Because Of Pizza

Because Of Pizza
Bab 68


__ADS_3

.


.


****


Arga, begitu khawatir dan cemas hatinya tidak tenang dan sangat gelisah. Tidak berhentinya dirinya terus membulak balikan langkahnya, kegelisahannya tidak bisa membuatnya diam. Di dalam sana Lala, sedang mempertaruhkan nyawanya rasa sakit hatinya tidak sebanding dengan rasa sakit saat akan melahirkan anaknya. 


Jeritan, dan teriakan tidak henti-hentinya Lala, keluarkan. Peluh keringat sudah membasahi pipinya. Pikirannya kini semakin melayang-layang entah dirinya akan selamat atau tidak. Namun Lala, terus mencoba agar tetap kuat sampai bayi itu lahir. 


Oek … oek … oek …


Suara tangisan bayi terdengar begitu nyaring, membuat seorang pria yang duduk dengan gelisah mampu tersenyum hingga air mata luruh membasahi pipinya. Rasa sesal yang ia rasakan seketika terlupakan saat mendengar suara tangisan bayinya. 


"Apa itu bayiku? Apa itu suaranya?" 


"Ya, itu suara bayimu," ucap Aryan, yang membuat tangis Arga, semakin keras. 


"Minumlah, biar hatimu sedikit tenang. Jangan menangis lagi," ucap Tari, yang memberikan segelas air.


"Biarkan saja dia menangis jangan di larang. Menangislah sepuasnya," ucap Aryan, lagi. Tak lama kemudian Shiren, keluar dari dalam kamar dia memberitahukan jika Lala, sudah melahirkan bayinya dengan selamat. Begitu pun juga dengan Lala, yang sehat. 


"Selamat ya Arga, kamu sudah menjadi ayah anakmu laki-laki." 

__ADS_1


"Boleh aku masuk? Aku ingin melihat bayiku juga melihat keadaan Lala." 


"Nanti dulu. Lala, belum siuman dia pingsan setelah melahirkan karena banyak kehilangan darah dan tubuhnya juga lemah. Tapi jangan khawatir Lala, akan segera sadar. Jika kamu ingin melihat bayinya ikutlah denganku," kata Shiren. 


Arga, mengikuti langkah Shiren, yang membawanya ke kamar bayinya. Arga, menangis juga tertawa saat melihat bayi mungil itu. Arga, mencoba menggendongnya dengan pelan. Arga, tidak mampu lagi menahan air matanya tidak percaya jika dirinya akan menjadi ayah.


"Apa benar dia anakku?" 


"Hei, kamu mau mulai lagi," umpat Shiren yang memukul bahunya. "Jangan sampai kamu mengatakan itu di depan Lala, dia tidak akan memaafkanmu." 


"Aku hanya … merasa jika ini mimpi. Mungkin jika aku tidak kembali aku tidak akan melihat bayiku lahir ke dunia." 


"Mulai sekarang bersatulah dengannya buatlah bayimu bahagia karena ibu dan ayahnya bersatu. Apa kamu sudah melamarnya?" 


"Sudahku coba dia menolakku. Mungkin kesalahanku tidak termaafkan." 


"Ngomong-ngmong kenapa kamu bisa datang? Kamu datang di waktu yang tepat dan kalian datang bersama." Arga, bertanya tentang kedatangan Shiren, Aryan, dan Tari ke desa itu. 


Flashback on


Shiren, merasa gelisah sepanjang hari. Mengingat kehamilan Lala, yang tidak lama lagi akan segera melahirkan. Entah kenapa pikirannya saat ini selalu Lala, dan Lala. Shiren, sangat mencemaskan Lala. 


"Aku tidak bisa seperti aku harus melakukan sesuatu." 

__ADS_1


Shiren, langsung beranjak dari ruang kerjanya melangkah pergi menuju ruangan direktur. Shiren, meminta izin untuk pergi sebuah desa dan Shiren, menjelaskan keadaan desa disana yang jauh dari kata nyaman dan tidak ada klinik, dokter, dan juga bidan. Shiren, mengatakan jika dirinya memiliki teman yang tinggal disana dan temannya sedang hamil dan akan melahirkan. Shiren, mengatakan jika dirinya ingin pergi untuk membantu persalinan temannya. 


"Aku mohon direktur izinkan aku. Bagaiman jika anda membuka cabang disana aku dengar dokter Arga, ada di sana begitu pun juga dengan dokter Lala." 


"Mereka disana untuk apa? Apa mereka sedang berlibur?" 


"Awalnya mereka memang berlibur tapi mereka memutuskan untuk menetap. Apa direktur tahu jika Arga, membuka klinik disana dia mengobati pasien tanpa bayaran dan penduduk disana sangat senang karena ada dokter. Jadi aku pikir direktur harus mempertimbangkan untuk membuka cabang disana." 


"Baiklah nanti akan aku pikirkan. Aku akan mengizinkan mu pergi tapi hanya satu minggu anggap ini sebagai hari liburmu." 


"Terima kasih direktur. Apa boleh aku mengajak teman? Aku ingin mengajak dokter Aryan, dan dokter Amel." Ditektur langsung menatap tajam pada Shiren, namun pada akhirnya dia mengizinkan namun hanya satu dokter yang boleh menemani Shiren. Akhirnya Shiren, pun mengajak Aryan. 


Flashback off.


"Terima kasih kamu datang tepat waktu. Aku hampir frustasi karena ini," ucap Arga. 


"Tidurkanlah anakmu, kita keluar sekarang kita temui Aryan, dia pasti menunggu." 


"Aryan, mengajak Tari juga?" 


"Ya, istrinya sedang hamil tidak mungkin dia meninggalkannya." 


"Aku pikir aku akan punya teman yang akan menjadi ayah," ucap Arga, dengan senyuman. Shiren, hanya menimpali dengan senyuman.

__ADS_1


...----------------...


Selamat Arga, akhirnya jadi ayah kasih selamat juga dong buat Lala dan Arga reader dengan like dan komentarnya


__ADS_2