Because Of Pizza

Because Of Pizza
Bab 58


__ADS_3

POV Lala 


"Apa ini karma. Mungkin ini hukuman untukku karena mengkhianati Aryan. Di asingkan oleh keluarga. Di tinggalkan kekasih menyedihkan sekali hidupku ini. Dan harus tinggal di daerah terpencil. Apa aku akan melahirkan disini juga sungguh menyedihkan." 


Lala, begitu menyesali nasibnya yang sangat menyedihkan. Namun, apa boleh buat roda hidup terus berputar dan hidup tetap berjalan.


"Lala." teriak Sari, wanita paruh baya yang selama ini tinggal dengannya.


"Iya Nek," sahut Lala.


"Ada pelanggan di luar, dia laki-laki tampan dia ingin membeli seribu bunga mawar, sepertinya bunga mawar di belakang akan habis olehnya." 


"Benarkah! Rezeki nenek sedang bagus hari ini. Selama seminggu toko kita sepi, tak ada turis yang datang atau pun orang lokal." 


"Ya, makanya Nenek sangat bahagia. Nenek akan melihat stok bunga mawar di belakang terlebih dulu. Kamu temani tamu kita berikan dia jamuan." 


"Ya, akanku lakukan dengan baik." 


"Tapi ingat jangan terlalu lelah, nanti bayi di dalam perutmu kesakitan." Lala, hanya tersenyum mendengar gurauan Sari. 


"Iya, Nek," ucap Lala yang tersenyum. 


****

__ADS_1


Lala, berjalan ke arah luar dimana banyak macam bunga yang di pamerkan. Bibirnya tersenyum melihat seorang pria yang kini sedang menatap bunga-bunganya. "Apa semua pria berbahu lebar dan tinggi. Benar apa kata nenek dia pasti sangat tampan." Sambil tersenyum Lala, berjalan ke arah pria itu seraya membawa nampan yang terdapat minuman dan cemilan. 


Pria itu belum menyadari kehadiran Lala, karena tubuhnya membelakangi Lala, dan  tetap fokus pada bunga di depannya. Hingga suara Lala, mengejutkannya.


"Maaf, lama menunggu. Selamat datang di toko kami sepertinya anda ingin memberikan bunga untuk kekasih anda," ucap Lala, yang menyimpan jamuan di atas meja.


"Ya," jawab pria itu yang masih membelakanginya. 


"Wanita itu pasti sangat beruntung memiliki kekasih yang perhatian dan romantis sepertimu. Tidak ada yang pernah membeli seribu bunga sebelumnya anda membuat nenekku senang karena bunganya akan habis. Oh ya silahkan duduk sambil menunggu minum teh, lah dulu. Karena anda memesan seribu bunga jadi nenek memintaku untuk melakukan anda sebagai pelanggan terbaik kami." 


"Terima kasih." 


"Sama-sama. Aku permisi ke belakang." Kata Lala, seraya mengayunkan langkahnya. Pria itu terus menatap kepergian Lala, terlihat jelas kesedihan pada manik matanya.


Tak lama kemudian Lala, kembali membawa sebuket bunga mawar. Lala heran melihat pria itu yang terus membelakanginya. Padahal dirinya ingin sekali melihat wajah pria itu, perkataan Sari membuatnya penasaran. 


"Apa semua wanita mengharapkan itu? Apa kamu juga di lamar seperti itu?" tanya pria itu namun tetap membelakanginya. 


"Ya … mungkin. Aku tidak tahu," imbuh Lala. "Aku tidak pernah di lamar," lanjut Lala. Namun, membuat pria itu tercengang. Karena melihat perut Lala yang buncit seperti sedang hamil besar. 


"Maksudku … aku tidak di lamar seperti itu." Lala, kembali berkata. Karena baginya orang lain akan salah paham karena melihat perutnya yang besar. 


"Lalu bagaimana?" 

__ADS_1


"Akh … itu sudah sangat lama aku tidak ingat. Kami menikah pun hanya sederhana dan tidak ada lamaran yang mewah. Oh iya, sebentar lagi nenek akan datang membawakan bunganya." Lala, mengalihkan pembicaraan agar tidak merasa canggung. 


"Aku membelikannya bunga sebagai permintaan maaf bukan lamaran. Semoga dia memaafkanku," ucap pria itu tiba-tiba. Membuat Lala, tertegun. Apa orang asing akan menceritakan privasi hidupnya pada orang yang tidak dia kenal. Itulah pemikiran Lala, saat ini karena pria di depannya terlihat sedang bercerita tentang hidupnya. 


"Aku telah menyakitinya. Meninggalkannya hingga dia membenciku. Aku berharap dia menerima maafku." Lanjut pria itu.


"Kamu lelaki sejati. Berani meminta maaf bahkan kamu menyiapkan bunga untuknya. Aku yakin kekasihmu akan memaafkanmu." 


"Apa alasannya dia harus memaafkanku?" 


"Apa! Eum … aku tidak bisa menjawab karena aku tidak tahu masalahmu," ujar Lala. 


"Jika kekasihmu melakukan kesalahan dan memintamaaf apa yang akan kamu lakukan?" 


"Hei, kenapa bertanya seperti itu padaku. Jika kamu merasa bersalah lebih baik meminta maaf sebelum terlambat. Karena wanita sangat benci membuang waktu. Walau pun aku tidak pernah mendapatkannya." 


"Tidak pernah mendapatkannya?" tanya pria itu. 


"Ya, karena lelaki yang ku temui adalah lelaki pecundang. Tidak mengerti perasaan wanita dan tidak pernah tanggung jawab atas kesalahannya. Dia selalu pergi dan tidak berani meminta maaf. Jadi kamu jangan menjadi lelaki seperti itu karena wanita sangat tidak menyukainya. Lebih baik pergilah dan meminta maaflah pada kekasihmu itu. Tidak perlu seribu bunga asalkan kamu meminta maafnya dengan tulus." 


"Jika, lelaki yang kamu temui kembali datang dan meminta maaf apa kamu akan memaafkannya walau sudah terlambat." 


"Ucapanmu semakin kacau saja. Lebih baik aku pergi ke belakang." 

__ADS_1


"Wanita yang ingin ku temui adalah kamu. Aku ingin meminta maaf padamu." Kata pria itu yang membuat langkah Lala, terhenti. Lala, pun membalikan tubuhnya matanya membulat sempurna, dirinya begitu terkejut melihat wajah pria yang selama ini mengajaknya bicara. Bahkan air matanya jatuh begitu saja membasahi perut buncitnya. 


"Arga." 


__ADS_2