BATTLE OR ALIVE

BATTLE OR ALIVE
Chapter 06 : Second Quest


__ADS_3

Pagi cerah.


Seperti biasa, guild sunyi dari pengunjung karena waktu menunjukkan waktu jam 6 pagi. Hanya ada beberapa petualang dan penjaga yang bersiap, dan juga Jell dan Mai bergabung di gerombolan kecil itu.


Alasan mereka ke guild di karenakan Yinn memberitahu Jell tantang quest selanjutnya. Dan jika di lihat sekilas Yinn masih belum ada di situ, tampaknya dia terlambat atau ada alasan lain.


Lama menunggu sambil duduk di bangku makan, Jell dan Mai menunggu Yinn sambil sarapan dengan lahap. Sekitar lima menit setelah makan, Yinn datang dengan kelelahan menuju Jell, menatapnya Yinn bersemangat ingin menyampaikan quest berikutnya, di berikan lembaran quest dan misi hari ini yaitu penjagaan.


Misi mereka kali ini yaitu menjaga seorang pedagang dari ibukota menuju desa Selatan, desa Manyur. Salah satu dari 3 desa yang dekat dengan ibukota, desa Manyur menjadi yang terjauh diantara ketiganya, dengan jarak tempuh 8 Km perjalanan. Quest itu dimulai besok dan bertemu di gerbang depan ibukota.


Jell melihat secara detail quest itu, dan di lihat upah yang di berikan juga besar dan lumayan. Quest itu di wajibkan untuk petualang kuning ke atas dan berhubung Jell dan Mai sudah berperingkat kuning maka Yinn menyarankan quest itu.


Upah yang di berikan dari quest kali ini adalah 10.000 Rumiah, untuk Jell yang baru saja mengeluarkan uang untuk menyewa penginapan, mereka berniat untuk pengumpulan uang untuk bisa membeli rumah atau sebuah apartemen.


Keluar dari guild, Jell dan Mai pergi untuk membeli beberapa persiapan. Yaitu berupa, pedang dan armor. Untuk pedangnya Jell menginginkan yang berukuran lebih besar dari punyanya saat ini, dan Mai menginginkan armor atau pakaian petualang khusus yang bisa mendukung pergerakannya.


Jell dan Mai berpisah untuk agar mendapatkan keinginan mereka masing-masing, Jell ke toko peralatan dan Mai ke toko Pakaian.


Di toko pakaian yang Mai pergi, sudah di rekomendasi oleh Yinn dari peta mini, dan tempatnya tidak jauh dari penginapan mereka.


Sesampainya di sana terlihat toko yang hampir sama dengan toko lain yang berada di sampingnya, tidak lupa sama dengan toko daging saat itu, toko ini juga mempunyai pengenal di depan toko, tertulis “AdvenBeauty” di situ.


Masuk toko, Mai bisa melihat berbagai macam barang dan terutama pakaian untuk petualang, berjejer dan di pamerkan lewat kaca depan toko memberikan kesan khas toko pakaian. Melihat-lihat pakaian petualang Mai bergerak menuju pakaian itu di gantung, banyak pilihan dan banyak macam jenis di sana.


Mulai dari pakaian formal sampai pakaian untuk petualang. Untuk Mai yang pertama kali pergi ke toko pakaian di dunia ini membuat dirinya sedikit gugup.


Mai tampak bingung dan sesaat dikagetkan akan sesuatu yang luar biasa mematikan, monster berukuran 2 meter dengan tubuh manusia, berkumis tipis dan memakai lipstik di bibirnya, tidak lupa juga pakaian ketat untuk memamerkan bentuk tubuhnya yang berotot.


Berjalan menuju Mai yang saat ini masih shock dengan pemandangan itu, menyebutnya monster berbadan manusia, benar-benar tidak sopan baginya, akan tetapi bentuk dan rupanya tidak di ragukan lagi.


Menuju ke keberadaan Mai yang memandanginya, monster itu berjalan dan menggenggam kedua pundak Mai, “Kh!” Adalah reaksi Mai saat kedua bahunya di pegang oleh monster itu, dalam sekejap suasana yang menegangkan berubah menjadi aneh karena monster itu mulai bersuara dan berteriak.


“Ahaa! cantiknya! Selamat datang di toko pakaian petualang milikku sayang!”


“Eh…”


Monster memiliki toko pakaian, merupakan penggambaran yang di luar pemikirannya, dan orang ini tidak salah lagi adalah pemilik toko ini.


Cengkeramannya menjadi lebih kuat saat dia ingin memamerkan beberapa pakaian di tokonya.


Satu persatu dia keluarkan dari tempatnya, dan dia menyuruh Mai untuk memilih apa saja yang dia mau. Mai mulai memahami keadaan dan menganggap ini sebagai hal biasa. Mungkin.


Mai mengambil beberapa pakaian yang di sarankan dan hasilnya malah di luar ekspektasinya, pakaian yang keluar hanyalah pakaian dengan rumbai, kain, dan bagian-bagian berlebihan yang sangat modis.


Terdapat juga pakaian yang menyerupai gaun dengan beberapa perbedaan di sana.


Bagi Mai pakaian itu tidak cocok dengannya dan mencoba meminta pakaian yang sedikit lebih tomboy untuknya. “Ara~” reaksi pemilik toko dengan permintaan Mai, dia tampak kecewa bahwa kecantikan Mai akan berkurang dengan pakaian jantan, tetapi bagi Mai pakaian seperti itu adalah kesukaannya tanpa dasar.


Di keluarkan dari bagian lain ruangan, tampaknya itu tempat khusus pria, penjaga membawa pakaian yang di minta Mai dan memberikan beberapa rekomendasi. Dan dari pakaian yang di rekomendasi ada dua pakaian yang menarik perhatiannya.


Pakaian pertama yaitu pakaian yang tampak seperti pakaian petualang biasa, tetapi terdapat jubah di atas sebagai penghias, dan modelnya hampir sama dengan pakaian MC dari Anime Kon**uba. Dan kedua adalah pakaian yang terbuka dan juga keren, pakaian yang bagian perutnya di perlihatkan dan celana pendek sebagai pelengkapnya.


Mai tampak bingung karena uang yang dia punya tidak mampu membeli keduanya dan hanya satu yang harus di korbankan.


Pemilik toko yang menatap mata semangatnya seketika berdengung “Ya ampun” sambil tersenyum manis kepada Mai karena selera berpakaiannya. Penjaga memberikan saran untuk Mai, yaitu dengan cara menggabungkan kedua pakaian itu dan hanya harus membayar untuk satu baju saja. Mai yang mendengar pendapat itu tampak berbinar-binar di matanya bagai Bintang.



Keluar dari tempat ganti, Mai mencoba dan menanyakan pendapat pemilik toko. Pakaian yang dia pakai yaitu gabungan dasar dari kedua pakaian tadi, pakaian dengan kaos pendek menutup perut, celana pendek, dan sebuah syal merah.


Kaos yang di pakai Mai berlengan panjang agar seluruh tangannya tidak terpapar matahari secara langsung, celana pendek hanya sampai 1/3 pahanya dan syal merah yang menggantung di bahu. Wajah bersinar Mai tidak berhenti terpancar dan penjaga tampak senang karena pelanggannya puas akan dagangannya.


Berpamitan dengan penjaga toko, Mai berlari menuju tempat peralatan yang di kunjungi Jell, sekalian juga dia ingin mengganti Dual Knifenya. Sampai dan berjumpa dengan Jell yang sedang melihat-lihat, Mai masuk dan menyapanya dan sambil melihat-lihat peralatan yang di jual.


Tampak banyak yang di pamerkan, mulai dari Long Sword, Mini Sword, Shield, Knife, Armor dan berbagai macam alat tempur lainnya. Untuk pertama kalinya melihat itu, Mai dengan mulut terbuka sambil bersuara “Uwaahh...”.

__ADS_1


Mai melihat-lihat koleksi dari Dual Knife yang di jual, dan menemukan satu yang dia anggap cocok untuknya, Dual Knife yang dia pilih adalah, Dual Knife yang berbentuk seperti kunai, namun memiliki bentuk yang sedikit berbeda. Berwarna hitam bergaris merah di bilah pisau, dan memiliki skill luar biasa.


Menuju arah Jell sambil membawa Dual Knife itu, Mai melihat Jell sedang memperhatikan salah satu pedang di situ. Mai yang penasaran bergabung dalam pembicaraan Jell dengan Paman penjaga toko.


Dari penjelasannya, pedang yang di lihat oleh Jell memiliki kekuatan spesial yang tidak dimiliki pedang lain, kemampuannya yaitu untuk meningkatkan kekuatan elemen sebesar 10%, dan efek skill meningkat 10%.


Akan tetapi bukan hanya bentuk dan kekuatannya yang luar biasa, akan tetapi harganya juga luar biasa, 10,000 Rumiah. Pedang itu berwarna putih tembaga, dengan bergaris warna emas di bilah pedang. Dan terdapat batu seperti kristal berwarna merah indah.


Pedang itu benar-benar menggambarkan pedang pahlawan, julukan kesatria suci dapat di berikan untuk orang yang memiliki pedang itu.


Mai berpikir apakah Jell ingin memiliki pedang itu untuk memberikan kesan dia ingin menjadi seorang kesatria suci atau pahlawan? Namum tampaknya tidak.


Jell memiliki pemikiran seperti ini “ Pilihan terbaik adalah pilihan yang paling menguntungkan.” Dan jika pemikirannya begitu, Jell sudah jelas hanya mengagumi efek dari pedangnya dari pada bentuk pedang itu sendiri.


Dengan kemampuan negosiasi milik Jell dia memulai tawaran dengan penjaga, bernegosiasi adalah keahlian Jell, dikarenakan Jell mampu membedakan sikap seseorang dari hanya melihat mata, gaya berpakaian, wajah dan posisi tubuh. Kalau saja kemampuan Jell di kenal banyak orang maka dia mungkin akan sering berada di TV sebagai seorang penerawang.


Negosiasi selesai dengan hasil Jell mendapatkan pedang itu. Dari negosiasi mereka, Jell mendapatkan diskon sebesar 30%, karena hasil tawar dari peringkatnya sebagai rank kuning. 7,000 Rumiah sisanya menjadi hutang bagi Jell dan membayar menggunakan nama guild dari Yinn, Mai yang memperhatikan perilakunya menunjukkan wajah tidak senang dan menjijikkan, “Uwwa-” Keluar dari mulutnya.


Pulang dari toko peralatan, Mai pada akhirnya tidak jadi membeli Dual Knife yang di sukai, di karenakan uang yang mereka miliki tidak cukup untuk membelinya. Memang benar mereka masih memiliki beberapa sisa dan cukup untuk membeli Dual Knife itu, akan tetapi Jell tidak mengizinkannya karena uang sisa itu untuk keperluan tambahan.


Menuju ke penginapan Jell dan Mai ingin mempersiapkan semuanya dan pergi besok pagi. Setelah pergi ke penginapan mereka ingin ke luar gerbang untuk berlatih di hutan sekitar istana.


Tujuan mereka yaitu mempersiapkan semua kemungkinan yang ada, mulai dari Jell yang berlatih skill spesial jarak jauh dan Mai mencoba skill spesial untuk melumpuhkan musuh tanpa membunuhnya.


Akan tetapi kenyataan tetap sama dengan apa yang diperkirakan mereka, setiap skill yang di keluarkan mereka berdua selalu saja berefek luar biasa. Dapat di lihat ada kerusakan pada tanah dengan dalam 30cm dan panjang sekitar 6meter di samping mereka, itu adalah salah satu percobaan serangan jarak jauh dari Jell.


Bukan hanya dampak dari itu semua, Jell dan Mai yang sudah sekitar 2 hari berburu untuk menaikkan level tidak kunjung ada perkembangan, di karenakan kolom skill di Plat Status mereka tidak kunjung memberikan perubahan, dan di tambah diagram segi enam tidak menunjukkan adanya perkembangan pada kekuatan mereka, ini menjadi misteri terbesar mereka semenjak datang ke dunia ini.


Keesokan harinya, tepat jam 5 subuh Jell dan Mai pergi menuju ke gerbang. Dapat dilihat ada beberapa orang di sana, itu tepat di dekat gerobak yang bisa mereka tebak menjadi klien mereka, dan sisanya mungkin beberapa petualang yang di pekerjaan sebagai tambahan penjaga.


Mereka mendekat dan bertemu d engan orang berumur sekitar 30 tahun bernama Olokoto. Nama yang aneh? Benar mereka berdua juga setuju.


Dia adalah orang yang memesan para petualang dan dari lembaran quest memang dialah orangnya. Pakaiannya ketat dan juga gendut, berpakaian bagus dengan janggut kecil, tidak lupa 3 buah cincin emas dan perak berukuran besar yang berada di jarinya.


Orang gendut itu membungkuk dengan elegan bagai bangsawan, dan memperkenalkan orang-orang yang ada di sampingnya.


Mereka bukanlah seorang petualang, akan tetapi teman seperdagangan nya, dari keterangan yang di jelaskan bahwa mereka adalah pedagang bahan pangan, jadi barang-barang yang mereka bawa adalah berupa bahan-bahan makanan dari tokonya.


Dia tampak ramah terhadap Jell dan teman-temannya, tampaknya orang ini bukan seperti apa yang Jell lihat, secara tidak langsung dia sudah berprasangka buruk terhadap kliennya.


Tapi menurutnya itu wajar, karena penggambaran Olokoto benar-benar lengkap untuk seorang bangsawan brengsek, namun untuk kasus Olokoto, dia terlihat sangat sopan dan tidak memandang rendah mereka.


Memulai perjalanan, Jell dan Mai berada di kuda masing-masing, dengan kereta bergerak pelan, agar kuda yang mereka tunggangi bisa berkeliling gerbong untuk pemeriksaan.


Sebagai tambahan gerbong kereta ada berjumlah 5, sehingga akan sedikit sulit jika ada orang yang menyerang dari berbagai arah secara bersamaan. Akan tetapi ketakutan itu tidak akan terjadi karena Jell dan Mai yang berperingkat kuning yang menjaga mereka.


Perjalanan akan memakan waktu sekitar 3 jam, akan tetapi jika menghitung bawaan dan kecepatan kuda maka akan memakan waktu lebih banyak, sehingga mereka memutuskan beristirahat setiap satu jam, tidak lupa juga Jell dan Mai yang akan menjaga setiap saat, termasuk saat istirahat.


“Orang yang baik” itulah dengungan dalam hati Jell saat melihat Olokoto membawakan makanan untuknya dan Mai.


Sambil makan Jell dan Mai berjaga dan Olokoto mendekat untuk menanyakan keadaan, memberitahu kondisi, reaksi Olokoto cerah dan dia mulai bercerita kepada Jell tentang beberapa hal.


Olokoto memulai ceritanya, yaitu tentang alasan kenapa dia melakukan perjalanan yang lumayan jauh ini. Alasan dari semua itu adalah untuk membagikan bahan pangan ke seluruh penjuru kerajaan.


Dari penjelasan lebih lanjut bahwa, kerajaan mengalami penurunan bahan pangan di 50% bagian kerajaan, di mulai yang paling parah yaitu terdapat pada daerah perbatasan hingga daerah ibukota.


Dia sudah melakukan kontak dengan desa Manyur dan para warga desa akan membelinya, tetapi alasan kekacauan itu tidak di beritahukan kepadanya, Jell yang penasaran mencoba menanyakannya, tapi terpotong oleh waktu.


Perjalanan sudah hampir mencapai akhir, perjalanan sudah menempuh jarak sekitar 6 Km dan sedikit lagi akan sampai tujuan jika tidak ada halangan.


Tetapi apa yang dikhawatirkan datang di saat-saat terakhir, itu adalah penghalang yang mengepung mereka, itu manusia atau bisa di sebut mereka adalah bandit.


Kondisi saat ini adalah ke-lima gerbong di kepung oleh gerombolan bandit, jumlah mereka sampai puluhan orang, dan dari formasi mereka tampaknya mereka sudah mengetahui akan keberadaan Olokoto dan gerombolannya. “Untuk orang sebanyak ini bukankah akan lebih baik menyerang desa?” pertanyaan itu datang dari kepalanya karena kondisi ini tampak aneh bagi Jell.


Para bandit membawa berbagai macam senjata dan jika dilihat kualitasnya tampak bagus dan jika dijual akan bisa mencapai 1,000 rumiah.

__ADS_1


Tetapi mereka melakukan tindakan yang bisa dikatakan tidak menguntungkan bagi mereka, tapi pernyataan tersebut akan lain jika orang yang mereka serang adalah Olokoto dengan gerobak yang berisi barang yang harganya mahal.


Mereka tampak tidak mengantisipasi perlawanan dari pihak Jell, itu karena penjaga hanya berjumlah dua orang dan berperingkat kuning.


Bagi mereka, mau itu hitam sekaligus mereka tidak gentar, akan tetapi mereka salah lawan dan tidak beruntung kali ini. Olokoto tampak ketakutan dengan keringat dingin yang memenuhi wajahnya, Jell melihatnya tampak tidak senang karena orang sebaik dia malah berpenampilan menjijikkan seperti itu.


Jell mengerutkan keningnya dan berteriak, Olokoto disuruh oleh Jell untuk bersembunyi di dalam gerobak beserta teman-temannya.


“Mai! Bagai mana keadaan di sana? kau tidak ketakutan bukan, aku akan memberikan aba-aba dan ikuti itu untuk tidak memberikan dampak negatif, ok.”


“Aku mengerti!”


Jell mengkonfirmasi kondisi Mai saat ini, dari kondisi ini Jell ingin memberikan serangan secara langsung dan cepat, aba-aba diperlukan agar saat dia dan Mai melakukan gerakan, gerobak di belakang tidak akan menerima kerusakan dan atau kondisi paling buruknya, para bandit itu malah akan langsung menyerang Olokoto dan lainnya yang berada dalam gerbong.


Jell mengambil kuda-kuda dengan sedikit menunduk, dengan posisi yang jika di gambarkan bisa membuat daya dorong kaki belakang lebih tinggi dengan bantuan kaki sebelah yang berada di depan. Tetapi reaksi para bandit yang melihat Jell dan Mai melakukan perlawanan membuat mereka tertawa dan bermain-main.


“Oi oi oi… lihat mereka, sudah lihat kenyataan tetap mau melawan ya, baiklah akan kami potong tubuh kalian dengan perlahan.”


Ejekan salah satu dari para pandit, jika di lihat dari formasi mereka, mungkin dialah bos mereka. Jell memandang orang itu dengan tajam sambil melakukan perhitungan dari pergerakan mereka.


Dan…


“Sekarang!”


Sekejap, dalam waktu itu semua tampak lambat dari waktu biasa, pergerakan yang memperlambat waktu di gunakan dengan skill spesial Jell “Slow Watch” yang dia pelajari selama pelatihan sebelum saat ini, dan dilihat di posisi Mai dia juga melakukan hal sama dengan menggunakan spesial skill “Slow Watch” versi assassin.


Tidak memakan waktu lama, Jell dan Mai bergerak ke arah mereka melalui bahu untuk mengincar pangkal leher untuk membuat mereka tak berdaya, satu persatu dengan kecepatan luar biasa merobohkan para bandit yang kebingungan, dan ada beberapa yang patah tulang tangan di sebabkan oleh Jell untuk memberikan rasa sakit tambahan kepada mereka.


Waktu yang di perlukan tidak sampai 10 detik, semua bandit terkapar tidak sadarkan diri dan ada yang kesakitan karena tangan mereka tidak berada di posisi yang benar.


Hanya tersisa kepala bandit yang tidak bisa percaya dengan apa yang telah dia saksikan. Jumlah kami kan lebih banyak…, kami sudah mengepung merak…, adalah apa yang dia katakan sambil ketakutan.


Jell mendekatinya dan bandit itu terjatuh dengan bokongnya ke belakang sambil berteriak ketakutan Jell berdiri di depannya.


“Siapa yang telah membocorkan informasi ini?”


Jell menanyakan sesuatu kepada pemimpin bandit itu, dengan terkejut atas pertanyaannya dia tampak kaget, Jell memperhatikan reaksinya dan menanyakannya lagi dan lagi, akan tetapi orang itu hanya meraung ketakutan.


Sesaat kesabarannya mencapai batas, tetapi orang itu bukan Jell melainkan Mai. Dia pergi ke arah orang itu dan memegang kepalanya sambil juga memegang satu Dual Knifenya di arahkan di lehernya.


“Kau membuatku kesal… Jell menanyakan sesuatu dan kenapa kau hanya meraung Haah! Mana tawamu tadi… ayo tertawa sekarang sebelum pisau ini mengiris lehermu… Tenang saja aku tidak akan langsung membunuhmu, aku akan mengirisnya secara perlahan…”


Olokoto dan orang-orang ketakutan sambil memegang leher mereka. Jell yang melihat kelakuan Mai mulai menggaruk kepalanya dan mendekatinya, mengusap kepal Mai dia menyuruhnya pergi, Jell ingin bercerita dengan orang itu.


“Kau mendapatkan informasi itu dari warga desa bukan… salah-satu warga, tidak, kepala desa yang memberitahu informasi itu. Kalian melakukan kesepakatan dengan kepala desa untuk menyerang kami, dengan imbalan 50% hasil rampokan akan kalian dapatkan sebagai bayaran.”


Jell mencoba menebak dan memberikannya tekanan berat pada orang itu. Karena informasi yang begitu detail di ketahui oleh Jell, dia mulai pucat dan mulai memberontak lebih kasar, dia mencoba membuka ikatan dari tali yang mengikat tangannya dengan cara menggelinding dan membanding-bandingkan tubuhnya.


Tetapi cara itu percuma saja, bukan hanya ikatannya yang kuat tetapi jika dia berhasil, akan ada Jell dan Mai yang siap menghentikannya.


Jell dengan memasang wajah kasian melihat orang itu meronta-ronta, dan mengatakan sesuatu yang lebih dari cukup untuk sebuah informasi dari bandit amatir seperti meraka.


“Jika reaksimu seperti itu, mungkin tebakanku yang satu ini mungkin benar juga. Dan jika kalian telah berhasil menaklukkan kami, kalian berencana menghancurkan desa dan mengambil harta mereka dan 50% bagian lagi dari hasil rampokan, bukan? Jika jumlah kalian sebanyak ini maka menyerang desa tidak akan menjadi mustahil.”


Orang itu tampak telah terpaku kepada penjelasan Jell. Dia melihatnya dengan mata gemetaran, dan sekian lama mulutnya akhirnya bersuara.


“K-kenapa kau bisa tahu sampai sedetail itu…?”


Pertanyaannya tampak pasrah, Jell hanya memandang dan memberi tau nya.


“Jika aku jadi kau, aku akan melakukannya.”


Orang itu tidak habis-habisnya memandang Jell dengan mata gemetaran, dan Jell memutuskan untuk membawanya menuju desa, untuk orang-orang yang lainnya dia berencana mengikat mereka, dengan cara menggantung satu-persatu dari mereka di atas pohon


***

__ADS_1


__ADS_2