenyataan, wanita tak di kenalnya itu mengangkat poni dan merapikan rambutnya. Itu Mai. Dia tepat berada di sebelah Jell, dan tampak dialah asal dari suara pertama yang di dengar Jell. Memandangi Mai, Jell tersadarkan akan satu hal yang sangat penting dan langsung ingin mengatakannya.


“Mai! Kau–”

__ADS_1


Saat menanyakan akan hal penting, Jell yang seketika bangkit, dan di saat mulai berbicara, bahunya di tahan dan mulutnya di tempatkan telunjuknya. Bagaikan menyuruh Jell diam itulah gerakan Mai terhadap reaksi Jell.


Mai menggelengkan kepala sambil “Tck tck tck” dan mulai menurunkan badan Jell. Mengatur posisi duduk Mai mulai berbicara untuk merendahkan suasana.


“Sudahlah…, mari kita lihat dulu pemandangan di depan ok?. Di bumi tidak ada yang seperti ini, jadi ayo nikmati dulu … … Habis itu aku akan mendengarkan.”


Sambil terdiam tetapi bergerak, keduanya duduk sambil saling bersandar bersampingan. Bagaikan sepasang kekasih, Mai menidurkan kepalanya di pundak Jell. Sambil menggenggam jari-jarinya, Mai mencoba menurunkan amarah Jell, karena dia tau dia dalam bahaya. Wajah keduanya begitu tenang dengan senyum kecil di wajah.



“Kau tadi terpesona bukan?…”


Suara bisik Mai keluar menghancurkan kecanggungan. Jell menjawab dengan reaksi sama sepertinya.


“Tidak, Kau salah lihat.”


“Mouh…, dasar Tsundere*(1).”


“Aku tidak Tsundere, kau saja yang berlebihan.”


“Tuh kan, masih saja begitu.”


Keduanya saling menggoda untuk menghilangkan kecanggungan. Tapi jika orang melihat mereka, image mereka akan berbeda dengan itu. Mereka akan beranggapan sepasang kekasih yang saling menggoda di ladang bunga yang Indah.


“Jadi, kenapa kau tidak bilang?.”


“Hmm? apa yang kau bicarakan?.”


Kesabaran mencapai ubun-ubun, Jell berdiri karena reaksi Mai yang mengira itu normal, dengan urat di kepalanya.


“”Apa” jidatmu Boke!*(2), kau mendapatkan E-mail itu dan tidak memberitahuku. Kau kira bagaimana reaksiku saat mengetahui itu!”


Jell memarahi Mai dengan nada tinggi. Marah dengan tindakan Mai yang abnormal, dia benar-benar tidak habis pikir. Amarah itu belum hilang dan melanjutkan perkataannya kepada Mai, tetapi kali ini dengan suara yang lebih pelan.


“Kau tau, bodoh itu juga ada batasannya. Kau pikir kalau terjadi apa-apa aku bisa saja gila di karena itu!”


Mai terdiam, wajahnya tertutup poni dan tidak merespon apa pun. Jell tampak benar-benar marah akan sikap egois Mai, saat mendapatkan sesuatu yang berbahaya seperti E-mail itu, dan tidak memberi tahunya. Bagi Jell dia juga salah karena tidak memberitahunya juga, akan tetapi dia lebih takut apa yang akan terjadi pada Mai dari pada apa yang akan terjadi padanya. “Aku terlalu berlebihan. Seharusnya aku juga salah, kenapa aku melakukannya.” dalam hati Jell menyesal akan perbuatannya itu.


Ruangan seketika terdiam dengan keduanya. Jell tidak melanjutkan, dan Mai tidak meresponnya. Dan memberanikan diri, Jell meminta maaf kepada Mai karena itu bukan salahnya. Tetapi saat-saat itu di potong oleh Mai. Mai bersuara.


“Maaf…… maafkan aku…, a-aku bersikap egois. Aku juga kaget dengan kenyataan …… kalau kau juga mendapatkannya … … Maafkan aku.”


Mai meminta maaf, akan tetapi dengan kondisi berbeda, Mai menangis. Jell tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia telah melanggar janji yang dia buat 10 tahun lalu. “Bajingan!. Aku benar-benar bajingan!.” Jell memaki dirinya yang begitu mudahnya melanggar janji yang dia buat.


Dengan posisi Jell berdiri dan Mai duduk dengan posisi jongkok, Jell mendekatinya dari belakang dan berbisik.


“Maaf.”


Bisikan permintaan maaf yang begitu tulus darinya. Jell memeluk Mai dari belakang. Memeluknya dengan erat karena dia takut Mai akan meninggalkannya. Dengan semua dia katakan. Jell begitu menyesal karena kelewatan.


“Maafkan aku ya…, aku terlalu berlebihan…. Maafkan aku juga karena aku tidak memberi taumu ya…, aku tidak ingin kau dalam bahaya karena orang itu tidak aku kenali. Aku tidak ingin kau ikut bersamaku dalam neraka yang aku buat karena kesalahanku.”


Di peluknya Mai lebih erat lagi.


“Maafkan aku! Jangan tinggalkan aku!.”


Teriakan Jell begitu keras, bercampur dengan angin dan membawanya pergi. Dan heningpun menghampiri mereka.


***

__ADS_1


(1) Tsundere (ツンデレ) adalah salah satu bentuk proses pengembangan karakter Jepang yang menggambarkan perubahan sikap seseorang yang awalnya dingin dan bahkan kasar terhadap orang lain sebelum perlahan-lahan menunjukkan sisi hangat kepadanya.


(2) Boke – Bodoh atau idiot


__ADS_2