
Hubungan Tari, dan Sonia, semakin membaik. Sonia benar-benar sudah berubah hampir setiap hari Sonia, berkunjung ke kedainya, membantunya, bahkan belajar membuat pizza.
Namun Tari, sedikit bingung karena Sonia, terlihat santai-santai saja di saat hubungannya dengan Bryan, terguncang. Membuat Tari, penasaran sebenarnya apa yang Sonia, lakukan untuk membuat Bryan, bertekuk lutut padanya.
"Sonia, kamu terlihat tenang dan ceria."
"Kenapa? Aku senang karena bisa membantumu. Kita bisa seperti dulu."
"Bukan itu maksudku. Bagaimana hubunganmu dengan Bryan. Biasanya kamu akan sangat emosional jika tentang Bryan, apa Bryan, sudah mengakui kesalahannya. Atau jangan-jangan Bryan, tidak selingkuh." Tari, terus bertanya.
"Sebenarnya aku bosan membicarakannya," imbuh Sonia "Kamu masih ingat dengan perkataanku jika aku akan membuat Bryan, bertekuk lutut padaku. Aku mencabut perkataanku itu." Sambung Sonia.
"Apa! Kenapa?" tanya Tari, yang sedikit terkejut. Sedangkan Sonia, terus membuat adonan.
"Karena memang dia tidak pantas di pertahankan. Kamu tahu siapa wanita yang di kencaninya?" tanya Sonia, Tari hanya menggeleng. "Vina, sepupuku," sambung Sonia, seraya menekan adonan dengan kuat. Tari, terbelalak tidak percaya jika Bryan, mengencani sepupu istrinya sendiri.
"Apa tidak ada wanita lain. Dasar Bryan, tidak sahabat sepupu juga di embat." Tari, menggerutu karena kesal.
"Ya, sekarang aku melihat sisi buruk dari Bryan. Jika wanita lain mungkin aku akan memaafkannya tapi … ini sepupuku, sepupu juga saingan hidupku. Mereka berpelukan, saling bergandengan, berciuman rasanya sangat jijik aku melihatnya."
"Sekarang kamu merasakan apa yang aku rasakan dulu kan?" sindir Tari. Sonia hanya diam dan menunduk malu.
"Ya, tapi aku sudah minta maaf padamu, kan."
"Walau pun sudah minta maaf. Tapi karma tetap ada, kan."
"Tari, apa kamu sangat puas. Baiklah aku anggap ini hukuman untukku. Tapi Bryan, dia tidak bisa di biarkan apa hanya aku yang dapat hukuman." Sonia, terlihat kesal seraya mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin menghukum Bryan, Tari."
"Menghukumnya dengan cara apa?" Tari, bertanya seraya berpikir tetapi Sonia, memancarkan senyum liciknya seakan sudah tahu apa yang akan dilakukan.
****
Di sisi lain Arga, masih belum mendapatkan maaf dari Lala. Jangankan maaf berbicara saja Lala, selalu menghindar. Lala hanya sibuk dengan pekerjaannya menjual bunga. Dan Arga, hanya bisa melihatnya di atas roottop rumah sewanya.
"Aku tidak bisa diam seperti ini. Kedatanganku kesini untuk memperbaiki semuanya, untuk mendapatkan maaf dari Lala."
Arga, melangkah pergi turun dari rooftop.
"Selamat siang Nek,"
"Oh, pria tampan kemarilah apa yang kau bawa?" Sari, terlihat senang dengan kedatangan Arga, ke toko bunganya. Arga, terlihat membawa makanan yang baru saja di belinya.
"Kamu membawanya banyak sekali. Duduklah biar nenek panggilkan Lala, kamu pasti ingin menemuinya, kan."
"Sama-sama. Lala …." panggil Sari, tak lama kemudian Lala, pun datang. Langkah Lala, terhenti saat melihat Arga, yang datang namun Sari, menariknya untuk duduk bersama Arga.
"Kemarilah, jangan terlalu lama berdiri tidak baik untuk kandunganmu." Lala, hanya diam tanpa kata saat Sari, menariknya untuk duduk di samping Arga.
"Lala, sepertinya kamu harus jalan-jalan," ujar Sari, membuat Lala terkejut.
"Hari ini aku sedikit lelah Nek, aku harus ke kamar."
"Tidak baik jika wanita hamil terus tidur. Terlalu lama duduk juga tidak baik, lebih baik kamu pergi ke pantai ajak dia berkeliling pulau. Kamu harus banyak bergerak."
__ADS_1
"Tapi Nek."
"Sudah, kalian pergi saja Nenek, akan memasak setelah kalian pulang kita makan bersama."
Lala, berusaha menolak namun Sari, terus memaksa membuat Lala, terpaksa pergi bersama Arga. Sepanjang jalan Lala, hanya diam begitu pun Arga, tidak ada keberanian untuk bicara.
"Apa kamu lelah? Lebih baik kita duduk dulu," ajak Arga, membawa Tari duduk di bawah pohon yang rindang nan sejuk. Memperlihatkan pemandangan yang sangat indah di atas bukit.
"Pemandangan disini sangat indah. Apa kamu setiap hari datang ke tempat ini?" Arga, langsung diam saat Lala, menatapnya tajam.
"Kenapa kamu tiba-tiba datang." Perkataan itu lolos begitu saja dari mulut Lala.
"Untuk menemuimu."
"Untuk apa? Dulu kamu tidak ingin bertemu denganku. Malah kamu pergi."
"Oleh karena itu aku datang untuk menebus kesalahanku. Maafkan aku."
"Apa kamu tidak bosan mengatakan maaf. Baiklah aku memaafkanmu sekarang kamu bisa pergi."
"Tidak, aku tidak akan pergi. Sebelum kita menikah."
"Menikah! Apa aku tidak salah dengar. Lihatlah perutku kehamilanku sudah besar sebentar lagi akan melahirkan. Saat perutku masih rata kenapa kamu tidak punya keberanian untuk mengatakan itu. Kamu meragukan anak ini kan lalu kenapa tiba-tiba ingin menikahiku."
"Maaf, aku minta maaf dulu aku memang pecundang."
"Ish … maaf lagi. Sudah terlambat aku tidak ingin menikah denganmu."
__ADS_1
"Tidak ada kata terlambat, jika kamu belum ingin aku tidak akan pergi sampai kamu menerima lamaranku. Aku akan tetap disini sampai kamu mau menikah denganku. Aku akan disini sampai anak itu lahir."
"Terserah, aku tidak pernah peduli." Lala, terlihat kesal dan langsung berdiri dari duduknya namun tiba-tiba perutnya terasa keram, membuatnya merasa kesakitan.