Because Of Pizza

Because Of Pizza
Kopi Asin.


__ADS_3

Setelah menjadi seorang istri, kini Tari, mulai mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti pagi ini Tari, dengan rajin membersihkan setiap ruangan, mengusap dengan lembut meja, dan kaca hingga mengkilap. Karena sebelumnya Aryan, tidak pernah memanggil seorang ART.


Di karena, kan Aryan, selalu mengerjakan nya sendiri. Tinggal sendiri, masak sendiri, membersihkan rumah sendiri. Walau dirinya terlahir dari keluarga yang bercukupan Aryan, tidak pernah mengandalkan orang lain, dirinya selalu ingin hidup mandiri.


Setelah membersihkan rumah Tari, membuatkan sarapan untuk sang suami tercinta. Hanya roti bakar yang bisa ia berikan. Di karena, kan hanya anak kost Tari, tak pernah memasak apa pun selain mie ramen dan telur ceplok.


"Sarapan sudah siap!" ucap Tari, yang menata rapi menu sarapan di atas meja.


"Sekarang, tinggal panggil suamiku." Tari, bergegas pergi ke kamar untuk memanggil Aryan, saat itu Aryan, sedang mengenakan kemejanya, bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.


"Selamat pagi suamiku, sarapan sudah siap," ucap Tari, penuh semangat.


"Sini biarku bantu." Dengan semangat Tari, membantu Aryan, memasangkan kancing bajunya. Aryan, hanya tersenyum seraya memeluknya.


Cup,


"Ish, kebiasaanmu tidak pernah berubah," cibir Tari, saat Aryan, mengecup bibirnya tiba-tiba.


"Abis, bibirmu ini menggemaskan. Aku tidak bisa jika tidak menciumnya."


"Dokter gantengku, jangan mulai menggombal lebih baik kita sarapan, karena pasien sudah menunggumu."


Aryan, terkekeh dengan ucapan Tari. Setelahnya mereka berdua pun pergi ke meja makan untuk melakukan sarapan.


"Roti bakar!" ucap Aryan, yang langsung mendudukan bokongnya.


"Apa kamu bosan dengan roti bakar?" Tari, mencebikan bibirnya


"Tidak, aku tidak pernah bosan selama itu kamu yang buat." Bibir Tari, kembali tersenyum setelah mendengar perkataan dari Aryan.

__ADS_1


"Kamu tenang saja mulai besok aku akan menyiapkan sarapan yang lain. Aku akan belajar memasak. Kau mau kopi atau teh?"


"Kopi."


"Aku sudah membuatkan kopi manis untuk mu." Tari, memberikan secangkir kopi.


"Terima kasih sayang!" Aryan, pun menyeruput kopinya namun tiba-tiba


Byurr … Aryan, menyemburkan semua kopinya. Membuat Tari, terhenyak.


"Ada apa? Apa rasanya tidak enak?"


"Kamu yakin ini kopi manis?"


"Ya!"


Byurr …


"Asin." ucap Tari, setelah menyemburkan kopi hitam itu.


"Kopi asin bukan kopi manis!" cibir Aryan, yang tersenyum hambar.


"Maaf, aku pikir yang ku masukan itu gula, ternyata garam." Tari, yang cengengesan. Aryan, hanya bisa menghela nafas, dan tersenyum hambar untuk kedua kalinya Tari, salah membedakan garam dan gula.


Saat sarapan sebelumnya nasi goreng manis bukan gurih karena Tari, memasukan gula pada bumbu nasi gorengnya bukan garam. Hari ini Tari, melakukan kesalahan yang sama kopi asin bukan kopi manis yang di campurkan bukan gula melainkan garam.


"Aku memang istri yang tidak berguna." Tari, mencebikan bibirnya wajah terlihat sedih, yang merasa tidak pandai dalam memasak.


Cup,

__ADS_1


Aryan, mengecup keningnya lalu tersenyum. "Jangan bersedih masih bisa di coba. Aku pergi dulu."


"Tapi kau belum sarapan!"


"Aku membawa roti bakarku, akan ku makan di mobil nanti. Jangan pernah bilang tidak berguna, kamu sudah melakukan yang terbaik kamu istri terbaiku." Senyum Tari, kembali mengembang rayuan Aryan, mampu menggetarkan hatinya.


"Aku pergi dulu ya."


"Hati-hati sayang."


Setelah saling mengecup dan memeluk Aryan, pun pergi menaiki mobilnya menuju rumah sakit. Tari, terus melambaikan tangan selama mobil suaminya masih terlihat.


"Apa aku bawakan makan siang ya! Sebagai pengganti kopi asin itu." Tari, bermonolog.


"Ah iya! Aku minta bantuan ibu saja, ibu, kan jago memasak."


Dengan penuh semangat Tari, masuk ke dalam rumah, mengambil tas dan barangnya setelah itu pergi meninggalkan rumahnya.


Hari ini Tari, akan belajar memasak pada ibunya, karena kebetulan sang ibu masih berada di ibu kota dia tinggal di rumah kostnya bersama Bintang.


****


Sesampainya di rumah sakit Aryan, segera turun dari mobilnya. Saat turun seorang perawat memanggilnya karena ada pasien yang harus segera di tangani olehnya.


Karena panik Aryan, pun langsung pergi yang berlari kecil memasuki area rumah sakit. Namun, Aryan melupakan sesuatu yang penting yaitu roti bakarnya yang ia tinggalkan pada dashboard.


...****...


Gimana tuh kalo Tari, tahu rotinya tidak di makan Aryan, Aryan

__ADS_1


__ADS_2