BATTLE OR ALIVE

BATTLE OR ALIVE
Chapter 22: Special Quest


__ADS_3

Keheningan memenuhi kamar, sosok Kitsune melayang di depan Jell, Mai, dan Emma. Rubah berekor tiga melayang dengan bulu seputih susu, dan yang paling menonjol darinya adalah logo Mitsu Tomoe yang terdapat di dahinya.


(TN: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Tomoe)


Melambangkan sosok yang agung, rumah ekor tiga itu melayang menuju Emma. Emna yang di tuju hanya diam dan memandang rubah ekor tiga melayang dan menatapnya. Rubah melayang dan hinggap di depan wajah Emma, menyentuh dahi Emma tiba-tiba cahaya muncul di antara keduanya.


Cahaya mulai meredup dan yang terlihat adalah sosok rubah ekor tiga telah menghilang dan berubah menjadi sebuah kalung. Kalung itu melayang dan memasangkan dirinya sendiri di leher Emma.


“Apa itu tadi?”


Jell yang sulit memahami situasi membuka suara untuk bertanya, tapi orang-orang tidak menjawabnya dan tetap diam. Mai tampak tidak berkata-kata, dia terkejut dengan sosok rubah itu, apa lagi aura yang di pancarkan oleh rubah ekor tiga tadi.


“J-jadi, kita bisa bilang itu sukses?”


Mencoba untuk mengganti suasan agar tidak canggung, Jell berkomentar apakah ini berhasil. Emma yang melihat kalung yang dia pakai, dan dia mengangguk sambil mengatakan bahwa dia merasakan aliran mana dari kalung itu.


Aliran mana yang di pancarkan kalung memenuhumi dan menelusuri seluruh tubuh Emma, tentu dia bisa merasakan hal itu. Tapi ada yang aneh dengan rubah ekor tiga tadi, apaka merka berhasil memanggil mahluk yang seharusnya tidak mereka panggil.


***


Waktu masih menunjukan sore hari, Jell dan Mai yang selalu aktif dalam latihan mereka, memutuskan untuk melakukan latihan sore, dan tentu bagi Emma yang sudah menjadi bagian keluarga mereka akan ikut dalam latihan tersebut.


“Emma ayo coba panggil mahluk itu lagi.”


“Baiklah!”


Dalam latihan kali ini, Jell menyuruh Emma untuk manggil rubah ekor tiga itu lagi, alasannya untuk melihat seberapa kuat kekuatan dari mahluk itu.


Rubah ekor tiga di panggil, kalung yang di gunakan Emma seketika bersinar samar dan tepat muncul di depannya adalah rubah yang ekor tiga.


(Rubah itu muncul seperti aku memanggil Obsidian Sword milikku, apa mahluk itu termasuk class weapon.)


Jell melihat dan mengamati rubah itu, dia memegangnya dan untuk ukurannya dia seperti anak rubah. Emma yang melihat Jell yang sedang memeriksa rubah itu membuat wajah suram.


Jell menyadarinya dan hanya membuat senyum dan menjelaskan, dia tentu tidak akan menghancurkan mahluk ini bukan? Lagi pula mahluk ini sangat imut.


Emma tetap tidak percaya dengan perkataan Jell dan masih membuat wajah suram, untuk Jell dia seperti bersalah saat terakhir kali tapi tenag saja. Jell mengecek seluruh tubuh dari mahluk pemanggilan itu, dia melakukan hal yang sama dengan mahluk pemanggilan terakhir kali.


Membuka matanya lebar-lebar setelah mengecek semua bagian dari rubah itu, Jell mengembalikan kepada Emma. Tentu ekspresi yang Jell tunjukan tadi itu adalah sesuatu yang besar, jadi untuk tau itu Mai menanyakannya.


“Apa ada sesuatu lagi?”


“Ah, sesuatu yang sangat gila telah aku dapatkan.”


Untuk perkataan samar Jell, Mai masih menggantung tanda tanya di kepalanya dan begitu pula Emma.


“Sudahi itu, bagaimana kalau kita coba seberapa kuat mahluk ini.”


Pembicaraan bergantung, kali ini mereka akan mencoba seberapa kuat mahluk ini.


Emma mengambil posisi, memandang padang rumput yang indah, Emma dan mahluk itu masuk dalam mode serius. Untuk Emma yang menjadi tuan dari makhluk ini dia bisa menyuruhnya berbuat apa saja, dan itulah yang ingin Jell ketahui saat ini.


Membentangkan tangannya kedepan, Emma merapalkan rapalan dan gerbang sirih tidak muncul di mana-mana. Untuk kejadian ini Jell dan Mai langsung mengangkat wajah serius akan kondisi itu.


“Terbakarlah hingga menjadi abu, Flame!”


Skill tingkat ‘C’ di keluarkan oleh Mai untuk pengujian pertama rubah ekor tiga itu. Setelah merapalkan rapalan skill dan nama skill masih saja tidak ada gerbang suhir yang muncul dia manapun, akan tetapi rubah ekor tiga bereaksi terhada skill yang Emma keluarkan.


Mengangkat dagunya dan melakukan posisi menahan nafas, lalu menghembuskan nafas api dia dengan tekanan tinggi keluar dan bergejolak keluar, itu berasal dari rubah ekor tiga ini.


“Jadi seperti itu.”


Jell memahaminya dan akhirnya tau bagaimana sistem mengatur kontak antara pemanggil dan mahluk yang di panggil.


“H-hebat! Onii-chan, apa kau melihat itu?”


“Ah! Aku melihatnya.”


Emma yang bahagia ketika melihat potensi yang di lakukan oleh rubah ekor tiga, dia ingin kakaknya juga ikut melihatnya.


Emma mendekati mereka berdua dan Jell menanyakan ada berapa hal yang berbeda dari sebelum dan sesudah melakukan kontrak dengan rubah ekor tiga.


Emma menjelaskan semuanya, dia berkata bahwa dia mendapatkan satu elemen tambahan pada mana miliknya, itu adalah elemen api. Jell berasumsi bahwa kondisi itu diakibatkan oleh mahluk yang emma panggil ini adalah mahluk dengan mana api.


Ke-2 Emma merasakan bahwa kekuatannya bertambah sekitar 10% setelah melakukan kontrak.


Dan yang akan terakhir dia bisa mendengar sedikit bisikan-bisikan dari rubah ekor tiga itu, apa itu adalah telepati atau karena hubungan keduanya.


“Terdengar bagus. Jadi, saat ini Emma sudah menjadi lebih kuat. Untuk itu, Emma harus mengunakan kekuatan itu sebaik-baiknya, aku tidak ingin bilang harus jadi orang baik, dan tidak mengatakan harus menjadi orang jahat. Tapi aku hanya ingin bilang, tetaplah menjadi dirimu sendiri dan ikuti apa kata hatimu.”


“Onee-chan...”


“Benar Emma, lagi pula Emma bersama dengan kami berdua, kami akan melatih Emma hingga sekuat yang kau mau.”


“Onii-chan... Nn, aku mengerti!”


““Baguslah kalau begitu.””


Pujian dan saran kehidupan di sampaikan dari kedua sosok kakak yang Emma Kagumi, dia sekarang sudah jauh lebih kuat dan bukan lagi Emma yang lemah, dia akan menjadi lebih kuat dan tetap menjadi dirinya sendiri.


Untuk latihan hari ini telah selesai, mereka betiga bergegas karena waktu sudah mulai malam. Makan malam, mandi, dan bersiap tidur.


***


Saat ini, Mai sedang di hadapkan dalam kesulitan yang teramat sulit, dia ingin berteriak dan mencengkeram kerah baju mikik Elf dada besar yang sedang berdiri di hadapannya.


“Apa kau bilang, dasar kau sialan!”


“Sudah, tekanglah.”


“Maaf atas ini Jell-san, tapi mau bagaimana lagi.”


“Tidak masalah Yinn-san, lagi pula kami sedang mencari kesibukan.”


“Jell dasar kau penghianat, aku atau Elf sialan ini kau pilih siapa?”


“Baiklah ayo kita pergi.”


“Ap- Jell tunggu! Turunkan aku!”


Menggendong Mai di bahunya, Jell membawa Mai secara paksa dan pergi untuk misi. Untuk Emma di kondisi itu hanya diam menatap kehidupan macam apa yang akan dia alami bersama mereka berdua.


Untuk apa yang terjadi mari mundur 30 menit lalu...


Pagi itu untuk memulai hari Jell dan kelompoknya memutuskan untuk sarapan di guild, saat ini adalah jam 6 pagi dan di jam seperi ini toko-toko masih tutup.


Untuk apa mereka bangun sepagi itu adalah bukan untuk melakukan misi ataupun kegiatan seperti latihan, ini hanyalah satu dari banyak hal yang sudah menjadi kebiasaan Jell dan Mai saat mereka masih di bumi, bangun pagi untuk sekolah.


Tapi untuk sarapan pagi mereka saat ini terjadi sesuatu yang berbeda, Yinn sang ketua guild berlari menuju mereka sambil membawa sebuah lembaran. Mai yang melihatnya seketika beranjak dan mencoba untuk lari, tapi sayang sekali Jell tepat memegang jubahnya dan menahannya.


Mai terlihat putus asa saat dia di tahan oleh Jell, dia tau bahwa apa yang akan Yinn sampaikan kepada mereka pastilah hal yang sangat merepotkan. Jadi untuk menghindarinya dia harus lari.


Tapi berbeda untuk Jell, seharusnya Yinn sudah berjanji kepada mereka untuk mendapatkan cuti selama sebulan penuh tanpa ada gangguan guild sekalipun. Tapi kini Yinn malah berlari menuju mereka sambil membawa sebuah berkas, pasti dia ingin menyampaikan sesuatu yang penting kepada mereka, jadi meri dengarkan.


Yinn sampai di meje mereka, dia terdesah kelelahan dan membuka matanya dia menadang ketiga orang yang sedang makan.


“Jell-san untunglah kau ada di sini, aku benar-benar minta maaf akan hal ini tapi, ini benar-benar tidak bisa di hindari.”


“Tidak apa, tapi memangnya kini apa yang terjadi.”


Sambil menghembus kan nafasnya dia memberitahukan apa yang terjadi.


“Ah, ah, itu, ada sebuah permintaan spesial untuk kalian berdua.”


“Permintaan spesial?”


Kondisi ini adalah pertama kalinya untuk mereka, selama ini Jell dan Mai jika ingin melakukan quest pasti di bantu oleh Yinn atau mereka bisa memilih sendiri, tapi mendapatkan permintaan spesial merupakan pertama kalinya bagi mereka berdua.


“Benar, permintaan spesial adalah hal yang wajar bagi petualang peringkat hitam, dan permintaan ini merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan popularitas petualang dan guild itu sendiri.”


“Benar, seperti yang Emma katakan. Kalian berdua mendapat permintaan spesial dari seseorang.”


(Emma? Apa dia memang sudah tau?)


“Walaupun kau bilang begitu, sebenanya siapa orang yang memberikan quest ini?”

__ADS_1


“Dia adalah orang yang pernah kalian bantu, dia adalah Soyutu Meyer.”


“Soyutu-san?”


(Meyer? Bukankah itu bahasa Jerman?)


Mereka mengganti tempat pembicaraan, dan sekarang berada di kantor Yinn.


Untuk misi kali ini, ternyata Soyutu-san lah yang memaksa Yinn untuk memberikan misi ini kepada mereka. Yinn sebenarnya sudah menolak karena alasan cuti, tapi Soyutu tetap keras kepala dan tetap mekaksakan untuk memberikan mereka berdua menyelesaikan quest itu.


Dan misi kali ini adalah...


***


“Ah! Apa-apaan memotong daging ini. Bukankah Soyutu-san pikir kita ini adalah seorang pelayan?”


“Sudahlah, kau berisik.”


Saat ini Jell, Mai dan juga Emma sedang menelusuri hutan ‘Tree Kaze’ dan menuju ke desa Yull. Sudah lama sekali setelah terakhir kali mereka lewat di hutan ini, itu tepat setelah mereka menyelesaikan misi ekspedisi di dengeon.


Jell yang melihat pemandangan hutan sekarang merasa lega karena desa Yull sudah terjamin aman karena dungeon yang muncul sudah menghilang. Dalam hal dungeon ini sistem sangat berpengaruh untuk menjaga keseimbangan, setelah menyelesaikan dungeon hingga garis akhir, maka dungeon tersebut akan di tutup otomatis dan menghilang, itulah sistem yang bekerja pada kasus ini.


Hanya membutuhkan beberapa menit untuk sampai ke desa Yull, jadi pemandangan hutanlah yang menjadi daya tarik mereka agar tidak bosan berjalan kaki.


“Hisk... Jell, aku lelah.”


“Ha? Jangan bilang kau mau aku gendong di depan Emma.”


“Apa masalahnya, aku sudah lelah. Jell gendong.”


Sedikit kecewa karena mengirah sikap arogan dan malas Mai hilang semenjak kedatangan Emma di keluarga mereka, akan tetapi bukan namanya Mai jika dia akan bersikap feminim untuk waktu yang lama.


Menggendong Mai di punggungnya dan membawanya menelusuri hutan, Mai benar-benar tidak memiliki urat malu karena dia di tatap oleh Emma gadis 13 tahun.


Emma menatapnya dengan wajah yang sedikit aneh saat dia melihat Mai. Itu tentusaja, karena Mai membuat wajah bodoh saat Jell menggendongnya, menjadikan Jell sebagai kuda miliknya sambil mengayunkan tangannya menyuruh Jell untuk lari.


Jell yang melihat tatapan Emma mencoba menjelaskan bagaimana sikap dan kebiasaan buruk Mai ketika mereka menyelesaikan misi. Tapi jawaban yang Emma berikan berbeda, ketika Jell menatapnya untuk bercerita Emma dengan cepat memalingkan wajahnya, untuk sikapnya itu Jell hanya bingung dan bertanya ada apa.


“Emma, apa ada sesuatu?”


“T-Tidak, bukan apa-apa.”


“Hm, kalau ada sesuatu katakan, ya.”


Emma berpaling dan menjawab pertanyaan Jell dengab tidak melihat wajahnya, wajahnya memerah, apa itu hanya perasaanku? Kata Jell saat dia melihat sepertinya wajah Emma memerah.


Menulusuri hutan dan selamat hingga menuju desa Yull. Memasuki dan berpaspasan dengan penjaga dan langsung menuju ke tempat Soyutu berada, yaitu tempat peternakan miliknya.


Berjalan mengelilingi peternakan, jika di lihat dengan seksama luas peternakan milik Soyutu benar-benar besar. Sedikit berkeliling dan berjumpa dengan Soyutu di depan Lumbung warna merah.


“Hei, kalian akhirnya samapai.”


Menyapa mereka bertiga, Soyutu mengangkat tangannya dan melambaikankannya. Dia merasa senang ketika melihat mereka berdua baik-baik saja setelah pertemuan terakhir mereka yang sudah lama. Tentu saja dan tanpa terkecuali untuk Soyutu, dia melihat ada tambahan satu orang lagi di party milik mereka, Soyutu bertanya siapa Emma.


Jell menjelaskan dan memperkenalkan mereka. Namanya Emma, anggota keluarga baru mereka.


“Hei, Soyutu-san, bukankah kau mau manggil kami hanya untuk menyuruh-nyuruh kami? Lagi pula apa itu misi memotong daging, aku tidak pernah mendengar itu.”


“Oh, kau bersemangat sekali Mai, apa kau sudah tidak sabat memotong daging? Kahahaha, kau pasti akan aku berikan bagian yang besar.”


“Oi, dengarkan aku!”


““Hahaha...””


Kesalahan Soyutu untuk memberi pekerjaan ekstra untuk Mai yang bersemangat membuat Jell tertawa, dan bukan hanya dia tapi Emma ikut tertawa melihat tanggapan Mai ketikan Soyutu salah sangka.


“Haha, wajah Onee-chan, aneh.”


Untuk pertemuan setelah sekian lama di awali dengan tawa, bukan pertemuan yang buruk dan mungkin hari ini tidak akan se merepotkan dulu, kata Mai dalam hatinya.


1 jam kemudian...


“Sialan! Sudah aku duga ini tidak akan seperti yang aku kira.”


Terlihat Emma dan Soyutu saat ini sedang menaiki gerobak dengan bantuan mahluk pemanggilan untuk menarik kereta. Jell berada di samping kanan kereta sambil mengambil posisi siap bertarung, dan untuk Mai, dia berada di barisan paling depan, dia memimpin.


Tapi bukan hanya memimpin biasa, saat ini Mai sedang berlari sekuat tenaga karena sedang di kejar oleh sapi raksasa.


Kondisi saat ini adalah kondisi dengan tempo yang cepat, gerobak milik Emma dan Soyutu berjalan sangat cepat ditarik oleh mahluk pemanggilan untuk mngukuti kecepatan sapi raksasa, dan untuk Jell, dia tidak perlu tumpangan karena status miliknya bisa menyaingi kecepatan mereka.


Mai yang berteriak kehilangan harapan sambil berlari dari kejaran sapi raksasa, dan di ikuti dari belakang oleh Jell dan lainnya.


“Bagus Mai, kau tinggal memandunya hingga keluar hutan dan kita serang dia di sana.”


Soyutu dengan semangat sambil memegang tali kendali gerobak.


Tujuan misi mereka kali ini, adalah untuk membantu Soyutu untuk memotong daging Sapi Raksasa. Tapi karena sapi yang akan di sembelih belum ada, jadi Jell dan lainnya harus mencarinya dulu dan memotongnya.


Dan alasan Mai yang sedang dikejar di karenakan saat mereka mendapatkan target Soyutu menjelsankan bahwa di memerlukan seorang relawan untuk menjadi target sapi raksasa dan memandunya hingga kelaur hutan. Dari perundingan mereka menentukan untuk memilih relawan menggunakan suit, Jell dan Mai adalah yang berpatisipasi.


“Fufufu, siapkan dirimu Jell, karena kau harus lari dari kejaran sapi itu.”


“Kau seperti sudah memang saja mengatakan itu. Aku tidak akan berbelas kasih, loh.”


Mengambil posisi masing-masing, Jell dan Mai akan menentukan siapa yang akan menjadi relawan untuk memandu sapi raksasa agar keluar hutan.


““Tiga permainan, satu pemenang dan satu pecundang!””


Keduanya dengan aura menekan siap mengeluarkan pilihan masing-masing.


“Batu.”


“Gunting.”


““Kertas.””


...


Tiga ronde talah selesai, salah satu dari mereka ka saat ini sedang memasang wajah hitam dia adalah Mai. Dengan poin 2-1 dia kalah di ronde terakhir karena menggunakn kertas.


“Bailah, Mai. Mohon panduannya, ya.”


Dengan nada mengejek Jell sedikit tertawa di ujung perkataannya dan Mai sadar akan hal itu.


“Ayo Mai, kita tidak punya wak- oi, apa yang ingin kau lakukan?”


Jell di peluk dari depan oleh Mai, menempelkan kedua gunungnya ke tubuh Jell, dan menyandarkan kepalanya di dada Jell, membuat pelukan yang di lakukan oleh Mai bukanlah pelukan biasa tapi spesial.


“Oi, lepaskan aku.”


“Jell, aku mencintaimu.”


“Ha? Apa yang kau katakan tiba-tiba.”


“Suka, aku menyukaimu Jell, suka, suka, suka, aku bahkan tidak bisa menyampaikan seberapa aku suka padamu.”


“Ah, aku juga menyukaimu.”


“Hm, aku senang. Kau tahu, di saat seorang gadis sedang dalam kesusahan, pasti sang pria akan-“


“Apa kau pikir aku akan melalukan hal itu? Kita sudah menentukannya lewat batu gunting kertas, jangan bilang kau mau melanggarnya?”


Memeluk Jell lebih kuat lagi, kini dia menagsi dan menyeka air matanya ke jubah miliknya.


“Kumohon, satu kali, kali ini saja aku mohon. Aku akan melakukan apa saja, gadis cantik sepertiku akan melakukan apa saja, kau harusnya berterima kasih.”


Memeluknya dengan paksa, Jell membuat wajah yang jengkel karena sikapnya ini.


“Menyebut dirimu cantik itu memuakkan.”


Memukul kepalanya, Mai jatuh ke tanah sambil kepalanya berasap.


Dan setelah mendapatkan pukulan itu, Mai berhenti menangis dan mulai memancing sapi raksasa yang tertidur.


***

__ADS_1


Merka sekarang tinggal beberapa meter lagi akan keluar dari hutan, Mai menambah kecepatannya tapi masih menyeimbangkan dengan jaraknya dengan sapi raksasa agar tidak berpaling dan menyerang Emma dan Soyutu di belakang.


Keluar dari hutan, misi untuk memancing sapi raksasa keluar hutan telah berhasil, dan saatnya untuk mengalahkannya.


Mai yang selesai memancing sapi keluar, dia langsung lari dan pergi itu dan bersembunyi, saat ini Jell yang akan ambil ahli.


“Emma bersiap di posisi, aku akan memancingnya. Kau tahu apa yang harus di lakukan, bukan?”


“Baik, aku sudah siap.”


Jell maju dengan menggunakan pedang di punggungnya, kalau di perhatikan pedang yang di gunakan Jell untuk melawan sapi raksasa, dia tidak melepaskan sarung pedangnya.


Maju sambil memukul di beberapa daerah sapi raksasa, Jell bertujuan untuk melemahkannya dan setelah persiapan selesai Emma yang akan menghabisi sapi raksasa. Itulah rencana Jell untuk melihat seberapa kuat rubah ekor tiga miliknya itu.


“Onii-chan! Aku sudah siap.”


Tidak sampai lima menit Emma berteriak bahwa dia telah siap untuk serangan. Jell membuat senyum menyeringai melihat seberapa cepat dia saat pertempuran.


“Baiklah, Emma lakukan!”


Memberikan tendangan terakhir yang mengenai bagian bawah kepala sapi, membuatnya terangkat cukup tinggi. Jell melompat keluar dari lintasan dan memberikan kode perintah kepada Emma.


“Dengan seluruh jiwaku, Flame!”


Membentangkan tangannya kearah sapi yang sedang berpijak dengan dua kaki, Emma membacakan lantunan dan skill yang di gunakan.


Mendengar perintah dari tuannya, rubah ekor enam itu dengan langkah cepat mengambil posisi di depan Emma dan mulai memunculkan lingkaran sihir di mulutnya dan nafas api membara berhembus dan membakar sapi raksasa.


Api berkobar hebat menghantam sapi raksasa, namun Emma sudah di beri satu perintah oleh Jell untuk tidak menghanguskan sapi itu dengan sekali serangan, dengan kata lain Jell hanya mencoba melihat seberapa baik Emma dalam menahan serangan yang dia lakukan. Tentu saja itu sangat penting untuk bisa menahan serangan yang kita lancarkan.


“Walau sudah aku bilang jangan berlebihan, api ini tetap saja menakutkan.”


Jell terkesan dengan skill yang Emma keluarkan, dia saat ini terpana.


(Sebenarnya mahluk apa yang dia panggil?)


Bisikan itu memenuhi pikirannya.


***


Berlari menelusuri hutan sambil di kejar oleh sapi raksasa, merupakan mimpi buruk bagi Mai yang saat ini sedang duduk dan membeku sambil aura hitam muncul di mukanya.


Jell menyadarinya dan menghampirinya, mencoba untuk menghiburnya agar lebih baik, dia bermaksud untuk memberikan dia sebuah hadiah karena usahanya dalam memancing sapi raksasa keluar hutan.


“Hei, Mai. Kau sudah melakukannya dengan sangat baik, apa kau menginginkan sesuatu? Harus yang wajar-wajar, ok.”


“Hm? Aku hanya ingin tiduran sambil baca komik.”


“Sudah aku katakan yang wajar, bukan. Tapi komik, ya? Ah, bagaimana kalau cerita panda pemberani?”


Menyebutkan alternatif lain untuk permintaannya, Mai ketika mendengarkan membuka matanya dan wajahnya sedikit lebih bersiaran dari sebelumnya.


Dia menatap sambil bersemangat. Emma yang melihat cepatnya pergantian suasana hati Mai sedikit membuatnya penasaran tentang Jell katakan tadi, cerita panda pemberani, seperti cerita anak-anak saja.


“P-panda pemberani, kau bisa membuatnya?!”


“Ahh, tentu saja.”


Emma semakin penasaran dengan pembicaraan mereka, dia sebenarnya bukanlah anak yang sering kepo tentang kehidupan seseorang, tapi kerena Jell dan Mai merupakan orang dari dunia lain membuatnya sulit mengikuti arus pembicaraan mereka.


“Anu, panda pemberani, itu apa?”


“Oh, Emma juga ingin melihatnya?”


“Nn!”


Emma sekarang sudah mulai terbuka tentang perasaan yang dia simpan, merupakan salah satu aturan melarang untuk budak berbicara dengan tuannya tanpa di perintah, sekarang Emma bukan lagi seorang budak dan sekarang dia hanyalah anak umur 13 tahun biasa.


Membuat suasana Mai kembali ceria, Jell sekarang memintanya untuk segera membantu mereka agar mereka bisa cepat pulang.


“Ayo kita selesaikan dan menonton cerita panda pemberani!”


“Sudah tambah semangat.” Jell melihat sikapnya


“Oh, Mai kau masih bersemangat saja, seperti yang kau minta tadi, ini aku sudah menyiapkan  bagian paling besar untukmu.”


Soyutu telah melakukan sesuatu yang sangat buruk, kali ini vena muncul di kepala Mai, dia sudah di ambang batas.


“Oi, tua bang-!”


“Ah, kami segera ke sana Soyutu-san.”


Mai yang sudah di ambang batas langsung di hentikan oleh Jell ketika dia ingin memaki Soyutu, Jell tau bagaimana perasannya ,tapi memaki orang tua adalah dosa yang sangat besar, itu alasan kenapa saat ini mulut Mai sedang di bungkam oleh Jell.


...


Memotong, memisah daging dari hasil buruan mereka, saat ini Jell dan lainnya sedang melakukan misi utama mereka, memotong daging.


Mereka melalukan pekerjaan mereka dengan giat, sambil membiarkan pembicaraan yang lucu, dan kejahilan Mai yang kadang kembuh. Mereka saat ini memancarkan cahaya kehangatan.


“Benar juga, Soyutu-san, aku mau tau alasan kau menyewa kami. Padahal kau seharusnya sudah di beritahu kalau kami sedang libur, bukan?”


“Hm? Ah. Itu karena janji yang kita buat lalu.”


Mendengar alasannya membuat Jell sedikit bingung, apa yang dia bicarakan.


“Waktu itu aku pernah mengatakannya bukan? Saat kalian pertama kali membantu memusnahkan kelinci-kelinci itu. “...Dengan itu, kalian bisa membeli peralatan baru yang lebih Bagus. Dan jika sudah tercapai, lain kali aku akan meminta bantuan kalian lagi.””


Mendengar apa yang Soyutu katakan, Jell membuka matanya lebar karena dia baru saja mengingat kejadian itu, itu tepat saat mereka mendapatkan bonus darinya untuk membeli peralatan yang jauh lebih bagus, dan saat ini hal itu bisa di katakan telah terwujud.


Jell yang mendengarkannya membuat senyum sambil membalasnya dengan tawa.


***


Misi selesai, mereka bertiga saat ini telah menyelesaikan misi mereka setelah seminggu tidak mengeluarkan kekuatan.


Mereka pulang saat sore hari, memutuskan untuk membangun tenda di perjalanan, untuk sampai ke ibukota masih membutuhkan waktu.


Sebenarnya tidak apa-apa untuk mereka untuk terus melanjutkan perjalanan dan melewati hutan, tapi mereka melakukan itu karena satu alasan, itu adalah fakta bahwa monster akan jauh lebih aktif saat malam hari.


Jadi resiko di seorang oleh Monster yang lumayan kuat meningkat, dan Jell tidak mau mengambil resiko itu.


...


Pagi telah tiba, dan Jell, Mai, dan Emma sekarang telah sampai di ibu kota. Masuk melalui gerbang distrik A, kali ini ada sedikit perubahan, ada penjaga yang menjaga gerbang. Jell sedikit gugup melihat itu, dia sedikit takut karena dia akan ditahan karena statusnya sebagai imigran gelap.


Melewati gerbang dan melewati dua penjaga gerbang, keduanya menyambut dan melihat Plat Status mereka dan menyuruh mereka untuk masuk saja.


“Entah kenapa aku agak gugup.”


“Ehehe, itu karena kau orang ilegal.”


“Hah! Lucu sekali, padahal kita sama saja.”


Menuju guild untuk menyampaikan bahwa misi telah selesai, mereka berjalan melalui jalan biasa. Namun...


(!!!)


Mengeluarkan pedangnya tepat di depan tubuhnya, Jell menangkis sesuatu yang melesat sangat cepat.


Untuk Emma yang melihatnya hanya terdiam, dia tidak melihat dari mana serangan berasal, dan juga tidak melihat bagaimana cara Jell menangkis serangan yang amat cepat itu. Satu hal lagi, kini Mai sudah tidak ada di barisan Party mereka.


(TN : Party – Di artikan sebuah kelompok yang berisi berbagai petualang. Berisi berbagai Class yang saling melengkapi satu sama lain, dan menciptakan kelompok petualang yang kuat.)


“Bagaimana bisa...?”


“Wah, sepertinya kami kedatangan tamu yang kurang sopan, ya.”


Orang yang melakukan serangan kejutan terpanah melihat bagaimana Jell bisa menangkis serangannya dari tempat tak terlihat, akan tetapi tempat tak terlihat ini sekarang hanyalah sebuah nama konyol karena saat ini Mai berada di belakang orang itu.


“Bagaimana bisa-“


Menodongkan Dual Knifenya di lehernya, Mai menuntunnya untuk turun dari bangunan yang tinggi tiga lantai dan menuju ke bawah agar mereka bisa melihat siapa sosoknya.


***

__ADS_1


__ADS_2