
Dari hutan ‘Kaze Tree’ mereka setelah sekian lama akhirnya bisa pulang ke permukaan. Mai sudah bangun dengan kondisi bersemangat, dia terlihat senang ketika mereka akan pulang.
Jarak yang akan di tempuh dari desa Yull ‘Kaze Tree’ berada, sejauh 4 km. Jadi untuk pulang, Jell dan Mai harus berjalan kaki sejauh itu untuk bisa sampai ke ibu kota.
Suasana hutan cerah dengan burung-burung yang terbang menghiasi hutan. Banyak spesies di hutan ini. Mulai dari monster, hewan buas dan tanaman monster. Namun, bukan hanya berisi berbagai monster, hutan ini juga berisi berbagai macam keindahan yang dimilikinya. Seperti hewan-hewan cantik yang unik, bisa di temukan di sini.
Perjalanan sejauh 4 km telah di tempuh. Saat ini Jell dan Mai sudah berada di bagian depan ibu kota, dan mereka sepertinya sadar akan sesuatu yang berbeda, kota terlihat lebih ramai dari biasanya. Lebih tepatnya di alun-alun kota.
Suasana ramai dan juga beberapa pembangunan di dekat alun-alun. Mereka belum pernah berjalan di daerah sekitaran alun-alun, namun itu terlihat keramaiannya dari tempat mereka. Itu di karenakan jalan menuju guild, searah dengan jalan menuju alun-alun.
“Apa hanya perasaanku saja, tapi ini terlihat lebih ramai dari biasanya?”
“Benar! Saat ini ibu kota sedang panas-panasnya. Khakhakha!”
Di saat Jell yang sedang bingung dengan keadaan yang terjadi di ibu kota saat mereka melakukan ekspedisi di dungeon, muncul seorang pria dewasa dengan badan kekar dan juga besar, berada di belakangnya. Tidak salah lagi itu adalah Otnah-San.
“Otnah-San! Lama tidak bertemu.”
“Kau juga Jell, Mai. Bagai mana kabar kalian? Aku dengar kalian berdua bergabung sebagai petualang. Bagaiman?”
“Ya, kami baik-baik saja. Benar, kami bergabung sebagai petualang, untuk memenuhi Kebutuhan kami terpaksa berkerja sebagai petualang. Pada awalnya rasanya sedikit tidak yakin, tapi sekarang sudah tidak apa-apa.”
“Hm! Bagus kalau begitu, kalian berdua tampaknya tidak kesusahan dalam mencari uang sekarang. Dan juga, pakaian petualang kalian terlihat mahal, pasti kalian sudah berusaha keras. Aku, sangat bangga kepada kalian!”
Otnah-San dengan senang mendengar keadaan Jell dan Mai di saat mereka terakhir kali bertemu. Malahan, Otnah sangat khawatir tentang humor bahwa Jell dan Mai telah bergabung dengan guild. Di tambah juga dia sangat bangga melihat Jell dan Mai yang saat ini sudah sukses.
“hehe, untuk waktu itu terima kasih banyak Otnah-san. Kalau waktu itu Otnah-san tidak memberi kami uang, kami tidak tau apa yang akan terjadi. Untuk waktu itu aku benar-benar berterimakasih.”
Mai dengan nada sopan dan penuh rasa hormat, berterimakasih kepada Otnah yang sudah memberi mereka uang saat mereka pertama kali bertemu. Dan bagi Mai, dia merasa sangat tertolong saat itu.
“Tidak-tidak, tidak perlu berterimakasih.”
“Heheh.”
Suasana damai dan indah terlihat dari perbincangan ketiga orang itu. Suasana yang tadinya ramai, sekarang rasanya hanya milik mereka bertiga saja.
“Ngomong-ngomong Otnah-san. Apa yang sedang terjadi di ibu kota? Tampaknya lebih ramai saja.”
Pertanyaan di lontarkan oleh Jell. Otnah yang tadinya sedang tersenyum ramah dengan kedua bocah itu, sesaat merubah auranya.
Otnah dalam sekejap berwajah serius. Bagaikan senyum yang tadi di lontarkan hanyalah ilusi, wajah Otnah sekarang samasekali tidak ada keceriaan.
“Sebenarnya, kerajaan saat ini sedang melakukan sayembara.”
““Sayembara?””
“Benar. Sebuah sayembara yang akan menentukan nasib kerajaan ini. (Terdiam dan melanjutkan perkataannya.) Jell, Mai. Kalian berdua berasal dari luar kerajaan kan?”
“Ahh... Bisa di katakan begitu. Memangnya ada apa?”
“Aku tidak bisa mengatakannya. Tapi, untuk saat ini lebih baik kalian berdua bersiaplah melakukan perjalanan untuk pulang. Kerajaan ini akan segera berakhir.”
“Apa yang kau katakan Otnah-san? Pulang? Berakhir? Memangnya ada apa? Kenapa kau tidak bisa mengatakannya.”
Otnah sama sekali tidak menjawab pertanyaan Jell, dan dia hanya menegang pundak Jell dan dia pergi ke toko miliknya.
Jell yang di tinggalkan hanya bisa menatap dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Akhrinya Jell dan Mai pergi dari situ dan langsung menuju guild.
***
Saat ini mereka berdua sedang berada di depan pintu guild. Pintu guild yang biasanya di tutup, saat ini terbuka. Tidak tau alasan apa guild selalu menutup pintu masuk, dan harus membukanya sendiri, tapi saat ini terbuka lebar. Sehingga keadaan di dalama guild yang tidak bisa di lihat dari luar, sekarang bisa di lihat dari ujung jalan.
“Hm? Ada apa dengan orang-orang itu?”
“Aku tidak tau.”
Mai menanyakan keadaan tidak biasa itu, dan Jell membalasnya dengan jawaban yang benar. Dia tidak tau apa yang terjadi.
Kondisi di dalam guild terlihat tenang, atau bisa di katakan mereka sepertinya tertekan.
Ada sesuatu terjadi di guild yang membuat kondisi normal guild yang mereka tau tampak tidak biasa. Para kesatria tidak berbincang atau tertawa keras di tempat makan. Begitu juga para petualang yang sering berkumpul dengan anggota party mereka, sekarang terlihat diam duduk dengan sopan.
Masuk ke dalam guild. Dan kondisi di dalam memang seperti yang terlihat dari luar, aura yang menekan.
Jell dan Mai yang memasuki guild seketika langsung merasakan aura menekan itu, dan mereka juga tampaknya telah menarik perhatian orang-orang. Orang-orang yang sedang terdiam sesaat langsung memperhatikan Jell dan Mai yang masuk ke dalan guild. Wajah mereka berbeda-beda, ada yang memancarkan harapan, suram, dan juga marah.
Terutama bagi mereka yang memiliki wajah marah, tampaknya sekarang mereka lebih berani menunjukan amarah mereka kepada Jell. Biasanya orang-orang itu selalu menyimpan amarah mereka dan tidak ingin menunjukannya kepada Jell, namun saat ini berbeda.
Begitu juga Jell yang tiba-tiba mendapatkan pandangan amarah itu tampak bingung. Dan tidak memedulikan mereka, Jell dan Mai pergi menggadap Yinn.
Menuju ke counter guild, di situ terdapat Yinn yang sedang berdiri tidak nyaman. Dan juga ada seorang lelaki besar yang tingginya sekitar 190cm, sedang menggodanya. Dan bukan hanya itu, pakaian yang berkilauan yang dia gunakan bisa mencuri perhatian setiap orang.
Lelaki besar itu terlihat sedang menggoda Yinn yang saat ini sedang membersihkan counter. Bukan hanya itu, lelaki besar itu tampak tidak sendirian. Di samping kanan dan kirinya terdapat wanita-wanita. Wanita-wanita yang menempel padanya, bukan hanya satu, tapi ada tiga wanita yang menempel lengket dengan pria besar itu.
Sama halnya dengan lelaki besar itu, pakaian yang di gunakan wanita-wanita itu juga tampak mahal.
(Apa mereka bangsawan?)
Jell memperhatikan keadaan itu tampak tidak dapat berekspresi seperti apa. Namun ada satu yang jelas dikepala Jell saat ini, itu adalah dia harus segera melaporkan misi dan pulang untuk istirahat.
Yinn yang saat ini sedang di goda oleh pria besar itu, seketika memperhatikan keberadaan Jell dan Mai. Dan seketika saat itu juga Yinn langsung keluar dari dalan counternya dan pergi menyapa mereka berdua. Yinn pergi dengan cepat bagaikan pria besar itu tidak ada di depannya.
“Kalian akhirnya kembali, Jell-san, Mai-san! Syukurlah kalian tidak apa-apa. Tampaknya kalian berhasil melakukan ekspedisinya, kerja bagus.”
Dengan suara meriah Yinn, merusak suasana suram dalam guild. Yinn langsung menghampiri Jell dan Mai, dia sepertinya merasa bahagia melihat mereka berdua, setelah menyelesaikan misi ekspedisi di dungeon.
Dan begitu juga Mai, yang melihat Yinn datang sepertinya merasa bahagia setelah sekian lama tidak melihat Yinn.
“Yinn-san! Kami pulang.”
Mai dengan suara ceria yang membahagiakan, terpancar ke seluruh arah guild yang suram.
“Kami sudah menyelesaikannya Yinn-san. Seperti yang kau lihat, kami baik-baik saja.”
“Hm~ Aku tau kalian pasti akan kembali.”
Pertemuan setelah sekian lama, membuat Jell, Mai dan Yinn lupa akan keadaan guild. Begitu juga dengan pria besar berkilauan yang sedang terdiam di depan counter, tampaknya memasang wajah tidak suka kepada Jell dan Mai.
“Oi oi oi, apa yang sedang terjadi di sini.”
Pria besar berkilauan itu beranjak dari depan counter menuju kearah tiga orang yang sedang berbahagia itu. Dengan wajah tidak suka dan amarah terpasang di wajahnya, pria itu pergi berhadapan langsung di hadapan Jell.
“Aku tidak pernah melihat kalian berdua. Anak baru?”
Pria besar berkilauan itu menatap Jell dari bawah seperti menatap seekor binatang. Jell yang tingginya 178 cm tidak bisa menyaingi pandangan orang itu, sehingga Jell harus mengangkat dagu untuk melihat kearah atas.
“Benar. Kami anggota baru di guild. Namaku Jell Kiy–”
Jell menjawab pertanyaan orang itu. Dan di saat Jell ingin memberitahunya tentang namanya, pria besar berkilauan itu seketika langsung bersuara.
“Aku tidak peduli dengan namamu, bocah!”
Jell yang di pandang remeh oleh orang ini seketika merasa tidak suka dengan sikapnya. Dan pada awalnya, Jell memang sudah menebak sikap orang ini.
__ADS_1
Pria itu dengan sombongnya memotong pembicaraan orang lain dan langsung merendahkan orang yang baru saja dia temui. Namun anehnya, para wanita yang selalu melekat padanya tampak sangat terkesan dengan sikap pria besar berkilauan ini.
“Namaku Lhava! Ingat baik-baik itu di otakmu. Itu pun jika kau memiliki otak.”
Pria besar berkilauan itu dengan lancang meneriakkan namanya, dan juga di tambah dengan makiannya kepada Jell. Begitupun dengan sebelumnya, wanita-wanita yang menempel padanya terlihat tertawa dengan perkataan pria besar berkilauan bernama Lhava ini.
Lhava tertawa dengan suara besar setelah memaki Jell, bersama dengan wanita-wanitanya juga. Namun tanggapan Jell terlalu biasa, Jell tidak berekasi dengan makiannya dan malah merasa biasa saja.
Di saat dia yang sedang tertawa bersama wanita-wanitanya, dia seketika memperhatikan Mai. Dia melihat Mai yang sedang membawa tas besar, dan wajah Mai sama sekali tidak berekspresi. Atau lebih tepatnya berwajah bodoh.
Namun, pandangan yang di lihat oleh Lhava berbeda. Dia melihat pesona Mai dan dia terpanah.
“Nona mudah. Siapa namamu.”
Mai yang hanya berwajah bodoh dan tidak memedulikan semua kondisi yang ada, teralihkan dengan pertanyaan Lhava.
“Oh, Namaku Mai Ogawa. Senang bertemu denganmu.”
Jawaban Mai sangat bodoh jika di perhatikan. Dia tidak memberikan ekspresi sama sekali saat menjawab pertanyaan Lhava, lebih tepatnya dia secara otomatis menjawab begitu.
Namun Lhava tampaknya sudah di mabukan oleh pesonanya. Sehingga dia tidak akan merasakan bahwa jawaban Mai tidak berekspresi.
Namun, lebih dari yang di duga, Lhava tampa peringatan seketika menyerang Mai dengan kata-kata.
“Oh~ Sungguh nama yang sangat indah. Mai... (Memegang tangan kanan Mai dengan membentuk posisi melamar.) Jadilah istriku. Aku akan memberi kamu uang, dan kau tidak perlu lagi melakukan pekerjaan kasar seperti ini.”
Mai yang terkejut dengan penyerangan tiba-tiba, langsung tersadarkan. Tidak ada yang akan menyangka bahwa Lhava akan langsung melamar Mai di kondisi sepeti itu.
Lhava dengan badannya yang besar dan berkilau, dapat menipu semua wanita yang dia temui. Tapi karena sikapnya yang sepeti bajingan inilah yang membuat dia tidak disukai orang-orang.
Namun berbeda dengan ekspetasinya, Mai dengan mentah-mentah menolaknya.
“Eh? Apa yang kau katakan, sudah jelas aku akan menolaknya. Lagi pula aku sudah memiliki semua yang aku inginkan.”
Di tolak mentah-mentah oleh seorang gadis yang baru saja dia temui, membuat wajah Lhava berekspresi kosong dengan wajah menakutkan. Tapi kondisi ternyata lebih buruk dari yang di duga. Dan pemburuk keadaan itu adalah Mai.
“Yah, kalau kau sebegitu bersikeras aku akan menerima permintaanmu itu.”
“Hm? Apa yang kau inginkan?”
Lhava yang mendengar perkataan Mai seketika berubah ekspresinya, yang tadinya hampa sekarang menjadi serius. Begitu pula dengan Mai yang juga mengganti ekspresinya.
Wajah Mai yang tadinya bermuka bodoh, sekarang menunjukan wajah yang sangat menjengkelkan bagi Jell.
Mai berputar di pijakannya dan pergi kearah Jell. Berputar dengan anggun dan mendarat sambil memegang punggung Jell.
“Sebenarnya aku menyukai laki-laki yang kuat, dan pria ini adalah kekasihku. Tentusaja dia sangat kuat, dan aku mengakuinya … Jadi jika kau bisa mengalahkannya, aku akan pergi denganmu.”
Mendengar perkataan Mai, seketika wajah Jell berubah jengkel. Dia membuat Jell berada dalam keadaan sulit dan itu adalah ulah Mai yang mengatakan bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Walaupun itu tidaklah salah bagi Jell.
“Mai, apa yang kau kata–”
“Baiklah. Aku akan memenuhinya.”
Perkataan Jell tidak keluar hingga selesai, itu di karenakan pria bernama Lhava ini langsung menyetujui permintaan Mai.
Dalam hati Jell dia benar-benar kesal, masuk kedalam masalah yang di ciptakan oleh Mai. Dia pasti akan menghukum Mai dengan hukuman yang sangat berat setelah mereka pulang.
Namun berbeda dengan kondisi Jell, para penghuni guild ketika mendengar persetujuan Lhava seketika heboh. Mereka berbisik dengan keras dan saling tatap menatap. Dan hal itu membuat Jell merasa sedikit tertekan karena menjadi bahan percakapan saat keadaannya sepeti ini.
“Hei, bocah. Ayo lakukan duel dan cepat selesaikan ini. Aku tidak akan mengeluarkan seluruh kekuatanku, jadi kau bisa menyerangku dengan bebas.”
Lhava mengeluarkan perkataan dengan sambil tertawa saat menantang Jell. Orang-orang guild hanya terdiam saat mendengar perkataan Lhava, namun ada juga beberapa orang yang tertawa mengikuti tawaan Lhava, itu adalah para bajingan yang pernah di kalahkan Jell.
Dan sepertinya mereka rupanya memiliki banyak anggota, itu karena yang menertawakan Jell jumlahnya cukup banyak.
“Baiklah. Ayo lakukan.”
Dengan wajah angkuh, Lhava melakukan peregangan untuk siap melakukan duel.
Dengan keduanya bersedia, dengan bersamaan mengucapkan ikrar dalam duel.
“ITIS”
Itis adalah kata ikrar dunia ini. Menggunakan bahasa dunia ini, yang memiliki arti “Sumpah” atau “Ikatan”.
Dengan menghafalkan ikrar. Tubuh Jell dan Lhava seketika di kelilingi oleh rantai besi. Rantai tidak mengikat tubuh mereka, lebih tepatnya rantai hanya mengelilingi mereka. Rantai biru mengelilingi kedua tubuh pria yang akan melakukan duel, dan dalam sekejap mereka berpindah tempat.
Dengan bercahayanya rantai-rantai itu, membuat pandangan Jell menjadi silau dan tidak dapat menahan matanya. Dan seketika mereka berpindah tempat.
Tempat tadinya berada di guild, sekarang mereka berada di sebuah arena yang terdapat di belakang bangunan guild.
Di bagian belakang guild terdapat sebuah arena. Arena yang di gunakan sebagai tempat latihan dan juga pertempuran. Benar, pertempuran. Atau bisa di katakan itu adalah duel yang berdasarkan ikrar.
Dengan duel yang di ikrari sebuah ikrar, membuat duel tersebut menjadi duel suci yang akan di atur oleh dunia ini sendiri. Rantai yang muncul secara tiba-tiba itu juga merupakan bagian dari duel yang sudah berikrar.
Begitu juga dengan alasan mereka berpindah tempat secara langsung, itu juga sudah dikarenakan duel yang terikrar.
Berada di arena, arena pertempuran di tutupi oleh sebuah kubah. Kubah berwarna biru transparan, mengelilingi arena. Bagikan tidak mengizinkan ada yang keluar setelah melakukan duel.
“Jadi ini adalah ikrar yang orang itu katakan, ya?”
Dengan wajah kagum, Jell melihat seisi arena.
“Baiklah, bocah. Aku sudah siap.”
Dengan mengeluarkan pedang besa sepanjang 150 cm, bilah hitam pekat dan juga pastinya itu berat. Di keluarkan dari punggung Lhava.
Juga melakukan hal yang sama, Jell mengeluarkan pedang dengan panjang 100 cm, dengan warna ungu gelap bagaikan pedang tersebut terbuat dari sebuah batu obsidian yang sangat keras.
Lhava yang melihat pedang milik Jell seketika bersuara.
“Pedang yang terlalu Bagus untuk bocah sepertimu. Bagaimana kalau kau pertaruhkan pedang itu, dan sebagai balasannya kau bisa memilih apa yang kau inginkan.”
“Hm...”
Lhava dengan sombong merasa bahwa pedang yang di gunakan Jell itu terlalu bagus untuk bocah seukurannya. Dan untuk memenuhi nafsunya itu, dia menantang Jell dengan menambahkan satu hadiah lagi.
“Kau mau mengambil pedangku juga? Keputusan yang bijak.”
Lhava yang bertanya tentang apa yang di inginkan Jell, hanya terdiam dan menunggu. Dan Jell juga hanya sekedar menatap pedang besar milik Lhava yang berada di bahunya itu.
“kau benar-benar bodoh ya.”
Dengan mengatakan itu, Jell dengan sedikit tersenyum mengatakan Lhava adalah orang bodoh dan Lhava yang mendengarkannya hanya bingung dengan apa yang dia katakan.
***
Dengan di mulainya duel antara mereka berdua. Sesama pengguna job Fighter, dan pengguna pedang. Duel ini akan menjadi duel yang mempertaruhkan harga diri dari seorang sword master.
Untuk sebuah permulaan, Lhava sepertinya adalah orang yang akan mengambil semua perhatian penonton.
Dengan menggenggam pedang besarnya, dia berteriak.
__ADS_1
“Ayo bocah, kerahkan seluruh kekuatanmu. Aku akan menahan diri.”
Tetap sama dengan sebelumnya, dia masih saja meremehkan Jell.
Jell menganggapinya dengan melakukan hal tak terduga. Dia menancapkan pedangnya di tanah.
Lhava yang melihatnya hanya memandang dengan wajah kebingungan. Seorang sword master tidak menggunakan pedang adalaha sebuah ketidak mungkinan. Tapi Jell menantang hal tersebut. Menaruh pedangnya dan Jell berlari menuju ke arah Lhava.
“Kau mau mengalahkanku hanya dengan tinjumu? Kau tampaknya terlalu percaya diri … Rasakan ini, ‘Mega Sword’!”
Jell berlari dengan cepat menuju arah Lhava, dan tentu saja untuk seorang dengan rank hitam di guild, Lhava, merupakan satu dari 4 petualang dengan peringkat hitam di ‘Athera Guild’.
Dengan serangan pertahanan dari Lhava, dia menggunakan skill “Mega Sword” yaitu skill yang dapat membuat pedang milik seorang Fighter bertambah panjang dan kuat. Ini merupakan skill buff dengan peringkat A diantara skill Fighter lain.
Jell menghindar dengan indah dan saat skill dari Lhava mengenainya, Jell melompat dan melakukan serangannya.
Jell menendang kepala belakang Lhava dari atas.
Terkejut dengan apa yanga terjadi, Lhava terhempas dan tidak roboh. Dia terhempas sama dengan seorang bajingan yang pernah di kalahkan Jell waktu itu di guild. Namun, Lhava adalah seorang yang sangat tangguh. Dia masih memiliki keseimbangan setelah mendapatkan tendangan dari Jell yang tepat mengenai kepala belakangnya.
“Seperti yang di harapkan dari seorang dengan rank hitam. Kau mampu menahannya ternyata … Kau harus serius loh, jika kau tidak serius, ini akan jadi membosankan.”
Di luar dari apa yang dia sangka, ternyata dari tendangan kuat Jell tadi memberikan dampak pada Lhava, dia memuntahkan darah.
“Khuf– Apa yang?-”
Dengan dampak yang di berikan oleh Jell membuat para penonton berteriak dan tidak percaya. Mereka terpaku oleh apa yang terjadi oleh Lhava dan para penonton pria tidak bisa bersuara dan hanya terpaku dengan apa yang terjadi di arena.
Namun, berbeda dengan para pria. Di sisi lain, para wanita adalah orang yang paling ribut. Ada yang berteriak histeris saat melihat Lhava muntah dara, dan ada beberapa yang lainnya terdiam sama halnya dengan para pria.
Lhava yang merasa harga dirinya baru saja di injak oleh bocah laki-laki yang baru saja dia temui, membuat dia marah.
Mengambil pedang besarnya dan lari menuju Jell. Dia menggunakan skill buff ber tipe langkah cepat, “Dash” di aktifkan.
“Akan aku hancurkan kau!”
Dengan kecepatan yang tinggi, Lhava dengan memegangi pedang besarnya langsung menggunakan skill “Mega Sword” kepada Jell.
Namun semua itu tidak seperi yang di harapkan oleh Lhava. Dalam kombinasi serangannya yang luar biasa, Lhava terhenti.
“Khuf–!”
Darah keluar dari mulutnya sekali lagi. Matanya menjadi pudar dan keseimbangannya mulai goyah.
Penonton yang melihat tidak ada yang tau apa yang terjadi pada Lhava, dan mereka hanya saling melihat apa yang sebenarnya terjadi. Namun, dalam kondisi itu hanya Jell yang bisa bersuara.
“Serangan yang mengenai tengkorak belakang. Kau pikir itu tidak akan ber efek sama sekali? Kau benar-benar bodoh ya.”
“Kau bajingan … Sedari awal kau memang mengincar itu.”
Lhava tidak bisa menahan rasa berputar di kepalanya, dan terjatuh sambil menongkah di pedang besarnya.
Jell mendekat dan tetap sama seperti awal mula duel, dia tetap tenang dan santai. Bagaikan Jell hanya melawan monster lemah, dia tidak sama sekali berniat untuk berduel pedang dengannya.
Menatap Lhava yang tersungkur, dengan tatapan sinis. Jell menendangnya lagi untuk membuat Lhava benar-benar jatuh ketanah kali ini.
Lhava yang terjatuh sambil kepalanya yang tidak kian membaik, Jell dengan santainya menginjak leher milik Lhava.
Lhava yang lehernya di injak oleh Jell, membuat dia sulit untuk bernafas dan meronta-ronta untuk membebaskan diri. Namun, Jell sama sekali tidak berpindah. Dia masih dengan santainya menginjak leher milik Lhava.
“Akan aku akhiri ini dengan perlahan...”
Jell dengan mata sinis, menatap Lhava yang juga menatapnya. Di matanya tidak terdapat rasa ampun sama sekali, dan bisa di rasakan kebencian di mata Jell saat ini.
Jell bisa saja mengakhiri duel ini dengan cepat, akan tetapi Jell lebih memiliki untuk mengalahkan Lhava dengan perlahan, karena satu alasan.
Dia ingin menghancurkan harga diri Lhava. Dengan memenangkan duel sudah di pastikan bahwa Jell akan menjadi petualang terkuat dan di takuti di guild. Namun kalau hanya begitu masih belum cukup. Dia akan mengalahkan Lhava dengan cara paling rendah dan hina, dan cara tersebut adalah mencekiknya hingga mati.
Alasan Jell melakukan itu, memiliki beberapa keuntungan lain. Yaitu, dengan cara ini akan membuat nama Jell akan di kenal di seluruh ‘Athera Kingdom’.
Lhava sangat terkenal di kerajaan, sampai tenarnya dia bahkan di juluki “Destroyer”. Dan jika Jell bisa mengalahkan Lhava dan bahkan membunuhnya dengan cara hina seperti ini, sudah pasti nama Jell akan langsung tersebar di seluruh kerajaan.
Lhava yang tercekik sama sekali tidak bisa melakukan perlawanan lebih terhadap kuncian Jell. Dan Jell juga tidak bermaksud untuk melepaskannya. Dan pertandingan pun berakhir dengan kekalahan Lhava.
***
Pertandingan selesai dan Lhava kalah dengan cara tercekik.
Dalam sebuah duel yang di dasari oleh ikrar, pembunuhan yang terjadi di dalam duel tersebut di perbolehkan. Dan itu tidak apa-apa jika sampai duel tersebut sudah berakhir. Itu di karenakan duel tersebut sudah menjadi duel suci dan sebuah pembunuhan di dalam duel tersebut tidak akan berdampak pada tubuh di luar ikrar.
Walaupun di katakan tidak akan berpengaruh, tapi tubuh seseorang yang mati di duel akan membuat tubuh orang yang kalah akan kehabisan mana. Dan banyak mana yang perlu di gunakan untuk memulihkan tubuh untuk kembali, tergantung dari seberapa besar kerusakan yang di terima oleh seseorang di dalam duel.
Oleh karena itu, Lhava yang mati karena di cekik oleh Jell, akan memerlukan waktu sekitar 10 menit untuk memulihkan kekuatannya.
Kubah yang mengelilingi arena sudah hilang dan arena sudah bisa di masuki oleh orang-orang. Tim medis langsung dengan sigap pergi menuju Lhava yang pingsan dan begitu juga dengan ketiga wanitanya.
“Hm?”
Tim medis dan ketiga wanita pergi kearah Lhava, dan dalam gerombolan tersebut ada satu kehadiran yang membuat Jell bereaksi.
Menatap mereka, para wanita histeris dan tim medis langsung mengeluarkan heal dan “Mana Stone” untuk memulihkan kekuatan Lhava. Dan di gerombolan itu ada satu kehadiran lagi yang sebelumnya tidak ada saat mereka berada di guild.
Aura yang di pancarkan oleh orang itu berbeda dan rasanya bukan seperti aura yang di pancarkan oleh manusia. Lebih tepatnya, mana yang di miliki oleh orang tambahan itu bukan mana manusia.
Di saat Jell yang menatap mereka, Mai dengan berlari menuju kearahnya dengan jatuh sambil memeluk Jell dengan gembira. Namun, Mai yang merasa sepertinya Jell tidak meresponnya itu menanyakan apa yang sedang dia lihat.
“Apa yang kau lihat?”
“Kau lihat gadis kecil yang bersama mereka itu? Aku tidak melihatnya saat di guild.”
Mai yang memperhatikan melihat kearah gadis yang di maksud oleh Jell. Dan tentu saja Mai juga merasakan ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu.
“Eh~ Kau benar. Mana gadis itu berbeda dengan milik mereka.”
“Apa kau pikir mungkin dia bukan manusia?”
“Mungkin...”
Mai menjawab dengan nada yang jatuh, bagaikan tidak seperti dirinya, Mai terlihat sedih melihat gadis itu.
Pandangan keduanya masih menatap sang gadis yang membantu penyembuhan Lhava, dan apa selanjutnya adalah, gadis itu di tampar oleh salah satu wanita Lhava.
“Apa!-”
Mai melihatnya dan seketika mengangkat suara. Sebelum melakukan tindakan yang dapat memperburuk keadaan, dengan memegangi Mai, Jell menahannya.
Namun, kekerasan yang di terima gadis itu tidak sampai di situ. Salah satu wanita Lhava lainnya juga memarahi gadis itu. Mereka memperlakukannya dengan tidak baik, dan bagaikan gadis itu bukanlah bagian dari mereka. Dan lebih seperti seorang budak.
Mai yang melihatnya tidak bisa diam dan dia lebih meronta dan bertanya kepada Jell kenapa dia menghentikannya. Dan jawaban yang di katakan Jell dapat dengan mudah menenangkan kondisi Mai.
“Tenanglah Mai. Kalau kita ikut campur, masalah ini akan tambah parah … Jadi tahanlah.”
“…”
__ADS_1
Pada akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu. Untuk melanjutkan tugas sebenarnya sebelum pertikaian ini, Jell dan Mai pergi ke guild untuk mengkonfirmasi selesainya ekspedisi mereka di dungeon.
***