
Aryan, masih berdiam diri di depan seorang pasien, yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya. Aryan, melihat Tari, dengan tatapan nanar. Jujur hatinya saat ini sangatlah khawatir, tapi Aryan, pun tidak tahu kenapa sekhawatir ini.
Bayangan semalam kembali terlintas di pikirannya, Tari, si gadis jahil, cerewet, dan periang. Baru semalam Aryan, menghabiskan waktunya dengan Tari, membuat pizza, bercanda, bahkan saling berdebat.
Tapi saat ini, hari ini, Aryan, kembali melihat sisi lain dari Tari, yang lemah tak berdaya.
"Aku selalu mengeluh saat mendengar ocehanmu, tapi sekarang saat kau diam aku merindukan ocehanmu itu. Bangunlah aku yakin kamu gadis yang kuat, aku lebih baik mendengar ocehanmu itu dari pada melihatmu diam seperti ini."
Tanpa rasa Aryan, merindukan sosok Tari, yang periang. Saat dirinya tengah melamun tiba-tiba tangan seseorang mengejutkannya.
"Aku yakin dia baik-baik saja. Dia gadis kuat, kamu tahu sendiri, kan hasil CT Scan itu, tidak ada luka yang serius," ucap Amel, yang menepuk bahu Aryan.
"Oh ya, seorang perawat tadi memberikan ini, katanya ini barang milik gadis ini. Aku rasa lebih baik kamu yang menyimpannya." Amel memberikan, sebuah handphone dan kunci motor milik Tari. Aryan, pun menerimanya.
"Sudah jangan sedih. Lebih baik kau istirahat saja sana, biar aku yang menjaganya. Kau tidak perlu khawatir tidak akan aku biarkan siapa pun mengganggunya." Amel, meminta Aryan, untuk istirahat karena Aryan, belum juga beristirahat setelah menangani Tari.
Aryan, pun pergi ke ruangannya membawa tas juga kunci motor milik Tari. Namun Aryan, tetap tidak bisa menyembunyikan kecemasannya pada Tari.
Aryan, terus melamun memikirkan Tari, hingga sebuah bunyi getaran ponsel pun membuyarkan lamunannya. Handphone Tari, terlihat bergetar seperti ada panggilan yang masuk. Namun, Aryan, tidak berani mengangkatnya.
__ADS_1
Berkali-kali handphon itu berbunyi membuat Aryan, terpaksa menjawabnya. Dengan ragu Aryan, menekan tombol terima pada layar handphone, lalu Aryan, pun mendekatkan benda pipih itu pada telinganya.
"Nak, kenapa tidak menjawab telepon ibu. Apa kamu sudah mendapatkan uangnya? Tetangga kita tidak ada yang punya uang jadi tidak ada yang meminjamkan. Ibu bingung nak, adikmu panasnya semakin tinggi, sedangkan ibu tidak punya uang untuk ke dokter."
Aryan, masih menyimak dan mendengarkan pembicaraan seorang ibu di balik benda pipi itu.
"Tari, nak apa kau mendengar perkataan ibu?" tanya seorang wanita itu yang tak mendengar jawaban dari anaknya.
"Maaf Bu, jika boleh tahu panasnya sudah berapa hari?" tanya Aryan, gugup. Sejenak suara ibu itu terhenti, mungkin merasa aneh karena yang menjawab teleponnya adalah seorang lelaki.
"Maaf, saya bicara dengan siapa? Dimana putri saya?" Aryan, semakin gugup ketika ibu itu bertanya.
"Jadi, anda seorang dokter? Tolong bantu saya, saya bingung sudah tiga hari panas anak saya tak turun-turun."
"Ibu bisa lakukan apa yang saya perintahkan, ini akan sedikit membantu."
Aryan, pun memberikan langkah-langkah untuk mengobati penyakit panas, pada ibu Tari, yang terlihat senang setelah mendapat arahan dari Aryan.
"Terima kasih dokter, terima kasih."
__ADS_1
"Sama-sama Bu, semoga adiknya Tari, lekas sembuh."
"Makasih Dok, jika bertemu Tari, bilang padanya jika ibu menghubungunya."
"Baik Bu."
Sambungan telepon pun di tutup. Aryan, kembali terdiam membayangkan Tari, apa Tari, sangat di butuhkan di keluarganya? Aryan, ingin memberitahukan keadaan Tari, tapi … mendengar perkataan Ibunya membuat Aryan, mengurungkan niatnya.
Ting,
Handphone Tari, kembali berbunyi namun kali ini bukan panggilan yang masuk melainkan pesan whatsapp. Aryan, tak sengaja melihat pesan itu yang muncul pada layar ponsel.
Messege Ibu
Tari, jika kamu sudah mendapatkan uangnya kabari ibu ya nak, jangan lupa nanti transfer. Oh iya bilang pada temanmu terima kasih karena sudah memberi resep obat keadaan Bintang, sudah membaik sekarang.
"Apa karena ini dia pingsan!" monolong Aryan, yang mengira-ngira.
Saat Aryan, ingin membalas pesan itu, tiba-tiba seorang perawat datang memberitahukan jika Tari, sudah sadar. Tanpa menunggu lama Aryan, pun bergegas pergi untuk melihat keadaan Tari.
__ADS_1