
"Gala, akan menjadi kegembiraan untuk kita menenangkan hati ibunya yang selama ini menutup hati untuk ayahnya." Lala, tertegun lalu menatap Arga, dengan dalam.
"Aku mengatakan ini di depan Gala, aku ingin Gala, menjadi saksi jika ayahnya sangat menyesal karena tidak mengakuinya, mengabaikannya dan membiarkannya selama 5 bulan dalam perut ibunya."
"Aku tahu kesalahanku tidak termaafkan tapi aku mohon berikanku kesempatan untuk menjadi ayah yang baik dan bertanggung jawab jangan biarkan aku menyesal karena telah mengabaikanmu selama ini. Aku mohon."
"Arga, aku …"
"Menikahlah denganku."
Lala, tertegun mendengar semua perkataan Arga. Kini keduanya saling menatap dalam diam Lala, belum menjawab sepatah kata pun begitu pun Arga, hanya menatap Lala, dalam diam.
"Apa ini lamaran untukku? Kamu baru saja melamarku. Apa kamu yakin dengan jawaban yang akan aku berikan."
"Apa pun itu jawabanmu aku akan tetap melamarmu sampai kamu menerima lamaranku."
"Kenapa kamu terlalu bersibkeras. Bisa saja aku menolakmu apa kamu akan tetap melamarku … lagi dan lagi." Arga, masih menatap Lala, tatapam matanya tidak teralihkan sedikit pun.
"Ya, anggap saja aku akan melakukan itu," ucap Arga.
"Bagaimana jika aku akan menikah dengan orang lain."
"Tidak akan aku biarkan itu."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena kamu milikku. Tidak ada yang bisa menjadi ayah Gala, selain aku."
Lala, tertawa hambar lalu menatap Arga, kembali.
"Seharusnya kamu mengatakan itu sejak dulu. Sejak Gala, membutuhkanmu sejak aku membutuhkan pengakuanmu. Tapi apa yang kamu lakukan. Kamu pergi tanpa kabar, apa kamu bisa bayangkan hatiku saat itu apa kamu pernah memikirkan keadaanku?"
Arga, masih diam
"Aku bagaikan orang bodoh. Setiap hari, setiap waktu, setiap saat yang ku pikirkan hanya kamu. Aku mencoba bertahan dan menyembunyikan tapi akhirnya semua orang mengetahuinya. Bahkan, kedua orangtuaku tidak mengakuiku anaknya lagi mereka mengasingkanku lebih tepatnya membuangku." Kata Lala, yang berderai air mata.
"Aku tidak pernah menyangka masalahnya akan seburuk itu. Tapi aku janji aku akan mengubah semuanya, demi Gala, akan aku lakukan."
"Kamu akan menemui orangtuaku? Apa kamu yakin mereka akan memaafkanmu."
"Baiklah, kalau begitu akan aku jawab lamaranmu setelah kamu membuktikannya."
"Ya, tentu."
****
Hari-hari masih dilalui, hujan, panas, siang, malam waktu terus berganti. Namun, masih ada yang belum terganti. Perasaan yang sama sekali belum berubah. Lala, masih bungkam, diam tak memberi jawaban dan Arga, masih terus berusaha untuk mendapatkan rasa itu.
__ADS_1
Satu bulan sudah di lalui, tepat 30 hari kelahiran Gala. Bayi yang mungil, tangan yang kecil bergerak bebas di udara. Kaki yang pendek tak henti-hentinya ia hentak, kan. Bibir yang mungil tidak hentinya menangis dan merengek entah apa yang dia ingnkan tidak ada yang mengerti.
Oek … oek … oek …
"Gala sayang ada apa kenapa menangis? Lapar mau mimi. Maafkan mama tadi di tinggal sebentar." Lala, langsung menggendong putranya memberikannya ASI. Namun itu tidak menghentikan tangisannya.
"Kenapa Gala, menangis terus."
"Mungkin Arga, merindukannya." Suara Tari, membuat Lala, menoleh. Sudah sebulan Tari, dan Aryan, begitu pun dengan Shiren, mereka terpaksa tinggal lebih lama karena Arga, pergi entah kemana.
Shiren, dan Aryan, melayani pasien klinik di desa itu.
"Atau mungkin Gala, merindukan papanya." Lanjut Tari, yang melangkah menghampiri Lala. "Ikatan batin antara ayah anak, atau anak dan ibu sangat kuat. Mereka akan merasakan jika salah satu di antara mereka ada yang merindukan. Atau saat seseorang berada dalam bahaya mereka akan saling merasakan."
Lala, masih diam dan menyimak
"Aku tidak berbohong, aku pernah merasakannya. Saat itu ayahku bekerja sangat jauh namun dia lama tak kembali. Setiap hari dadaku merasa sesak saat aku mengingat ayah. Setiap malam aku bermimpi tentangnya, aku merasakan ketakutan akan terjadinya bahaya pada ayah. Dan yang bisa aku lakukan hanyalah dengan menangis. Setiap pulang sekolah yang ku cari selalu ayah, setiap malam yang selalu ku tunggu hanyalah ayah. Aku selalu memikirkan terjadinya hal buruk pada ayah. Namun ibu selalu mengatakan jika ayah baik-baik saja."
"Apa terjadi sesuatu pada ayahmu?" tanya Lala, yang penasaran.
"Ya. Saat pulang aku melihat ayah yang sudah di tutupi kain putih. Memang terjadi hal buruk padanya yang menyebabkan ayahku meninggal."
"Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa." Lala, merasa tidak enak hati karena telah mengingatkan Tari, pada ayahnya Lala, berpikir ayahnya masih ada.
__ADS_1
"Tidak apa-apa lagi pula ayahku sudah lama pergi saat aku masih duduk di bangku sekolah. Gala, lucu sekali apa kamu tahu kemana dokter Arga, pergi? Ini sudah sebulan dia belum kembali. Aku mengerti jika kamu belum bisa memaafkannya tapi … tidak ada salahnya jika kamu memberikannya kesempatan sekali ini saja. Lakukan itu demi Gala."
Lala, tertegun seraya menatap Gala, di pangkuannya. Arga, sudah lama pergi mungkin untuk membuktikan janjinya. Tapi Arga, belum kembali hingga saat ini. Lala, terus memikirkan perkataan Tari, hingga hatinya tidak tenang memikirkan Arga, yang entah ada dimana.