
Tari, dan Aryan, sudah sampai di kota Surabaya setelah menempuh perjalanan selama dua jam. Karena mereka menggunakan pesawat untuk perjalanan ke surabaya sehingga tidak harus menempuh perjalanan yang cukup lama.
Kini Aryan dan Tari, sudah berada di depan sebuah rumah, sederhana namun nyaman. Di teras rumah itu terlihat seorang anak laki-laki sedang memainkan pesawat mainannya. Dia adalah Bintang adik Tari, yang masih kecil. Tari, tersenyum matanya mulai berkaca-kaca saat melihat adik kesayangannya itu.
"Bintang!" panggil Tari. Bintang pun menoleh ke arah Tari, yang berdiri di samping Aryan.
"Kakak!" teriak Bintang, lalu berlari menghampiri Tari.
Keduanya kini saling melepas kerinduan dengan berpelukan. Jarak yang jauh, rindu yang tertunda membuat pertemuan itu menjadi kebahagiaan bagi mereka berdua.
"Bintang kamu sehat dek? Adik kakak ini makin tampan dan lucu." Tari, terus mengecup dan mencubit pipi adiknya.
"Kakak sakit." Tari, tertawa saat Bintang mengeluh seraya memegang pipi chuby-Nya.
"Abang siapa?" tanya Bintang polos saat mendongak, kan kepalanya menatap Aryan, laki-laki yang tidak dia kenali.
Aryan, hanya membalas dengan senyuman, sambil mengusap lembut kepala Bintang.
"Dia teman kakak, namanya paman dokter."
"Ish … bisakah tidak memanggilku paman," bantah Aryan.
"Namaku dokter Aryan, kamu bisa memanggilku Kak, Aryan."
"Kalau aku panggil om dokter boleh?" ucap Bintang polos. Aryan, hanya mengangguk lalu tersenyum.
"Hore, aku punya om dokter."
"Ibu, ibu, kakak pulang." teriak Bintang yang berlari masuk ke dalam rumahnya. Tak berselang lama seorang wanita, paruh baya pun keluar.
"Ibu,"
__ADS_1
"Tari,"
Tari, berlari memeluk ibunya yang selama ini ia rindukan. Rasa haru dan tangis menjadi satu. Selama merantau di ibu kota Tari, tidak pernah pulang atau pun bertemu ibunya. Selama ini ia hanya bisa melepaskan kerinduannya pada sambungan telepon.
"Nak, kabarmu baik-baik saja, kan! Ibu merindukanmu." Wanita itu mengusap lembut wajah Tari, yang terus di tatapnya.
"Tari, baik-baik saja kok Bu. Bagaimana kabar Ibu sehat? Ibu tidak menjadi buruh cuci lagi, kan. Pokoknya Ibu tidak boleh melakukan itu lagi, Tari, yang akan bekerja Bu."
"Ibu sehat, lihat badan ibu. Jangan khawatir, lagian kalau Ibu kerja siapa yang mengurus Bintang."
"Tari, merindukan Ibu." Rengek Tari, yang kembali memeluk Ibunya.
"Nak, itu siapa?" tanya Ibunya yang melihat Aryan, berdiri tak jauh darinya.
"Apa dia Bryan? Pacarmu itu."
"Bukan Bu, Bryan, sudah menikah."
"Jangan sebut nama itu lagi Bu, aku dan Bryan, sudah putus. Sekarang aku kenalkan pada Ibu, dia temanku dokter Aryan, Ibu masih ingatkan dokter yang pernah memberi resep obat pada ibu."
"Jadi dia teman dokter mu itu?"
"Iya Ibu, ayok aku kenalkan." Tari, membawa ibunya menghampiri Aryan. Dengan sopan Aryan, mencium punggung tangan ibu Tari. Memperkenalkan namanya, dengan ramah. Ibu Tari, pun sangat menyambutnya dengan baik, bahkan terpesona dengan ketampanan Aryan.
"Om dokter ayo kita bermain," ajak Bintang antusias.
"Bermain apa adik manis." Aryan, menciut lembut hidung Bintang karena gemas.
"Bermain bola Om."
"Oke, ayo!"
__ADS_1
"Asyik." Bintang begitu senang, saat Aryan, tidak menolak untuk bermain dengannya. Bintang dan Aryan pun bermain bola bersama di halaman rumahnya.
Sedangkan Tari, dan Ibunya masuk ke dalam rumah. Mereka berbincang dan saling bergurau. Tari, bercerita tentang kehidupannya di kota, begitu pun dengan Bryan yang menikah dengan sahabatnya.
Ibunya ikut sedih mendengar cerita Tari, yang di khianati sahabat juga pacarnya. Tari, pun mengatakan keadaannya yang sekarang yang sudah tidak bekerja, dan soal uang yang pernah di kirmnya itu bukanlah dirinya melainkan Aryan.
Ibunya merasa terkejut, dengan pernyataan Tari. Dan merasa tidak enak hati karena merasa membebani anaknya.
Setelah lama berbincang mereka pun kumpul bersama di ruang tamu yang hanya duduk di kursi kayu.
"Ibu kedatangan saya kemari ada yang ingin saya katakan kepada Ibu." Aryan, membuka percakapan membuat suasana jadi tegang. Sedangkan Tari, merasa gugup entah apa yang akan Aryan, katakan.
"Memangnya ada apa dokter? Apa ini soal uang itu." Takut jika Aryan, mengungkit soal uang pemberiannya.
"Bukan, saya ikhlas memberinya tidak perlu Ibu ganti."
"Lalu? Ada apa ya Dokter, sepertinya serius."
Aryan, menghela nafas sejenak untuk menetralkan detak jantungnya. Yang sebenarnya saat ini dirinya begitu gugup.
"Saya … huh!" Aryan, kembali menarik nafas
'Aduh kenapa aku yang deg-degan' batin Tari yang semakin gugup.
"Ibu … sa-saya ingin meminta restu. Saya akan menikahi putri Ibu."
Mata Tari, terbelalak begitu pun dengan ibunya sangat terkejut. Tidak pernah terpikirkan sedikit pun jika laki-laki yang baru dia kenal, akan meminta restu padanya untuk mempersunting putrinya.
...----------------...
Aryan, itu baru namanya lelaki sejati haha. Meminta restu wk wk wk
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya 🤗 Jika ada typo komen saja ya othor ya lagi gak fokus nih, hehe