Because Of Pizza

Because Of Pizza
Keputusan Oma


__ADS_3

Aryan, terus melamun pikirannya saat ini sedang berkecamuk. Aryan, terus memikirkan Tari, yang ada di rumahnya. Apakah bisa menjalankan perannya, atau malah sebaliknya. 


Mengingat Tari, gadis yang ceroboh, jahil, dan menyebalkan Aryan, semakin takut jika Tari, membuat masalah pada Oma nya.


Aaaah … dokter 


"Maaf, maaf, maaf." 


Pikirannya yang sedang berkecamuk membuat Aryan, tidak fokus dalam bekerja. Hingga saat menyiram alkohol pada kaki pasien yang terluka, Aryan, malah menekan luka itu membuat pasien meringis. 


"Dokter kau ini bisa mengobatiku tidak! Malah jadi sakit begini," keluh pasien.


"Iya, maaf-maaf. Saya tidak sengaja sekarang saya obati lagi ya." 


"Jangan keras-keras!" bentak pasien.


"Iya-iya." 


Pertama kalinya Aryan, melakukan kesalahan dan untuk pertama kalinya Aryan, di bentak oleh pasien. Aryan, terus terpikiran pada Tari. Sedangkan Tari, dia terlihat enjoy bersama Oma Rose. Yang kini sedang berada di dapur entah apa yang mereka lakukan.


"Kamu pintar sekali membuat pizza." Oma Rose terus memperhatikan Tari, saat membuat adonan pizza.


"Terima kasih Oma." 


"Apa kamu memiliki kedai pizza?" 


"Tidak, Oma. Dulu aku bekerja di pizza itu sebabnya aku bisa membuat pizza. Dan Oma tahu aku bertemu dengan dokter saat akan mengantarkan pizza." 


"Dokter!" Oma Rose bertanya-tanya siapakah dokter yang di maksud Tari. Tari, yang menyadari salah mengucap pun langsung mengulanginya. 


"Maksudku Aryan, Oma," jelas Tari, sambil cengengesan. 


"Apa kamu suka memanggilnya seperti itu?" 


"Ah, tidak juga Oma. Aku memanggilnya … eum … sayang." 

__ADS_1


"Kamu itu memanggil sayang seperti malu-malu begitu. Berapa jauh hubungan kalian?" 


"Maksud Oma?" Tari, tidak mengerti apa maksud Rose. Membuat Rose, harus menjelaskan.


"Kamu ini tidak mengerti atau memang pura-pura tidak mengerti. Maksud Oma, seberapa jauh hubunganmu dengan Aryan, apa saja yang kalian lakukan? Kalian tidak melakukan hal terlarang, kan!" 


"Hal, terlarang seperti apa Oma? Kami tidak pernah melakukan apa pun." 


"Kissing!" 


"Soal itu, Aryan, selalu saja menyerangku tiba-tiba Oma, bahkan hingga aku berhenti bernafas. Ops!" 


Dengan segera Tari, menutup mulutnya setelah menyadari dengan apa yang telah dia ucapkan. Sedang Oma Rose matanya membulat sempurna, bola matanya hampir saja keluar, dirinya benar-benar terkejut setelah mendengar apa yang Tari, ucapkan.


"Aduh Tari, kamu ceroboh sekali. Ini mulut kenapa gak bisa diam sih!" rutuk Tari, pada dirinya sendiri. 


"Aduh kepalaku," rengek Rose, yang memegang kepalanya. 


"Kenapa Oma? Apa kepala Oma sakit?" Tari, jadi panik dan langsung membawa oma Rose duduk di sofa. Tari merasa bersalah karena ucapannya membuat Oma Rose stres.


Dengan langkah sedikit berlari Tari, pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Oma. Tidak peduli keadaan dapur yang masih berantakan karena kegiatan membuat pizzanya tadi. 


Setelah mengambil air Tari, bergegas pergi ke ruang tamu untuk memberikan air minum itu pada Oma Rose. 


"Oma ini Oma, minum dulu." Rose pun mengambil gelas itu lalu meminumnya. 


"Oma, maaf ya Oma. Maksud ucapanku tadi itu …" 


"Jangan bilang kamu hamil."


"Apa!" 


*


*

__ADS_1


*


Rose menatap Aryan, begitu tajam. Sedangkan Aryan, duduk menghadapnya seperti akan di adili. Sesekali mata Aryan, melirik pada Tari, mencoba bertanya apa yang telah terjadi. Namun Tari, hanya menggeleng. 


Perasaan Aryan, semakin tidak enak. Aryan, berpikir sepertinya Tari, melakukan kesalahan. Hingga membuat Oma nya marah.


"Oma ada apa?" tanya Aryan, yang melihat Rose yang terus menunduk seraya memijat pelipisnya. 


"Oma sudah memutuskan," 


"Memutuskan apa?" tanya Aryan, bingung. Rose pun menatap Aryan, dan Tari, yang duduk di hadapannya sebelum akhirnya berkata. 


"Kalian harus segera menikah!" 


Aryan, terhenyak begitu pun dengan Tari. Keduanya masih diam bergeming berada dalam pikirannya masing-masing. Aryan, sudah menduga pasti ada masalah yang Tari, buat sehingga perkataan itu keluar dari Oma Rose. 


Aryan, menarik tangan Tari, menuju rooptop rumah nya. Sorot matanya begitu tajam menatap gadis di depannya. 


"Apa yang terjadi sehingga Oma berbicara begitu?"


"Maaf, kan aku dokter aku terlanjur mengatakan keburukanmu."


"Apa maksudmu?" 


"Tentang dokter yang selalu menciumku tiba-tiba." 


"Astaga." Aryan, mengusap wajahnya kasar. Pantas saja hatinya selalu tidak tenang ternyata kecurigaannya benar. Apa yang Aryan, takutkan pun terjadi. 


"Mulutmu itu … dasar mulut beo."


"Apa maksud dokter mengataiku seperti itu. Dasar mulut buaya," cibir Tari, dengan nada kesal. Membuat Aryan, semakin geram.


"Dasar gadis ceroboh." 


...----------------...

__ADS_1


Ya Tari, memang ceroboh tapi kecerobohannya menguntungkan bukan. Aryan, di minta kawin wk wk wk


__ADS_2