BATTLE OR ALIVE

BATTLE OR ALIVE
Chapter 10 : Great Dungeon II


__ADS_3

Sejauh mata memandang hanya ada Dungeon yang di terangi oleh cahaya ‘Bright Crystal’ yang agak buram.


Tidak ada suara di sana sini, hanya hening, tetapi di keheningan itu hanya ada satu suara yang dapat di dengar, suara itu berasal dari sebuah batu besar dan ada dua orang yang kelihatannya sedang beristirahat di sana, itu Jell dan Mai.


“Sekarang sudah lantai ke-13, ya?…”


Jell memandangi langit-langit Dungeon dan menghela napas. Saat sedang duduk sambil bersandar di sebuah batu besar, Mai juga sedang berbaring di sana. Tidak perlu ditanya lagi, Mai menggunakan Jell sebagai bantal.


“Mai, bisakah kau pindah sekarang … Kakiku kesemutan.”


“Tidak mau.”


Menerima penolakan Mai, Jell dengan mata menyipit mencubit hidung Mai. Mai yang “Uwaa uwa” kesakitan dan kaget memandang Jell dengan sedikit air mata di sudut matanya.


Hidung Mai merah dan dia membelainya untuk menghilangkan rasa sakit. Seketika memandang Jell dengan wajah kesal dan marah.


Jell yang mendapatkan pandangan itu langsung memalingkan wajahnya kearah sebuah pintu besar menuju lantai berikutnya.


Saat ini Jell dan Mai berada di lantai ke-13. Monster disini tidak terlalu berbeda dengan yang di permukaan tadi, tetapi monster pada tingkat ini memiliki kekuatan yang lebih.


Menurut Jell, monster yang di lantai-lantai sebelumnya berperingkat lemah, kemungkinan tingkatnya D-C. Sangat berbeda dengan di sini, monster di sini lebih menyusahkan diri sebelumnya, kemungkinan mereka memiliki tingkat B.


Monster yang sudah mereka lawan selama dua lantai terakhir ada beberapa monster, seperti anjing dengan kaki enam, ular bertanduk, burung bermata tiga, dan ikan berkaki.


Semua monster itu mampu mengendalikan sihir dan memiliki kesulitan yang lumayan. Yang paling menyusahkan bagi mereka adalah, burung bermata tiga dan anjing berkaki enam.


Burung bermata tiga mampu melihat mereka dari sudut yang ekstrem dan kecepatan terbangnya juga cepat, namun tidak secepat Dark Bat. Sedangkan anjing berkaki enam, memiliki kecepatan yang hampir sama dengan seekor cheetah dan dia mampu mengeluarkan sihir api.


Namun saat ini masih di lantai 13, dan entah sampai sejauh mana ini akan berakhir.


***


Sedang berjalan di dungeon lantai 13, Jell dan Mai memutuskan akan langsung pergi ke pintu lantai 14, dan sebisa mungkin menghindari pertempuran. Dari keseluruhan suasana dan pemandangan, lantai di bawah lantai 10, memiliki ukuran yang lebih besar dan juga banyak batu besar dan pilar dari batu menjunjung tinggi ke langit-langit. Bagi monster seperti anjing berkaki enam dan burung bermata tiga tempat ini memang cocok dengan mereka.


Pintu sudah terlihat dan tinggal melewati batu besar yang menghalangi jalan, mereka melompat dan ada sesuatu di sana. Di depan ada monster, monster yang sudah mereka lawan tadi, itu adalah anjing berkaki enam. Dia terlihat hanya berputar-putar di depan pintu dan tidak ada siapa-siapa di sana. Bagaikan anjing pengawas yang menjaga gerbang. Jell yang memandanginya teringat akan sesuatu di lantai sebelumnya. Teringat akan hal itu Jell dengan seketika menoleh ke belakang dan menoleh ke semua arah. Memeriksa sekitar sambil berharap semuanya baik-baik saja, dan Mai entah bagaimana menenangkan Jell.


“Tenang saja Jell, di sini tampaknya tidak sama dengan di lantai sebelumnya. Aku sudah menaruh beberapa pendeteksi di dekat tempat ini … Jika para anjing itu mendekat, maka alat itu akan langsung berfungsi dan aku akan tau itu. Jadi tenanglah~”


Mai memberitahu Jell terhadap partisipasinya, sambil mengajukan jempol wajah Mai tersenyum sombong dan mata dan warna di sekitaran nya menjadi berbinar-binar. Melihatnya, Jell hanya bisa mengelah napas dan menepuk kepala Mai. Mai yang kegirangan karena hadiah yang Jell berikan menjadi lebih bersemangat.


“Bagai mana … Aku ini hebat bukan?~”


“Iya iya… Awas saja kalau item itu tidak bekerja, kau akan mendapatkan hukuman yang sangat berat, ingat itu.”


“Fufu… Kalau item itu berfungsi dan menyelamatkan kita, kau harus berlutut di hadapanku Jell!”


Jell seketika diam dan tidak menjawab permintaan Mai. Dia mengabaikannya dengan wajah biasanya, dan jika itu di perlihatkan kepada sesorang, maka mungkin dia akan sedih karena usahanya hanya di nilai dengan wajah biasa oleh Jell. Namun karena dia Mai, maka dia tidak apa-apa. Mai yang kesal karena reaksinya, seketika ingin berteriak dan mengomel kepadanya, karena dia tidak bisa mendapatkannya. Bagaikan haus akan pujian, Mai benar-benar merengek akan perilaku Jell terhadapnya.


Namun seketika…


“Waugf! Waugf!”


Jell dan Mai seketika teralihkan sebuah suara, suara itu tepat di atas batu di bagian belakang mereka, itu adalah sekelompok anjing berkaki enam. Mereka mengelilingi setiap sisi batu dan memandang Jell dan Mai yang berada di bawa.


Jell hanya bisa tercengang dan tersenyum kecut terhadap situasi ini. […Jika para anjing itu mendekat, maka alat itu akan langsung berfungsi dan aku akan tau itu. Jadi tenanglah~…] dalam benaknya, perkataan Mai seketika terngiang-ngiang di kepalanya, dan mengalihkan pandangannya ke arah Mai.


Mai yang ditatap Jell seketika kaget dan terangkat, merasakan pandangan dari Jell, dia menyembunyikan wajahnya sambil kedua jarinya di mainkan, menunjukkan seperti anak kecil yang telah melakukan kesalahan dan dengan bersikap seperti itu maka dia akan di maafkan. Tetapi Jell tidak. Jell memandanginya dengan wajah kesal dan keringat berjatuhan di wajahnya.


Anjing berkaki enam itu makin banyak dan itu sudah mencapai 20 ekor. Mereka mengelilingi dan mengepung Jell dan Mai, para anjing itu tidak ada yang mendekat dan hanya mencoba menutup jalan keluar target, dan merapat satu sama lain, mengakibatkan rombongan monster itu tidak dapat di tembus lagi.


Dan seketika dalam situasi yang menegangkan itu, salah satu anjing yang sepertinya adalah yang menggonggong pertama kali, seketika mengangkat lolongan dan dalam sekejap itu juga semua anjing menyerang Jell dan Mai.


Bagaikan robot yang di tekan tombol “On”, semua anjing berkaki enam itu langsung berlarian menuju mereka berdua.


Jell dan Mai panik dan terangkat dengan wajah pucat, namun ini tidak dapat dibiarkan, cakap Jell dalam benaknya.


“Mai lari! Sekarang!…”


“B-Baikk!”


Jell dan Mai langsung berlari kearah yang tidak di kepung oleh para anjing dan berlari sekuat tenaga. Tepatnya itu adalah sebuah batu yang lumayan besar yang ada di sebelah dari batu besar yang di gunakan anjing pemimpin berdiri.


Bagi Mai ini adalah situasi yang tidak terlalu berbahaya, itu dikarenakan dia memiliki skill buff yang dapat meningkatkan kecepatannya. Dan skill itu bisa dia gunakan kapan saja.


Namun dia memutuskan tidak akan menggunakannya karena dia tau akan terjadi sesuatu yang lebih berbahaya, dari pada anjing sialan di belakang yang mengejar mereka. Itu adalah Jell, Jell tidak memiliki skill buff untuk meningkatkan kecepatannya.


Sehingga dia harus terus berlari seperti biasa tanpa bantuan buff yang tidak tersedia di job Fighter miliknya. Jell bisa saja menggunakan skill ‘Slow Watch’ yang waktu melindungi Olokoto saat itu, namun Jell memiliki pemikirannya sendiri.


Jell dan Mai terus berlari menuju jalan yang tidak menentu, dan sudah pasti ada beberapa kejadian dimana mereka hanya berputar-putar. Karena para anjing ini tidak memiliki akal, dan pasti juga akan terus mengejar mereka walaupun mereka hanya berputar-putar di batu yang sama sampai akhir.


Dan akhirnya tanpa disadari Jell dan Mai berlari menuju ke arah pintu gerbang lantai ke-14. Berlarih dengan sekuat tenaga dan para anjing itu dengan patuh terus mengejar mereka. Para anjing ini seperti mengejar mereka bukan karena kelaparan, tetapi mereka mengejar dengan niat membunuh yang kuat.


Namun, mereka beruntung karena, tidak ada gangguan di lantai 14 )saat ini, dan mereka sampai di satu tempat yang luas dan berpasir. Luasnya bagaikan lapangan sepak bola, hanya tempat itu yang ada pasirnya dan tempat lain sama seperti pemandangan biasa, hanya batu dan tanah.


Berlari di atas pasir dan mengakibatkan beberapa debu naik yang membuat para anjing itu tampak kesakitan karena debu masuk ke mata mereka. Di saat ini Jell memutuskan untuk tetap lari dari mereka dengan sekuat tenaga. Bagi orang-orang biasa, lari dari kejaran anjing berkaki enam ini sudah pasti mustahil, itu di karenakan kecepatan mereka yang sama dengan cheetah.


Namun Jell dan Mai  dapat lari dari mereka itu di sebabkan oleh kemampuan mereka jauh bahkan melewati bayangan orang biasa. Oleh karena itu, lari dari anjing berkaki enam itu bukan apa-apa, dan mereka tidak dapat menyusul mereka. Ini hanya menjadi beradu ketahanan.


Terus berjalan di lapangan pasir, seketika pasir di depan mereka terasa berbeda dengan pasir sebelumnya. Rasanya pasir ini memiliki sesuatu yang aneh, dan Jell belum mengerti apa itu.


Dan seketika…


“Kh! Ini pasir hisap, pasirnya memiliki sihir dan mereka akan menghisap apa saja yang ada di sekitaran pasir. Mai hati-hati!”

__ADS_1


“Mengerti!”


Dengan momentum yang mempesona, Jell dan Mai langsung melompat ke arah belakang, dengan melewati barisan para anjing yang terlalu cepat dan mengakibatkan pendaratan mereka akan aman. Jell dan Mai melompat dan berputar secara backflip dan mendarat dengan indah. Terpesona dengan kelakuan Jell dan Mai, mengakibatkan para anjing itu tidak melihat ke depan dan dalam sekejap mereka terjebak di pasir hisap. Pasir itu menarik mereka kedalam dan sudah jelas untuk para anjing itu tidak akan selamat.


Memberontak dan melawan sekuat tenaga, tetapi usaha mereka sia-sia dan dalam waktu kurang dari 10 menit, semua anjing itu tertelan oleh pasir hisap. Di saat bersamaan Jell dan Mai memandangi mereka dan memandangi sekeliling. Tidak ada lagi pasir di sekitar sini, hanya ada beberapa tempat bulat yang terdapat pasir di atasnya, sudah pasti itu pasir hisap mini.


Jell tidak menghawatirkan itu dan mereka pergi untuk mencari pintu lantai ke-15.


***


“Jika di totalkan … ini akan menjadi gerbang yang ke-18, ya?”


“Nn~ namun … Semua monster di sini sudah mulai membuatku bersemangat dan itu menyenangkan~!”


Dengan tangan yang dikepalkan dan diangkat ke atas ditambah ekspresi wajah yang berbinar-binar, membuat Jell berekspresi kesal dan mengelah napas karena kelakuannya di lantai 16 sebelum mereka sampai di lantai ini.


Benar … Saat itu … Sekitar hari kemarin.


...


Lantai ke-16, di sini tidak ada yang berbeda dengan lantai ke-14. Banyak lapangan pasir hisap dan lebih sedikit batu besar apa lagi pilar batu.


“Aku tau kita di dalam dungeon … Tapi, ini hebat sekali bukan? aku tidak pernah berpikir kalau ada lapangan pasir di sini.”


“Umu~…”


Jell dan Mai saat ini sedang duduk beristirahat di atas batu besar di sana, karena batu besar langkah di lantai ini, maka mendapatkan tempat aman untuk beristirahat sangat sulit. Jell yang sedang melihat sekeliling dengan tatapan agak kosong, membuat kesan bagaikan mereka sedang berada di Mesir, dan Jell merasa dejavu akan waktu mereka berlibur ke negara yang indah itu.


Mai menatapnya dan seketika menggulingkan kepalanya ke bahu Jell, dan mereka mulai berbicara akan kenangan waktu di Bumi.


“Jadi dejavu lagi?”


“Hm?”


Mai menatapnya dengan senyum manis dan memalingkan tatapannya menuju pemandangan yang di pandang Jell


“Jadi ingat waktu kita sekeluarga pergi ke Mesir bukan? Tetapi ini tidak bisa menggambarkan negara itu … AkKHahAAa!!!…, Andai saja si elf dada besar sialan itu tidak meminta kita pergi ke dungeon, pasti sudah dari kemarin kita pergi kencan dan melihat kerajaan ini bukan?! Dasar elf dada besar sialan, dia pikir karena tubuhnya yang berlemak itu bisa membuat kami tergoda HAH!. Lain kali akan aku hajar kedua gunungnya itu, biar dia tau kalau dia tidak bisa apa-apa jika tidak memilikinya.”


“Haha… Jangan mengejeknya seperti itu.”


“Hah! Jell kenapa kau membelanya? Jangan bilang kau juga anggota kelompok pemuja dada besarnya itu?”


“TIDAK OIII!!!…”


“Trus? … Jangan bilang kau memalingkan kenyataan dan mengambil jalan lain?"


“Tidak akan, lagi pula aku juga merasa itu mungkin hanya kebetulan.”


“Tidak mungkin bukan.”


“Sialan… Awas saja kau elf dada besar sialan, kalau kau mendekati Jell kubunuh kau!!!…”


Suara teriakan ejekan Mai menggema keras yang membuat seluruh lantai dapat mendengarnya dengan jelas, suaranya yang menghina Yinn, bergema dan itu rasanya sangat memalukan.


“Oi, jangan berteriak … Kita ini sedang bersembunyi tau!”


“Apa~? walaupun aku berteriak “Aku sudah gilaa!”pun, sudah pasti tidak ada yang mendengar bukan? … Jadi jangan khawatir, santai-santai…”


“Orang ini-!”


Jell kesal dengan kelakuan Mai yang terlalu meremehkan kondisi mereka, dan sambil berdecit dengan kata-katanya. Namun kekhawatiran Jell terkabulkan, setelah beberapa saat Mai berteriak, tiba-tiba saja ada suara yang datang menuju mereka, suara yang dapat di dengar sangat berisik dari kejauhan. Melihat asal suara itu, Jell berdiri dan memalingkan pandangan ke belakan dan apa yang dia lihat membuat dia meneteskan keringat sambil tersenyum masam.


 


Itu adalah monster terbang dengan persilangan antara burung bermata tiga dan Dark Bat, itu BatBird. Mereka menyebutnya begitu karena tampang mereka. Gabungan dari dua jenis monster terbang, berbadan burung tapi berkulit seperti kelelawar akan tetapi sayapnya saja yang berbulu, berkurang lebih kecil dari Dark Bat, memiliki 3 mata dan tentu saja memiliki telinga yang sangat besar, yang membuat dia terlihat berbeda dari Dark Bat.


Mereka berjumlah lebih dari 10,sekitar 14 ekor jika di hitung asal. Mereka berparu tetapi memiliki gigi, mereka cepat sepeti burung bermata tiga, akan tetapi mereka tidak selincah Dark Bat yang memiliki 4 sayap. Bergerak dengan kecepatan yang luar bisa mereka terbang dari kejauhan menuju tempat Jell dan Mai berada. 


Jell yang melihat kedatangan mereka seketika berpaling menatap Mai dengan marah. Mai yang terangkat bahunya karena tatapan Jell, langsung membalikkan wajahnya. Kali ini Mai benar-benar menghindar dari tatapan Jell yang sebelumnya. Jell yang merasa emosinya yang meluap-luap, langsung memegang tangan Mai dengan erat dan berlari ke bawah batu, dan berencana lari menuju gerbang lantai ke-17.


BatBird masih mengejar mereka walaupun Jell dan Mai sudah berusaha menyingkirkan mereka dengan debu-debu dari pasir, akan tetapi mereka lebih tanggung dari perkiraan mereka berdua. Jell yang merasa kondisi saat ini akan sulit jika dibiarkan, seketika berbalik dan mencoba menghalau pergerakan mereka. Menggunakan skill ‘Fire Stage’ untuk membunuh beberapa dari mereka.


Jell berbalik, Mai kaget melihatnya dan terdiam membeku di tempat tanpa berkata-kata. Jell berlari dengan cepat dan kondisinya sudah memasang skill ‘Fire Stage ’. Para BatBird terkejut dengan ketangguhan Jell dan mengira bahwa Jell meremehkan mereka. Keduanya dalam kondisi siap tempur, Jell dengan skill nya dan BatBird dengan skill nya juga. Menciptakan pemandangan pengorbanan yang memesona dan benar-benar berani dari Jell.


“Rasakan ini!!!”


“SsYyYaAAhHh!!! ”


Jell dalam waktu yang cepat, dapat membunuh satu dari BatBird dan melanjutkan serangan selanjutnya menuju BatBird lainnya. Dengan momentum yang luarbiasa, Jell dapat dengan mudah membunuh 3 ekor. BatBird lebih tanggu dari yang di bayangkan, biasanya Jell mampu membunuh tujuh dari mereka. Benar-benar merepotkan, adalah apa yang Jell pikirkan saat ini. Kerusakan yang luar biasa dan tidak dapat di hindari dari Jell, akan tetapi BatBird tidak akan semudah itu di kalahkan. Dengan skill mereka, dalam momentum itu juga ledakan api meledak diantara rombongan BatBird.


Skill special dari BatBird adalah “Explosive”, skill yang menggunakan elemen api mereka untuk menciptakan ledakan dari kepakan sayap mereka. Dan itu juga alasan mengapa monster ini selalu berkelompok dan jarang di temukan sendiri adalah, BatBird tidak dapat melakukan perlawanan yang hebat jika mereka sendirian. Ledakan yang di berikan tidak akan melukai musuh dan bahkan tidak akan menyebabkan luka bakar, dan untuk menutupi kekurangan mereka, BatBird pergi berkelompok dan melakukan pertahanan dan penyerangan dengan kekuatan secara bersamaan.


“Sial! –”


“Jell!!!”


Jell yang berada di tengah kelompok BatBird, seketika dengan cepat melompat dengan momentum untuk menghindari ledakan. Akan tetapi waktu yang di berikan BatBird tidak banyak dan berdampak pada Jell yang sedang lari dari ledakan.


“Aargh!”


Kerusakan di terima Jell dengan ledakan yang kuat. Jell terlempar kearah Mai dan dapat tetap bertahan dan berdiri walaupun tangan kanan dan bahu kanannya terkena luka bakar. Pakaiannya terbakar dan menyisahkan setengah darinya yang masih menutupi tubuh Jell. Dan jika diperhatikan Jell seperti seorang petarung atau sejenisnya, dengan pakaiannya yang seperti itu.


Jell melihat dampak yang dia dapatkan dan mendecit sambil memaki karena pakaian barunya di rusak oleh burung sialan. Melihat kondisinya, Jell memandang BatBird dengan wajah tersenyum tanpa rasa takut. Menyeka keringat di dahinya dan Jell berdiri dengan memegangi pedangnya. Mengambil kuda-kuda dan dengan fokus Jell akan melakukan penyerangan sekali lagi dan sudah di pastikan itu adalah pertempuran penghabisan bagi Jell dan BatBird, begitu juga BatBird yang tampaknya bersemangat dan memulai meluncur dari ketinggian untuk menyerang Jell dengan kelompok mereka.

__ADS_1


“Maju sini! ”


(Menutup mata … kosongkan pikiran … sasaran adalah kelompok monster terbang … tenang dan hanya fokus di momentum ini … serangan penghabisan …)


“Dragon Hell! ”


Jell berteriak dan menggunakan skill penghabisannya, ‘Dragon Hell’ adalah skill tingkat tinggi dengan kesulitan ‘S’. Mengeluarkan mana ke seluruh tubuh dan menciptakan kobaran api, kuda-kuda siap menebas dan dengan seketika melakukan tebasan luarbiasa.


Dalam sekejap seekor naga keluar dari sambaran pedang Jell, naga dengan panjang sekitar 5 meter dan ukuran yang besar. Kobaran api besar datang dari naga itu dan dari nafasnya, menciptakan pemandangan naga api yang luarbuasa dan Agung. BatBird yang melihat keanehan itu tampak tidak gentar dan tetap maju dengan kekuatan mereka. Pertempuran sesama elemen api, menciptakan pemandangan yang bagi beberapa orang akan serasa bahwa kejadian ini hanya ada di cerita dongeng. “Pertempuran Naga api dan Burung api”, layak disebut sebagai legenda yang menjadi nyata.


“DdDuUUarRRRrrr……!!!!!”


Ledakan besar terjadi di kedua serangan, Naga api yang menyambar gerombolan BatBird. Dan BatBird yang juga menyambar Naga api. Mengakibatkan ledakan api luar biasa dan menghempaskan bebatuan dan pasi-pasir hisap yang ada di sekitarnya. Bebatuan yang menonjol diratakan dan menyatu dengan tanah. Dampak juga di rasakan oleh Mai yang ada dan menjadi saksi dari pertempuran tadi, Mai terhempas karena gelombang kejut hasil dari ledakan besar.


Ledakan dan gelombang selesai, semua yang ada di sekiranya menjadi rata dan bebatuan di tempat ledakan berlubang, besar 5x3 meter dan menciptakan batu bara yang panas. Menyisahkan debu yang berawan-awan, kondisi Jell dan BatBird tidak bisa di pastikan karena debu.


“Jelll!”


Mai berteriak histeris dan panik, berlari kearah Jell dan menabrak tumpukan debu yang menghalangi. Jell tidak dapat di lihat, dan tanah di tempat ledakan terlalu panas untuk sepatu bootsnya, akan tetapi itu tidak menjadi halangan untuk memastikan keselamatan Jell. Panas mendidih di rasakan Mai dan tetap saja dia tidak gentar meski pergerakannya agak lambat karena pandangannya yang kurang, dia bisa merasakan keberadaan Jell di depannya, namun tetap saja sulit untuk menjangkaunya. Dalam kesulitan untuk melihat orang yang di cintainya itu Mai seketika kaget dengan suara di antara debu, suara yang hangat dan perasaannya dapat di rasakan juga oleh Mai, itu suara Jell.


“Tidak perlu cemas … a-aku baik-baik … saja.”


Mai tersenyum lebar karena suaranya untuk tidak memaksakannya, dan seketika debu pun hilang dari pandangan secara bersamaan, didepannya terdapat bayangan seseorang yang berdiri dengan menongkah di pedangnya. Melihat orang itu semakin jelas dan Mai tersenyum lebih lebar lagi sambil berliang air mata dia berteriak.


“Jell!!!”


Mai berlari menuju Jell, pijakan yang panas tidak dia rasakan karena saking senangnya dia melihat Jell. Mendekatinya, wajah Jell sedang tersenyum masam dengan keringat menumpuk ditambah dia juga kelelahan. Jell yang kaget dengan kemunculan Mai seketika teralihkan dan dengan wajah cemas dia menyuruh Mai untuk tidak masuk ke lubang panas itu, akan tetapi Mai tidak mendengarkan dan tetap berlari menuju dirinya.


Mai berlari sambil menangis dan ketika dia bertemu dengan Jell, secara langsung dia memeluknya. Jell yang kebingungan melihat perlakuan Mai, hanya diam dan mengkhawatirkan Mai yang tampaknya tersiksa karena panas.


Jell menyuruhnya untuk pergi ke atas dulu karena suhu di dalam lubang sangat panas. (Tambahan, Jell dan Mai tidak terlalu terganggu dengan panas dari lubang, itu di karenakan pertahanan atau “Diff” dari Plat Status mereka sudah menunjukan level maksimal.)


Melompat dengan sekuat tenaga, sambil menggendong Mai dengan posisi memeluk tuan Putri, Jell dan Mai keluar dari lubang 3 meter. Suhu di luar lubang lebih dingin, dan Jell merasa sangat nyaman di sini. Alasan Jell menggendong Mai, karena Mai tidak mau melepaskannya. Jadi untuk berpindah tempat terpaksa Jell harus memeluknya.


Jell yang setibanya di atas seketika terjatuh dengan posisi duduk. Mai tetap memeluk di dadanya, dan tidak ada tanda-tanda dia akan melepaskannya waktu dekat. Mai dengan kuat menggenggam sebagian pakaian Jell yang tersisa dan menutupi wajahnya. Jell yang kelelahan dan kondisi Mai yang seperti itu, membuat dia senyum masam dan dengan tenaga yang tersisa dia mengusap kepala Mai. Terjatuh lagi dan terlentang, dan juga Mai tetap memeluknya tanpa kesusahan. Jell yang merasa tidak enak menanyakan kondisinya, dan Mai tidak menjawabnya sepatah katapun, menyerah Jell membiarkannya dan sambil memandang langit dungeon.


***


Itu adalah satu dari berbagai hal merepotkan yang Jell dan Mai hadapi di lantai ke-16, memang merepotkan tetapi dia tidak memedulikan itu. Pakaian Jell yang tinggal setengah terbakar masih di pakai, itu karena mereka tidak berpikir untuk membawa pakaian ganti.


Situasi hening dan Mai tertidur, dan tentu saja Jell menjadi bantal. Dia tertidur sesaat setelah dia bersemangat dan itu cukup aneh bagi Jell. Dungeon tidak berisik dan juga tidak terlalu sunyi, ada beberapa kali suara angin yang melewati langit-langit dungeon, dan juga ada sedikit suara-suara raungan monster. Bisa di katakan ini hal biasa di dalam dungeon, apa lagi dungon yang secara misterius muncul di tengah hutan ini. Jell masih meratapi keheningan dan memandang sekitar tempat mereka.


“Sepertinya gerbang selanjutnya masih jauh.”


Jell merenung sambil menyuarakan isi kepalanya, Mai tidak menjawab karena dia sedang tertidur. Jell yang merasa bosan berbicara sendirian berencana untuk memeriksa beberapa tempat di sekitana mereka, melihat apa ada hal yang menarik, atau adanya harta karun di sini. Sejauh ini, harta karun yang didapatkan olehnya adalah, kristal sihir dengan berat sekitar 60 Kg. Bagi manusia biasa mengangkat beban seperti itu hanyalah monster, tetapi karena kekuatan dan status mereka yang sudah melebihi manusia normal, maka itu bisa jadi pengecualian.


Harga satu Kg kristal sihir adalah sekitar 10,000 – 100,000 Rumiah. Dan itu di tentukan oleh kualitas dan jumlah mana murni yang ada dalam kristal sihir. Dengan harga yang begitu menggiurkan, tidak aneh jikalau ada orang yang memiliki kristal sihir, maka dia akan menyembunyikannya dan tidak akan memperlihatkan pada seseorang, sampai dia tiba di tempat gadai. Dan alasan lainnya, rawannya penjahat yang tergiur oleh harganya.


“Kami dapat sebanyak ini..., untung saja kami membawa tas besar khusus yang di lengkapi sihir untuk menaklukan dungeon ini. Jika kami tidak membelinya, mungkin jumlahnya tidak akan sebanyak ini.”


Jell yang sedang berjalan untuk berjaga, mengingat tentang kristal sihir yang harganya sangat mahal. Dan entah kenapa dia seketika tersenyum, “Jika kami menjualnya, dan kualitasnya mencapai harga tertinggi … sudah dipastikan kami akan menjadi orang kaya mendadak.” Adalah apa yang dia pikirkan sedari tadi. Jell dengan melakukan perhitungan masa depan uangnya itu, teringat dengan fakta yang sedikit di sayangkan. Itu adalah bahwa banyak kristal sihir yang tidak dapat mereka ambil selama perjalanan, itu di karenakan kapasitas tas mereka sudah sangat penuh dan tidak ada lagi tempat untuk menambah kapasitas.


“Hah..., sangat di sayangkan. Jika aku ada item yang bisa menyimpan barang dengan menggunakn sihir ruang, aku pasti akan membelinya. Tapi apa di dunia ini ada pengguna atau ada artefak yang memiliki sihir ruang ya? Aku tidak tau banyak tantang dunia ini. Aku ingin ke perpustakan untuk menambah informasi, tapi kami terlalu sibuk dengan pekerjaan di guild.”


Jell yang merasa sok sibuk, dia tertawa dan merasa mereka adalah harapan guild. Adalah isi kepalanya kali ini.


Jell tidak menyukai sikap rakus maupun sombong, itu sebabnya dia tidak pernah pamer akan sesuatu kepada orang-orang saat di bumi. Kalau pun dia pernah melakukan, itu hanyalah sebagai lelucon untuk menambah kemeriahan. Tapi untuk saat ini menyebutkan Jell memiliki sikap-sikap itu, sepertinya memang begitu.


***


Masih melakukan pemantauan, Jell tiba di sebuah lapangan pasir besar. Besarnya sama dengan tempat kuburan anjing berkaki enam waktu itu. Jell berjalan di atas dengan berhati-hati untuk melihat apakah ada sesuatu yang menarik di pasir ini. Jell memegang pasir dan mencoba menggunakan sedikit pengetahuannya tentang pengukuran tingkat sihir di suatu benda.


Dari prediksi yang dia lakukan, sudah dipastiiak kalau pasir ini adalah pasir sihir yang memiliki efek menelan dan mengurangi mana milik target. “Pasir hisap di dunia ini lebih berbahaya dari bumi.”, sambil menggenggam pasir Jell membandingkan antara dunia ini dengan dunia lamanya.


Mengurangi mana milik target, itu memang sangat berbahaya. Di dunia ini bukan hanya energi atau stamina yang di perlukan, “Mana” adalah salah satunya. Mana adalah sumber kekuatan dan energi dari seseorang. Bukan hanya manusia, tetapi semua ras, monster, dan juga binatang memiliki mana. Dan jika ada kondisi saat mana habis, maka sudah di pastikan kekuatan orang tersebut menurun 50%. Oleh karena itu, jika tenggelam di pasir hisap ini maka kemungkinan selamat hanyalah 10% - 1% saja.


Di dalam renungan Jell yang meneliti seberapa berbahaya pasir hisap, seketika terahlihkan dengan cepat. Dia merasakan tekanan yang kuat dari arah belakangnya, dan saat menoleh tidak ada apa-apa di sana. Tekanan yang berupa dari hewan atau monster besar, yang memiliki kekuatan yang bahkan lebih berbahaya dari pada gerombolan BatBird. Berdiri dan memastikan akan apa yang dia rasakan tadi membuat dia sedikit merinding, hal semacam itu tidak bisa Jell lewatkan karena itu akan berdampak pada perjalanan mereka nanti.


Tetap tidak menemukan apapun Jell memutuskan pergi dari lapangan itu. Dan sekali lagi berkeliling untuk berpatroli.


***


“Ahh~, Kau dari mana saja? Mouh~ Kau tau aku mencemaskanmu loh~”


“Hm? Ah … maaf, Aku habis bepergian untuk memeriksa sedikit lingkungan saja.”


Jell selesa berpatroli dan kembali di tempat mereka beristirahat. Di sana Mai terlihat berdiri sambil melihat kesana sini, sepertinya dia mencari Jell.


Setelah Jell menceritakan semua yang dia lakukan tadi Mai seketika berkomentar yang membuat Jell sedikit terkejut.


“Ehh…, Jika benar kau bertemu dengan makhluk itu, bukankah dia makhluk penghuni di dalam pasir ini?”


“Penghuni pasir?”


“Ya! Contohnya mungkin cacing raksasa.”


“Cacing raksasa, ya? Dan jika itu benar, Kita harus segera menemukan gerbang ke-20 dengan cepat agar tidak berhadapan dengannya.”


“Nn~!”


Mai mengangguk dengan pendapat Jell, dan Jell mengkonfirmasi itu. Mereka harus menemukan jalan menuju gerbang ke-20 jika mereka tidak ingin menghadapi monster yang bisa hidup di dalam pasir hisap yang juga bisa menghisap mana.


***

__ADS_1


__ADS_2