
“Ara, sepertinya kami kedatangan tamu tak di undang, ya.”
“Kh- bagai mana-”
Menodongkan Dual Knife di leher orang tak terkenal. Membimbingnya untuk turun dari bangunan tiga lantai untuk bisa mengetahui sosoknya.
Mai yang membawanya dari atas terlihat kurang senang, dia membuat wajah bermasalah dengan emosi yang naik terlihat di wajahnya.
“Baiklah, mari kita lihat siapa tamu kita ini.”
Jell mendekat, orang yang menyerang mereka menggunakan jubah tebal yang membuat mereka tidak bisa melihat wajah orang ini.
Mai meletakkan orang itu dengan kasar di tanah. Terjatuh dan mendapatkan perlakuan kasar suara orang itu tidak terelakkan keluar dari mulutnya, itu adalah suara seorang perempuan.
Jell tentu menyadarinya, membuka jubah itu dan seperti yang di harapkan sosok misterius ini adalah seorang perempuan.
Tapi bukan sekedar perempuan biasa, dia cantik, sangat cantik. Kecantikannya bisa menyaingi Mai atau mungkin melebihinya, Jell bisa bertaruh kalau ada seorang pria biasa yang berada dalam posisinya saat ini sudah di pastikan pria itu akan langsung jatuh hati padanya.
Rambut panjang yang di kuncir, poni yang menutupi sebelah wajah dan matanya, dan yang paling mempesona adalah bahwa rambut wanita ini berwarna kuning keemasan.
Jell saat melihatnya tentu saja tidak terpesona, ingat perkataannya saat dia pertama kali sampai di dunia ini, dia tidak akan terpesona kepada wanita lain selain Mai.
Tapi berbeda dengan Emma, dia terpesona oleh kecantikan wanita ini, walaupun mereka sesama perempuan tapi kecantikan yang di pancarkan wanita misterius ini bisa membuat perempuan juga jatuh hati padanya.
Wanita yang di buka jubahnya tiba-tiba menutupi wajahnya, menutupi dengan jubahnya lagi dan dia sedikit menjauh dari mereka.
“Kau-kau... Melihatnya...?”
“Ha?”
Menanyakan sesuatu yang aneh, Jell menjawabnya dengan natural. Tidak mempedulikan pertanyaan random darinya, Jell mendekati wanita itu dan bertanya.
“Jadi, kau siapa?”
Menanyakan sosoknya sama saja dengan menanyakan informasi, untuk mengetahui sosok dari dari wanita ini perkenalan sangat di butuhkan. Jell tidak bermaksud aneh-aneh, hanya saja menurutnya perkenalan di butuhkan saat ini.
Wanita misterius itu tidak menjawabnya, dia hanya diam. Hanya mengelah nafas karena dia pernah mengalami hal seperti ini saat dia bekerja menjadi penjaga Olokoto, Jell bernostalgia.
Tapi berbeda dengan Jell, Mai mendekati perempuan itu dengan dengan wajah marah, dia mempersiapkan Dual Knifenya bagaikan dia berniat membunuh wanita itu.
“Hei, Jell bertanya padamu.”
Wanita misterius hanya menatap Mai dari bawah, dia tidak mengganti ekspresinya yang hanya berwajah datar. Mai yang mendapatkan perlakuan yang tidak enak dari wanita penyerang ini, dia mulai panas.
“Kau mau membunuhku?”
Wanita misterius mengeluarkan suaranya, menubuh adalah apa yang dia tanyakan kepada Mai yang marah. Wanita misterius ini sangat tenang di kondisi saat ini, seperti dia hanya akan menyelesaikan ini dengan cepat, wanita ini terlalu meremehkan Mai.
“Sudah cukup Mai, sepertinya dia punya alasan.”
Menenangkan Mai, Jell mendekat kepada wanita misterius itu. Jongkok di depannya untuk menyamakan pandangan mereka Jell menatapnya dengan sangat tajam.
Wanita misterius yang di tatap oleh memalingkan matanya dan akhrinya berdiri, menyeka jubahnya yang kotor dia berdiri dan mengibaskan rambutnya.
“Aku mau tanya sesuatu.”
Wanita itu bertanya sambil memalingkan posisinya. Dia tidak bertatap langsung dari Jell dan malah memalingkan pandangannya, kesan yang di berikan oleh wanita ini sangat jelek, adalah apa yang Emma rasakan saat dia melihat keadaan.
“Tanya apa?”
Sambil berdiri Jell menayakan apa yang ingin dia tanyakan.
“Apa kau, orang yang mengalahkan petualang hitan terkuat, Lhava?”
Sambil mengatakan pertanyaannya, wanita itu akhrinya menatap Jell dengan tatapan yang sangat tajam dan mengintimidasi. Aura hitam muncul dari dirinya menandakan amarah yang amat sangat besar atas kejadian yang terjadi saat itu.
“Benar, aku yang mengalahkan pria sok jagoan itu.”
Tapi Jell bukanlah orang yang bisa di taklukan semudah itu, sambil menyeka sarung tangannya dia menjawab pertanyaan wanita misterius itu dengan santai. Jawaban dan nada yang Jell gunakan adalah orang yang sangat belagu, dari nadanya tentu saja dapat di rasakan bahwa dia meremehken Lhava.
“Jadi kau, ya.”
(Apa dia terpancing?)
Alasan untuk perkataan Jell untuk meremehkan Lhava sangatlah sederhana, dia ingin tau apa wanita ini akan terpancing amarah saat dia meremehkan Lhava, apa dia termasuk salah satu dari wanita milik Lhava? Apa dia ingin balas dendam? Adalah apa yang Jell tanyakan dalam hatinya.
Namun jawaban atas gertakan yang Jell lalukan di hancurkan, wanita ini menjawabnya dengan jawaban yang membuat Jell tidak bisa untuk tidak kaget.
“Sepertinya kau salah sangka, aku bukan termasuk dari wanita yang menyukai Lhava. Jadi gertakan rendahan seperti itu tidak akan mempan padaku.”
(Dia menyadari gertakannya?)
Bukan hanya Jell, tapi juga untuk Mai yang kaget melihat bahwa gertakan yang di lakukan oleh Jell tidaklah mempengaruhinya.
Fufufu...
Jell sedikit tertawa karena tidak mengirah gertakan yang dia lakukan malah di sadari oleh musuh, itu mungkin sama dengan apa yang wanita itu katakan tadi, bahwa Jell salah sangka. Dan dalam kondisi ini Mai memasang posisi hati-hati. Hanya Emma yang sedang tidak mengetahui apa yang terjadi antara ketiganya.
“Jadi apa yang kau inginkan?”
Jell langsung ke intinya, tidak menggunakan siasat dia langsung saja bertanya apa alasan kedatangan wanita itu.
“Aku hanya menginginkan sesuatu.”
“Dan apa itu.”
Berbalik dan mengulur tangannya sambil menunjuk Jell.
“Kau harus menjadi budakku.”
Wajah Jell dan Mai langsung berubah, bukan hanya wajah tapi juga aura. Aura yang di keluarkan oleh keduanya sangat mencekam dan menakutkan, tapi bukan hanya keduanya, tap Emma lah orang yang paling tidak terkontrol saat mendengarkan perkataan wanita misterius itu.
Kitsune miliknya keluar dari liontin yang dia gunakan dan sama dengan Emma, rubah itu juga tampak sangat marah. Apa dia mengikuti perasaan hati tuannya?
“Kau mengatakan hal yang sangat menarik, ya. Menjadikan aku budak? Aku baru pertama kali di minta seperti ini. Baiklah, aku terima dengan senang hati.”
Berbeda dengan siasatnya pertama kali, saat ini Jell benar-benar serius. Dia memasang wajah yang sangat mengintimidasi dan tentu wanita misterius itu mampu merasakannya dengan jelas. Aura yang amat sangat besar yang mengalir disekujur tubuh Jell, bagaikan Jell menggunakan jubah aura.
“Ayo kita lakukan itu, dan sebagai taruhannya kau menginginkan apa?”
(Orang ini lebih pintar dari dugaanku, dia menarik!)
Jell tidak habis-habisnya terkesan oleh wanita ini, dia masih bisa berpikir jernih di saat dia merasakan tekanan dan aura yang Jell lepaskan
“Untuk itu aku hanya ingin, kau berhutang sesuatu yang sangat besar padaku.”
“Apa-apaan itu, katakan apa yang sebenarnya yang kau inginkan.”
“Sudah aku katakan bukan, aku hanya ingin kau berhutang sesuatu padaku. Itu memang bisa menjadi suatu hal yang sangat besar, tapi permintaan itu hanya sekedar berhutang budi, bagaimana?”
Jell menjelaskan permintaannya, dalam permintaannya dia tidak merencanakan sesuatu, tapi masih berpikir bahwa dengan meminta permintaan yang seperti itu mungkin bisa berguna suatu hari nanti.
“Baiklah, kalau itu maumu. Tapi ingat ini baik-baik, seorang budak tidak akan pernah membantah dan meminta kepada tuannya. Dengan kata lain, jika kau kalah, permintaanmu itu tidak ada gunanya. Atau, apa kau berpikir bisa menang melawanku?”
Jell di pojokan oleh penjelasan bahwa kalau dia kalah permintaannya akan di tolak oleh wanita ini, akan tetapi itu jika Jell kalah.
Jell terdiam dan tersenyum menatap wanita itu dengan tajam, tatapan matanya sangat tajam setajam jarum yang menusuk bola mata. Wanita itu terdiam dan membeku melihat tatapannya, reaksinya sama halnya dengan pertama kali Lhava mendapatkan tekanan dari Jell.
“Aku membenci banyak sikap, dan salah satunya adalah orang yang menganggap bahwa dia lebih baik dari pada aku.”
Wajah wanita ini berubah menjadi jengkel, mendengar perkataan Jell membuat dia panas.
Membalikan posisinya dan menatap balik Jell dia menunjukan pandangan remeh kepada Jell, bagaikan Jell hanyalah seorang yang tidak perlu menggunakan kekuatan untuk mengalahkannya, Jell benar-benar di remehkan.
__ADS_1
“Hah, apa kau pikir kau bisa menang? Jangan sombong hanya karena kau mampu mengalahkan bajingan Lhava itu, dia berbeda denganku, aku seribu kali lebih kuat dari dia.”
Emma memasang aura hitam, dia tidak terima bahwa Jell di rendahkan dan itu membuat dia ingin menghancurkan wanita itu. Tapi dia di hentikan oleh Mai, menahannya Mai mencoba menenangkan dirinya untuk tidak bertindak tanpa berpikir.
“Tidak usah basa basi lagi, ayo kita mulai saja.”
Wanita itu mengusulkan untuk segera melakukan duel, dan Jell setuju dengan hal itu.
Untuk tempat duel, mereka tidak pergi ke arena belakang guild. Itu di karenakan adanya acara besar yaitu sayembara sedang di laksanakan. Jadi untuk duel mereka akan di lakukan di lapangan depan gerbang. Berhubung di bagian situ juga ada banyak lapangan yang di buat untuk duel, jadi mereka memutuskan untuk memakainya saja.
Mengambil posisi masing-masing, Jell berada di bagian timur arena dan wanita itu berada di bagian barat arena. Keduanya sudah dalam posisi bersiap, Jell mengeluarkan pedang miliknya, yang biasanya dia hanya akan mengeluarkannya saat pertempuran di mulai.
“Jell hanya akan mengeluarkan pedangnya saat pertempuran di mulai, tapi kali ini dia memperlihatkan pedangnya terlebih dahulu. Apa dia berhati-hati dengan wanita itu?”
Mai yang berada di luar arena memperhatikan hal itu, Emma yang tidak sadar akan hal itu bertanya apa yang membuat Jell selalu melalukan itu, dan Mai menjawabnya dengan jelas.
“Memang jarang di lalukan. Tapi, dalam duel ada hal yang harus di perhatikan adalah melihat seberapa panjang pedang milik lawan, itu untuk bertujuan agar kita bisa tau sampai mana jarak serangan yang bisa di lakukan musuh.”
“Dengan hanya melakukan hal kecil itu kita bisa menguasai seluruh pertandingan, begitu?”
“Nn.”
“Onii-chan sangat hebat sampai memikirkan hal itu. Seperti yang di harapkan darinya. Tapi, bukannya saat Onii-chan melawan Lhava dia mengeluarkan pedangnya terlebih dahulu?”
Mai sedikit terkejut bahwa Emma bisa dengan cepat mencerna informasi yang baru dia ketahui, dan untuk alasan Jell menunjukkan pedang miliknya saat pertempurannya dengan Lhava yang kedua kalinya juga di jelaskan.
“Itu dia lakukan karena dia menghargai kekuatan tekad yang Lhava pegang, walaupun begitu sebenarnya Jell sengaja melakukan itu karena dia melihat bahwa Lhava tidak tau akan meneliti pedang lawan sebelum bertarung, jadi tidak perlu lagi untuk menyembunyikannya.”
“Jadi, saat pertempuran pertama itu, Onii-chan mendapatkan informasi akan ketidak tahuan Lhava? Seperti yang di harapkan.”
“Ahaha, kurang lebih seperti itu.”
Melihat bahwa Emma terkagum dengan setiap penelitian yang Jell lalukan di setiap pertempuran membuat Mai sedikit merasa sakit karena dia tidak bisa menunjukan hal keren seperti itu.
Karena asik berbicara mereka berdua tanpa di sadari bahwa duel antara keduanya sudah di mulai.
Di arena sama seperti yang sering dia lakukan, dia hanya diam di tempat dia berdiri. Sedangkan lawannya sedang berlarian untuk menemukan titik yang tepat untuk serangannya.
Wanita ini membawa senjata di tangannya, sambil mengangkat senjata bertipe sniper dia berlari menuju arah jam 10 Jell dan duduk sambil mempersiapkan senjatanya untuk menyerang.
(Class Markshman, ya? Ayo kita lihat seberapa kuat dirimu.)
Jell hanya memperhatikan dan melihatnya mempersiapkan serangannya.
“Oh, Onii-chan sedang menganalisis musuh, bukan?”
“Nn.”
(Ayo kita lihat seberapa kuat kau nona sombong.)
Persiapan sudah selesai, serangan pertama akan di lakukan oleh wanita itu, dia melihat scope dan mengarahkan bidikan tepat di kepala Jell.
“Kalau kau diam saja, bisa-bisa kau tidak sadar kalau kau sudah kalah, tuan jubah hitam.”
Tembakan diluncurkan, dengan kecepatan tinggi melesat menuju kepalanya.
(Sungguh kesombongan yang tidak tahu malu, hanya diam di arena melawan seorang Markshman, apa dia sudah gila? Dengan ini berakhir sudah, dengan ini–)
Zing!
Mata wanita itu tidak berbohong, dia tadi melihat bahwa peluru yang dia tambahkan tepat mengarah kepada Jell, tapi saat ini peluru itu sudah tidak ada.
“Kecepatan tembakan melebihi 900 meter perdetik. Sungguh, apa itu memang senjata yang ada di abad pertengahan?”
Mata milik wanita itu tidak bisa berpaling lagi, dia tidak percaya bahwa peluru yang seharusnya mengenai kepala target dapat di tebas dengan sebuah pedang.
Menyadarkan dirinya, wanita ini berlari menuju arah lainnya sambil menembakan peluru dengan bertubi-tubi kearah Jell, namun hasilnya nihil, Jell mampu dengan mudah menangkisnya dengan pedang.
Jell hanya diam di sana, sambil menangkis peluru yang berdatangan, Jell menatap dan memperhatikan setiap pergerakan wanita itu.
“Rasakan ini. Dari seluruh peluru yang akau miliki, kaulah yang terkuat, Mega Shot.”
Peluru yang di tambahkan berbeda kali ini, kali ini peluru itu terlihat lebih besar dan juga bercahaya. Melesat dari senjata, peluru itu melesat menuju ke arah Jell, tapi kali ini dengan kecepatan yang jauh lebih cepat.
“Eh, permulaan yang bagus.”
Mengarahkan pedang miliknya dengan arah menyilang, dia menebas peluru yang mengarah kearahnya. Peluruh yang terbelah mengeluarkan gelombang kejut yang besar dan membuat Jell menutup mata untuk melindungi penglihatannya.
Serangan kali ini tidak membuahkan hasil, Jell dengan mudah mampu menangkis serangan itu.
Wanita ini tidak putus asa dan terus menyerang Jell tanpa henti, menyerang dari berbagai arah dan hasil serangannya sama sekali tidak memberikan luka.
Dan pertandingan seperti ini terjadi selama lima menit.
Wanita itu sangat gigih untuk melalukan serangan langsung ke arahnya, dan serangan yang di arahkan selalu berada di bagian kepala. Serangan yang dia lakukan beragam tiap posisi dan tempat yang dia pijak.
Serangan yang sudah dia keluarkan sudah tiga skill, “Mega Shot”, “Multi Shot”, dan “Through Shot”
Untuk Jell yang hanya melakukan pertahanan dan tidak sama sekali melalukan penyerangan akhirnya merasa bosan dengan tindakannya, wanita itu masih saja menembakan pelurunya tanpa henti dan terus berupaya untuk bisa mengenai Jell.
“Hey, ini malah menjadi membosankan. Kapan kau akan mengeluarkan kekuatanmu yang sebenarnya?”
Mengatakan itu membuat wanita ini membuat wajah sulit, dia merasa marah ketika Jell mengatakan tentang kekuatan aslinya.
Tidak mempedulikan perkataan Jell sebelumnya, wanita ini terus menyerang tanpa henti. Namun kali ini serangannya sudah mulai membuat Jell harus mengambil langkah menghindari serangan.
“Jangan sombong dulu. Rasakan ini, Serangan penghancur, Laser Blast.”
Sebuah laser keluar dari senjatanya, serangan ini berbeda dengan skill yang pernah dia gunakan tadi, ini adalah skill tingkat ‘B’.
“Sepertinya kau sudah mulai lebih serius.”
Jell berlari dari pijakannya untuk menghindari serangan yang di lakukan wanita ini.
(Akhirnya membuat Jell keluar dari mode bertahan, semoga saja apa yang di harapkan Jell sama seperti yang di inginkan.)
Melihat kemajuan dalam duel, Mai mengomentari aksi yang di lakukan oleh Jell.
Jell maju dan menuju arah wanita itu, wanita yang sedang di arahnya langsung berlari dari pijakannya untuk menghindar dan untuk membuat celah dari serangannya.
Jika di lihat dari segi keseimbangan dasar, sudah dapat di tentukan kemenangan sudah di raih oleh Jell, kerena dia adalah seorang Fighter.
Dalam Class yang di perankan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, gambarannya seperti permainan batu-gunting-kertas. Batu mengalahkan gunting tapi kalah melawan kertas, dan sebaliknya, dan begitu pula dengan sistem Class yang ada di dunia ini.
Jell yang seorang Fighter sudah jelas memang melawan wanita misterius yang seorang Marskman.
Tapi itu jika di lihat dari segi penilaian dasar, tapi bagaimana jika di lihat dari segi strategi dan peluang? Kalau menggunakan penilaian ini, seorang Masrksman pun tidak menutup kemungkinan akan menang melawan seorang Fighter.
Dan penilaian kedua itulah yang sedang Mai pikirkan dan gunakan dalam melihat pertempuran antara keduanya.
Kembali ke arena
Jell yang melangkah dan berlari mengejar wanita misterius, sedang bersiap dengan pedangnya. Jell mengulurkan pedangnya kebelakang untuk siap menebas jiga menemuka kesempatan.
Wanita yang di kejar juga sepertinya tidak mau menyerahkan kemenangan kepada Jell dengan mudah. Dia masih berlari dan terus menjaga jarak dari kejaran Jell sambil menembakan beberapa peluru peledak untuk menambah peluang.
Berlari mengelilingi arena, wanita ini akhirnya tidak mampu lagi menahan agar Jell menyerah mengejarnya. Dia memutuskan akan langsung menembak Jell setelah dia mendarat dan akan menghabisinya dengan satu serangan fatal.
Berlari dan melemparkan bom terakhir yang ada di saku kakinya. Itu buka bom biasa, tapi itu adalah Smoke Grenade. Asap keluar dan menyebar dengan cepat ke seluruh arena, sepertinya wanita itu menggunakan sedikit sihir angin untuk mendorong asap untuk menyebar lebih jauh.
(Dengan ini akan aku selesaikan, kau akan menjadi milikku.)
Setelah melemparkan Smoke Grenade, wanita itu langsung mengambil posisi dan mengarahkan moncong senjatanya kearah lintasan dan siap untuk menembak kapanpun. Akan tetapi harapannya di hancurkan oleh sebuah bilah pedang yang tidak asing di belakangnya.
__ADS_1
“Bagaimana... Bisa...”
Bilah pedang menyentuh leher wanita cantik ini, bilah pedang hanya menyentuhnya sedikit, akan tetapi leher wanita ini langsung berdarah hanya karena meraba bilah pedang.
“Sepertinya hanya sampai disini.”
Kata-kata terakhir disebutkan dan leher dari wanita itupun ditebas tanpa cacat, tebasannya sangat indah.
***
“Itu, sedikit menyakitkan.”
“Maaf tentang itu, lagipula tidak ada cara lain.”
“Haa...”
Saat ini mereka berempat sedang duduk dan beristirahat di tempat makan di guild. Benar, mereka berempat, Jell, Mai, Emma, dan wanita misterius.
Wanita misterius mengatakan rasa sakitnya dari duel, walaupun mereka tidak mati di luar duel, tapi masih saja akan merasakan sakit.
Tidak perlu basa basi untuk pendekatan mereka, setelah wanita misterius itu bangun Jell mengundangnya untuk makam siang bersama, dan itulah yang terjadi saat ini.
“Itu tadi sangat menyenangkan, karena sudah sampai di sini, bagaimana kalau kita makan dulu.”
Makanan di siapkan dan mereka makan dengan lahap. Bagaikan kerusuhan antara keduanya tidak pernah terjadi, saat ini mereka melupakan kejadian sebelumnya.
“Daging ini beda dari punya istana.”
“Hm? Kau mengatakan sesuatu?”
“T-Tidak, bukan apa-apa!”
***
Makanan telah selesai di makan, saat ini mereka sedang berjalan menuju penginapan, dan tentu saja wanita misterius itu masih mengikuti mereka.
“Hei, kau yang duluan membuat rusuh, setidaknya kau sebutkan namamu supaya aku tau siapa kau.”
Mai sepertinya mulai kesal karena melihat wanita itu sedikit terlalu santai dan sok akrab dengan mereka, yang lebih penting lagi mereka tidak tau siapa nama wanita ini.
“Ara, apa aku belum mengatakan namaku?”
Memiringkan kepalanya dia melupakan hal penting dalam sebuah pertemanan, dan itu sedikit membuat Mai jengkel.
Meletakan tangannya di dadanya dan dengan angkuh dia mengatakan namanya.
“Namaku Rin, ingat itu baik-baik.”
“Hanya itu?” (Mai menanggapinya dengan dingin)
“Apa? Kau ingin aku mengatakan apa lagi? Apa itu tidak cukup?” (Rin dengan jengkel membalasnya)
“Nama keluarga, kau tak punya?”
“K-Kalau itu... Itu tidak penting, dan kau tidak perlu tau.”
Rin sedikit memberontak karena Mai menanyakan nama keluarganya, tapi masa bodoh dengan itu, lagipula Mai hanya cuek ketika dia marah. Namun hanya satu yang sepertinya berpikir saat Rin memperkenalkan dirinya, itu Emma.
“Rin? Rin... Rin...”
“Ada apa Emma?”
Jell yang sadar akan hal itu mencoba menanyakan apa ada sesuatu.
“Tidak, hanya saja aku merasa tidak asing dengan nama itu.”
“Begitukah?”
Perbincangan keempat orang ini seperti tidak mengingat bahwa mereka pernah berduel sebelumnya, Rin terlihat marah kepada Mai karena mencuekkannya dan Jell sedang membantu Emma untuk berpikir.
“Hei, sebentar, seharunya bukan seperti ini.”
Rin tiba-tiba teringan akan satu hal dan dia menghalangi jalan. Mai orang yang paling terkena dampak dari sikap Rin, dia membuat wajah jengkel.
“Ada apa? Minggir, kau menghalangi jalan tau gak?”
“Aku tidak bercerita denganmu, aku bercerita dengannya, Jell Kiyomizu.”
Jell yang sedang menggendong Emma di pundaknya dan juga membantunya mengingat akan satu hal, sedikit kaget karena pembicaraan mereka tiba-tiba berganti topik.
“Kau, Jell, aku memang kalah darimu, tapi aku ingin kau mendengarkan permintaan egoisku ini.”
Sambil membuat wajah agak sulit di wajahnya, Rin meminta permohonannya.
“Aku ingin, kau membantuku dalam sayembara.”
Permintaannya di sebutkan dan tentu saja itu membuat Jell dan lainnya terkejut mendengar permintaannya.
Jell yang dari awal tidak berniat untuk ikut dalam sayembara, tiba-tiba di minta untuk ikut oleh orang yang baru saja dia kenal. Namun dia tetap berpikir tenang dengan kondisi tiba-tiba ini, Jell bertanya apa alasannya untuk melibatkan dirinya.
Rin menjawabnya pertanyaan Jell, tapi sepertinya dia tidak menceritakan semuanya dan masih ada hal yang dia tutupi dari mereka.
Alasannya sederhana, dia ingin Jell untuk mengikuti sayembara atas namanya. Jadi jika saja Jell menang dalam sayembara, maka Rin lah yang akan menjadi Raja, dan tentu saja akan ada upah yang sangat besar yang akan Jell dapatkan.
Memikirkan hal tersebut, Jell berdiam dan ingin Rin untuk menjelaskan segalanya sambil mereka melihat kondisi sayembara saat ini.
***
Berjalan ke arah alun-alun kota, mereka memutuskan untuk melihat kondisi sayembara saat ini. Dalam sayembara ini ada nilai-nilai dari poin yang sudah di kumpulkan oleh para peserta yang di pajang di papan.
Di papan itu ada banyak nama, tapi hanya ada satu orang yang sangat mencolok, itu karena dialah orang yang berada di nomor pertama dari banyak peserta dengan banyak poin sebanyak 20 poin.
(20? Seberapa banyak orang yang tidak tau seberapa besar tanggung jawab yang akan mereka tanggung kalau mereka menjadi Raja?)
Jell bergumam dalam hatinya melihat bahwa ada sekitar ada 20 orang idiot yang tidak tau seberapa penting sayembara ini.
Nama yang tertera di posisi pertama merupakan nama yang cantik, bagaikan bukan berasal dari golongan masyarakat, namanya seperti seorang bangsawan, Marina Victoria.
“Eh, ada seorang bangsawan yang berhasil mengumpulkan 20 poin, ya.”
Mai mengomentari setelah melihat hasil perhitungan.
“Ara, sepertinya ada tikus di alun-alun kota.”
Ejekan terdengar, tidak tau siapa tapi ada seseorang yang telah mengejek salah satu dari mereka.
Orang itu berasal dari salah satu orang dari kelompok yang mengarah pada mereka, yang mengejek mereka adalah seorang wanita. Dia cantik, sangat cantik. Rambutnya kuning keemasan dan warna matanya yang biru sebiru langit, jika kau melihatnya dengan sekilas dia terlihat mirip dengan Rin. Aku rasa itu hanya perasaanku saja, Jell membantah.
“Siapa orang-orang ini? Jangan bilang, kau akan melibatkan mereka? Hahah, kau tidak mudah menyerah, ya. Sudah berapa kali kau mencoba tapi hasilnya akan tetap sama.”
Tidak perlu di katakan lagi, bahwa orang yang di ejek oleh wanita anggun ini adalah Rin. Rin yang mendapatkan perkataan seperti itu hanya membuat wajah murung dan menundukkan kepalanya.
Mai yang melihatnya tampak kesal karena melihat kondisi Rin yang menyedihkan. Dia membalas tatapan wanita anggun itu dengan tatapan yang tajam, wanita itu mampu merasakannya dan mundur selangkah.
(Apa hubungan antara keduanya?)
Jell bingung melihat kenapa wanita anggun itu tiba-tiba mengejek Rin yang tampak tidak salah apa-apa. Sepertinya mereka memiliki hubungan yang sulit di jelaskan, Jell dalam hatinya.
“Hei, apa seperti itu caramu menyapaku? Kau tau akulah yang akan menjadi Raja selanjutnya dan bukan kau.”
Rin tertekan lebih dalam, dia menggigit bibirnya dan menyapa wanita tersebut.
“Selamat siang, Onee-sama.”
__ADS_1
(TN: Oneesama adalah istilah Jepang yang secara harfiah diterjemahkan menjadi “kakak yang terhormat” tetapi dapat digunakan untuk mengacu pada gadis.)
***