Because Of Pizza

Because Of Pizza
Bab 67


__ADS_3

"Nenek mengirimkanmu makanan aku hanya mengantarkannya," ujar Lala, yang berjalan ke arah meja untuk menyimpan rantang itu. "Nenek khawatir jika kamu belum makan sama sekali makanlah selagi hangat. Aku permisi." 


"Tunggu," ucap Arga, menghentikan langkah Lala. 


"Maukah kau menemaniku makan?"


"Ada yang ingin aku bicarakan tentang desa ini," sambung Arga. Lala, masih diam namun langkahnya berbalik menuju sebuah kursi lalu duduk. Arga, menarik bibirnya beberapa centi melihat Lala, yang tak lagi menghindarinya. 


"Apa yang mau kamu bicarakan tentang desa ini?" tanya Lala, membuat Arga, melangkahkan kakinya lalu duduk di hadapan Lala. 


"Terima kasih sudah meluangkan waktunya." 


"Makanlah aku akan melihat-lihat klinikmu sejenak."


"Kamu tidak makan?" 


"Aku sudah makan."


Arga, langsung membuka rantang lalu memakannya dengan lahap. Terlihat sekali jika Arga, memang sangat lapar. Lala, hanya berjalan-jalan menyusuri kliniknya sampai Arga, selesai makan. 


"Terima kasih karena sudah peduli pada desa ini. Kamu mau mengorbankan dirimu menjadi dokter yang tidak di bayar sama sekali. Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Lala.

__ADS_1


"Karena kamu aku melakukan ini Lala." Kata Arga, namun hanya dalam hati. 


"Itulah yang mau aku bicarakan denganmu," ujar Arga. 


"Duduklah, wanita hamil jangan terlalu lama berdiri." Lala, pun duduk di kursi tadi mereka saling berhadapan. 


"Tadi ada seorang ibu membawa anaknya. Dia sangat berharap jika ada dokter dan klinik untuk selamanya. Jadi … aku berpikir untuk membuka klinik dan menjadi dokter disini. Mungkin aku akan mengirimkan surat pada direktur agar membuka cabang di desa ini. Bagaimana menurutmu?" 


"Idemu sangat bagus. Aku juga berpikir seperti itu tapi … apa kamu yakin akan memberikan pengobatan gratis pada mereka?" 


"Untuk itu hanya orang-orang tertentu yang akan mendapatkan pengobatan gratis. Mungkin hanya pengobatan biasa jika untuk operasi dan lain hal mereka akan di kenakan biaya. Aku juga harus memikirkan peralatan medis yang lengkap, obat-obatan dan … juga dokter pengganti. Aku tidak mungkin bekerja sendiri." 


"Ayah … ibu!" Arga, merasa heran dengan perkataan Lala. 


"Ya, ayahku adalah menteri kesehatan dan ibuku seorang kepala di rumah sakit terbesar di kota. Aku harap mereka akan membantu walau mereka tidak peduli padaku setidaknya peduli pada orang lain." 


"Apa kamu di usir orangtuamu?" Arga, merasa terkejut dan juga merasa bersalah jika Lala, di usir oleh orangtuanya.


"Bukan di usir melainkan di asingkan. Aku tidak peduli apa mereka masih menganggapku anaknya atau tidak, setidaknya mereka harus peduli dan menganggap masyarakat disini yang butuh perhatian." 


"Apa itu karena aku? Apa karena kamu hamil mereka mengusirmu?" 

__ADS_1


"Aku rasa ini sudah malam aku harus pulang." Lala, menghindari pertanyaan Arga, dan langsung berdiri dari duduknya lalu pergi. Jika mengingat hal itu hatinya selalu sesak dan sakit. Jika waktu bisa terulang kembali mungkin Lala, ingin Arga, datang saat waktu itu saat dirinya membutuhkannya. Entah orangtuanya masih mengingatnya atau tidak bahkan mereka tidak pernah menanyakan kabar tentangnya. 


Ah … Lala, mulai meringis saat merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Perlahan Lala, menghentikan langkahnya satu tangannya ia tahankan pada dinding, satu tangannya lagi ia tahankan pada bawah perutnya. 


"Ya tuhan kenapa sakit sekali, apa aku mau melahirkan? Aku harus kuat sampai tiba di rumah." Lala, kembali melangkahkan kakinya namun tiba-tiba kepalanya terasa berputar, membuat langkahnya kembali terhenti. Pandangannya mulai kabur seperkian detik tubuhnya pun tumbang. Beruntung Arga, datang di waktu yang tepat karena khawatir Arga, mengikuti langkah Lala, yang meninggalkan rumahnya. 


"Lepaskan aku Arga, aku harus pulang." 


"Lala, berhentilah menjadi sok kuat. Aku tahu kamu sedang kesakitan, aku tidak peduli mau kamu marah padaku atau membenciku tapi jangan melarangku untuk menolongmu." 


"Darah!" Arga, terkejut saat melihat darah yang bercucuran melewati paha dan betis Lala, darah yang sangat kental dan merah gelap mungkinkah Lala, akan melahirkan itulah yang ada di pikirannya. Namun bagaimana siapa yang akan membantunya di desa itu tidak ada satu bidan pun atau pun dokter kandungan.


"Arga!" panggil seseorang.


Arga, langsung menoleh ke sumber suara. Matanya terbelalak ketika melihat siapa yang datang.


...----------------...


Siapakah yang datang? Semoga Lala baik-baik saja. Eits ... jangan lupa like dan komentarnya


Luv u ❤

__ADS_1


__ADS_2