
Tok, tok, tok,
Aryan, mengetuk pintu kamar namun, tak kunjung ada jawaban. Aryan, pun membuka pintu itu dengan gerakan pelan. Saat pintu sudah terbuka Aryan, tidak melihat Tari, di dalam sana. Kamar terlihat sepi dan rapi tidak ada tanda-tanda penghuni di dalamnya.
Aryan, mencoba menghubungi Tari, namun tidak ada jawaban. Aryan, pun menghubungi kedai pizza untuk menanyakan apakah Tari, ada disana atau tidak. Namun, jawaban seorang pegawai tidak memuaskan hatinya.
Aryan, melempar tubuhnya ke atas ranjang. Mengusap wajahnya kasar.
"Tari, kamu dimana?" Aryan, bergumam.
Memikirkan keberadaan istrinya saat ini.
Di sisi lain, Tari, sedang asik nangkring di tukang bakso. Moodnya yang kurang baik, amarahnya yang kini mulai memuncak, apa lagi sakit hati yang kini ia rasakan.
Membuatnya ingin melahap seseorang. Kegalauannya membuatnya sangat lapar hingga Tari, menghabiskan tiga mangkuk bakso sapi.
"Sudah habis tiga mangkuk bakso tetap saja tidak hilang sakit hatiku. Kenapa aku jadi rakus begini kalau galau."
Di saat Aryan, mencemaskannya Tari, malah menghabiskan tiga mangkuk bakso untuk mengisi perutnya.
"Aku harus bertanya pada siapa? Bagaimana cara membuktikan kalau Aryan, tidak menghamili dokter itu? Aduh aku jadi tambah galau," umpat Tari.
"Dulu mereka pernah berpacaran? Apa mungkin …. ah … tidak, tidak, tidak mungkin. Mereka melakukan itu dan sekarang dokter Lala hamil!"
Tari, langsung menutup mulutnya, jika bayangannya itu benar lalu bagaimana. Tari, yang sangat polos dan belum tahu tentang masalah kehamilan bagaimana dan seperti apa awal mula kehamilan itu dan bagaimana cara perhitungannya.
Tari, pun berpikir seraya mengucek-ngucek es jeruknya. Tak berselang lama ada seorang wanita hamil yang duduk di hadapannya. Usia kehamilannya sudah cukup tua, membuat Tari, ingin menanyakan sesuatu yang menganggu pikirannya saat ini.
"Hamil berapa bulan Mba?" tanya Tari, basa-basi.
__ADS_1
"Tujuh bulan," jawab wanita itu ramah.
"Mba, boleh saya tanya?"
"Tanya apa?"
"Awal-awal hamil itu seperti apa sih?"
"Mba sedang hamil?"
"Tidak! Menikah saja baru satu bulan."
"Saya saja menikah satu bulan langsung hamil." Mata Tari, terbelalak setelah mendengar ungkapan wanita itu.
"Satu bulan menikah bisa hamil?"
"Kenapa kaget gitu? Hamil setelah menikah satu bulan wajar saja, karena bisa saja kehamilan terjadi di satu kali berhubungan intim, jika saat berhubungan anda di masa subur." Jelas wanita itu membuat Tari, terbayang-bayang akan kehamilannya Lala.
'Sekali berhubungan langsung hamil. Bisa saja mereka berdua berhubungan sekali lalu, hamil' batin Tari, bemonolog.
Tari, kembali membayangkan saat dimana Lala, menampar wajah nya, marah karena Aryan, memutuskannya. Tari, pun berpikir jika Lala, sangat marah karena di putuskan mungkin saja saat itu Lala, dan Aryan, sudah melakukan hubungan intim.
Percakapannya bersama wanita itu terus terbayang-bayang. Apa lagi mengenai pesan itu. 'Aryan Aku Hamil' kata-kata itu masih terngiang di pikirannya. Hingga saat berjalan pun Tari, tidak fokus dan terus melamun.
Saat di tengah jalan Tari, melihat seorang wanita yang menggendong bayinya, begitu imut dan lucu. Tari, pun jadi membayangkan betapa lucunya nanti bayi yang akan Lala, lahirkan. Tari, tersenyum melihatnya namun, tiba-tiba senyumnya kembali pudar bibirnya kembali menciut. Saat bayangan Aryan, terlihat ketika menggendong seorang bayi bersama Lala.
Tari, membuang jauh-jauh pikiran itu.
"Ish, kenapa aku jadi membayangkan mereka," gerutu Tari. Memukul kepalanya kasar.
__ADS_1
Tari, benar-benar galau saat ini, pikirannya begitu kacau. Jika benar Aryan, menghamili Lala, apa mungkin Tari, harus mengizinkan Aryan, menikahinya. Sebagai anak yatim Tari, merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki ayah, bagaimana ibunya yang harus berjuang membesarkan dirinya, dan demi membiayai hidupnya.
Begitu pun sebaliknya, jika Aryan, tidak tanggung jawab atas anak yang di kandung Lala.
*
*
Cklek,
Pintu terbuka lebar, Aryan, tersenyum lebar melihat Tari, yang kembali. Namun, tidak dengan Tari, tatapannya begitu kosong tubuhnya terlihat sangat lemas, tatapan matanya pun begitu sendu.
"Sayang akhirnya kau pulang."
Aryan, langsung menghambur memeluk Tari, yang masih diam bergeming.
"Kamu dari mana saja? Aku mencarimu." Aryan, menuntun Tari, untuk duduk di sofa. Tatapan Tari, masih sama sendu dan kosong.
"Sayang … dengarkan aku aku bisa jelaskan. Lala, hamil." Belum sempat Aryan, melanjutkan perkataannya Tari, meliriknya tajam, seperti seseorang yang kesurupan.
"Aku sudah putuskan," ucap Tari, membuat Aryan, mengernyitkan dahinya.
"Putuskan! putuskan apa?" tanya Aryan.
"Kamu harus menikahinya."
Mata Aryan, membulat sempurna. Mulutnya menganga lebar,
...----------------...
__ADS_1
Wah makin runyam nih!